
Spontan
Kali ini Al sudah berani menggoda Anna. Tapi itu semua membuat Anna dilema.
"Anna.." sapa Al.
"Iya Kak apa???" tanya Al.
"Sekarang aku yang mau tanya sama kamu. Emangnya kamu orang mana, sih? terus tujuan kamu sebelumnya itu, apa?" tanya Al. Sebenarnya sejak awal Al benar-benar ingin mempertanyakan semua ini, tapi ia khawatir Anna tersinggung. Karna ketika Al hanya menyindir pun Anna tidak pernah peka. Yang ada malah tersinggung. Sehingga, akhirnya Al hanya bisa membiarkannya saja.
"Hah? hmm...mau nyari jati diri aja" Anna terkejut. Akhirnya Al peduli juga sama dia.
"Jadi pergi dari rumah gak ada kepentingan apa-apa, gitu?" tanya Al.
"Siapa bilang nyari jati diri bukan kepentingan?" jawab Anna.
"Iya. Maksudnya gak ada kepentingan lain selain itu?" tanya Al.
"Ya gak ada" jawab Anna. Kali ini Anna sengaja jual mahal, ia terus-menerus menjawab dengan singkat dan seperlunya aja.
"Oh ya udah iya. Terus orang tuanya bakal nyariin gak?" tanya Al. Ia bertanya sangat hati-hati sekali, karna ia khawatir Anna tersinggung.
"Enggak" jawab Anna. Lagi-lagi ia jawab dengan singkat seoalah-olah ia malas berbicara dengan Al.
"Masa?? gak mungkin An. Mereka pasti nyariin. Kalo kamu betah di rumahku, mending kamu pulang dulu kabarin orangtua kamu biar gak khawatir" jawab Al.
"Aku kan gak tau jalan pulang" jawab Anna.
"Emang kamu tinggal dimana?? nanti aku antar" jawab Al.
"Aku tinggal di negri sebrang" jawab Anna.
"Kamu mau kan aku anterin??" tanya Al.
"Kamu ngusir ya??" Anna mulai sensi.
"Bukan gitu, tadi kan aku udah bilang. Kalo kamu betah disini boleh tapi kamu harus kabarkan dulu keluarga kamu" jelas Al.
"Keluargaku gak bakal nyariin, aku udah bilang kalo aku belum dapet calon suami, aku gak pulang dulu" Anna berbohong demi mengetahui reaksi Al.
"Oh gitu, ya udah. Yang penting aku udah menawarkan diri untuk anter kamu pulang" jawab Al.
"Tapi aku ngerepotin gak kalo aku disini dulu sampe aku benar-benar memiliki calon suami??" tanya Anna menyindir Al. Ia berharap Al akan peka atas apa yang ia ucapkan. Anna harap Al tau perasaan Anna.
"Oh boleh kok, udah biasa kan hehehe" Al bercanda dengan penuh kebenaran.
"Ishh...gak peka amat sih" Fikir Anna.
__ADS_1
"Oya Ka, sebenarnya aku mau tanya. Kakak sayang gak sih sebenernya sama aku?" Anna memberanikan dirinya untuk bertanya hal itu.
"Hah??" Al spontan terkejut.
"Emmm iya sayang. Tapi sayang sebagai adek" lanjut Al.
"Boleh gak aku berharap??" tanya Anna dengan suara pelan bagaikan sedang berbisik.
"Kamu berharap apa??" Al bertanya dengan suara yang tinggi.
"Hah??" Anna terkejut. Ia fikir Al tidak mendengar perkataannya.
"Emmm...anu. eemmhh aku mau jujur aja ya. Aku jatuh cinta sama Kakak" ucap Anna.
"Dari sejak awal aku sudah terpesona. Aku harap Kakak mau jadi pacarku" lanjut Anna. Perkataannya mengalir begitu saja dari mulut Anna, spontan.
Sejak Anna jelek aja, ia mampu memendam perasaan yang begitu lama kepada Nuno. Karna baginya, mengungkapkan perasaan kepada lawan jenis adalah hal yang memalukan dan bisa membuat harga dirinya merosot. Bukan karna sudah cantik sehingga rasa percaya dirinya bertambah, tapi karna perasaannya yang terlalu menggebu-gebu.
"Apa??" Al terkejut dengan pengakuan Anna.
"Hmm...maaf ya. Maaf banget aku udah lancang" jawab Anna dengan tatapan serius.
"Tapi aku udah tua" jawab Al.
"Usia bukan ukuran untuk sebuah ikatan cinta" jawab Anna dengan tatapan kosong.
"Hah???" Anna terkejut. Ia pun berbalik untuk memastikan kebenarannya.
"kamu mau aku jadi pacar kamu kan?" Al bertanya balik.
"Iya" Anna langsung menunduk.
"Boleh kalo kamu mau" jawab Al.
"Emm iya" jawab Anna.
Setelah itu Anna langsung terdiam tanpa kata, ia sangat gugup. Bibirnya bagaikan terkunci.
Sedangkan Al, ia terus-menerus memperhatikan Anna yang lama-kelamaan membuat Anna menjadi salah tingkah.
"Ya udah kalo gitu aku mau tidur dulu" Anna hendak pergi meninggalkan Al.
"Anna tunggu !" pinta Al. Anna pun berbalik dan menatapa Al yang memanggilnya.
"Pintu kunci dulu, aku mau tidur di tempat kerja" ucap Al.
Sepertinya, Al tidak memiliki pengaruh dan reaksi apapun walaupun saat ini statusnya sudah menjadi pacar.
__ADS_1
"Oke" jawab Anna sambil menunduk.
Mereka pun berjalan menuju pintu, dan disanalah mereka berpisah untuk tidur malamnya.
Keesokan harinya, Anna kesiangan lagi.
Ia terbangun karna Al mengetuk pintu dan memanggil-manggil namanya.
Anna pun tersadar dan mengucek-ngucek matanya. Ia mengumpulkan seluruh jiwanya menyatu dengan raganya.
Setelah ia mampu melihat dengan jelas, Anna pun mengahampiri Al dan membukakan pintu.
"Kamu baru bangun?" Al membuka suara lebih awal.
"Iya" jawab Anna singkat.
"Kamu, kok kesiangan terus, sih?" tanya Al.
"Iya maaf kak, semalam aku gak bisa tidur" jawab Anna.
"Udah kebiasaan" Al ngedumel kemudian ia masuk dan membiarkan Anna berdiri di pinggir pintu.
Sejak semalam Anna tidak berani menatap Al, ia terus-menerus menunduk. Bahkan jika ia berusaha berpandangan pun jantung Anna bergetar hebat. Ia tidak kuasa lagi, ia menjadi salah tingkah dan sangat malu kepada Al sehingga membuatnya menjadi lebih banyak diam dan menunduk.
Al pun pergi ke kamar mandi untuk mandi.
Sedangkan Anna, ia memasak dan mempersiapkan hidangan sarapan untuk mereka makan.
Ketika Al selesai mandi, Anna pun selesai masak. Ketika Al makan, Anna justru malah pergi mandi.
Sepertinya Anna menghindari momen berdua yang biasanya mereka lakukan setiap kali makan.
Anna pun selesai mandi, kemudian di lanjutkan makan. Setelah ia makan, ia langsung menyelesaikan jahitan tetangganya.
"Aku jadi kaku gini sekarang. Gimana ya, cara mencairkan suasana yang kaku ini?" fikir Anna.
"Harusnya aku bahagia, karna orang yang selama ini aku suka udah jadi pacar aku. Tapi kenapa sifat kita jadi berubah seperti ini?" Anna menjahit sambil melamun.
"Aduh" Anna merintih karna jarum yang ia pegang menusuk jarinya.
"Aku harus fokus dulu aja deh. Tapi, apa mungkin kak Al menerimaku karna sebatas kasihan aja? awalnya kan udah akrab, tapi kok jadi dingin dan selalu ngehindarin aku?" Anna terus saja berasumsi yang bukan-bukan.
"Awwwwwww" Anna pun tertusuk lagi jarum. Tapi kali ini sangat dalam. Sehingga darah yang keluar begitu banyak.
Anna sudah berusaha menggigit jarinya dengan gigi agar darah berhenti mengalir. Tapi nihil, semua itu karna besarnya tusukan jarum yang menusuk jarinya.
Anna pun pontang-pontang mencari P3K untuk merawat lukanya.
__ADS_1