
Sesudah meminta izin kepada kedua orang tuanya, Adinda langsung berangkat menuju tempat tinggal Ferdian di lereng Puncak Piramid. Di sepanjang perjalaman, dia hanya berdoa semoga selalu di berikam kelancaran sampai bertemu dan membawa trio bersudara pulang.
¥
¥
Di balik diamnya seorang Ferdian, dia memendam rindu yang amat kepada Adinda. Di setiap hembusan nafas dan tergantinya antara siang dan malam. Ada secerca keputusasaan, kenapa harus di pertemukan dengan sosok wanita seperti Adinda, tetapi ada secerca harapan, jika dia bisa bertemu dan bersatu dengan sang pujaan.
"Masabodo dengan semua harta Kakek Katris. Aku tidak peduli. Yang aku harapkan hanyalah engkau Dinda" lirih Ferdian.
Melihat Ferdian melamun, membuat Ana yakin kalau dia sedang memikirkan Adinda.
"Abang lagi mikirin dia?" tanya Ana.
"Abang, hmmmmmmm, abang." jawab Ferdian tak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Mau sampai kapan bang Ferdi, memikirkan dia hah? dia sudah mengusir kita. Stop bang lupakan kak Dinda, kita hidup seperti dulu dan lupakan mereka. Lupakan kakek, lupakan kak Dinda, lupakan tanteu Rossy" ucap Ana dengan deraian air mata.
"An, abang akui sekarang, tidak mudah bagi kamu menerima ini semua. Abang paham, tapi jangan jadikan 100 kebaikan yang sudah orang lain lakukan sirna hanya dengan 1 kejelekan. Jadilah wanita pemaaf" ucap Ferdian.
"Susah ngomong sama orang yang sedang jatuh cinta. Aku benci sama bang Ferdi" ketus Ana sembari berjalan meninggalkan Ferdian dengan emosi.
Ketika Ana hendak mencari jamur untuk makan siang, dia melihat Lucy yang sedang menangis di bawah pohon salam dekat tempat tinggal mereka.
"Kamu nangis lagi kenapa sih dek? kan aku sudah bilang, lupakan kakek, lupakan semuanya. Ayo kita ke rumah atau kamu ikut kaka mencari jamur di hutan" ucap Ana sembari menarik Tubuh sang adik.
"Aku gak mau. Aku mau ke Jakarta. Aku mau ketemu kakek" jawab Lucy sembari merengek, menolak pergi.
Melihat sikap Lucy yang di nilai Ana menjengkelkan, dia langsung menarik tubuh sang adik lalu mendorongnya hingga tersungkur. Seketika membuat Lucy menangis. Ana hanya diam tak bergeming melihat sang adik kesakitan.
Mendengar ada keributan, Pelix langsung menghampiri sumber suara itu. Dia kaget bukan kepalang melihat Lucy tersungkur di tanah dan Ana hanya melihatnya dengan tatapan benci.
"Ada apa ini?"
"Kenapa kamu hanya diam An?" tanya pelix, sembari merengkuh tubuh Lucy.
"Kak Ana mendorongku sampai aku tersungkur~~hik hik hik" ucap Lucy sembari terisak.
"Jadi ini ulah kamu An? abang gak nyangka, kamu bisa melakukan hal ini kepada adikmu. Sejak kapan kau punya sifat kasar hah? abang gak pernah ngajarin kamu buat kaya gini" kesal Ferdian pada sang adik.
__ADS_1
"Aku benci sama kalian" desis Ana yang langsung meminggalkan mereka.
¥
¥
Di perjalanan menuju tempat tinggal Ferdian, Adinda merasa sangat kelelahan. Langkah demi langkah menyusuri padang ilalang dan semak belukar, sesekali sampai di hutan yang sangat lebat. Dia memutuskan untuk membuat tenda.
"Lelah banget. Aku harus istirahat, besok lanjut lagi" gumam adinda sembati berjalan membawa perlengkapan tenda.
Pagi pun datang. Sinar mentari menembus dalam tenda, sehingga membangunkan Adinda yang masih terlelap.
"Hoaaammmm~~ sudah pagi rupanya. Aku harus sarapan dulu dan langsung berjalan lagi. Aku sudah rindu sama kalian bertiga" gumam Adinda.
Setelah menyelesaikan semuanya, dia melanjutkan kembali perjalanan nya. Rasa lelah sudah tak di rasakan lagi. Yang ada hanyalah kerinduan ingin bertemu Ferdian.
Sementara pagi itu di kediaman Ferdian, Ana sedang memunguti jamur yang ada di dahan pohon, dan Ferdian sedang mencuci pakaian. Sedangkan Lucy sedang memberi makan kelinci. Dilihatnya samar-sama dari kejauhan seorang wanita sedang berjalan mendekat ke arah mereka. Melihat itu Lucy segera menghampiri Ferdian dan Ana.
"Bang, lihat ada kak Dinda kemari" ucap Lucy gembira.
"Apa sih dek, gak mungkin kak Dinda kemari. Jangan menghayal deh" ucap Ferdian.
"Kalian kok gak percaya. Aku yakin itu kak Dinda" tegas Lucy sembari berlari ke arah yang di tuju.
"Bang, Lucy sudah stres kayanya. Kasian juga sih. Tapi mau bagaimana lagi" lirih Ana.
"Hushhh, kamu jangan bicara asal" ucap Ferdian.
Lucy pun berjalan menyusuri bukit kecil. Dia yakin yang di lihat adalah Adinda. Lama melihat keadaan sekitar dan Adinda tidak terlihat lagi.
"Aku yakin itu kak Dinda, aku gak mungkin salah lihat kok. Lagian mana ada hantu diang bolong". gumam Lucy.
Tak lama, Lucy melihat Adinda sudah semakin dekat dengan nya. Tetapi Adinda tidak melihat keberadaan Lucy.
"Bener kan itu kak Dinda. Aku tidak salah lihat. Tapi aku sebenarnya masih sebal sama dia. Aku kerjain akh" ucap Lucy sembari mengambil batu kecil.
Di lemparkan nya batu kecil ke arah Adinda, dia pun menjerit.
"Argghhhhh. Siapa sih yang jahil melempar kerikil ini ke kepala ku. Setan kali ya. Tapi ini siang bolong. Tapi kan ini hutan" ucap Adinda sembari bergidik.
__ADS_1
Sekali lagi, Lucy melempar kerikil ke arah Adinda sembari tertawa cekikikan seperti kuntilanak. Adinda pun lari dan tampa sengaja dia terperosok.
Melihat Adinda dalam bahaya, Lucy segera menghampiri dan menolong nya.
"Kak Dinda" teriak Lucy.
"Lucy, kak Dinda datang ingin bertemu dengan kamu. Tapi tolong dulu kak Dinda"
Setelah berhasil di tolong. Dinda berjalan di gandeng oleh Lucy.
"Kak Dinda kenapa kemari? Bukannya dulu kak Dinda yang mengusir kami bertiga?" tanya Lucy.
"Maafkan aku ya. Dulu aku jahat sama kamu" lirih Adinda.
"Gak apa-apa kak. Aku kangen banget sama kakek" kata Lucy.
"Sama aku gak kangen ya" ucap Adinda, pura-pura bersedih.
"Kangen kok. Tapi ada yang lebih kangen lagi sama kak Dinda !" seru Lucy.
"Siapa?" tanya Adinda.
"Bang Ferdi!" jawab nya singkat.
"Ah masa sih, bohong dosa loh" kekeh Adinda.
Setelah lama mengobrol, akhirnya mereka tiba di tempat tinggal itu. Adinda melihat Ferdian sedang menjemur pakaian.
Adinda pun menghampiri Ferdian dan seketika membuat Ferdian melongo.
"Hai Ferdi"
"Adinda. Ini kamu? aku gak mimpikan? cubit aku" ucap Ferdian.
"Iya ini aku. Aku kangen banget sama kalian. Maafkan aku ya waktu itu mengusir kalian. aku berdosa banget. maaf ya Fer" ucap Adinda sambil menangkupkan kedua tangan dengan wajah mengiba.
"Sudah lah Dinda. Aku sudah maafin kamu kok" jawab Ferdian.
Tanpa diduga, Ana datang dengan wajah penuh Amarah.
__ADS_1