
"Jangan JAKA !!! Jangan !! Baik lah aku mengaku bila aku memang melarang putriku untuk mencintai orang desa sepertimu"
"Lalu...apa hanya itu kejahatanmu ?" Ancam JAKA kembali sampai sebuah goresan kecil mengenai leher sang PUTRI.
"Baik baik..aku akui kesalahanku menjatuhi hukuman mati padamu, sekarang kau sudah bebas..kau puas !!!!" Teriaklah sang RAJA dia benar benar murka sejadi jadinya.
"Aku mewakili rakyat DEMAK semuanya, apakah kamu mau berjanji untuk memimpin dengan adil ??!!!! "Yang ditanya hanya diam dalam kemarahannya dihadapan prajurit dan rakyat rakyat Demak disekitar bukit.
"Kenapa kau diam !! Mau atau tidak !!!"
"Iya..aku mau " ucapnya penuh paksaan.
"Terakhir...minta maaf lah kau pada keluarga yang telah kau bunuh !! Seperti PANGERAN KIKIN dan juga ayahandaku KI KEBI KENANGA, termasuk para pria pria yang melamar anakmu RAJA .."
Tiba tiba tak disangka DADUNG AWUK diam diam hendak menghunuskan kerisnya.
"JLEB " keris itu tertusuk ke punggung JAKA.
"Aakkkhhh.." kaget sang putri.
"Kurang ajar kau kakang..rasakan kemampuan baruku " geram JAKA , sehingga tak basa basi dia menghajar SI DADUNG AWUK bertubi tubi hingga dia tersungkur di tanah dan bersimpah darah dari mulutnya.
"Jadi ini cara licikmu untuk membunuhku RAJA !!"
"Tidak JAKA , sungguh itu inisiatif DADUNG sendiri, aku tak tau bila dia senekat itu untuk membunuhmu, sekarang aku percayakan putiku untuk kau ambil sebagai istri , aku percayakan hidupnya padamu, semoga kamulah lelaki yang ditakdirkan untuknya "
Yang dimaksudkan pun tampil mendekati JAKA , dia memberanikan diri yang kemudian menyobekan selendang mahalnya dan membalutkan pada punggung JAKA yang bersimpah darah, terlihat sekali bila putri itu benar benar sangat mencintainya.
"Bisa kita bicara sebentar ?"
"Baiklah.."
"Hay RAJA !!! aku mau berunding dengan putrimu sebentar " pamit JAKA yang kemudian membawa sang putri dengan ilmu peringan tubuhnya, sang putri justru semakin erat memegangi tangan JAKA , dia berharap JAKA mau membuka hati untuknya.
Tempat itu tak begitu jauh dari persinggahan RAJA , dimana ada sebuah padang rumput yang tak begitu luas dan disanalah mereka mendarat.
"JAKA...sebelumnya maukah kamu memaafkan sikap ayahandaku ??"
__ADS_1
"Entahlah..aku akan mencobanya.., tapi apa benar bila kamu sangat mencintai ku ?"
"JAKA apakah aku harus menusukan keris ketubuhku dulu agar kau percaya "
"Tidak putri aku percaya padamu, tapi aku sudah punya kehidupan dimasa lalu dan aku takut itu akan membuatmu sakit hati bila kamu masih mengharapkan aku menjadi suamimu"
"Sepertinya aku tau apa maksudmu, jika hari itu tiba aku hanya bisa pasrah, karena aku lah yang menjerumuskanmu dalam masalah ini,aku akan menerima apapun keputusanmu, meskipun itu pahit "
"Karena aku sudah beristri , memangnya kau masih mau denganku ?"
CEMPAKA pun terdiam mendengar pernyataan JAKA , dia pun mencoba menenangkan fikirannya untuk membuat keputusan.
"Aku bersedia jika harus menjadi istri ke dua mu"
Terkejutlah JAKA mendengar jawaban dari putri itu, dia benar benar mencintainya.
"Baiklah..tapi kau harus ingat , tentang ini hanyavkau yang tau, aku sengaja menutupi pernikahanku dengan KENANGA karena aku tak mau dia dan keluarganya celaka oleh tindakan ayahmu, jika kamu menginginkanku aku hanya mau bila ayahmu sudah gugur "
"Tapi kenapa JAKA bukankah dia sudah setuju"
"Baiklah aku akan menunggu hari itu "
"Terimakasih...aku akan mengantarkanmu pada ayahmu"
"Terimakasih ".
* * * * * *
Sejak kejadian siang itu kini JAKA beserta kawan kawannya lebih leluasa berada di DEMAK, meski bukan lagi menjadi bagian dari kerajaan.
Sementara RAJA kini hanya bisa pasrah dengan tingkah polah JAKA di wilayahnya,
Sedangkan KENANGA semenjak kedatangan RAJA TRENGGONO dia tak berhenti memikirkan dan hal apa yang akan terjadi pada Raja DEMAK itu, sampai sampai kesehatannya mulai menurun diiringi terpaan fikiran dan kekhawatiran.
Siang itu selepas pelajaran selesai KENANGA masih berdiam diri di ruangan itu, tapi dari luar terdengar sayup sayup suara angin dari ilmu peringan tubuh yang kemudian mendarat di depan pintu ruangan.
"Sudah lama ya kamu tak kesini, apa ada masalah yang menimpa mu?" Tannyanya karena tau sia yang datang, tapi dia justru tak menjawab pertanyaannya, kini justru NYAI ENDANG datang dan berlari selepas dari pasar.
__ADS_1
"Pangeran ARYA...biar saya saja" pintanya.
"Ada apa nyai?"
"KENANGA....RAJA TRENGGONO telah gugur di PANARUKA " Ucap sang nyai , sehingga KENANGA hanya bisa syok dan terdiam seribu bahasa.
Berita tadi langsung terdengar di penjuru wilayah, dengar dengar seorang wartawan PORTUGIS bernama FERNANDES MENDEZ PINTO lah yang mengabarkannya karna dia bergabung dengan rombongan BANTEN.
NYAI ENDANG pun pamit untuk mengabarkan pada warga lainnya sementara tamu pria itu justru berwajah merah padam hendak menerkam apa saja dihadapannya.
"Rasa gelisahku lagi lagi bermunculan, aku tadinya berfikir apa jangan jangan sesuatu terjadi padamu dan dia, karena rasa cemas seperti ini pernah aku rasakan saat gugurnya ayahanda mu" tutur KENANGA. sehingga tamunya pun masuk.
"Sepertinya aku tahu kenapa mukamu kecewa, tenang saja..semua orang pun tahu bila kamu adalah pewaris sesungguhnya, EYANG SUNAN mencegahmu bertindak itu lebih baik dari pada mereka yang tidak tau diri "
"Tapi kau tahu sendiri kan apa yang mereka lakukan pada keluargaku"
"Aku tau ARYA aku juga faham, sementara untuk menahan amarahmu, kamu disini saja, biar patihmu yang bertugas "
"Rasanya aku sudah tak sabar ingin merobek mulut PARWOTO itu"
"Kalau kau masih berfikir peperarang , pergilah dan jangan pernah bertemu dengan ku lagi"
"Baiklah..aku minta maaf, soalnya hari ini aku sangat kesal "
"Baiklah...dan aku ada sesuatu untukmu lihat , aku ingin memastikan teoriku "
Secarik kertas KENANGA ambil dari dalam tasnya, kebetulan dia mengambil jurusan desain jadi tak begitu buruk untuk sekedar lukisan seseorang.
"Apa kamu kenal dengan orang ini ??" Tanya KENANGA sembari memberikan gambarnya.
Sedangkan ARYA hanya terkesima melihat gambar itu yang tentu saja dia ingat dan tak akan pernah dia lupakan.
"Kau bercanda , tentu saja aku mengenalnya dia ayahandaku RADEN KIKIN "
"APA !!! ini benar gambar ayahmu?"
"Tentu saja, mana mungkin aku bisa lupa dengan gambar ayahandaku, hanya saja rambut disini pendek dan tanpa mahkota dan..."
Seketika KENANGA langsung memeluk pria itu erat erat, rona bahagia terpancarkan sampai sampai keluarlah air matanya ARYA pun hanya terdiam akan tingkah KENANGA itu.
__ADS_1