
Ferdian masih terdiam ,hatinya gundah, ia ingin menolak tetapi tuan Antoni memaksa harus menerimanya. Meskipun ia sudah menyukai Adinda sejak pertama bertemu, tetapi ia cukup sadar diri, fikirnya seorang Adinda tak mungkin mau menerimanya sebagai suaminya,, di sela ngawang lamunanya ,suara tuan Antoni memecah keheningan itu ..
"Ferdi, saya tahu kamu sedang memikirkan ucapan saya tadi bukan?.... saya tidak pernah main - main dengan ucapan saya, saya tahu kamu menyukai Adinda kan, terimalah tawaran saya, saya membutuhkan sosok lelaki bertanggung jawab untuk anak saya ,dan itu ada pada diri kamu, saya sudah tak muda lagi, ingin rasanya melihat putri satu - satuya menikah, "tutur tuan Antoni.
" Maaf pak, sepertinya bapak terlalu berharap kepada saya,, saya malu akan diri saya, bukan saya menolak tawaran itu, bagaimana saya akan membangun mahligai rumah tangga,menjadi pemimpin kepala keluarga, mempunyai keberanian melindungi istri dan anak - anak saya kelak, untuk sekedar membongkar masa lalu saya pun saya tak mampu, dan betul apa yang bapak katakan bahwa saya menyukai Adinda, bahkan sejak pertama bertemu ,"jawab Ferdian semu.
"Ini yang saya suka dari kamu, kamu memang sangat tepat dengan anak saya, ferdi asal kamu tahu, saya dan istri saya sudah menganggap mu sebagai keluarga sendiri,terlepas kamu dari keluarga tuan katris pun atau bukan saya tidak mempermasalahkan, dan kamu jangan takut ,saya akan selalu bantu kamu untuk mendapaykan hak mu. Soal Adinda ,kamu tidak perlu khawatir,saya akan mengaturnya, jangam sia -sia kan tawaran saya,"ucap tuan Antoni dengan sungguh,...
"Baiklah pak ,saya setuju," jawabnya singkat.
...Betapa bahagianya tuan Antoni, akhirnya ia menemukan jodoh untuk Adinda, ia sudah lelah dengan tingkah laku anaknya, ia berharap jika Adinda menikah ia akan berubah dan lebih peduli dengan karir nya....
Tibalah di kamar Adinda ,...
Tok tok tok...
"Masuk" suara Adinda di balik pintu.
Masuklah mama dan papa nya kedalam
"Loh pah / ma ada apa , jangan bahas soal yang tadi aku muak, " ucap Adinda.
"Dengarkan dulu kami bicara, ini kami lakukan untuk kebaikan mu juga," jawab tuan Antoni.
"Omong kosong ,aku gak mau pa, aku bisa memilih jodoh ku sendiri,ini bukan jaman Siti Nurbaya , Ferdian itu hanya orang asing pah , kenapa bisa se yakin itu pada nya" tutur ya.
__ADS_1
"Papa sudah yakin akan pilihan papa, Ferdian itu pemuda yang baik dan terlihat bertanggung jawab, mana pacar mu yang kamu bela itu ,nyatanya apa dia meninggalkan mu bukan?" ujar tuan Antoni.
"Aku tahu pah ,kenapa papa sampai mau menjodohkan ku dengan Ferdi, papa merasa hutang budi kan ,dia sudah menyelamatkan ku, dan aku tahu karena Ferdi sebenarnya orang kaya,jujur saja deh pah" seloroh Adinda.
"Ya salah satunya itu, keputusan kami sudah bulat, minggu depan kamu akan papa nikahkan" tegas tuan Antoni
"Stop pa. Stop ...papa jangan membuat keputusan yang seenaknya, aku yang akan menikah dan tidak dengan Ferdi. Aku masih ingin menikmati masa mudaku" jawabnya tegas.
"Masa muda seperti apa yang kamu inginkan Dinda??. Di usia mu yang sudah dua puluh lima tahun kamu masih pengangguran , hidup gak jelas ,lantas mau apalagi kalau tidak menikah" tegas tuan Antoni.
Sesudah bicara dengan Adinda, tuan Antoni keluar dari kamarnya. Ia harap Adinda bisa menerima perjodohan ini.
Pagi pun menjelang. Seisi rumah sedang sibuk dengan urusan masing- masing, tak terkecuali trio bersaudara itu. Nyonya dan tuan segera pamit untuk bekerja, tinggalah Bi Omah, Ferdian, Ana , dan Lucy,.. Sesaat suara teriakan menggema. Memanggil trio bersaudara itu. Suara Adinda dengan kerasnya..
"Ferdian... Ferdian dimana kamu," teriak Dinda memekakan telinga.
"Apa yang sudah kamu lakukan dengan orang tuaku, sampai mereka menyuruh ku untuk menikahimu?. Jawab? "pekik Adinda
" Apa maksud mu ?. Aku tak pernah memperngaruhi orang tuamu, soal yang tadi ,itu pun aku tak tahu,"jawab Ferdian sedikit kesal.
"Halah jangan bohong kamu Fer, sejak kedatangan kalian, mama dan papa jadi tidak menyanyangi ku, mereka lebih menyayangi kalian. Oh aku tahu, alasan kamu mau di jodohkan dengan ku karena aku kaya kan. Cowok miskin kaya kamu itu hanya mau uang. Aku juga curiga jangan- jangan kalian bertiga itu ngaku - ngaku saja keluarga Tuan katris,"celoteh Adinda dalam marahnya.
"Jaga mulut nu Dinda. Aku sama sekali tidak mempunyai fikiran selicit itu, asal kamu tahu, aku pun akan mikir dua kali untuk menikah dengan wanita sepertimu. Wanita yang selalu membuat marah orang tuanya, " dengus Ferdian.
"Aku cukup berterimaksih karena kalian telah menolong ku waktu itu, tapi tenang saja aku akan membayar jasa kalian ,berapapun. karena ku tahu orang manipulatif seperti kalian hanya mau uang kan" ucap Adinda ketus.
__ADS_1
Di berikan lah segepok uang dengan nada jengkel, tanpa di sangka Ferdian melemparkan uang itu ke wajah Adinda.
"Simpan saja uang mu itu, kami tidak perlu"
"Ana ,Lucy. kemari ,abang mau bicara" panggilnya kepada adik - adiknya
"Aku sudah tahu bang apa yang abang mau katakan. Kita jangan jadi beban orang lain bang. Ayo kita pergi... Terimakasih kak ,kak Dinda sudah mau menampung kita disini, maaf selama ini kami hanya bisa merepotkan bapak ,tanteu dan kakak. Kami akan pulang sekarang" ucap Ana lirih.
"Bagus kalau kalian sadar diri. Cepat kalian pergi dari rumah ku."
..
Mereka pun keluar dari rumah itu dan tak lupa pamitan kepada Bi Omah dan Satpam.
"Bi, saya dan adik saya pamit. Maafkan kami jika keberadaan kami Merepotkan kalian," ucap Ferdi sambil memeluk Bi Omah.
"Nak Ferdi maafkan Bibi ya, Bibi tidak misa mencegah kalian. Ambil ini untuk ongkos di jalan nak" lirih Bi Omah.
"Terimakasih Bi, saya tidak akan lupa pada Bi Omah" kata Ferdian kelu.
Kemudian pelukan Ferdi beralih pada Satpam rumah itu. "Mang maafkan saya dan kedua adik saya, saya pamit"
"Sama - sama Dek Ferdi, maafkan mamang juga"..
Selepas tangis haru itu, trio bersaudara pergi dan menaiki bus menuju stasiun.
__ADS_1
Adinda yang melihat itu dari balik jendela ,hanya diam mematung, ada sedikit penyesalan, apalagi iya pasti di kuliti habis - habisan oleh orang tuanya gara - gara hal ini.