
Ke empat pemuda itu pun kembali melanjutkan perjalanan, kembali menyusuri hutan belantara itu.
"Lalu apa rencana kita kali ini?" Tanya KI AGENG LOWO.
"Bagaimana kalau kita pulang ke rumah mertuaku sekaligus kita menimba ilmu disana?" Saran JAKA.
"Tidak buruk, lagi pula ilmu kita jika dibandingkan denganmu, kita tak ada apa apanya seperti DADUNG AWUK " timpal KI MENDEROSO .
"Tunggu apa lagi ayo...sebelum hari semakin gelap" s3mangat MAS ALIT.
Tapi tiba tiba percikan kilat menyambar kemana mana sehingga membuat ke empat pemuda itu menghentikan kudanya karena takut bukan kepalang, tak ada angin tak ada hujan, ranting pohon dan dedaunan disana pun turut berguguran, hewan hewan pun tak kalah ketakutan dan kabur kesana kemari.
Ternyata tak jauh dari tempat mereka ada seseorang yang sangat mahir sedang memainkan cemetinya sehingga menimbulkan percikan kilat dari setiap hentakan gerakannya.
"Ha..ha..ha..asal kalia tahu, ilmuku jauh lebih hrbat dari KI AGENG SELA , dia masih dibawahku, datanglah ke perguruanku maka akan aku ajarkan ilmu kesaktian dari "BANYU BIRU " " Ucap kakek tersebut.
JAKA TINGKIR terkejut begitu mendengar dari nya sebuah perguruan yang pernah dia dengar dari EYANG gurunya, sudah lama dia ingin menyambangi dan bertemu secara langsung sang GURU besar KI BANYU BIRU .
"Benar kah KI , perkenalkan aku JAKA TINGKIR dan ini teman teman ku dri DEMAK , KI AGENG LOWO, MAS ALIT DAN KI MANDEROSO " ucap JAKA memberi hormar diikuti ke tiga temannya.
"JAKA namaku sebenarnya adalah KI KEBO KANIGORO aku ini adalah kakak dari ayahmu KI KEBO KENANGA " kata tuan guru itu.
"Benarkah , berarti anda adalah pakde ku ?!" Terkejut JAKA sekaligus tak percaya.
"Iya JAKA, tapi aku ada 1 syarat yang harus kalian tepati , yaitu kalian harus setia membela negara ku "
" tentu KI tapi...apa mugkin itu MAJAPAHIT ?"
"Iya benar "
"Lalu kenapa anda membenci DEMAK KI?" Tanya KI LOWO.
__ADS_1
"Karena rajanya anak muda, kalian tentu tahu bukan atas terbunuhnya RADEN KIKIN, TRENGGONO lah dalang dari semua itu "
"Benar KI " faham ke empat nya.
"Sebarkan lah pada semua orang DEMAK, bila raja mereka lah yang telah menghabisi RADEN KIKIN sendiri "
"Tentu KI kami akan setuju untuk tugas itu dan juga aku masih ingat bila dia juga dalang pembunuhan ayah ku " geram JAKA.
"Apa lagi sekarang kamu pula sedang diburu tentaranya JAKA " timpal KI MANDEROSO.
"Pantas saja tadi kalian melawan prajurit DEMAK, kalau boleh tau perihal apa?"
"Putrinya mencintaiku paman , tentu saja aku tak sederajat dengannya, aku juga sadar diri bila aku anak desa maka dari itu , tak terbesit dibenakku untuk mendekatinya "
"Baiklah ayo kita pergi kerumahku, aku sudah tak sabar untuk mengajari kalian s3mua " ajak guru itu kemudian.
Rombongan itu pun berangkat ke tempat PERGURUAN BANYU BIRU itu, mereka semakin masuk ke dalam jantung hutan ini, menyusuri sela sela pepohonan yang lebar dengan dedaunanya semakin pula mereka menjauh dari wilayah DEMAK.
Disisi lain sang SULTAN terus memerintahka prajuritnya untuk menjaga wilayah wilayah DEMAK bila mana dari perbatasan muncul empat kawanan itu agar segera menangkap dan melaporkan pada sang RAJA.
Begitu pula dengan rumah NYAI TINGKIR sesekali prajurit mengintai kesana diam diam, padahal seisi rumah itu pun sudah tau gerak gerik mereka walaupun dengan penyamaran.
Sedangkan dirumah KI AGENG SELA selain karena tempat itu adalah Perguruan ilmu beladiri tersohor , jika ada waktu senggang ARYA selalu menyambangi tempat itu kadang sampai berhari hari sehingga mereka sudah dibuat ciut dan tak berani memata matai rumah itu lagi.
Kehidupan di rumah KI SELA pun semakin semarak dengan adanya cucu baru mereka, ditambah nyi SABINAH istri tuan PAMANAHAN pula sedang hamil yang baru memasuki satu bulan, meski tinggal tak jauh dari padepokan mereka selalu datang berkunjung , dengan pengajaran di tangani oleh TUAN PANJAWI DAN TUAN MARTANI dibawah komando KI AGENG SELA.
KENANGA pun tak lupa meski sibuk mengurusi jagoan kecilnya dia masih menyempatkan untuk menjadi guru untuk anak anak di desa.
1 TAHUN KEMUDIAN
__ADS_1
Tak terasa waktu sudah berjalan begitu cepat,rasanya baru hari lalu SUTA kecil terlahir didunia kini sudah menginjak usia satu tahun.
Tapi tak ada satu pun yang tau akan keberadaan ayahandanya. Dia seperti ditelan bumi.
Siang itu seperti biasa ARYA hendak main kesana untuk menengok Jagoan kecil yang sudah dia anggap seperti anak sendiri,kebetulan saat melewati pasar dia melihat blangkon kecil sehingga dia tertarik membelinya berikut untuknya pula.
"Assalamualaikum "
"Waalaikum salam nak ARYA masuk saja, tapi KI AGENG dan lainnya sedang di padepokan, mau minum dulu apa mau gendong SUTA WIJAYA hayooo ?" Goda NYAI AGENG sehingga pemuda itu tersipu malu.
"NYAI... pasti mau gendong SUTA lah, kan kalau kesini yang dicari cuma den SUTA..gak pernah nyariin si mbok " ledek si mbok juga.
" MBOK SITI tahu saja, ngomong ngomong SUTA dimana mbok?"
"Ada diteras belakang sama ibunya, mari den saya antar "
"Iya mbok..mari NYAI saya permisi dulu mau bertemu SUTA "
"SUTA..apa ibunya.." ledek NYAI AGENG lagi
"NYAI bisa saja "
"Temuilah mereka pasti senang kamu datang "
"Terimakasih NYAI permisi.."
ARYA pun mengikuti arahan MBOK SITI menuju teras belakang, dan benar saja disana si kecil sedang bermain dan tertawa riang dengan ibunya, rambutnya kian memanjang tapi anehnya tak nampak dia seperti wanita yang sudah berputrakan, wajahnya masih sama seperti setahunan lalu saat pertama kali dia bertemu, hanya saja dia kini lebih dewasa inilah gadis yang dulu dia idam idam kan tapi tak bisa dia miliki, dan kini yang bisa dia lakukan hanya mencurahkan kasih kasayang seorang ayah yang tak pernah didapat oleh anaknya. ARYA juga tak berani untuk membicarakan perasaannya mengingat kejadian setahun lalu tentang terpukulnya KENANGA saat mengetahui kabar akan suaminya itu, buktinya tanpa dia dan yang lain menceritakan, dia justru menutup diri dengan obrolan tentang JAKA . Sepertinya dia sangat sakit dan kecewa dengan tingkah suaminya yang sudah tak setia kepadanya, bahkan untuk memberi kabar pun sampai sekarang tak pernah dia terima surat apapun darinya. Hal itu yang membuatnya berfikir bila suaminya sudah melupakan dan tak perduli tentangnya.
__ADS_1