Kebebasan ADINDA

Kebebasan ADINDA
Diam-diam Menghanyutkan


__ADS_3

Setelah pembicaraan dengan sang kakek selesai, Ferdian langsung pergi ke kediaman Adinda. Malam ini Ferdian terlihat sangat tampan sengan memakai celana chinos warna cokelat muda di padukan kaos berwarna putih di balut dengan jaket denim membuat aura ketampanannya bertambah.


Wajah Felix bagaikan reflika patung dewa Yunani yang hidup. Dengan hidung mancung, rahang tegas, bibir sedikit tebal berisi, dan otot-otot yang menonjol pada tubuhnya serta urat-urat pada tangan yang mengkerat menambah grenxxxx pada dirinya.


"Tuan muda apa perlu saya tunggu di rumah nona Adinda?" tanya supirnya yang bernama Hali.


"Tak usah di tunggu pak Hali. Bapak pulang saja! Nanti kalau saya mau pulang, saya telepon" Jawabnya.


Ferdian pun masuk ke dalam rumah Adinda yang langsung di sambut oleh Tuan Antonie dan sang istri.


"Selamat malam pak Antoni dan tanteu Rossy! Bagaimana kabarnya?" tanya Ferdian ramah.


"Kami baik-baik saja nak!" jawab Tuan Antoni ramah.


"Kamu sangat tampan malam ini nak Ferdi" ucap Nyonya Rossy.


"Terimakasih tanteu! Oh ya Dinda nya ada?" tanyanya sembari melihat kanan dan kiri.


"Ada di kamar! Tanteu panggilkan dulu ya. Kamu ngobrol dulu saja sama papa" ucap Nyonya Rossy sembari melangkahkan kakinya menuju kamar sang putri.


"Jadi bagaimana apakah pak Katris sudah memberikanmu kekuasaan?" tanya Tuan Antoni.


"Sebenarnya sulit buat saya menerima tanggung jawab sebesar itu ketika kakek telah mempercayakan saya sebagai CEO di perusahaan peninggalan mendiang papa dan tentu saja itu menggeser kedudukan om Cakra yang sudah lama berkuasa disana! Akan ada badai besar menghantam saya dan kedua adik saya pak, karena pak Antoni juga tahu bukan bahwa om Cakra adalah sosok yang sambisius dan akan menghalalkan segala cara supaya tujuannya tercapai" tuturnya dengan perasaan yang takut.


"Lantas kamu takut Ferdian?" tanya Tuan Antoni.


"Jujur saja saya takut pak! Dari segi pengalaman dan ilmu jelas om Cakra unggul telak di banding saya. Apalagi saya sehari-hari hidup di hutan dan tak pernah mengelola perusahaan" keluhnya.


Tuan Antoni pun menepuk bahu kekar pemuda itu dan memberikan semangat padanya.


"Kau jangan takut. Kau ini masih muda nak! Pikiran mu masih luas. Jangan berkecil hati karena kau tidak sekolah karena papa yakin kau pintar dan bisa mengatur perusahaan itu. Bekerjalah yang benar, buat inovasi baru produk kamu. Cari pekerja yang memang kompeten di bidangnya dan jangan lupa sejahterakan karyawan mu. Karena papa akan mendukungmu apalagi kalau kau dan Adinda menikah" tuturnya.


"Apa pak Antoni merestui hubungan saya dengan Dinda?" tanya Ferdian bersungguh-sungguh.


"Ya papa merestuinya karena kamu pemuda yang baik dan jujur! Sebenarnya tahun depan juga papa akan memberikan perusahaan pada Adinda! Kau jangan berkecil hati karena Adinda juga tidak kuliah. Dia gadis yang sangat badung sekali. Kuliah tidak mau hanya lulusan SMA itu juga papa harus menyogok sekolah nya dulu supaya bisa mengikuti ujian dan lulus tepat waktu. Kerjaan dia hanya medaki gunung berinteraksi dengan monyet di hutan. Sampai pada titik papa sudah menyerah dengan kelakuannya dia pergi ke Kalimantan menjadi relawan untuk kepedulian Orang Utan dan Monyet Bekantan selama dua tahun tanpa kabar. Yang lucunya saat itu kami mengira Adinda sudah meninggal di gunung hingga kami mengadakan tahlilan di rumah ini" tutur Tuan Antoni sembari tertawa terbahak-bakak.


"Unik sekali dia!" ucap Ferdian.


"Memang unik anak itu. Di saat perempuan seusianya hanya tahu shoping, Traveling ke luar negri atau berkarir, dia malah pergi kemana-mana membawa carier nya. Tapi dia sudah bilang pada papa mau menggantikan papa tahun depan di perusahaan. Dan satu lagi yang membuat papa kagum pada dia adalah bakat mengambar dan melukisnya luar biasa ini akan jadi ilmu yang berguna di perusahaan" ucapnya.


"Saya semakin bangga dengan dia pak" ucap Ferdian.


Tak lama Adinda pun datang bersama Nyonya Rossy.


"Hei Fer! Maaf lama" ucap Adinda canggung.


"Tidak masalah" jawab Ferdian dengan senyum tampannya.


Menyadari jika keberadaannya akan membuat canggung dua sejoli itu, akhinya Tuan Antoni mengajak sang istri untuk masuk ke dalam kamar.


Di ruang tamu, Ferdian intens memandangi bidadari di hadapannya. Ferdian pun menggeser bokongnya untuk duduk di sebelah Adinda.

__ADS_1


"Hei, kenapa kamu menunduk?" tanya Ferdian sembari meraih dagu Adinda.


"Aku grogi malam ini" balas Adinda dengan tersipu malu.


"Hmmm, Yang kamu sangat cantik malam ini!" ucap Ferdian sangat jujur dari lubuk hatinya yang terdalam.


"Terimakasih! Kau juga sangat tampan!" Balasnya.


Cupp!!! Sebuah ciuman curian di berikan di bibir Adinda.


"Fer nakal ya kamu!" seru Adinda.


"Biar saja! Nakalnya juga hanya padamu sayang" ucapnya dengan terkekeh.


"Hmmmm bagaimana sekarang soal perusahaan papamu?" tanya Adinda mencoba mengalihkan topik bicara pada kekasihnya yang sedikit jahil itu.


"Besok aku sudah mulai bekerja menggantikan posisi om Cakra!" ucapnya lesu.


"Aku takut kamu akan terkena badai Fer!" keluh Adinda.


"Itu yang aku takutkan! Tapi aku tidak akan menyerah. Apalagi kata kakek, perusahaan ayah di ambang kehancuran karena ulah korup om Cakra" jawabnya.


"Aku akan tetap mendukungmu bagaimanapun itu! Kita hadapi bersama, berjuang bersama" ucap Adinda sembari mengelus punggung Ferdian dengan lembut.


"Bantu aku ya sayang agar ku bisa terus melawan om Cakra" ucap Ferdian dengan menangkup pipi sang kekasih dengan kedua tangannya.


"Aku akan membantumu sayang! Jangan takut ada aku, papa dan kakek Katris. Aku juga akan secepatnya menggantikan papa mengurus perusahaan dan jangan lupakan pabrik skincare milik mama juga akan jadi tanggung jawabku" ucapnya.


"Memangnya tidak akan melelahkan mengurusi dua perusahaan?" tanya Ferdian sembari memandang lekat pujaannya.


"Jika kita sama-sama sibuk, maka waktu bertemupun akan sangat susah! Bagaimana ini?" tanya Ferdian sedikit gusar.


"Jangan terlalu di pikirkan..Kita masih bisa bertemu kan? Sekarang yang harus kita pikirkan bagaimana caranya harus bisa menjalankan perusahaan yang orang tua kita berikan. Jangan sedih ya sayang kita bisa bertemu kapan saja" Adinda mengusap wajah tegas Ferdian yang di tumbuhi bulu-bulu halus.


Ferdian dengan spontan mengangkat tubuh Adinda ke atas pangkuannya lalu dia langsung memeluknya dari belakang.


"Fer mau apa?" tanya Adinda panik.


"Sutt!!! Sayang aku ingin begini sebentar. Memangkumu saja kok" ucap Ferdian dengan tangan yang sudah menyapu kesana kemari.


"Nakal ya kamu Fer! Aku mau turun" ucap Adinda ketika merasakan desiran-desiran aneh pada tubuhnya dan bagian bawahnya berdenyut kala mendapatkan sentuhan dari Ferdian.


"Sutt!! Jangan berisik" ucap Ferdian sembari mengusap-usapkan tangannya ke gunung kembar sang kekasih.


"Eummmppphh~~ Ferdian eumppppphhh" Adinda melenguh seketika.


"Nikmati dan rasakan karena aku pun baru pertama kali menj@m@h wanita" Suara Ferdian yang parau menambah kesan seksi pada pria gagah itu.


"S-su-d-ahhhhh hen-ti-kan Fer aku tak kuat lagi" Adinda berusaha menghentikan aksi nakal Ferdian yang sudah menyentuh segitiganya.


Kemudian tangan kekar itu membalik posisi adinda menjadi menghadapnya dengan posisi masih ada di pangkuannya.

__ADS_1


Ferdian langsung meraih tengkuk Adinda dan langsung merapatkan bibirnya. Tak ada penolakan dari sang pujaan hingga ciuman panas pun tak terelakan. Suara decapan bibir saling bersahutan. Mereka saling menggigit manja hingga aksinya buyar ketika panggilan telepon milik Ferdian berdering.


"Argghhh mengganggu saja" ucapnya kesal sembari melepaskan pagutan pada bibir ranum Adinda yang sudah terlihat membengkak.


"Dasar kamu ya Fer, diam-diam menghanyutkan" Adinda menggerutu.


Ferdian pun mengangkat panggilan telepon dari supirnya.


"Hallo pak Hali ada apa?" tanya Ferdian.


"Maaf tuan muda saya mengganggu! Saya di perintahkan untuk menjemput tuan muda sekarang oleh tuan besar" ucap supir itu dengan nada tidak enak hati.


"Oh baiklah pak, jemput saya sekarang" balas Ferdian.


Telepon itu pun di tutup.


"Kenapa?" tanya Adinda.


"Kakek menyuruh supir segera menjemputku padahal aku masih ingin bersamamu" lirihnya.


"Pulang saja sana! Kalau lama-lama disini bahaya" ucap Adinda sembari tertawa.


"Bahaya kenapa sih sayang? Aku takan mengigitmu kok" jawab Ferdian.


"Nafsumu sangat besar Ferdi. Aku takut malam ini kau merampok keperawananku" jawab Adinda sembari tertawa.


"Tidak akan sampai begitu sayang! Aku takan merusak anak orang" jawabnya sembari memanyunkan bibirnya.


"Lagi pula kau sudah harus mulai bekerjakan? Jadi jangan kesiangan" ucapnya.


"Siap ibu negara! Kau ini selain menggemaskan bawel juga ya" Ferdian gemas dan langsung mencubit pipi Adinda dan menciumnya.


"Tuhkan cium lagi" Adinda sedikit kesal.


"Tapi suka kan?" tanya Ferdian dengan alis terangkat sebelah.


"Gak!" ucapnya dengan tawa kecil malu-malu.


"Bohongnya kamu" Ferdian sangat gemas dengan wajah Adinda.


Ferdian kemudian sekali lagi mencuri ciuman secara bertubi tubi di semua wajah Adinda dari mulai bibir, hidung, mata, kening , telinga, rambut dan terakhir leher Adinda membuat sang wanita memberengut kesal.


"Sekalian aja Fer sedot upil ku biar kamu puas! Untung tampan jadi sikap mu sedikit termaafkan" gerutu Adinda.


Ferdian hanya tertawa melihat ekspresi cemberut kekasihnya itu.


"Gimana lagi aku sangat gemas padamu" jawabnya.


Tak lama supirnya tiba di halaman rumah Adinda dan langsung di bukakan pagar oleh scurity rumahnya Tuan Antoni.


"Yasudah aku pulang dulu ya karena supir kakek sudah menjemputku! Maaf belum bisa mengajakmu jalan-jalan karena aku belum bisa mengemudikan mobil. Dan terimakasih untuk malam ini aku sangat menyukainya" Ferdian memeluk Adinda sengan erat.

__ADS_1


"Hati-hati ya sayang! Love u." Balas Adinda dengan mencium pipi Ferdian sekilas.


"Sampai ketemu besok ya sayang dan salam buat papa dan mama" ucapnya sembari berlalu ke luar rumah.


__ADS_2