Kebebasan ADINDA

Kebebasan ADINDA
Pergi dari rumah


__ADS_3

"Hotel? mau apa mereka kesana. Dua orang dewasa ke hotel kalau bukan untuk berbuat mesum ya mau ngapain. Tidak mungkin hanya bersemedi di kamar saja" ucap Tuan Antoni dengan suara menggeram.


"Jaga bicara mu pah, kita tidak tau apa yang mereka lakukan, kita harus bicara dengan Adinda kalau nanti dia pulang" kata mama dengan khawatir.


Tak berapa lama, akhirnya yang di tunggu pulang. Adinda segera menyapa kedua orang tuanya dengan seulas senyuman, dia tidak menyangka bahwa reaksi kedua orang tunanya di luar dugaan.


Plak...


Sebuah tamparan mendarat di pipi Adinda dengan kerasnya sampai meninggalkan bekas jejak tangan Tuan Antoni. Seketika Adinda termangu tak bicara seakan tercekat,


Brurrrrr,,,


Seketika Tuan Antoni melemparkan sejumlah poto ke wajah Adinda dengan keras.

__ADS_1


"Lihat itu Adinda. Siapa yang ada dalam poto itu?" ucap Tuan Antoni geram.


Di bukanya poto itu, dan alangkah terkejut nya dia melihat dirinya sedang berciuman dengan Jerry, dia pun termangu sesaat memamdangi poto itu (sialan, kenapa ada yang tahu. Siapa yang mengikutiku, apa ini ulah dari orang suruhan papa ku) gumam Adinda.


"Papa mengikutiku? kenapa sih pah harus seperti ini, aku juga punya kehidupan sendiri. Hargai privasi ku pah, dan papa sudah menamparku ke dua kalinnya" ucap Adinda .


"Apa kamu tidak berfikir hah, kamu itu seorang perempuan, marwah mu harus kau jaga Adinda. Aku ini papamu, orang yang selalu melindungimu, dan harus kamu ingat kalau kamu ini anak seorang Antoni. Bagaimana jika ada yang mengetahui kamu berbuat se menjijikan itu, bisa hancur refutasiku dan aku tidak menyangka seorang putriku bisa berbuat secara liar, beraninya kamu berciuman dengan lelaki yang sama sekali tidak menghargaiku. Dia membawa anak orang tetapi tidak izin padaku, sialan" bentak Tuan Antoni.


"Maafkan aku pah, tapi sikapmu terlalu over, dan asal papa tau, sikap papa yang selalu seperti ini buat aku susah untuk dapat pendamping. Papa selalu keras, papa tidak memikirkan kebahagiaan ku, papa egois" ucap Adinda seraya berlari kedalam kamar. Di kamar dia menangis sejadinya.


Ketika seisi rumah sudah kembali ke kamar nya masing - masing, Ferdian melihat poto - poto Adinda yang sengaja di simpan begitu saja di meja. Di buka nya satu demi satu poto itu, melihat adinda sedang berciuman membuat rasa sakit terasa di dada Ferdian. Bagaimanapun dia berusaha menahan perasaan nya kepada Adinda, tapi dia tak bisa melihat kemesraan nya dengan lelaki lain. tapi dia cukup sadar diri siapa dia, lelaki kampung yang tidak mempunyai keberanian, jangan kan mencintai Adinda dan menyatakan perasaan nya, bertemu dan mengungkap kejahatan pamannya saja dia masih terlalu takut.


Ketika dia sedang terdiam di balkon rumah, tiba- tiba ia melihat Adinda pergi dengan mobil membawa koper. Dia pun buru - buru turun dan ingin menghampiri Adinda, tapi Adinda terlanjur sudah pergi dengan mobilnya. Dengan panik dia mengetuk pintu kamar Tuan Antoni yang sudah terlelap.

__ADS_1


Tok tok tok tok.


"Pak maaf, bisa buka sebentar. Tanteu buka sebentar, maaf saya menggangu istirahat kalian" desak Ferdian dari luar pintu kamar.


Di bukanya pintu oleh Nyonya Rossi dengan muka bantalnya.


" Ada apa Ferdi? tanteu sudah ngantuk, dan bapak juga sudah tidur ,?"tanya Nyonya Rossi.


"Tanteu maaf saya lancang, tapi saya melihat Adinda pergi dari rumah membawa koper, saya tidak berhasil mencegahnya" jawab Ferdian panik.


Mendengar itu Nyonya Rossi segera membangunkan suaminya.


"Papa, pa bangun pa. Adinda pa Adinda" teriak mama.

__ADS_1


"Hoammmmmmm ...-- ada apa sih mah teriak - teriak gitu, Adinda kenapa ma?" tanya Tuan Antoni.


"Adinda pergi dari rumah pah, kita harus cari dia. Ayo pah ayo sebelum jauh pa,,hik hik hik" tangis Nyonya Rossi petjah.


__ADS_2