Kebebasan ADINDA

Kebebasan ADINDA
Kemarahan papah season 2


__ADS_3

"Ini Tuan sarapannya," ucap Bi Omah.


"Oya bi, apa bibi melihat Adinda dan Ferdian? saya belum lihat mereka, " tanya Tuan Antoni.


"Saya lihat Non Adinda waktu masih pagi sekali, sudah siap pergi, dia bilang mau reunian di puncak dan acaranya pagi Tuan, " jawab Bi Omah.


"Kebiasaan kalau mau pergi gak pernah izin sama saya. Tapi saya curiga dia pergi bukan untuk itu. Saya akan telpon temannya saja"


Tuan Antoni adalah seorang ayah yang sangat ketat kepada putinya, setiap orang yang berteman dengan Adinda,dia pasti meminta kontaknya, memastikan kalau temannya adalah orang baik baik.


Krinnnxxx krinxxxx kringgg


Telepon berbunyi atas kontak Om Antoni.


"Hallooo selamat pagi om, ada apa om menghubungi Nelyy ? " tanya seseorang di balik telepon.


"Maaf Nel, om ganggu. Om hanya ingin bertanya, apa benar hari ini ada reuni? soalnya Adinda pergi dan bilang mau reuni ".


"Hah reuni? sejak kapan Adinda suka reuni om, dan maaf gak ada tuh jadwal kita reuni, kalaupun ada pasti aku tahu, kan aku ketua nya om," balas Nelly.


"Oh seperti itu Mel, yasudah makasih ya ," ucap Tuan Antoni.

__ADS_1


Mendengar itu betapa kesalnya Tuan Antonie. Dia berfikir pasti Adinda mendaki lagi.


"Dasar anak gak tau diri, sudah di bilang jangan mendak lagi, tetap saja mendaki, kapan kamu akan membuat papa bangga," ??pekik Tuan Antoni.


mMendengar suami nya marah - marah, Istrinya pun langsung menghampirinya.


"Papa kenapa marah marah? masih pagi loh pah," ungkap mama.


"Bagaimana aku tidak marah mah, Adinda sudah pergi mendaki lagi. Dia berangkat tadi subuh. Mama tau dia belum sepenuhnya sehat pasca kecelakaan itu ," tegas Tuan Antoni.


Mendengar itu mamanya tiba-tiba terkulai lemas tak sadarkan diri.


"Bi OMah, Ana ,Lucy. Tolong saya. Tolong, cepat kemari " teriak Tuan Antoni.


"Cepat bantu saya panggil ambulan bi, kita bawa nyonya kerumasakit"


"Baik tuan"...


Semilir angin menyapu wajah anggun Adinda. Membuat dia lupa akan segala beban di hidupnya.


" Nona Adinda binti Antonie. Kau harus pulang sekarang, orang tuamu pasti khawatir" deru suara dan langkah laki seorang lelaki yang dia sangat ia kenal.

__ADS_1


"Kamu. Kenapa kamu disini? aku gak lagi mimpikan? kenapa kamu tau aku kesini, tidak tidak, kamu buka Ferdian. Kamu penunggu sini yang nyamar jadi Ferdian. Jangan ganggu saya tolong" teriak Adinda panik melihat Ferdian yang ada di hadapannya.


Mendengar itu. Ferdian hanya tertawa. apalagi Adinda mengira dia penunggu Gunung Salak.


"Nona Adinda, kenapa kamu melihat ku seperti melihat setan?" selorohnya.


"Kamu bisa tau aku disini, bagaimana mungkin. Aku tidak memberitahu siapa - siapa, bahkan bestie ku pun gak tau aku kesini ( besti yang di maksud nya yaitu Bi Omah ) .. pekik Adinda kesal.


"Aku tau kau akan ke Gunung lagi. Aku pun tau kau dari semalam memasukan barang mu kedalam mobil kan, supaya Pak Antoni tak tau kamu akan mendaki lagi. Ayolah nona kita pulang. Kamu belum sembuh betul dan pasti Tuan Antoni mencemaskan mu" ujarnya sedikit memaksa.


"Oh no, jangan paksa aku. Aku ingin hidup bebas. Pergi sana Fer jangan ganggu aku" desisnya emosi.


Mendekatlah Ferdian, dan duduk di sisi Adinda.


"Coba nona pikir, kalau bahaya yang kedua kali menimpa mu, dan nyawamu akan pergi, bagaimana perasann orang tuamu ," tanya Ferdian.


"Diammm, bahkan kau dari pertama bertemu selalu memanggilku nona, panggilan apa itu. Ku bukan majikanmu Fer. Sebaiknya kamu saja yang pulang," jawabnya ketus.


"Aku harus pulang dengan mu. Cepat kemasi barang mu, ayo kita turun" kata ferdian tegas. bukan tanpa alasan dia mengikuti Adinda, dia sangat menghkawatikan kesehatan wanita itu dan dia sudah mulai merasakan getar - getar hatinya. Di perjalanan turun gunung, tiba - tiba dia merasakan kakinya nyeri sekali. dan


Brukkkkkkkk.

__ADS_1


Dia terkulai lemas.


__ADS_2