
Kembali seperti dulu
"Kamu kenapa sih kok jadi gitu?" tanya Al.
"Gitu gimana maksudnya??" Anna khawatir Al menyadari kalo dia sedang grogi.
"Kaya gak suka aku bantuin" jawab Al.
"Emangnya kenapa Kakak mau bantuin?" tanya Anna spontan.
"Aku udah laper banget" jawab Al dengan jujur.
Sepertinya dugaan Anna salah, Al membantunya bukan karna udah nyaman sehingga mau dekat-dekat dirinya, melainkan karna Al sudah sangat lapar sehingga ia membantu Anna agar masaknya segera selesai.
Wajah Anna pun memerah, ia sangat kecewa. Kecewa kepada asumsinya sendiri. Kecewa kepada harapannya sendiri. Hati dan fikiran Anna betul-betul berontak setelah mendengar jawaban Al. kemudian pada akhirnya kekecewaannya pun Anna ubah menjadi rasa percaya diri.
"Hmm aku gak boleh nyerah gitu aja, mungkin aja kali ini memang lapar banget makanya mau deket dan akrab denganku. Tapi itu semua tidak menutup kemungkinan kalo dia gak suka sama aku" fikir Anna. Fikirannya mendorong hatinya untuk bangkit lagi dan tetap percaya diri. Anna merasa Al memiliki rasa yang sama sejak awal.
"Angkat angkat angkaaaaattt !!!" teriak Al.
"Apa apa??" Anna panik dan gugup, ia kaget gak jelas.
"Sini spatulanya, biar aku yang angkat. Ini udah mau gosong An. Kamu kenapa sih banyak melamun?" tanya Al sambil merebut spatula yang sedang di pegang oleh Anna.
Al pun memasukan sayur yang ia masak itu ke dalam piring. Sedangkan Anna, ia masih saja hendak melanjutkan memasak lauk yang ke dua.
"Udahlah yuk...makan sama ini aja doang. Aku udah laper banget. Bawain piring sekalian An !!" ucap Al sambil membawa nasi dan sayurnya ke tempat dimana biasanya mereka makan.
"Baik Kak" jawab Anna.
Anna pun menururi perintah Al dan menghampiri Al untuk makan sore bersama.
Mereka makan sangat lahap sampe tidak memperhatikan satu sama lain dan bahkan tidak saling buka suara.
"Oya An, itu baju siapa? banyak banget gitu?" tanya Al setelah selesai makan.
"Oh itu kerjaan aku Kak, banyak kan yang mau pake tenaga aku?" tanys Anna sambil tersenyum bangga.
"Emang kamu mampu selesaikan semuanya sebanyak itu?" tanya Al.
"Ya mampu lah, orang itu kerjaan aku dari dulu. Tapi memang, dulu itu seringnya. pake mesin jahit" jawab Anna dengan enteng.
Dulu sebelum Anna cantik seperti sekarang, ia memang suka buka jahitan. Tapi setelah Anna berubah cantik pekerjaan itu menjadi otomatis terhenti. Karna tanpa bekerja pun Anna bisa mendapatkan apa saja yang ia mau. Dan sekarang adalah hari pertama Anna membuka lagi jahitan setelah Ia cantik. Itu semua karna keadaan yang mendesak.
__ADS_1
"Serius? cantik-cantik kok mau ngerjain kerjaan Nenek-nenek?" tanya Al mencibir.
Anna yang tadinya sumringah sudah di kata cantik tiba-tiba langsung pucat setelah mendengar cibiran yang keluar dari mulut Al yang selama ini Anna dambakan.
"Hahaha..kok jadi pucat begitu?? Oya, makannya tambah lagi dong biar gemoy" Al tertawa kemudian ia langsung mengalihkan pembicaraan.
Anna hanya terdiam, ia menunduk kemudian sejenak ia berfikir.
"Rasanya aku tidak tahan lagi memendam semua ini, aku harus tanyakan langsung semuanya sekarang. Terlebih, sekarang Kak Al sudah tidak terlalu kaku" fikir Anna.
"Kak..." Anna memberanikan diri.
"Iya An" jawab Al yang langsung memandangi Anna setelah dirinya di sapa. Sedangkan yang di sapa tersipu malu sehingga ia pun langsung tertunduk.
"Aduuuhh...kok aku jadi grogi gini ya? tanyain gak ya?" fikir Anna.
"Kenapa Anna?" Al menanyakan maksud Anna.
"Oh gak apa-apa, cuma mau tanya. Nanti malam ada waktu gak? aku pengen ngobrol" tanya Anna.
"Gak usah nanti. Sekarang aja udah mulai malam" jawab Al gak sabaran.
"Ya udah sekarang. Tapi aku akan beresin dulu bekas makan ya.." jawab Anna sambil merapihkan bekas makannya.
Anna pun bolak-balik menyimpan sisa makannya kemudian membereskan bekas makannya dengan menyapu, lap meja dan terahir ia cuci tangan.
Anna pun menghampi Al setelah di pastikan pekerjaannya sudah selesai. ia duduk di samping Al. Karna ia punya alasan untuk membuang muka dan tidak akan grogi lagi jika di pandangin Al.
Benar saja, setelah Anna duduk Al langsung memandangi Anna dengan sengaja. Kakinya di lipat ke kaki sebelahnya dan tangannya memegangi dagunya. Al sangat niat sekali untuk membuat Anna menjadi grogi dan tersipu malu.
"Mau ngomong apa ayo? kayanya serius sekali?" tanya Al sambil memperhatikan Anna dan sesekali ia tersenyum geli. Al melihat pipi Anna menjadi merah merona.
Anna pun mencoba membalas pandangan Al, tapi ia tidak bisa lama-lama. Baru saja Anna nengok ke samping, tapi secepat itu pula ia mengalihkan pandangannya ke depan.
"Hmmm...Ka Al. Kenapa waktu itu Kakak nolongin aku?" tanya Anna.
"Ya karna kemanusiaan" jawab Al dengan jujur.
"Terus kenapa mengizinkan aku tinggal disini ngerepotin Kakak?" lanjut Anna.
"Masa iya harus aku usir. Lagipula kamu yatim piatu kan?" tanya Al tebak-tebakan.
"Idih so tau" jawab Anna cemberut.
__ADS_1
"Ya ampun, gitu doang cemberut. Kalo masih punya orang tua lantas kenapa gak pulang atau minta di anter?? ya kan??" jawab Al.
"Harusnya kamu nanya. Kakak gak pernah nanya duluan sih rese" jawab Anna.
"Kamu yang butuh, masa aku yang harus kalang kabut. Masi untung udah di selamatin" jawab Al sambil tersenyum.
"Ya seenggaknya kamu itu harus ada komunikasi kaya gini dari awal" ucap Anna.
"Ya udah sih sekarang juga sama aja" jawab Al.
"Kamu gak nanya aku orang mana?" tanya Anna jengkel.
"Gak perlu tau juga" jawab Al dengan wajah so cool.
"Kamu harus tau, kamu kan harus nganterin aku pulang" jawab Anna.
"Kenapa gak dari awal?" tanya Al.
"Kan kamu gak nanya aku orang mana dan mau di anter kemana" jawab Anna menyalahkan Al.
"Harusnya kamu yang ngomong. Masa iya WC nyamperin yang mau berak" jawab Al gak mau kalah.
"Kakak nyebelin" Anna kesal. Terlebih setelah mendengar Al berkata "Kenapa gak dari awal'. Anna merasa cintanya bertepuk sebelah tangan. Pertanyaan itu cukup membuat Anna tau bahwa kehadirannya tidak di inginkan oleh Al.
"Kamu juga" jawab Al.
"Idih...orang kamu doang kok yang nyebelin" Anna ngedumel.
"Emang kamu gak nyadar seberapa menyebalkannya kamu?" tanya Al.
"Aku gak menyebalkan. Yang menyebalkan itu kamu" jawab Anna.
"Kamu harus tau, cemberut kamu itu manis, lucu. Menyebalkan sekali" goda Al.
"Ahh ngapain sih cowok aneh" dumel Anna.
Ia merasa tidak mengerti dengan sikap Al. Yang mana fikiran dan hatinya pun ikut di penuhi tanda tanya.
Ketika nerfikir sefrekuensi dengan perasaannya, tiba-tiba sifatnya menunjukan perbedaan, sepertinya tidak. Setelah berfikir tidak, tapi sepertinya Al juga memiliki perasaan yang sama.
■■■■■■■■■■■■
Terimakasih ya udah baca sampai chapter ini. Jangan lupa tinggalkan like, vote, komen dan krisarnya bila perlu. Itu semua sangat membantu dan membuat othor lebih semangat😊
__ADS_1