
pelayaran malam
Anna hendak pergi dari kampung tempat Nindi tinggal entah mau kemana, ia pun sangat kebingungan, tidak lupa segala bawaannya ia masukkan ke dalam ransel yang lumayan besar itu, ia meneruskan perjalanannya mencari jati diri dengan tidak lupa membawa kucingnya itu, pussy.
Anna terus berjalan dengan penuh rasa iba, di dadanya tersimpan banyak kecewa, ia berfikir bahwa menjadi diri yang seperti dulu lebih enteng ketimbang sekarang yang menurutnya sangat berat. Dulu dia jelek dan introvert tapi tidak banyak masalah dalam hidupnya, hanya sakit hati, iri dan perasaan yang meluap-luap karna segala sesuatu yang tidak bisa di ungkapkan olehnya. Sedangkan sekarang dia sudah cantik dan apapun serba mudah karna kecantikannya dan sifat baiknya, tapi resikonya sangat ekstrim baginya, masalah selalu menghamipirnya dan itu membuat mentalnya sedikit terganggu karna semuanya terjadi begitu mengejutkan. Hidup memang tidak bisa di prediksi, bahkan ia sendiri tidak tau hal apa lagi yang akan terjadi setelah kejadian ini.
Anna terus melangkahkan kakinya, fikirannya sangat kacau sehingga ia tidak menyadari bahwa sepanjang jalan banyak sekali orang-orang yang menyapanya tapi ia telah mengabaikannya.
Hari pun mulai sore, Anna tiba lah di sebuah pantai.
"Pak...apa aku boleh numpang??" tanya Anna kepada nelayan yang hendak menjalankan perahunya.
"Saya mau mencari ikan, emangnya Nona mau kemana??" tanya nelayan itu.
"Mau cari ikannya kemana Pak?? aku pengen menyebrangi lautan ini, boleh gak bantu aku?" tanya Anna penuh harap.
"Oya Pak, aku punya gelang...sebentar ya aku cari dulu" lanjut Anna sambil mencari gelang pemberian Johan waktu yang lalu di dalam tasnya.
"Tapi ini gak tau berharga atau enggak, yang jelas anggap aja ini sebagai upahnya atau kenang-kenangan dari aku Pak, dan....bila nanti bertemu lagi, aku akan kasih upah yang sebenarnya, gimana Pak???" tanya Anna sambil menyodorkan gelang yang telah ia carinya.
"Boleh juga, tapi kalo mau nyebrang lautan ini butuh waktu lama, mungkin sampai besok siang baru akan sampe" jelas nelayan itu.
"Kalo Bapak sanggup, aku gak masalah" jawab Anna.
"Mana bisa saya nolak wanita cantik sepertimu" jawab nelayan itu, kebetulan itu adalah perahu pribadinya yang baru saja ia lunasi.
Anna pun tersenyum kemudian menaiki perahu itu yang mana nelayannya sejak tadi sudah menunggu di sana.
"Oya...namanya siapa?" tanya nelayan itu sambil menjalankan perahunya.
"Panggil aja Anna" jawab Anna sambil memperhatikan lautan yang sangat luas dan langit biru yang membentang tinggi, Anna pertama kalinya melewati lautan dan menaiki perahu .
"O" Anna merasa pusing karna ia terus-menerus memperhatikan bawah perahu yang melintasi lautan yang sangat luas itu.
"Kenapa?" tanya nelayan itu.
__ADS_1
"Aku pusing banget" jawab Anna sambil memegangi mulutnya yang sepertinya akan muntah.
"Uoooooooo" Anna pun muntah.
"Uooooooo" Anna benar-benar pusing dan ia merasa sedikit lega setelah ia muntahkan.
"Kamu jangan liatin air lautnya" ucap nelayan itu.
"Emang kalo di liatin suka gitu ya?" tanya Anna setelah habis minum.
"Tergantung, mungkin kamu mabok laut" jawab nelayan itu.
"Iya nih aduh, kalo gak di liat penasaran...soalnya ini momen pertama aku naik perahu" jelas Anna.
"Ywd mending sekarang kamu duduk aja, atau tidur juga gak apa-apa daripada muntah lagi" jawab nelayan itu sambil melirik ke hadapan Anna.
"Iya yah...yaudah deh" Anna pun akhirnya duduk sambil mengelus-elus pussy yang tertidur di atas jaket Anna. Kucing memang suka yang lembut dan hangat.
"Emmm...Anna" sapa nelayan itu.
"Iya Pak?" tanya Anna
"Mau tau aja pak kehidupan disana" jawab Anna.
"Emang disana kamu punya keluarga?" tanya nelayan itu penasaran.
"Enggaaakk, aku lagi cari jati diri aja. apa bapak pernah singgah disana?" Tanya Anna.
"Belum pernah sih, tapi denger-denger katanya disana itu ada kerajaan" ucap nelayan itu.
"Wah..asik dong" Anna merasa bergembira.
"Emangnya kenapa?" tanya nelayan itu.
"Aku ingin melihat lampion asli jarak dekat" jawab Anna.
__ADS_1
"Aku fikir kerajaan itu sudah tidak ada, ternyata di negri tetangga masih ada, baru tau nih" lanjut Anna.
"Mau melihat lampion doang kok girang banget" ucap nelayan.
"Ya iyalah ada, kemana aja sih kok baru tau. Emangnya Anna orang mana?" tanya nelayan itu.
"Iya dong girang, soalnya indah banget. Emmm...aku orang jauh, pokonya pedesaan yang sangat terpencil" jawab Anna.
"Tapi takdir mengantarkanku kesini, semoga ada nasib baik di sana" lanjut Anna dengan penuh harap.
Mereka ngobrol sangat akrab sekali sampai tidak terasa langit sudah gelap dan ternyata sudah malam. Anna mulai kelelahan ia pun tertidur, lain halnya dengan nelayan, ia terus berjuang menjalankan perahunya sambil mencari tempat yang aman untuk berhenti sejenak agar ia bisa sedikit beristirahat.
Nelayan itu menemukan terumbu karang dan ia pun memberhentikan perahunya dekat terumbu karang yang sangat besar itu, ia pun beristirahat. Karna ia berfikir jika di tengah laut tidak akan ada ombak yang terlalu besar, ia adalah nelayan dan ia sudah terbiasa mencari ikan di malam hari dan berdiam di tengah laut.
Lama kemudian nelayan itu tidak bergerak menjalankan perahunya, sepertinya ia ketiduran dan tidurnya sangat pulas. keadaan semakin malam dan tidak di sangka-sangka malam itu angin sangat kencang, di sebrang sana di lokasi yang ia tempati dimana telah ia lewati mengalami hujan badai sehingga menyebabkan gelombang laut menjadi sangat tinggi dan mempengaruhi seluruh lautan, permukaan tengah laut pun sampai mengalami getaran hebat, sehingga perahu yang mereka tumpangi terhampar jauh, perahu itu berjalan tanpa menggunakan mesin mengikuti derasnya kecepatan air.
"Pak...pak..." panggil Anna yang tersentak kaget.
"Pak bangun Pak..." Anna berusaha membangunkan nelayan itu.
Hujan badai akhirnya sampai di kediaman mereka, yakni di tengah laut. Ombak lautan pun semakin tinggi dan menyapu perahu yang mereka tumpangi, perahu itu terombang-ambing mengikuti derasnya air. Anna berusaha tahan nafas saat dirinya tersembur air, Anna memang tidak bisa berenang tapi ia tau cara agar bisa bertahan di air itu dengan cara menahan nafas.
"Anna...ada apa ini??" akhirnya nelayan itu terbangun setelah kesembur air.
"Pak...gimana ini, sepertinya ada hujan badai" ucap Anna yang sangat histeris.
"Kita berdoa aja, karna kita gak bisa melawan laut sehingga saya tidak mampu menjalankan perahunya" jelas nelayan itu.
Dalam hati kecil, nelayan itu sangat menyesali akan keberangkatannya kali ini, karna di tempat ia tinggal akhir-akhir ini memang sedang mengalami musim hujan, sehingga ia membatasi jarak pelayarannya. Tapi entah kenapa kecantikan wajah Anna bagaikan telah menghipnotisnya untuk menyestujui pelayaran dan mengantarkannya ke ujung laut.
Semakin lama badai semakin besar dan gelombang laut pun semakin tinggi, Perahu yang mereka tumpangi pun akhirnya terbawa arus yang sangat ekstrim sehingga perahu itu kemasukan banyak air laut.
Anna dan nelayan itu berusaha bertahan dengan memegangi sisa perahu yang masih sedikit mengapung, tapi tidak lama kemudian perahu itu tenggelam dan mereka pun ikut tenggelam.
Anna berusaha menahan nafas dan sesekali ia mengepakkan tangannya, kepalanya berusaha mencapai ke permukaan laut untuk mengambil oxygen. Ia melakukannya berulang-ulang agar bisa bertahan, tapi tubuhnya sangat menggigil membuatnya menjadi tidak bertenaga.
__ADS_1
Akhirnya Anna pun tidak sadarkan diri.
♡♡♡♡♡