Kebebasan ADINDA

Kebebasan ADINDA
Berekting


__ADS_3

Lama bersembunyi, tiba-tiba suara bariton memanggil mereka.


"Sedang apa kalian disini?" tanya nya


Seketika adinda dan Lucy menjerit..


"Tolong jangan sakiti kami. Ampun! ucap Adinda tanpa melihat sumber suaranya.


" Sayang ini aku! Kalian berdua sedang apa sih?" tanya pria itu yang di ketahui adalah Ferdian.


Adinda mendongak melihat pemilik suara itu, dan melihat nya menggendong Ana.


"Kamu kok disini?" tanya Adinda.


"Ya, aku dan si judes ini menyusul kalian. Dan kaki nya malah tertancap akar pohon" jawab Ferdian.


"Kak sakit" lirih Ana.


"Yaampun Ana kasian sekali kamu" ucap Adinda.


"Bang kita mau di bunuh. Tadi kita keremu dengan orang suruhan om Cakra dan mereka sedang mencari kita" ucap Lucy dengan bibir gemetar.


"Ya tuhan, kenapa om Cakra jahat sekali. Dimana tenda mu?" tanya Ferdian pada Lucy.


"Di sebelah sana" tunjuk Lucy.


Mereka pun segera berjalan ke arah tenda dan langsung memasuki tenda itu.


Perasaan khawatir dan takut menyelimuti perasaan mereka tak kala dari dalam tenda melihat sinar lampu senter di arahkan ke tenda itu.


"Itu mereka" ucap Adinda.


"Tenang jangan panik. Aku punya ide" ucap Ferdian.



Rombongan pembunuh bayaran itu telah sampai di depan tenda milik Adinda, Ferdian langsung memakai Masker untuk menutupi wajahnya.


"Kamu mau ngapain?" tanya Adinda heran.


"Sudah kamu tenang saja" jawabnya.


Lampu senter para pembunuh bayaran itu terus menyoroti tenda itu.


"Buka-buka tenda ini atau kami bakar?" ucap salah satu pria di luar tenda.


Ferdian kemudian keluar dari dalam tenda itu dengan memakai masker dan sarung.


"Ada apa tuan mengganggu istirahat saya?" tanya Ferdian dengan suara parau.


"Apakah kamu melihat wanita ini?" tanya Rosid sembari menunjukan poto Adinda pada layar ponselnya.


"Tidak!" ucapnya singkat.


Rosid sedikit ragu dengan ucapan Ferdian karena wajah Ferdian sedikit tegang.


"Kamu jangan bohong" ucap Rosid sembari memamerkan pisau di tangannya.

__ADS_1


"Saya tidak berbohong tuan, sungguh" ucap Ferdian.


Hacimmmm!!! Lucy tiba-tiba bersin dan membuat semua orang di dalam tenda panik.


"Itu suara apa?" tanya Rosid.


"Itu anak saya di dalam sedang terpapar covid 19, Kami sengaja mengungsi ke hutan ini agar kami jauh dari orang-orang" tuturnya.


Dalam hatinya dia meminta maaf pada Lucy.


"Sialan, jadi kalian penderita covid 19?" tanya Robi.


"Ya kami penderita virus itu" jawab Ferdian.


"Ayo kabur jangan sampai kita terpapar" ucap Rosid pada kedua anak buahnya.


Mereka pun lari terbirit-birit dan tak sadar jika mereka semua terperosok ke dalam jurang.


Ferdian lalu masuk kedalam tenda dan mendapati ketiga orang di dalamnya tertawa.


"Ekting abang keren" ucap Ana.


"Abang kan calon aktor" jawabnya sedikit jumawa.


Mereka pun semua tertawa terpingkal-pingkal.


Pagi pun hadir, semburat sinar mentari menembus celah-celah pepohonan.


Rosid dan anak buahnya masih tertidur di bawah jurang yang tidak terlalu dalam.


Rosid bermimpi dia sedang di kelilingi bidadari. Wanita cantik itu terus mencumbui Rosid dengan gan@snya sampai dia kelonjotan.


"Oh diajeng Sri Wedari kau sangat memabukan" ucap Rosid.


Di alam sadar, Robi dan temanya melihat Rosid sedang di endus-endus oleh Babi hutan yang sangat besar. Robi dan temannya tak berani mengusir Babi itu karena mereka takut.


"Usir dia!" ucap Robi sembari menunjuk Babi itu.


"Ogah, gue takut apalagi noh lihat taringnya panjang banget" jawab temannya.


"Biarin aja sampe dia bosan sendiri tuh Babi" ucap Robi sembari tertawa.


Di alam bawah sadar, Rosid terus di cumbui oleh segerombolan wanita itu. Mereka silih berganti menghampiri Rosid.


"Panggil saya Mayang Linggarsari, kanjeng tumenggung! Tubuhmu membuat ku lemas" ucap wanita cantik berselendang merah.


Wanita itu dengan jari lentiknya membuka kancing celana jeans nya.


"Celana pria jaman sekarang susah nya tidak seperti jaman dulu" ucap wanita itu terkekeh.


Wanita itu mengelus pusaka keramat milik Rosid membuat sang empunya menge$@h..


"Eummmppp nona kau sangat nakal" ucapnya.


Wanita itu menindih tubuh Rosid dengan mesranya. Tetapi di alam sadar, Robi dan temannya melihat Babi besar itu menindih badan Rosid membuat mereka tertawa dengan puasnya.


Tanpa segan wanita itu memasukan kedalam mulutnya seperti anak kecil sedang memakan lolipop. Para wanita cantik lainnya hanya melihat itu dan tertawa-tawa.

__ADS_1


Tak lama Rosid merasakan sakit di area pusakanya dan seketika dia melihat wajah wanita itu yang sudah menyerupai Babi dan bertaring panjang. Seketika dia menjerit lalu dia terbangun dan alangkah terkejutnya seekor Babi besar sedang mengendus-endus tubuhnya membuat dia lari tunggang langgang.


¥


Di dalam tenda, Adinda sudah berkemas dan siap melanjutkan perjalanan nya kembali bersama trio bersaudara.


"Kita sarapan mie rebus dan sosis saja ya!" ucap Adinda.


"Iya Kak apa saja asal kita bisa makan" ucap Ana.


"Bagaimana kaki kamu sekarang?" tanya Adinda.


"mendingan Kak! Kak aku mau minta maaf ya karena kemarin aku egois pada Kak Dinda" Ana menunduk sembari meremat baju lusuhnya.


"Ya aku maafkan. Cepat obati lukamu ya, di carier ku ada kotak P3K" ucapnya.


¥


Cakra berdiri dengan pongahnya di hadapan Tuan Katris. Pria tua itu melihat sang anak dengan tatapan meremehkan. Harta telah membutakan semuanya hingga dia mempunyai sifat tamak yang luar biasa.


"Pa, hari ini batas waktu yang ku berikan untuk menyerahkan semua kekayaan mu padaku" ucapnya dengan dada membusung.


"Tidak akan ku serahkan padamu Cakra! Ingat ketiga cucuku masih hidup" tegasnya.


"Persetan dengan mereka pa! Aku yakin merrka sudah binasa" ucapnya dengan seringai yang mengerikan di bibirnya.


"Apa maksudmu Cakra? Kau tidak melakukan hal yang aneh-aneh kan pada cucuku?" tanya Tuan Katris dengan raut wajah menahan Amarah.


"Hahaha!! Cerdas sekali papa ini jika menganalisa sesuatu" Cakra tertawa dengan lantangnya.


"Jahanam kau Cakra! Apa kau sudah tidak takut dengan dosa hah? Jika ku tahu, kau akan menjadi manusia laknat yang serakah, aku akan membunuhmu sewaktu kau masih bayi" geram Tuan Katris.


Tangan nya bergetar menahan Amarah,


"Banyak bicara! Mana semua sertifikat dan dokumen aset-aset milikmu pa?" tanya Cakra.


"Seujung kukupun aku takan memberikan itu padamu. Itu semua sudah menjadi hak dari anak Pratama! Semua bagian mu sudah kau ambil" Tuan Katris tak ingin semua hartanya di ambil oleh makhluk serakah dan tamak seperti Cakra.


Cakra dengan paksa membuka lemari pakaian Tuan Katris guna mencari dokumen semua aset-aset milik sang ayah.


"Selangkah lagi kau berjalan, maka aku benar-benar akan mengutukmu durjana" Kemarahan Tuan Katris sudah di ubun-ubun tapi Cakra tidak peduli.


Terlihat kertas-kertas dan pakaian Tuan Katris sudah berserakan dimana-mana tetapi Cakra belum juga menemukan apapun yang dia cari. Dengan tatapan nanar sembari mengelus dadanya, Tuan Katris memandangi Cakra yang bisa di sebut seperti orang yang sedang kerasukan.


Ketika dengan mengobrak-abrik lemari sang papa, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Hallo"


"...................................."


"Bodoh kau bodoh! Begitu saja tidak becus. Aku sudah membayar mahal padamu. Dasar bodoh, t0l0l" geram Cakra pada seseorang di sebrang telepon itu.


"........................................."


"Cari mereka sampai dapat! Hidup atau mati" ucapnya geram sembari mematikan sambungan telepon itu.


"Apa itu ada hubungannya dengan cucuku?" tanya Tuan Katris.

__ADS_1


"Ya! Aku menyuruh mereka mencari dan membunuh anak Mas Pratama" jawabnya santai.


__ADS_2