
Di meja makan sudah tersedia berbagai macam jenis makanan.
"Ana dan Lusy bagaimana tentang sekolah yang sudah kakek bicarakan, apakah kalian setuju untuk sekolah kembali?" tanya Tuan Katris kepada kedua cucunya.
"Ya kek! Aku mau ambil paket A,B,C saja bareng dengan Lucy. Kami mau punya ijazah. Selepas itu aku mau kuliah" jawab Ana dengan tangan yang masih memegang goreng ayam.
"Bagus kalau kalian semangat sekolah. Maafkan kakek ya sayang karena baru sekarang kamu bisa sekolah. Tapi apa kalian bisa membaca?" tanya Tuan Katris.
"Bisa kek karena bang Ferdian selalu mengajarkan kami membaca, menulis, dan berhitung" jawab Lucy dengan mulut masih penuh dengan nasi goreng.
"Syukurlah kalau begitu. Kapan kalian mau masuk sekolah?" tanya Tuan Katris.
"Lusa saja kek! Lagi pula kita belum beli alat-alat sekolah kan" ucap Ana.
"Baiklah siang kita ke mall ya beli alat-alat sekolah sekaligus beli ponsel dan laptop untuk kalian dan Ferdian.
" Terimakasih kakek" ucap keduanya dan langsung berdiri memeluk sang kakek dengan sayangnya.
Rasa haru pun menyelimuti hati Tuan Katris. Di usia senjanya dia bersyukur masih bisa di pertemukan dengan ketiga cucunya yang selama ini dicarinya.
¥
Adinda pagi ini akan memulai bekerja mengantikan sang papa. Dia sudah memakai baju khas wanita kantoran.
"Bagaimana pa, bagus tidak baju ini?" tanyanya.
Baju milik Nyonya rossy yang di pinjam olehnya.
"Bagus itu kan selera mamamu tidak pernah ada yang gagal" jawab Tuan Antonie.
"Yasudah aku berangkat bekerja dulu tapi bulan nanti aku minta cuti satu bulan ya pa" Adinda masih saja belum mau kerja full.
"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Tuan Antoni sembari menyeruput teh yang bermerk Sariwarna kesukaannya.
"Nanjak Argopuro pa! Sudah lama nikh sejak jemput Ferdian dan adiknya aku belum olahraga lagi" ucapnya dengan nyengir kuda.
"Gak ya itu perjalanannya jauh bisa sepuluh hari. Gak, gak! Papa takan izinkan" Tuan Antoni langsung meninggalkan Adinda yang sebal dengan papanya.
"Enak saja mendaki lagi mendaki lagi. Aku masih trauma dengan kejadian Adinda masuk jurang. Anaku kan cuma dia seorang! Siapa yang akan mengurusi perusahaanku dan istriku" Tuan Antoni terus saja mendumel.
¥
Di sebuah Casino, Cakra sedang memijat keningnya lantaran dia kalah dalam berjudi. Lawannya masih kalah cerdik di bandingkan dengan dia.
"Ayo bung taruhan lagi kenapa kau malah mundur~~ Hahahaha" ucap rekan judinya dengan tawa membahana.
"Uangku habis" Cakra berlalu meninggalkan Casino itu.
Semua orang disana menertawakannya seakan menganggap dirinya seorang pria pecundang. Cakra sudah tidak punya apapun lagi kecuali mobil beserta rumah megah yang dia tinggali bersama istrinya Selly.
Ketika dia sedang merasa mumet, jalan satu-satunya adalah pergi ke bar dan bermain bersama para kucing kecilnya.
Di dalam bar, Cakra segera menghampiri sugar babynya yang sudah menunggu.
"My dady, aku sudah lama menunggu" Ucapnya manjalita sembari bergelayut manja di bahu Cakra.
"Baby, dady merindukanmu! Langsung saja ke-room hotel aja, manjakan dady sampe puas" Cakra langsung menggandeng sugar babynya yang bernama Viona!.
"Siap dady! Tapi sebelum aku memuskanmu, aku mau di belikan dulu tas LV yang keluaran musim sekarang! Boleh ya dady?" tanyanya semakin manja di pelukan Cakra.
"Boleh! Tapi dady sudah sangat tidak tahan! Layani dulu ya nanti sesudah bertular peluh kita pergi ke butik LV" jawabnya.
"Janji ya sesudah dady puas kita langsung kebutik beli tasnya" Viona terus saja merayu.
Cakra hanya mengangguk tanda setuju.
Skip..
The Grass hotel, Cakra dan sugar babynya sedang melakukan sumo.
"Ukhhhhhh!! Dady staminamu sangat amazing" Viona meracau di bawah kungkungan tubuh Cakra.
"Punyamu sangat menggigit" ucapnya dengam p*nggul masih menempa dengan ritme yang sangat cepat.
"Hsssshhhhh!! Ukh dady aku tak sabar ingin tas LV" Ucap gadis itu di tengah permainan panas nya.
__ADS_1
Mereka pun akhirnya selesai dan si gadis meminta janjinya. Tetapi Cakra baru ingat kalau uangnya habis di pakai berjudi dan dia kalah.
"Mati aku, uangnya habis bahkan di dalam ATM pun saldonya hanya tersisa 100 ribu saja! Bagaimana ini?" Cakra mulai bingung dengan semuanya.
"Sial gara-gara kau ferdian, ku jadi miskin begini. Awas saja akan kubalas kau anak tak berguna" umpatnya dalam hati.
"Dady ayo kita kebutik sekarang!" seru Viona.
"Iya, tapi dady izin keluar sebentar ya mau ambil sesuatu untukmu tertinggal di mobil" ucapnya yang sebenarnya ingin kabur dari sugar babynya.
"Dady kan bisa memberikan itu dimobil saja ketika kita pergi kebutik" jawab Viona yang tak menaruh curiga apapun terhadap Cakra.
"Oh tidak cintaku! Dady ingin memberikannya disini spesial untukmu ya sayang! Tunggu ya sayang dady keluar dulu sebentar" Cakra segera bergegas pergi dengan membawa semua barang-barangnya tanpa Viona curiga.
Di meja resepsionis, Cakra langsung bilang bahwa yang akan bayar biaya kamar adalah Viona. Dia pun langsung kabur dengan membawa mobilnya.
Sudah satu jam menunggu tetapi Cakra tidak kunjung kembali ke kamarnya. Viona pun menelepon Cakra tetapi langsung di rejeck oleh Cakra.
"Dady kemana sih kok lama amat" Viona mulai gundah.
"Apa jangan-jangan dia kabur, tapi selama dia memakai jasaku dia selalu membayarku full" Gumamnya.
Tiga jam sudah Viona menunggu Cakra yang tak kunjung mendatangi kamar itu sampai dia jengah dan memutuskan meninggalkan kamar hotel itu. Dia menyerahkan kunci kamarnya pada resepsionis.
"Untuk tagihan kamarnya sebesar tujuh ratus ribu mbak" ucap petugas resepsionisnya.
"Apa? Bukannya sudah di bayar oleh pria yang bernama Cakra?" tanyanya.
"Tidak bu! Semua tagihannya di bebankan pada anda" jawab resepsionisnya itu.
Viona pun sampe melongo mendengarnya karena baru pertama ini dia di mainkan oleh clientnya.
"Brengsek, bedebah kau dasar dady g*blok beraninya kau menipuku! Kau mau bermain-main dengan Viona rupanya. Baiklah kan kubuat kau menyesal. Aku sudah lelah mengangkang dan memuaskan mu tapi kau malah pergi tanpa membayarku" Viona terus saja mengumpat.
Dia pun menelepon seseorang.
"Bewok aku ada tugas untukmu sekarang".
"..........................?".
" Aku ingin kau memukuli seseorang! Buat dia sampai babak belur nanti ku kirimkan potonya, dan jangan lupa ambil barang berharganya termasuk ponsel dan mobilnya nanti kau serahkan padaku! Tinggalkan dia di tengah hutan dan lucuti bajunya".
"Tenang saja langsung ku transfer uangnya kerekeningmu"
"......................"
Percakapannya dengan seorang pria pun selesai dan Viona pun meninggalkan hotel itu dengan perasaan dongkol luar biasa.
Cakra yang prustasipun tiba di kantor Ferdian tetapi di cegah masuk oleh scurity kantor itu.
"Maaf anda tidak boleh masuk kedalam karena pak Ferdian sudah melarangnya" ucap Susanto sang keamanan di kantor itu.
"Bedebah kau ya! Kau tidak tahu siapa aku hah? Singkirkan tangan kotormu aku ingin masuk" ucap Cakra dengan pongahnya.
"Maaf anda tidak di perkenankan masuk" ucap Susanto dan Malik.
Cakra memaksa dan akhirnya bisa lolos karena keamanannya menyerah untuk menghadang pria arogan itu.
Dengan langkah penuh angkara murka dia berjalan menuju ruangan tempat Ferdian bekerja.
•
"Bagaimana sayang apa ada kendala dalam mengatur perusahaan?" tanya Tuan Katris yang ikut ke kantor.
"Untuk saat ini tidak kek! Aku di bantu oleh beberapa ahli disini dan itu cukup mudah kek!" Jawab Ferdian.
"Oh iya aku mendapatkan kabar bahwa kau mencairkan uang senilai tujuh milyar untuk apa?" tanya Tuan Katris heran.
"Maaf sebelumnya aku belum bicara ini pada kakek! Aku mencairkan uang itu untuk memberikan hak para karyawan selama om Cakra berkuasa di perusahaan ini karena uang pesangon dan lemburan tidak dia bayarkan, lalu untuk membeli mesin baru di pabrik dan membenahi kekacauan pabrik karena kondisinya sangat tidak layak untuk di sebut ruang produksi. Semua tampak kotor dan berkerak! Aku hanya takut publik akan mengetahui produksi kita dan tidak akan ada yang membeli produk kita kek!" tutur Ferdian.
"Kakek kagum dengan mu nak! Kau seperti papamu yang sangat memperhatikan karyawan! Semoga perusahaan yang kau pegang sekarang menjadi penuh dengan keberkahan" ucap Tuan Katris sembari memeluk sang cucu.
Brughhhhhh!!
Pintu di dorong dari luar oleh seseorang.
__ADS_1
"Cakra! Mau apa kau kemari?" tanya Tuan Katris.
"Kembalikan kedudukanku diperusahaan ini!?" ucapnya dengan nada yang sungguh menggema.
"Om mau kembali lagi kemari? Boleh om, aku menerimamu dengan tangan terbuka" ucap Ferdian.
"Nak apa yang kau bicarakan?" tanya Tuan Katris heran.
"Benarkah itu keponakanku?" tanya Cakra dengan bahagia.
"Tentu saja! Asal kau membayar kerugian perusahaan sebesar seratus milyar selama kau menggerogoti perusahaan papaku! Seharusnya kau masuk penjara dan menjadi pesakitan disana tapi keponakanmu ini masih berbaik hati tidak melaporkan penggelapanmu dan tanteu Selly ke polisi" Ferdian sangat geram dengan tingkah laku omnya itu.
"Brengsek kau Ferdian" ucap Cakra dan tangannya terkepal hendak memukul Ferdian tetapi naas Tuan Katris lah yang terkena pukulan sampai dia tersungkur.
Hal itu membuat Ferdian murka.
"Kau sudah memukul ayahmu sendiri, pria kurang ajar" Ucap Ferdian langsung memukulinya dengan membabi buta pada Cakra sampai dia mengaduh terkapar.
"Pergi kau jahanam jangan muncul lagi dihadapanku" Ferdian langsung menendang tubuh Cakra dan dia pun tergopoh keluar dari ruangan itu.
Ferdian mengangkat tubuh ringkih sang kakek yang terdapat luka memar dan darah yang kelaur dari hidungnya.
"Bunuh saja aku cakra" tuan Katris menangis.
"Kakek sudah ada aku disini! Aku akan mengobati lukamu" Ferdian segera mengambil kotak P3K.
Di jalan, Cakra terus mengumpat dan merasakan sakit di area wajah dan perutnya.
Tanpa dia sadar di belakang mobilnya segerombolan preman mengikutinya.
Tiba di jalanan sepi, mobilnya di hadang oleh preman itu.
"Bangsat, siapa mereka?" Cakra tampak ketakutan.
"Keluar kau keluar!" Seorang pria mengetuk kaca mobilnya dengan keras.
Cakra pun keluar dan langsung di hadiahi bogem mentah oleh Bewok.
Brughhh!!!
Brugggghhhh!!
Brughhhhhhh!!!!
"Siapa kalian?" tanya Cakra sembari mengaduh kesakitan.
"Dasar orang tua gila! Sudah nyelup dan mendapat kepuasan kau pergi dan tak mau bayar" Gertak Bewok.
"Oh jadi kau orang suruhan Viona?" tanyanya.
"Gak penting suruham siapa!" Jawab Besok.
Dia pun menyuruh anak buahnya memukuli Cakra sampai babak belur.
"Ayo bawa ke mobilnya" ucap Bewok.
Cakra pun di ikat dengan tambang dan di masukan ke dalam mobilnya.
Di dalam mobil, dia selalu berontak dan berakhir dengan sebuah pukulan hangat dari preman yang duduk di sebelahnya.
"Lucuti bajunya sekarang" perintah Bewok.
Anak buahnya kemudian melucuti bajunya Cakra dan hanya menyisakan celana pendek dan kaos singletnya saja.
Tibalah di hutan jati, mobil itu pun berhenti.
"Buang dia disini. Lempar saja kalian tak usah turun" perintah Bewok.
Cakra pun di lempar dsri atas mobil dengan keadaan terikat. Dia meronta dan meraung meminta pertolongan tetapi tak ada satupun yang mendengarnya.
Bewok kemudian menelepon Viona yang sedang bercinta dengan client yang lain.
"Hallo".
".............".
__ADS_1
"Bagus, kau jual barang-barang berharganya dan uangnya kau bagi dua denganku! awas jangan memakai identitas aslimu ketika kau menjual mobil itu. Segera transfer uangnya padaku jika sudah laku".
Percakapan itu pun disudahi l, Viona tersenyum senang karena bisa membalaskan sakit hatinya pada Cakra.