Kebebasan ADINDA

Kebebasan ADINDA
Kepergian Lucy dan Adinda


__ADS_3

Dengan sorot mata tajam, Ana berjalan ke arah Adinda yang sedang melepas rindu bersama Ferdian.


"Mau ngapain Kak Dinda kemari?" tanya Ana dengan nada ketus.


Mendengar nada bicara Ana yang menurutnya kurang ramah, Adinda langsung menghampiri Ana dan meraih tangannya.


"An maafin kakak ya waktu itu kakak sudah ngusir kalian. Kakak menyesal banget! Kak Dinda kemari ingin menjemput kalian semua untuk kembali ke Jakarta lagi. Mau ya ikut Kak Dinda lagi" tutur Adinda.


Mendengar ucapan Adinda, bukannya membuat Ana senang, tetapi Ana langsung melepaskan tangan Adinda dengan kasar. Melihat itu membuat Ferdian merasa marah.


"An, jangan gitu dong. Kak Dinda ka tulus minta maaf sama kamu" ucap Ferdian.


"Abang selalu belain dia karena bang Ferdi sayang kan sama Kak Dinda? dan untuk Kak Dinda, aku sudah kecewa pada kakak. Kak Dinda tega mengusir kami seperti sampah" ketus Ana sembari berlalu ke dalam rumah nya.


Mendengar penolakan Ana, membuat Adinda sedih dan menitikan air mata. Ferdian dan Lucy kemudian menghampiri nya dan menenangkan Adinda yang menangis.


"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Ana memang sedikit keras kepala, tapi sebenarnya dia hatinya baik" ucap Ferdian sambil mengelus pucuk kepala Adinda.


"Fer, kesalahan ku sukar di maafkan ya?" lirih Adinda.


"Gak usah mikir yang macam-macam ya! mendingan kita istirahat saja" ajak Ferdian yang menuntun tangan Adinda ke dalam rumah gubuknya.


Di dalam rumah itu Lucy terus saja menggandeng tangan Adinda. Seolah enggan melepaskan dan takut akan Adinda pergi lagi.


"Dek, lepasin tangan Kak Dinda dong. Kak Dinda kasian " ucap Ferdian.


"Gak akan ku lepaskan. Aku takut Kak Dinda pergi lagi" jawab Lucy.


"Hehe~~ Kak Dinda gak akan pergi tanpa kalian kok. Lucy mau ikut Kak Dinda kan pulang?" tanya Adinda.


"Aku akan ikut Kak Dinda pulang ke Jakarta. Aku ingin bertemu Tante Rossy, Pak Antoni, dan Kakek" jawab Lucy.


"Yasudah sekarang kamu tidur siang dulu ya" perintah Ferdian.


"Tapi aku maunya Kak Dinda temenin aku bobo ya bang!“ pinta Lucy manja.


Lucy pun tidur siang bersama Adinda.


Sementara Ferdian menemui Ana yang masih cemberut di dalam rumah pohon yang ada di belakang rumah gubuknya.


" An, abang masuk ya" ucap Ferdian.


Tak ada jawaban dari Ana, tetapi Ferdian tahu bahwa sang adik ada di dalam. Dilihatnya Ana sedang menangis di pojokan rumah pohon itu.


"An, kamu baik-baik saja kan?" tanya Ferdian.


Ana masih bergeming dan tak menjawab pertanyaan dari sang kakak.


"An, gak baik loh menyimpan dendam. Apalagi Kak Dinda sudah minta maaf sama kamu. Temuin dia yuk" ajak Ferdian.


Ana masih diam dalam posisi duduk dengan menangkup kedua kakinya dan membenamkan wajahnya.


Lama tak ada jawaban membuat Ferdian kesal. Di raihnya tubuh sang adik dan ternyata Ana sedang tertidur dengan dengkuran halus.


"Kamu tuh tidur ternyata! pantesan gak nyahutin abang" ucap Ferdian.


Di pandang nya lekat wajah sang adik dengan seksama.


"Adek abang yang satu ini memang cantik banget. Wajahmu mirip sama princess Margaret dari inggris. Tapi sifatmu keras kepala dek. kayanya ada sifat om Cakra yang melekat sedikit di kamu An" kekeh Ferdian.


Dia menyelimuti tubuh Ana dan membiarkan tertidur di rumah pohonnya.


Sementara di rumah gubuknya, Lucy sudah terlelap dengan pulasnya. Adinda pun langsung berlalu dan berjalan ke arah padang rumput yang luas.


Melihat Adinda yang sedang duduk bersila di bawah pohon, membuat Ferdian langsung menghampiri.


"Hai. Sendiri aja nona manis" ucap Ferdian.


"Berdua sama kamu kan" jawab Adinda.


"hmmmm" jawabnya dengan deheman dan duduk di samping Adinda.


"Fer, maaf ya soal waktu itu. Aku bener-bener sudah menyakitimu" lirih Adinda.


"Minta maaf untuk?" tanya Ferdian.


"Soal perjodohan itu" jawabnya.


"Oh soal itu! tak apa-apa buatku. Wajar saja sih seorang Adinda menolak lelaki seperti ini.


Lusuh, tidak berpendidikan, tak punya pergaulan dan humppppppt~~"


Tak sempat melanjutkan kata-kata nya. Adinda seketika mencium bibir Ferdian membuat dia seketika terdiam.

__ADS_1


"Aku sayang kamu Fer" ucap Adinda spontan.


"Kamu ngomong apa sih! bukannya dulu kamu yang menolak perjodohan itu ya. Kenapa sekarang bisa bilang seperti itu?" tanya Ferdian terheran.


" Waktu itu aku bodoh Fer. Kamu ngerti gak sih kenapa aku menyusul mu sejauh ini sampai kaki ku lecet semua, ya karena ku sudah menyayangimu Ferdian" telisik Adinda.


"Sejujurnya ku pun cinta kamu. Cuma sadar diri saja posisi ku" ucap Ferdian.


"Sudah lah jangan selalu merendah. Walau pun kamu saat ini hidup seperti Tarzan, tapi aku menerima nya" ucap Adinda sambil tertawa.


Mendengar Adinda menyamakan dirinya dengan Tarzan membuat Ferdian sedikit kesal.


"Jangan samain aku dengan Tarzan juga dong. walaupun ku tinggal di hutan, tapi aku gak buta huruf. Pake baju juga" ucap Ferdian sedikit ketus.


Melihat Ferdian marah membuat Adinda tertawa karena merasa lucu dengan ekspresi wajahnya.


"Fer!“


" Fer!“


"Ferdi?“ rajuk Adinda.


" Hmmmmm" jawabnya


"Kok ngambek sih. Gak seru akh" ucap Adinda sembari mengguncang-guncangkan tubuh Ferdian yang pura-pura tertidur.


"Ferdian ikh gak lucu tau ngambekan!“ bujuk Adinda.


"Aku ngambekan ya" ucap Ferdian sembari meraih tubuh Adinda dalam pangkuannya.


"I love u" ucap Ferdian.


"Aku harus jawab apa?" tanya Adinda sembari mengusap rambut Ferdian.


"Terserah" ucap Ferdian.


"I lovu u more Fer" balas Adinda.


"Beneran?“ tanyan Ferdian.


" Ya" jawab Adinda.


Mendengar Adinda menerima cintanya, membuat dia bahagia bukan kepalang. Di pandangi wajah sang kekasih dengan lekat dan mendekatkan wajahnya ke wajah Adinda.


"Aku akan selalu ada untuk mu" ucap Ferdian.


Tapi tiba-tiba, ciuman itu di hentikan oleh Ferdian.


"Kenapa?" tanya Adinda heran.


"Kamu juga mengerti" jawab Ferdian dengan wajah yang di penuhi gai*ah.


Mata Adinda seketika melihat ke bawah, dan benar saja ada sesuatu yang membesar di antara celah paha sang kekasih.


"Oh ya aku mengerti" kekeh Adinda sedikit malu.


"Aku lelaki normal walau belum pernah sekalipun menyentuh wanita, tapi naluri lelaki memang tak bisa di bohongi. Mau aku makan sekarang?" tanya Ferdian.


"Ya Fer aku paham" ucap Adinda.


Mereka pun merebahkan tubuhnya di bawah pohon dan saling memeluk.


"Aku bahagia banget Fer untuk hari ini. Jauh-jauh ku kemari rasanya tak sia-sia" ucap Adinda.


"Aku pun bahagia bertemu lagi dengan mu sayang" ucap Ferdian dengan jemari menyentuh wajah sang wanita yang baru saja jadi kekasihnya.


Di raihlah tubuh Adinda dalam pelukannya. Rasanya hangat dan tak bisa di ucapkan oleh kata-kata. Mereka pun tertidur sejenak.


Sore beranjak mereka pun bangun dan langsung berjalan menuju rumah gubuk nya.


Tampak Ana dan Lucy yang sedang di dapur memasak. sesudah selesai memasak, mereka menyiapkan makanan di meja. Melihat makanan itu, Ferdian mengernyitkan dahinya.


"An, kok masaknya sedikit? Kan ayam yang di dapat masih ada dua ekor lagi! Harusnya kamu memasak semuanya" ucap Ferdian.


"Itu cukup kok untuk tiga orang bang" jawab Ana.


"Kita kan berempat An. Kak Dinda juga harus makan" ucap Ferdian.


Melihat keributan itu membuat Adinda harus bersabar.


"Gak apa-apa kok Fer. Aku bawa makanan kok" ucap Adinda sembari berlalu menjinjing tas nya ke depan rumah.


"Keterlaluan kamu An" kesal Ferdian.

__ADS_1


"Bela aja tersus" sindir Ana.


Tak lama Lucy pun keluar dari rumah dan menyusul Adinda.


"Kak Dinda lagi masak apa?" tanya Lucy yang melihat Adinda sedang memasak dengan kompor portable nya.


"Kok kamu sesini! Kan sedang makan didalam" Tanya Adinda.


" Aku mau makanan yang Kak Dinda bawa! Bolehkan kak aku minta makanan itu?" tanya Lucy yang memandang sosis dan mie instant yang sedang Adinda makan.


"Boleh dong sayang. Makan aja yang ini, Kak Dinda bisa bikin lagi" ucap Dinda sembari menyodorkan semangkuk mie perbekalan nya. Lucy pun langsung menyantap dengan lahapnya.


Malam pun tiba. Ana yang sedang merebahkan tuhuhnya di atas tempat tidur, sengaja mempersempit tempat itu dengan posisi kaki di lebarkan berharap Adinda tidak bisa tidur disana. Adinda pun masih sabar dan mengacuhkan sikap Ana yang menurutnya sudah keterlaluan.


(Apasih nih anak! Dari siang begitu terus sikapnya padaku. Awas kamu ya) gerutu Adinda sambil berlalu menuju halaman rumah itu. Dia berinisiatif mendirikan tenda, tetapi Ferdian mencegahnya dan menyuruh nya untuk tidur di atas rumah pohon tempat Ferdian tidur setiap malam.


"Jangan tidur disitu! Ayo ikut aku ke atas sana" ajak Ferdian.


Adinda pun berjalan mengekor di belakang Ferdian. Sesampainya di atas rumah pohon itu, dia sangat takjub karena bisa melihat pemandangan malam hari yang di penuhi hamparan bintang-bintang dan cahaya bulan yang sempurna.


“Indah banget Fer" ucap Adinda.


"Ya memang! Tapi masih indahnya dirimu sayang" jawab Ferdian.


"Hmmmm~~ sudah berani panggil sayang rupanya!" ucap Adinda sembari tertawa kecil.


"Salahya?" tanya Ferdian.


"Gak sih" jawab Adinda.


Tangan Ferdian meraih pundak Adinda dan menenggeamkannya dalam dada bidang dan perut roti sobeknya Ferdian. Adinda yang menikmati sentuhan itu hanya diam tak ada penolakan.


"Aku nyaman dengan perlakuan mu Fer" ucap Adinda dengan kepala yang sengaja mendusel manja ke dada Ferdian.


"Aku akan selalu buatmu nyaman" balas Ferdian dengan jemari membelai rambut sang kekasih.


"Janji?" tanya Adinda dengan wajah mendongak ke arah Ferdian.


Ferdian hanya mengangguk dan langsung menyambar bibir sang kekasih. Mereka saling memagut dan saling bertukar saliva hingga suara ******* lolos dari bibir Adinda. Di ruangan yang luasnya 1 × 2 meter itu hanya terdengar decapan suara bibir yang saling bersahutan. Tangan nakal Ferdian dengan lihai membuka satu persatu kancing baju Adinda.


"Ferdi, kamu mau apa?" tanya Adinda.


"Aku ingin jadi bayi malam ini" jawab Ferdian.


"Ferdian no!" ucap Adinda.


" Bukannya sudah ada yang pernah tahu juga ya?" tanya Ferdi sembari menunjuk sesuatu yang menonjol di balik baju kemeja sang kekasih.


"Fer jangan!"


Ferdian tak menghiraukan perkataannya, dia langsung membanamkan wajahnya di bukit kembar yang ranum itu. Lama dengan aksinya, Ferdian pun menyudahi dan mengajak Adinda untuk beristirahat. Mereka pun tidur dengan berpelukan sampai pagi.


Sesudah sarapan dan mandi! Adinda berkemas untuk pulang. Keinginan nya untuk membawa trio bersaudara pulang hanya angan-angan saja di tambah sikap Ana yang menurutnya sangat menyebalkan.


Melihat Adinda yang sudah bersiap untuk pulang membuat Ferdian seakan tak rela mengizinkan kekasihnya pulang sendiri.


"Aku tak rela kamu pulang" ucap Ferdian sembari memeluk Adinda dari belakang dan membenamkan wajah nya pada pundak sang kekasih.


"Aku tak bisa membujuk Ana untuk ikut. Yasudah Fer, aku pamit ya! Jaga diri kalian baik-baik" ucap Adinda sembari melangkah dengan membawa tas ransel di punggungnya.


Melihat Adinda yang hendak pergi, seketika Lucy berlari menemui Adinda.


"Kak Dinda aku ikut. Aku kangen sama kakek" rengek Lucy.


"Fer gimana ini?" tanya Adinda dengan kepala menoleh ke arah Ferdian.


"Bawa saja kalau dia tidak merepotkan mu" ucap Ferdian.


Tiba-tiba Ana keluar dari rumah dan berteriak mencegah Lucy ikut dengan Adinda.


"Lucy kamu jangan ikut dia. Kita disini saja" Bentak Ana yang langsung menarik tangan sang adik.


Bukannya menurut, Lucy malah menggigit tangan Ana sampai dia meringis.


"Aku gak mau disini! Aku mau ikut Kak Dinda. Ayo kak kita pergi sekarang" ajak Lucy.


Sebelum pergi Adinda menghampiri Ana yang masih memegangi tangan nya, lalu dia membisikan sesuatu.


"Lucy sudah memilih langkah yang tepat. Aku bukan orang yang memiliki kesabaran yang banyak. Aku cukup muak dengan sikapmu yang sangat kekanak-kanakan seperti kemarin. Aku memang salah waktu itu sudah mengusirmu! Tapi aku kemari untuk menjemput kalian. Jangan sampai menyesal karena Kakek Katris sedang di rawat di rumasakit" ucap Adinda berbisik di telinga Ana.


Ana yang mendengar itu hanya bisa melotot.


"Yasudah Fer, aku pamit ya" ucap Adinda seraya berjalan menggandeng tangan Lucy.

__ADS_1


"Maafkan aku ya" ucap Ferdian.


"Kamu gak salah" jawab Adinda seraya berjalan meninggalkan rumah gubuk itu.


__ADS_2