
Keesokan harinya para rombongan beserta warga dari tuan KI AGENG LO , berbondong bondong menuju ke arah selatan dengan penuh tawa dan riang , sekali kali mereka melantunkan nyanyian syair syair yang indah , sepanjang perjalanan banyak sekali mereka menemui candi candi hindu dengan bermacam macam ukuran diantara semak belukar di balik rindangnya dedaunan dan alang alang dimana keadaannya masih bagus , bisa terlihat betapa besar dan jayanya dulu saat kerajaan MATARAM itu berdiri . Tak jarang mereka membersihkannya dari semak belukar itu sehingga bisa terlihat keindahannya.
Hingga sampailah rombongan itu pada sebuah sungai yang dinamakan SUNGAI OPAK sehingga mereka berusul untuk beristirahat sejenak disana.
"Kita istirahat dulu disini , untuk melepaskan dahaga dan lapar kita " perintah KI AGENG.
"Baik ki "
Perbekalan pun dibuka dan dibagikan ke semua rombongan sambil menikmati jernihnya air sungai dan sejuknya udara disana.
"Tuan , sungai ini lah yang mengalirkan lahar saat ada letusan dari gunung, seharusnya masih banyak candi candi disini, tapi kemungkinan masih terkubur tanah dan semak belukar " kenang KI AGENG.
"Aku percaya Ki , dulu kerajaanmu pasti sangat kaya, itu sebabnya engkau sangat bersemangat untuk membangun kembali " jawab KI MARTANI.
"Benar tuan "
Tapi tiba tiba dari arah kejauhan beberapa orang melihat seseorang pula yang juga sedang beristirahat di pinggiran sungai sembari membasuh wajahnya .
"Kang siapa beliau, seperti tak asing " ucap KENANGA.
"Iya sepertinya aku pernah melihatnya " uvap tuan PAMANAHAN.
"Kita temui saja beliau , siapa tau beliau pelancong juga " tambah tuan MARTANI.
"Biar aku yang kesana dari wajahnya seperti KANJENG SUNAN KALI JAGA " terka KENANGA , sehingga SUTA , KI PAMANAHAN DAN KI MARTANI pamit pada KI AGENG LO untuk menemui orang tersebut.
Ternyata benar adanya bila orang tersebut adalah KANJENG SUNAN sehingga KENANGA dan lainnya pun langsung menyalaminya , diikuti rombongan yang mendatanginya.
"Saya tak menyangka bisa bertemu dengan EYANG SUNAN "
"Sudah lama ya KENANGA, Terakhir aku bertemu denganmu saat memberimu mimpi nama untuk anakmu "
"Benar EYANG , dan ini lah SUTA WIJAYA itu "
"Tak sangka sudah sebesar ini dan tampan seperti ayahnya , aku rasa dia menuruni semua bakat dari ayahnya "
__ADS_1
"Terimakasih eyang , semoga saja aku bisa menuruni kehebatan ayahanda " ucap Suta.
"Lalu ada hal apa kalian dan keluarga beserta warga KI AGENG LO berbondong bondong kemari ?"
"Begini EYANG, kami sedang menuju ke istana kerajaan MATARAM HUNDU yang terkubur lahar dulu" terang tuan PAMANAHAN.
"Kami ingin membangun kembali dengan nama MATARAM BARU " timpal Ki AGENG LO.
"Saya ikut senang tuan, tapi hendaklah nama barunya menjadi kerajaan MATARAM ISLAM , menggantikan MATARAM hindu maka kerajaan itu akan menjadi pusat penyebaran agama islam " tutur Eyang SUNAN.
"Aku sarankan kalian pergilah ke arah sini..." KANJENG SUNAN menunjuk ke sebuah arah jalanan kecil yang hampir tak nampak jalanan , karena sudah penuh dengan rumput rumput nan tinggi.
"Disana kalian akan menjumpai sebuah pohin yang berdaun putih seluruhnya berbeda dengan yang lainnya, disitulah kalian akan menemukannya dan membangun istana yang baru , tapi sayang aku tak bisa berlama lama lagi , aku harus pergi "
"Sayang sekali EYANG, padahal kami berharap Eyang bisa bersama kami " pinta tuan MARTANI.
"EYANG masih banyak yang akan kami tanyakan , bimbinglah kami "pinta pula tuan PAMANAHAN.
"Baiklah..mari KI AGENG LO, kita menuju arah yang diberikan oleh KANJENG SUNAN "
"Benar tuan..ayo semuanya kita lanjutkan perjalanan kita !!!!! " semangat KI AGENG.
Rombongan pun kembali berangkat menyusuri arah tadi yang diberikan , langkah demi langkah semuanya terus mencari cari disekitaran jalan bila mana melihat pohon yang berdaun putih yang dikatakan KANJENG SUNAN.
"Ki !!! Lihat lah !!! " seorang rombongan berteriak saat melihat dari kejauhan sebuah pohon berdaun putih.
"Alhamdulilah kang kita sudah menemukannya "
"Iya PAMANAHAN , ayo kita bergegas kesana "
"Ayo semuanya kita sudah hampir sampai !!!! " teriak Ki ageng Lo. Sehingga semakin membakan api semangat para rombongan .
Hanya selang beberapa meter sampailah mereka di pohon berdaun putih itu yang ternyata adalah pohon beringin yang masih berdiri tegak meski di sekelilingnya di lahap oleh lahar GUNUNG MERAPI , Daunnya putih sisa dari abu letusan gunung , anehnya hal itu masih melekat hingga sekarang , entah itu sebagai tanda dari SUNAN , tak ada yang tau , yang jelas mereka bisa menemukan tempat itu.
__ADS_1
"Hari ini dan seterusnya kita akan bekerja keras membangun dan membersihkan lahan disini , apa kalian siap !!!! " titah tuan PAMANAHAN.
"Kami siap RAJA " teriak semuannya.
"Baiklah mari kita berjuang bersama !!! "
Sejak hari itu, hari demi hari mereka pun tanpa kenal lelah membangun kembali kerajaan MATARAM itu , bulan demi bulan ,tahun demi tahun , sehingga nama ejekan MENTAOK pun berganti dengan nama KOTA GEDE seperti yang kita kenal sekarang di YOGYAKARTA.
Kesibukan demi kesibukan setiap hari selalu meningkat , mengingat banyak sekali pendatang dari segala penjuru apa lagi warga MATARAM dulu yang kini berbondong bondong untuk kembali ke kampung halamannya yang dulu tetkubur lahar, ada pyla yang sekedar untuk menjadi abdi dalam di istana.
Rasanya seperti mimpi bila kini sebuah istana besar telah dia dirikan sehingga , RAJA PAMANAHAN bermaksud untuk soan ke istana PAJANG untuk melapor keberhasilannya dalam membangun daerah MENTAOK.
"SUTA besok paman raja akan menghadap ke raja pajang , apa kamu mau ikut " ucapnya pada pemuda gagah itu tapi yang ditannya hanya terdiam.
"Maaf paman RAJA , aku tidak bisa ikut karena ada rapat dikemiliteran untuk melawan pemberontakan KI AGENG MENGIR "
"Baiklah Paman faham karena sekarang kamu adalah putra mahkotaku, calon penerusku , tapi apakah ada alasan kenapa kamu menolaknya ?"
"Ya RAJA karena beliau adalah ayahku, maka dia akan merasa mempunyai hak pada kebijakan negrinya pada MATARAM, yang aku takutkan bila kebijakannya nanti tak sesuai dengan rakyat kita RAJA "
"Baiklah aku mengerti , kalau begitu bantu lah PAMAN PATIH MARTANI disini "
"Baik Raja "
"Heyyyy....semakin hari kamu semakin gagah ya , mirip dengan ayahmu, pantas saja kamu menuruni bakat kepemimpinannya "
"Tapi aku tidak akan seperti ayahku paman RAJA, lihatlah...semenjak kepergian paman ARYA kini aku jarang sekali melihatnya tersenyum "
"Kamu benar , sering sering lah kamu menengok ibumu disela kesibukanmu , baiklah biar paman yang akan pergi ke PAJANG "
"Baik RAJA hati hati lah diperjalanan "
"Iya.."
__ADS_1