
Sejak acara di hotel tempo hari, pikiran Cakra terus saja tertuju pada sosok Ferdian. Hal itu membuat dia tidak bisa tidur nyenyak dan makan enak.
"Mas kenapa beberapa hari ini sejak mas menghadiri acara seminar itu, mas jadi bertingkah aneh" kata istrinya memulai percakapan.
"Aku hanya sedang berpikir kenapa orang yang bersama Pak Antoni itu sangat mirip dengan almarhum Mas Pratama. Apa mungkin...." jawabnya gelisah.
"Apa mungkin apa? mas takut anaknya Mas Pratama kembali begitu? , tak mungkin mas, dan pemuda yang bersama Pak Antoni itu bukannya keponakannya yang baru datang dari Yunani, " ucap Selly si wanita tua gila harta.
"Bener juga katamu" jawabya singkat.
¥
¥
Sementara di kaki gunung, Adinda tak bisa berjalan dan di gendong oleh Ferdian. Jarak mereka sangatlah dekat, hingga Adinda mencium bau harum badan Ferdian. Bau harum yang seketika membuat darahnya berdesir.
"Aroma apa yang di pakainya, harus sekali " gumamnya dalam hati.
Saking menikmati nya, Adinda tak menyadari dia menempelkan bibirnya di leher Ferdian, membuat Ferdian merasakan geleyer yang aneh pada tubuhnya. Spontan dia menjatuhkan tubuh Adinda.
__ADS_1
Bruggggggggkkk.
" Aww rintih Adinda. Kamu genapa sih membanting ku, sakit tau bokong ku, "gretak Adinda manyun.
" Maaf, aku tak sengaja,"jawabnya gugup.
Di perjalan pulang dia sangat tak nyaman membayangkan reaksi orang tuanya sampai tak fokus menyetir mobil.
"Hati- hati non. kamu sedang membawa mobil" ujar Ferdian ngeri.
"Diam lah ," jawabnya singkat.
Sampailah di rumah dan orang tua nya sudah menunggu di ruang keluarga. Dan masuklah mereka.
"Hmmmzzz dari maha kamu Adinda ?" tanya papa geram.
"Reuni pah, " jawabnya singkat.
"Jangan membohongi ku Dinda. Papa tau tak ada jadwal reuni. Nelly yang memberitahu itu".
__ADS_1
"Ckkkkkh.. mati aku, papa pasti murka" gumanya.
"Dan kamu Ferdian, dari mana saja kamu ini?" tanya nya berbalik pada Ferdian.
"Maaf pak, saya habis menyusul nona Dinda di Gunung Salak. Saya mengajaknya pulang karena saya khawatir akan kesehatanya," balasnya detail.
"Haaahhh Gunung Salak? Apa kamu tidak takut kejadian yang sama menimpamu kembali Adinda? kamu tak menyanyangi mama dan papa mu lagi. Hapus kebiasaan lama mu itu, fokus bangun usaha mama dan papa mu. Sekali lagi kalau mama lihat kamu berangkat mendaki lagi, mama tidak akan pernah perduli lagi dan angkat kaki dari rumah ini," bentak mama geram.
"Ma, kok mama seperti itu,, tolong ma beri aku kebebasan hidup, aku janji akan peduli pada bisnis kalian. Aku akan bekerja ma, tapi tolong jangan larang aku mendaki mah" jawab adinda lirih.
Plakkkkk.
Satu tamparan mengarah pada pipi merah jambu nya, tangan papah mendarat dengan gemas nya.
"Diammmm kamu, Selalu membantah. apa kamu selama pergi ke Gunung kamu bergaul dengan kawanan kera ? hingga kamu tak mengerti bahasa manusia dan membangkang omongan orang tuamu. kami banting tulang untuk mu, tapi balasan mu seperti ini" pekik Tuan Antoni dengan wajah memerah.
"Papa menampar ku pah? papa jahat, papa bukan yang Adinda kenal dulu, benci papah ,," terisak Adinda lalu masuk kedalam kamarnya.
Melihat peristiwa yang baru saja terjadi membuat mamanya kaget bukan kepalang. Pasalnya Adinda sangat di cintai papa nya. Untuk sekedar mencubit saja, Tuan Antonie tak berani apalagi menampar seperti barusan terjadi, kini setelah emosi Tuan Antonie reda, dia sangat menyesali apa yang baru saja dia lakukan pada putri semata wayang nya. "Arggghhh apa yang sudah ku lakukan pada putriku, bahkan aku mencubitnya saja tidak berani, dan sekarang aku malah menampatnya, maafkan papa nak," lirih Tuan Antoni sambil melihat tangannya yang barusaja menampar Adinda.
__ADS_1
"Apa yang sudah papa lakukan kepada anak kita pah, papa boleh emosi tapi jangan sampai main tangan seperti ini. Mama kecewa pada papa. Papa sekarang jadi pria kasar" dengus mama sambil berjalan meninggalkan suaminya yang sedang mematung penuh penyesalan.