
Penasaran
"Yaudah mending samperin sekarang aja Ka" usul Anna tidak sabaran.
"Kenapa harus sekarang juga, ini kerjaan masih banyak" jawab Al.
"Mumpung masih anget" Anna memberikan alasan yang masuk akal.
"Iya juga sih, yaudah kamu kerjain kerjaan aku ya" pinta Al.
"Baiiiiiik" jawab Anna penuh semangat.
"Tapi yang bagus kerjanya" jawab Al mengancam.
"Siap bosss" Anna menaikan tangannya ke keningnya untuk memberi hormat.
Anna langsung memulai pekerjaannya dengan sangat hati-hati.
Dan Al pun meninggalkan Anna untuk pergi menyusul Jinggo di rumah tetangganya.
Sesampainya di rumah tetangga...
"Permisi..." panggil Al di depan gerbang.
Hati dan perasaan Al bergemuruh, jantungnya berdegup begitu kencang. Sebetulnya ia malu dan takut karna perkara ayam saja sampai ia susul ke rumah orang. Tapi Al memberanikan diri, ia sangat menyayangkan jika Jinggo tidak kembali kepadanya.
Seseorang keluar rumah dan membukakan gerbangnya.
"Ada apa to mas?" tanya seorang pembantu di rumah besar bak istana itu.
"Ada juragan?" tanya Al.
"Oh ada" jawab perempuan itu singkat.
"Boleh aku masuk? aku ada perlu sama juragan" pinta Al.
Juragan itu nama panggilan seorang bos. Tetangganya yang di panggil juragan itu adalah mafia tanah.
"Saya izin dulu ya, kamu tunggu sini aja dulu" perempuan itu kemudian masuk kembali.
Tidak lama kemudian laki-laki yang tadi membawa Jinggo pun akhirnya keluar.
"Sini masuk" teriak empunya rumah sambil melambaikan tangan.
Al pun menuruti perintahnya, ia pun masuk ke dalam gerbang dan duduk bersebelahan dengan empunya rumah.
"Ada perlu apa?" tanya laki-laki itu.
"Emm...anu, itu. aku...aku mau nanyain ayam" jawab Al sambil menunduk.
"Hahahahaha....kamu mau nyalahin aku nyuri ayam kamu? atau kamu mau ngaku-ngaku itu ayam kamu?" laki-laki itu tertawa kemudian tatapannya menjadi tajam.
"Iya..." jawab Al.
__ADS_1
Laki-laki itu meralat wajah Al sesat. Kemudian..
"Praaaakkkk..." Al di tampar.
"Orang susah nyusahin juga ya. Bikin darting aja" laki-laki itu berdiri sambil ngedumel.
"Maaf saya bukan mau bersangka buruk. Saya...saya cuma mau tanya, kalo juragan punya ayam itu sejak kapan terus belinya dari mana?"ucap Al memberanikan diri.
"Baru kemarin" jawab laki-laki itu, tubuhnya berbalik menghadap Al.
"Saya beli dari si Bimo" jawab laki-laki itu dengan serius dan mata melotot.
Deg...Al memejamkan mata. Ia terkejut saat telinganya mendengar nama itu.
"Sialan" fikir Al.
"Yaudah...aku minta maaf ya, aku permisi dulu" Al pun izin pulang dengan tergesa-gesa, ia berjalan mundur, kemudian ia berbalik dan hendak lari tapi brughh Al kejedut tiang rumah.
"Aduuuuuhhh" Al mengeluh kesakitan.
"Kamu kenapa? konyol amat sih" laki-laki itu terheran-heran sambil tersenyum kecut.
"Tidak, aku tidak apa-apa" jawab Al. Kemudian ia pun pergi meninggalkan rumah mafia itu.
Al pulang dengan mebawa rasa kesal dan pipi yang memar ia segera sampai ke tempat dimana Anna berada.
Dari jauh Anna melambaikan tangan, ia menyambutnya dengan menjemputnya.
"Ka...kenapa mukanya bonyok gitu?" tanya Anna khawatir.
"Gak apa-apa" jawab Al datar.
"Kita obati yuk" ajak Anna setelah sampai di gubuk tempatnya Al bekerja.
Anna pun mengobati Al yang terluka memar
"Ka cerita dong kenapa bisa gini!" Anna mengintrogasi.
"Tadi yang udah bawa ayam itu ngamuk soalnya aku salah jawab" jelas Al.
"Kasian banget sih Ka, terus gimana?" tanya Anna.
"Ya gini, aku jadi bonyok" jawab Al.
"Maaf ya gagara aku suport Kaka jadi gini" jawab Anna.
"Ihhh siapa juga, orang itu kemauan aku sendiri kok" jawab Al.
"Coba jelasin Kakak disana ngapain aja? sempet nanya gak punya ayam sejak kapan dan dari mana?" tanya Anna penasaran.
"Ya, aku udah tanya. Ternyata itu beneran jinggo. Soalnya dia baru beli kemaren dari si Bimo" jelas Al.
"Siapa si Bimo?" tanya Al.
__ADS_1
"Yang waktu itu kamu ikutin aku, terus ketinggalan karna aku jalannya cepet. Aku titip kamu sama Ruli dan di bawa mampir oleh Ruli ke rumahnya" jelas Al.
"Oh jadi dia, tapi mereka seperti orang baik" Anna tidak mempercayai apa yang telah ia dengar.
"Iya dia emang temenku" ucap Al.
"Kok bisa berani gitu ya??" tanya Anna.
"Udah biasa" Ucap Al sambil tersenyum menyamping.
"Terus Kakak mau biarin gitu aja?" tanya Anna.
"Biasanya sih gitu" jawab Al dengan tatapan kosong.
"Sekarang mau gitu juga?" Anna menantang Al untuk menjawab tidak.
"Enggak, sekarang aku bakal tanyain. Soalnya kebiasaan dan keenakan di diemin terus" jawab Al.
"Ya gitu dong, gak usah sungkan-sungkan sama temen. Itu kan perbuatan buruk Ka" ucap Anna.
"Ya masalahnya semua ayamku habis dia jualin, satu per satu. Dan aku gak pernah berfikir negatif sama dia walaupun sering sekali ia perlakukan itu. Daaaan yang paling bermasalah adalah Jinggo bagiku rajanya ayam. Kesayangan banget" jelas Al. Ia sangat geram.
"Sabar ya Ka. Kapan Kakak akan pertanyakan itu padanya?" tanya Anna.
"Sekarang" jawab Al tanpa berfikir panjang. Ia pun langsung meninggalkan Anna.
"Dasar Kak Al...Ka Al. kasihan juga ya?" gumam Anna setelah ia melihat Al mulai menjauh dari hadapannya.
"Sekarang aku harus ngapain? aku gak bisa lanjutin ini pekerjaan. Hmmm gimana dong. BT juga" gumam Anna.
"Yaudah deh aku mau pulang aja, mau masak buat makan siang. Terus mau curhat juga sama Pussy" kemudian Anna pun pergi ke rumah Al.
sesampainya di rumah Al, ia segera menghampiri tempat diamana beras di simpan untuk dia masak.
"Haduuuuhh...berasnya habis lagi. Biasanya Ka Al suka segera beli. Kalo nunggu Ka Al bisa lama. Apa masak dulu yang ada ya??" gumam Anna.
Anna pun masak seadanya. Kemudian di lanjut ia memasak lauknya.
Setelah selesai ia pun menghampiri pussy, memberinya makan sambil mengelus-elus kepalanya.
"Mpus...apa kamu betah disini? gak tau kenapa aku nyaman sama Al" ucap Anna kepada pussy yang sedang sibuk makan. Tiba-tiba Anna pun masuk ke dalam lamunan ia tersenyum-senyum sendiri.
"Aku rasa ia laki-laki sempurna, sifatnya...bodynya euuuhhh. Entah kenapa aku bisa sepenasaran ini" fikir Anna.
Ia membayangkan tubuh Al yang menurutnya sangat maco, wajahnya yang baby pace dengan tinggi dan body yang six-pack sangat pas berpadu sempurna dimata Anna. Padahal Anna sendiri tidak pernah melihat tubuh Al tanpa kain.
"Aduh aduh aduh" Anna menepuk nepuk pipinya dan menyadarkan dirinya sendiri dari lamunannya.
"Kenapa aku berambisi sekali ya?" fikir Anna yang kemudian ia pun tersenyum lebar
"Pussy....maaf ya aku kurung kamu terus. Soalnya tinggal disini kamu brontak sekali. Kamu jangan stres ya di kandang ini" ucap Anna sambil mengelus kepalanya pussy.
♡♡♡♡♡
__ADS_1