Kebebasan ADINDA

Kebebasan ADINDA
Membenahi Kekacauan


__ADS_3

"Apa? Siapa bedebah yang berani mengantikanku hah?" tanya Cakra geram.


Tiba-tiba suara bariton menjawab.


"Aku yang mengantikan rapat hati ini, besok dan seterusnya om!" ucapnya menggelegar.


"Kau?" tanya Cakra dengan tatapan seperti monster.


"Ya aku! Pemilik perusahaan mendiang papaku. Dan kau sudah tidak punya wewenang apapun disini! Silahkan angkat kaki karena kau sudah tak di butuhkan lagi di sini. Om sudah teralu banyak menguras uang perusahaan" ucap Ferdian lantang.


Cakra menghampiri sembari bertepuk tangan meremehkan.


"Kau mengusirku anak bau kencur? Hahaha~~ Tahu apa kau soal bisnis hah? Bahkan kau tidak pernah sekolah dan hidupmu hanya di hutan" Cakra terus saja meremehkan.


"Manusia itu di beri akal dan pikiran om! Tapi untuk ukuran manusia sepertimu sepertinya tuhan pelit memberimu akal dan pikiran terutama hati nurani. Sudah saatnya ku akhiri kedzoliman mu dengan harta papaku. Dan ingat untuk semua yang ada disini, jika ada yang berpihak pada om saya maka saya tidak segan-segan memecat kalian dari sini. Perusahaan ini di ambang kebangkrutan dan saya akan semaksimal mungkin membangun kembali perusahaan ini" ucap Ferdian lantang membuat semua orang yang ada disana terkesima kecuali Cakra yang sangat dongkol dengan Ferdian.


"Tidak akan semudah itu Ferdian! Aku akan pastikan kau menyesal dan tidak bisa tidur dengan nyenyak" geramnya.


"Aku tidak pernah takut dengan ancamanmu om" balas Ferdian.


"Aku akan buat kau menyesal sudah mengusik kedudukanku" ucapnya sembari melangkahkan kaki keluar dari ruangan.


"Lakukan saja om! Lakukan apa yang kau mau" Ferdian mulai menemukan keberaniannya setelah melihat megahnya perusahaan sang papa.


Kemudian Ferdian menemui Rindu asisten pribadinya Cakra. Ferdian sedikit terganggu dengan pakaian yang Rindu kenakan karena memakai rok span yang sangat pendek di padu dengan atasan yang dangat pres dengan badannya dan blazer yang ketat pula.


"Selamat siang bu! Maaf saya bertanya apa jurusan anda sewaktu kuliah?" tanya Ferdian.


"Saya jurusan kehutanan" jawabnya jujur dengan mata genit.


"Apa? Kenapa kantor ini bisa menerima pegawai yang bukan dari jurusan manajemen, akutansi atau ekonomi lainnya. Siapa yang merekrut anda?" tanya Ferdian kesal.


"Bapak Cakra" ucapnya.


"Maaf ya bu, anda seharusnya jadi peneliti lingkungan atau pengembang bibit tanaman bukan bekerja di perusahaan ini" ucapnya.


Rindu tampak kesal dengan ucapan Ferdian.


"Tolong buatkan saya laporan keuangan satu tahun yang lalu sampai sekarang. Saya beri waktu 1 minggu. Bicarakan ini dengan stap keuangan perusahaan minta datanya lalu laporkan pada saya" ucapnya.


Rindu pun menurut saja dan melangkahkan kakinya dengan malas.


"Dan anda kuliah jurusan apa?" tanya Ferdian pada seorang wanita berbadan ceking.


"Saya kuliah jurusan PD PAUD" ucapnya pelan.


"Yaampun ibu, Seharusnya anda menjadi guru TK bukan bekerja disini. Siapa yang menerima anda bekerja disini?" tanya Ferdian.


"HRD atas persetuajuan pak Cakra" jawabnya kelu.


"Saya tidak mempermasalahkan siapapun bekerja disini. Tetapi jurusan kuliah kalian itu sangat jauh dengan kebijakan perusahaan ini" ucapnya dengan nada kesal.


"Dan anda pak, apa jurusan kuliah anda dan sudah berapa tahun anda bekerja disini?" tanya Ferdian pada seorang pria paruh baya bernama Fadli.

__ADS_1


"Saya kuliah jurusan ekonomi bisnis, lulus tiga puluh lima tahun yang lalu di sebuah universitas di Hamburg Jerman dan sudah bekerja disini dua puluh tujuh tahun" jawab Fadli.


Pria yang sudah beruban itu menjawab pertanyaan Ferdian dengan lugas dan percaya diri yang tinggi.


"Baiklah sekarang anda ikut saya ke ruangan" ucap Ferdian dengan melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya.


Di ruang kerja Ferdian menatap Fadli dengan seksama. Pria paruh baya itu tampak masih gagah dengan pakaian yang perlente.


"Bapak sudah bekerja selama itu apa tidak jenuh disini?" tanya Ferdian.


"Maksud anda pak?" tanya Fadli.


"Usia anda kan sudah senior dan sudah lama bekerja disini, apa tidak ada keinginan untuk resain?" tanya Ferdian.


"Saya masih ingin bekerja disini pak! Badan saya masih sehat dan saya masih banyak tanggungan. Jika saya tidak bekerja bagaimana dengan ketiga anak yatim yang istri saya urus mereka akan makan apa jika saya menjadi pengangguran" tutur Fadli seakan mengiba.


"Saya sudah bekerja disini sedari muda. Saat itu perusahaan masih di pimpin oleh pak Pratama! Semua karyawan kantor maupun lapangan sejahtera oleh beliau tapi sayangnya umur beliau tidak panjang dan sedihnya pewaris nya juga katanya meninggal atau hilang" ucap pria itu.


"Itu papa saya dan saya anak tertuanya. Saya tidak mati tetapi saya di asingkan dan di dzolimi oleh om Cakra dan saya kembali untuk merebut apa yang sudah om Cakra lakukan" tegas Ferdian.


Seketika mata Fadli membola dan seakan tak percaya.


"Benarkah?" tanyanya.


"Benar! Dan saya tidak habis pikir dengan rekturmen karyawan disini, kenapa pendidikan mereka jauh dari standar perusahaan ini. Apa anda tahu sesuatu?" tanya Ferdian seketika memindai mata dan wajah Fadli.


"Sudah jadi rahasia umum jika perusahaan ini asal dalam memilih karyawan. Mereka asal cantik dan menarik lalu masuk kualifikasi pak Cakra mereka bisa melenggang bebas kerja di perusahaan tanpa memikirkan skil dan pendidikan standar perusahaan. Bahkan pegawai senior yang kompeten di bidangnya yang sudah memajukan perusahaan dan melahirkan pemikiran cemerlang atas gebrakan-gebrakan unggul malah di keluarkan dengan alasan usia mereka yang sudah lanjut dan sedihnya tanpa di berkan uang pesangon" tutur Fadli dengan wajah sedih.


"Sepertinya masih sehat karena saya pernah bertemu dengan beliau sewaktu CFD, beliau masih aktif walau usia tidak muda lagi" ucap Fadli.


"Siapa namanya?" tanya Ferdian.


"Beliau bernama ibu Djelita Soebrota. Beliau sangat disiplin dan menjunjung etos kerja yang luar biasa. Tapi sayang nya gara-gara beliau mengungkapkan pendapatnya tentang perusahaan lalu membuat pak cakra marah dan seketika memecatnya tanpa pesangon sepeserpun" tutur Fadli.


"Kurang ajar, Dia semena-mena terhadap orang lain. Saya minta nomor ponselnya ibu Djelita sekarang pak" Ferdian ingin mendapatkan pegawai yang benar-benar kompeten di bidangnya.


Fadli pun memberikan no itu pada Ferdian.


"Anda boleh keluar dan saya minta jam satu siang ini temani saya ke bagian produksi" ucap Ferdian.


"Baik pak dengan senang hati" jawab Fadli.


"Semoga saja anak ini bisa menangani perusahaan ini agar lebih maju kedepannya" guman Fadli dalam hatinya dan langsung melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Ferdian.


¥


Di sebuah rumah, seorang wanita paruh baya sedang menyiram tanamannya dengan telaten. Kegiatannya terhenti kala panggilan pada ponselnya berdering.


"Siapa ya no baru! Duh aku takut penipu" ucapnya.


Tak lama ponselnya berdering kembali. Tangannya dengan cekatan mengangkat panggilan itu.


"Hallo" ucapnya.

__ADS_1


"Hallo! Selamat lagi, apa benar ini dengan ibu Djelita Soebroto?" tanya suara pria di sebrang sana.


"Betul! Anda siapa ya?" tanya Djelita.


"Perkenalkan saya Ferdian mikarti, cucu dari Katris Mikarti pemilik dari perusahaan PT. Mercy Sejahtera" jawab Ferdian.


"Benarkah? Lalu ada apa anda menghubungi saya pak?" tanya Djelita dengan sungkan.


"Maaf sebelumnya saya bertanya apa benar anda sudah bekerja lama di perusahaan kami?" tanya Ferdian.


"Benar pak! Saya sudah bekerja di perusahaan itu semenjak muda kira-kira sudah 30 tahun saya mengabdi di perusahaan itu. Tetapi ada suatu hal dengan atasan saya jadi beliau memecat saya tanpa memberikan pesangon sepeserpun" ucapnya dengan suara getir.


"Apakah anda masih produktif, maksud saya apakah anda masih ingin bekerja?" tanya Ferdian.


"Saya masih ingin bekerja karena saya masih fit, dan tenanga saya masih sehat" jawabnya tegas.


"Baiklah, apakah anda bersedia jika saya panggil kembali bekerja di perusahaan kami?" tanya Ferdian.


"Saya dengan senang hati menerima tawaran anda pak! Jadi mulai kapan saya bisa bekerja kembali?" tanya Djelita dengan perasaan bahagia.


"Anda bisa mulai bekerja besok..Dan mengenai uang pesangon anda, saya akan membayarnya tetapi tidak langsung semuanya mengingat keuangan perusahaan sedang tidak baik-baik saja" ucap Ferdian.


"Terimakasih pak terimakasih" ucap wanita paruh baya itu.


Panggilan telepon itu pun di tutup, betapa bahagianya Djelita. Di umurnya yang tidak muda lagi dia masih di percaya untuk bekerja di perusahaan dan hak nya yang selama ini tidak di bayarkan oleh Cakra, sekarang dia akan menerima itu.


"Syukurlah aku masih di percaya dan di panggil bekerja kembali" ucapnya.



Siangnya, Ferdian bersama Fadli meninjau pabrik produksinya. Kondisi di dalam pabrik terlihat kotor dan kumuh hal itu membuat Ferdian marah.


"Kenapa pabrik kita seperti ini pak Fadli? Bukannya ini pabrik makanan harusnya steril kan? Siapa kepala pelaksananya panggil CEPAT!" ucap Ferdian dengan suara lantang.


Tak lama seorang wanita paruh baya menghampirinya.


"Selamat siang pak ada yang bisa saya bantu? Saya Delina kepala pelaksana di pabrik ini!" Delina memperkenalkan diri dengan ramah.


"Saya Ferdian Mikarti, pemilik baru perusahaan ini. Ada banyak yang harus saya koreksi disini. Saya ingin bertanya, sebenarnya ini pabrik apa?" tanya Ferdian dengan selidik mata yang tajam.


"Maaf! Ini pabrik Mie instan, Msg, Dan kebutuhan rumahtangga lainnya pak" jawab Delina.


"Oh ya, bukannya ini pabrik pupuk kandang ya?" tanya Ferdian sarkas.


Delina tampak bingung.


"Anda lihat saja, pabrik ini terlihat berantakan, kotor dan tidak terawat. Apakah pantas di sebut pabrik pengolahan kamanan? Jika sampai publik tahu keadaan produksi kita seperti ini makan saya jamin satu pun tidak ada yang membeli produk kita. Dan untuk karyawan disini apa tidak punya baju khusus karyawan sampe pakai baju bebas dan lihat sampe tidak ada yang pakai sarung tangan latek" geram sudah hati Ferdian melihat perusahan mendiang papanya hancur.


"Maaf sebelumnya pak, izinkan saya mengeluh di hadapan anda sebagai pemilik perusahaan yang baru. Kami sudah beberapa kali mengajukan usul pada bapak Cakra tetapi usul kita tidak ada yang di gubris satu pun. Saya pernah mengajukan penggantian mesin produksi lama menjadi mesin produksi yang lebih canggih tetapi beliau menolak, alhasil produksi kami keteteran dan tidak bisa memenuhi permintaan pasar. Lalu saya pernah meminta anggaran untuk membuat baju untuk karyawan tetapi di tolak mentah-mentah saat itu oleh pak Cakra" Delina terus saja berkeluh kesah pada Ferdian.


"Saya ingin semua karyawan memakai baju yang di berikan perusahaan. Kamu bisa mencari garmen yang bisa bernegosiasi dengan harga yang sedikit murah, Perintahkan semua karyawan menjaga kebersihan ketika mulai bekerja. Dan untuk tempat ini saya akan bernegosiasi dengan Fadli agar membersihkan tempat produksi kita. Untuk mesin yang lama, dalam sebulan saya pastikan mesin baru akan datang yang utama pekerjaan untuk karyawan sampai jam tiga sore" ucap Ferdian yang di sambut dengan senyuman ramah di bibir Delina.


Sesudah melihat tempat-tempat di pabriknya, akhirnya Ferdian pulang dengan badan yang sangat lelah.

__ADS_1


__ADS_2