
Aku peri
Al sangat keberatan Anna pergi, bayangkan saja, orang yang sudah terbiasa bersama-sama, susah maupun senang tetap bersama, dan kini dia akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.
Rasa kehilangan yang begitu mendalam yang membuat Al tidak sanggup lagi menatap Anna.
"Kak, maafin aku, ya?? aku pamit" ucap Anna kepada Al seraya menatapnya pekat-pekat.
Sementara yang di tatap malah menunduk dan kemudian memalingkan wajahnya.
"Kalo mau pergi, pergi aja! aku gak apa-apa kok, sendiri lagi disini" ucap Al yang membuat hati Anna terenyuh.
Al benar-benar tidak ingin melihat kepergian Anna. Lebih baik ia memalingkan wajahnya untuk mengurangi sakitnya rasa di tinggalkan.
"Ya udah Kak, aku pergi ya" jawab Anna dengan tegar.
Syala pun membawa lagi Anna ke istana setelah Anna mengucap kata terahirnya itu.
Sedangkan Al, ia berubah fikiran dan kali ini ia berusaha untuk melihat Anna yang terahir kalinya .
"Apa??" Al tersentak kaget setelah ia melihat sekelilingnya tidak ada siapapun, ia pun melihat ke luar rumah. Karna ia fikir mereka pasti belum jauh dari sana. Tapi, ketika Al keluar, jejak mereka tidak ada di sana.
"Apa mereka menghilang??" gumam Al. Karna kepergian mereka memang secepat kilat.
"Yang benar saja??" Al benar-benar tidak percaya atas apa yang telah terjadi padanya.
Anna tidak membawa sehelai baju atau keperluan apapun dari rumahnya.
"Ya, mungkin karna di istana banyak hal yang ia butuhkan, apalagi baju sekarang dan baju istana akan sangat berbeda. Percuma dia bawa pun tidak akan terpakai" fikir Al.
Ia pun mengambil baju Anna dan memandanginya.
Kepergiannya bagaikan di tinggalkan mati, yang mana seolah-olah tidak akan bisa untuk bertemu kembali karna berbeda alam.
Al pun terdiam, fikirannya sangat kacau. Ia benar-benar putus asa dalam menjalin hubungan dengan siapapun.
"Mungkin, aku tidak akan mengenal lagi cinta dan sebuah hubungan" fikir Al yang mulai lelah.
Al terlalu bucin sehingga jika ia kecewa, kekecewaannya membuat sulit untuk bangkit.
"Al..." seseorang memanggilnya, tapi ia tetap terdiam. Ia merasa telah berhalusinasi.
"Aaaaarrrgghhhh...aku jadi gilaaaaa" teriak Al seraya memegangi kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kamu kenapa??" sahut seseorang lagi .
__ADS_1
Al pun akhirnya terdiam dan mencari pusat suara.
"Ini, aku. Ibunya Anna" ucap Syala.
"Sejak kapan Anda disini?? bukannya tadi sudah pergi??" Al terkejut bukan main.
"Anna mana??" tanya Al.
"Anna sudah kembali ke istana" jawab Syala dengan senyuman.
"Apa Ibu sejak tadi berada disini? apa tidak mengantarkannya?" tanya Al.
"Tentu, saya antarkan" jawab Syala.
"Mungkin aku terlalu lama berdiam diri memikirkan ini semua" fikir Al.
"Kamu, kamu bawa aku kesini untuk apa?? apa kamu akan kembali dengan cintamu?" tanya Ocha yang sudah di kenadalikan oleh Syala.
"Ya, daripada mubadzir, kan??" tanya Syala.
"Jadi, kamu pemenangnya?? kau sudah menghancurkanku dan menghancurkan anakmu !! kamu gak ada akhlak" ucap Ocha geram.
"Hey...jangan kau asal menuduh, ya?? Al itu ayahnya Anna. Walaupun ia tidak menikah dengan Raja, ia tetap tidak bisa menikah dengan ayahnya sendiri" jawab Syala.
"Ibu, ada keperluan apa kemari?" tanya Al memecahkan percakapan Syala dan Ocha.
"Apa itu?? apa ada pesan dari Anna?" tanya Al.
"Bukan, tapi aku yang akan berpesan padamu. Kamu tidak perlu sedih berlebihan. Kan, masih ada aku pengganti Anna" jawab Syala.
"Maksudnya??" Al terkejut.
Syala pun cemberut, ia mendekati Al dan menyender di bahunya sambil sesenggukan.
"Aku selalu mencintaimu" ucap Syala.
"Apaan sih kamu, norak banget. Lebay deh. Pokonya aku gak sudi kalo ragaku bersentuhan lagi dengan laki-laki itu" ancam Syala.
"Ngapain sih kamu, ikut campur aja. Aku pun tidak pernah komplen kamu bawa aku bersentuhan dengan Raja" jawab Syala.
"Ngapain juga kamu komplen, orang ini ragaku" jawab Ocha.
"Pokonya kamu tidak boleh komplen apapun, kalau tidak..."
"Kalo tidak, kamu akan membunuhku??? silahkan...itu yang ku harapkan" Ocha menantang. Ia berkata begitu bukan sekedar omong kosong, karna walaupun Syala melakukan itu, Ocha sudah siap. Ocha sudah benar-benar lelah.
__ADS_1
"Baik, kalo kamu memang benar-benar seperti itu. Daripada kamu terus mengusikku. Lebih baik aku akan buat kamu hidup dengan keadaan yang tidak berdaya" jawab Syala.
Tanpa menunggu jawaban apapun, Syala langsung bertindak. Ia mengeluarkan kekuatannya untuk menjadikan Ocha tidak beradaya. Sebelumnya Ocha memang sudah tidak berdaya karna sudah Syala kendalikan. Tapi, sesekali Syala masih memberi kesempatan untuk berbicara menjadi Ocha.
Tapi saat ini, Ocha benar-benar tidak bisa apapun, raganya 99% dikuasai oleh Syala. Sehingga Ocha tidak bisa lagi bicara dan berdebat dengan Syala.
"Kamu?? emangnya kamu siapa??" tanya Al setelah ia memperhatikan Ibunya Anna yang berdiam mematung. Setelah Syala kembali bergerak, semuanya menjadi ajaib. Syala menjadi lebih muda dari sebelumnya, ia bagaikan wanita berusia 20 tahun.
Syala pun tersenyum, seraya membelai pundak Al sambil berputar mengelilingi Al.
"Apakah kamu tidak pernah menyadarinya??tidak ingatkah kamu dengan wajahku? tidak ingatkah kamu dengan tingkahku??" tanya Syala.
"Apa kamu Syala?" tanya Al datar.
"Ya. Tepat, sekali" Syala pun semakin bersemangat. Rasanya ia ingin sekali melepaskan rindu yang sekian lama tersimpan.
Tapi, Al malah menjauhinya dengan mimik yang masam. Syala pun kecewa dengan sikap Al yang seperti itu. Karna, Syala telah berharap Al akan kembali bahagia seperti masa itu.
"Kamu?? kamu gak bahagia, aku kembali??" Tanya Syala yang tiba-tiba mimik wajahnya berubah menjadi layu dan sedih.
"Kamu kemana aja???" tanya Al.
"Kenapa kamu malah menikah dengan Raja??" Al terus mengintrogasi dengan nada yang serius tanpa memberi kesempatan Syala untuk menjawab.
"Akan ku jelaskan semuanya sekarang padamu. Tapi, kamu harus berjanji kau masih mencintaiku" ucap Syala.
"Tidak perlu berjanji. Jelaskanlah apa yang telah kau alami sehingga kamu pergi meninggalkanku dan menikah dengan Raja" ucap Al.
"Aku adalah seorang peri" ucap Syala dengan tatapan yang meyakinkan.
"Hmm...kamu bergurau" jawab Al seraya tersenyum menyamping.
"Sungguh, apa kamu tidak menyadari. Jika aku datang dan pergi secara tiba-tiba dan secepat kilat??" tanya Syala.
Al pun terdiam, ia ragu untuk mempercayai Syala, tapi kenyataan itu mendorongnya untuk bisa percaya.
"Aku mencintaimu, sehingga aku mengorbankan pemilik jasad ini demi kamu" lanjut Syala.
"Maksud kamu???" Al tidak paham.
"Ya. aku peri. Jika aku tidak memasuki jasad orang, aku tidak akan seperti ini. Tidak akan seperti mu" jawab Syala seraya meraih jemari Al dan menciumnya.
Al pun terbawa suasana di masa lalu. Ia baru merasakan lagi sentuhan seorang wanita.
**************
__ADS_1
Tinggalkan jejak, ya?!