Kecantikanku Mengubah Takdirku

Kecantikanku Mengubah Takdirku
Jinggo


__ADS_3

Jinggo


Waktu sudah sore dan tidak terasa malam pun akhirnya tiba, Al sama sekali tidak kembali ke rumahnya. Mungkin ia akan langsung bermalam di gubuk tempatnya ia bekerja.


Pagi harinya...


"Waduh, jam berapa ini?" Anna terkejut setelah mendengar pintu di gedor-gedor dari luar. Ia pun langsung beranjak pergi sambil menggesek-gesekan matanya. Ya walaupun keleyengan karna jiwa dan raganya belum utuh menyatu, tapi ia siaga membukakan pintu.


Ia pun sampai menghampiri pintu, Anna sudah mengira yang menggedor pintu itu tidak lain pasti Al, dan ternyata benar.


"Kamu tidur udah kaya orang mati" ucap Al setelah pintu di buka. Ia pun langsung masuk ke dalam rumah.


"Kok tumben aku ke siangan?" Anna bertanya sendiri. Ia pun langsung bergegas ke dapur untuk memasak, karna setelah ia melihat jam, ternyata sudah menunjukan pukul 09:30. Pantas saja perutnya keroncongan.


"Kamu masak apa?" tanya Al yang baru saja keluar dari kamar mandi. Semenjak Anna tinggal di rumahnya, Al sudah bagaikan orang asing yang hanya numpang mandi dan makan.


"Kesukaan kamu" jawab Anna singkat dan Al pun pergi setelah mendengar jawabannya itu.


Kemudian Anna pun membawakan makannya ke tempat biasa mereka makan yang mana disana Al sudah nangkring.


"Kamu langsung makan?" tanya Al, yang mana Anna hanya mengangguk karna ia sedang mengunyah makanan.


"Bangun tidur langsung makan? jorok amat sih" ucap Al yang kebingungan melihat kenyataan yang telah ia lihatnya.


"Eumeungnya keuneupa?" jawab Anna dalam keadaan makanan yang menumpuk di mulutnya.


"Mulut kamu banyak kotoran, muka kamu juga. Kalo pun belum mandi, minimal cuci muka dan gosok gigi wajib lah" jawab Al. Kemudian ia pun mulai makan makanan yang telah Anna sediakan.


"Heheheh...gak kuat. Laper" jawab Anna sambil cengengesan. Kemudian ia pun minum.


Bagi Anna makan sebelum mandi bahkan belum cuci muka sekalipun adalah hal yang wajar, karna baginya dahulu hal seperti itu sebagian dari kebiasaannya.


"Lain kali gak boleh gitu" ucap Al, yang mana sepertinya Al tidak menyukai prilaku Anna kali ini.


"Kalo kesiangan lagi gimana?" tanya Anna.


"Ya jangan sampe kesiangan lah. Cewek itu usahakan harus bangun paling pagi, buat bekal nanti kalo udah nikah. Lagipula nanti kamu punya Anak. Selain di jadiin kebiasaan, juga untuk memberi contoh Anak kamu kelak " jawab Al. Anna merasa sedang di nasihatin Bapaknya.


"Iya Bapak" celetuk Anna sambil tersenyum. Ia pun selesai makan.

__ADS_1


"Aku bukan Bapak kamu" jawab Al.


Anna hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Al. Inilah alasan Anna betah tinggal di rumah Al, ia merasa sangat di lindungi, di hargai dan di perhatikan. Walaupun pada kenyataannya Al memang sangat cuek kepadanya.


Anna pergi ke dapur untuk mecuci bajunya sendiri, mencuci piring dan sekalian mandi.


Setelah selesai mandi, Anna tidak melihat lagi sosok Al di rumah itu. Ia pun langsung bergegas ke gubuk tempat kerjanya Al.


Setelah sampai, ia tidak menemukan Al.


"Huft, kemana ya?" gumam Anna. Ia pun duduk dengan tatapan kosong.


"Hey jangan bengog!" Al pun kembali dan kehadirannya membuat Anna kaget.


"Abis dari mana?" tanya Anna.


"Nyari ayam, kayanya semalam Jinggo gak pulang" jawab Al.


"Ohh iya ya. Pantesan ada yang berbeda. Biasanya pagi-pagi aku terbangun karna suara ayam. Ayam itu selalu berkokok di pagi hari dan membuatku bangun sangat pagi" ucap Anna.


"Pantes aja sekarang kamu kesiangan" jawab Al.


"Emangnya kemaren kenapa gak pulang ke rumah dulu? biasanya kan pulang untuk masukin ayam ke kandang" tanya Anna kemudian.


"Kecapean, kamu sih gak inisiatif. Tapi, sepertinya Jinggo gak pulang dari siang ya?" Al menyalahkan Anna.


"Gak tau, terus dari tadi nyari udah ketemu belum?" tanya Anna.


"Enggak. Kalo ketemu udah aku bawa kesini" jawab Al dengan wajah penuh kecewa. Karna ayam itu satu-satunya ayam yang paling hebat dan kuat yang Al miliki. Ayam jago itu sudah beberapa kali mendapatkan kompetesi.


Suasana menjadi hening seketika, karna Anna sangat tau mimik wajah Al yang seperti itu butuh di biarkan.


Al pun mulai menjalankan pekerjaannya dengan penuh semangat dan ia telah melupakan kekecewaannya.


"Ehh...ehh..ehh...Ka, itu ayamnya pulang" teriak Anna kegirangan.


Al pun tersentak, ia langsung melihat ke arah yang Anna tunjukkan.


"Syukurlah" ucap Al sambil tersenyum lebar dan ia pun menghampiri ayam yang telah di tunjukan Anna.

__ADS_1


Anna baru melihat senyum yang selebar dan seindah ini. Karna biasanya wajah Al selalu datar tanpa ekspresi. Lebih tepatnya Al adalah laki-laki yang elegan dan so cool.


Al telah menghampiri ayamnya dan hendak untuk menangkapnya, tapi tiba-tiba seseorang datang untuk membawa ayam itu.


"Hey...kamu mau curi ayamku ya?" tanya seseorang itu yang tidak lain adalah tetangganya sendiri.


Al dan Anna sontak kaget dengan ucapannya itu, karna mereka sangat mengenal betul si jinggo yang hilang sebelumnya dan ia hendak mengambilnya lagi.


"Itu ayamku" jawab Al yang mana mimik wajahnya kembali datar.


"Kamu orang susah, maling aja bersandiwara. ngaku-ngaku punya kamu. Ini punyaku" jawab tetangganya itu.


Akhirnya Al pun mengalah, karna tidak akan berujung baik jika ia terus mempertahan kepemilikannya dengan orang punya seperti dia. Tetangganya itu adalah orang yang sangat di hargai disana.


"Kenapa sih Ka kok di biarin gitu aja? itu kan jinggo?" tanya Anna kesal. Karna baginya, jinggo adalah ayam yang telah membantu membangunkannya dari tidur setiap hari. Anna khawatir jika jinggo tidak kembali, ia akan bangun kesiangan terus.


"Iya, aku juga tau itu jinggo. Tapi semua orang tidak akan sanggup untuk berdebat dan berebut dengannya" jawab Al dengan penuh penyesalan.


"Kenapa orang itu bisa mengaku itu miliknya? gak ada malu sekali" Anna ngedumel.


"Aku juga gak ngerti, dia orang terpandang. Gak mungkin dia nyuri dengan sebebas itu" ucap Al.


"Jinggo itu ayam terkeren yang pernah aku temui loh Ka" ucap Anna.


"Iya. dia udah beberapa kali mendapatkan penghargaan" jawab Al.


"Penghargaan apa Ka?" tanya Anna penasaran.


"Jinggo suka ikutan kompetesi, dia selalu menang dalam lomba apapun" jawab Al sambil memulai pekerjaannya lagi.


"Contohnya lomba apa?" tanya Anna.


"Lomba adu, fashion show, lomba lantunan suara juga pokonya sering banget Jinggo dapet juara" jelas Al sambil menunduk. Ia seperti memendam kesedihan terdalam.


"Yaudah Ka. Kalo Kakak bisa ikhlas mending ikhkasin aja. Kalo gak bisa, mendimg samperin aja" Anna sedikit memberi saran.


"Samperin untuk apa?" tanya Al.


"Ya tanya-tanya dong, udah punya ayam itu dari kapan. terus beli dimana. Gak masalah juga kan kalo di tanya seperti itu?" jelas Anna.

__ADS_1


"Hmm..iya juga ya" Al pun kembali tersenyum, ia mendapatkan ide cemerlang. Ia memiliki lagi harapan untuk mendapatkan jinggo.


__ADS_2