
🍑🍑🍑
Della menatap berkas yang tertumpuk di meja, tadinya itu akan di serahkan kepada brian untuk di tanda tangani tapi urung.
Helaan napas itu terus berulang-ulang keluar dari bibir della, della menatap kopi milik rizal,.."pasti kopinya udah dingin, gue buat baru aja deh" ucap della berjalan ke pantry.
Setelah beberapa menit kopi milik rizal sudah jadi, della mengingat luka di sudut bibir rizal, della mencoba mencari obat salep yang rizal berikan kemarin.
Tok..tok..
"Masuk" ucap rizal
"Permisi pak, ini kopinya" ucap della
"Makasih ya del" ucap rizal tersenyum
"Maaf ya pak saya lama, oiya pak ini obat salep yang kemaren bapak beli untuk saya" ucap della memberikan obat salep kepada Rizal.
Rizal menerima obat salep dengan kening mengerut,.."untuk apa ini della.?"tanya rizal menatap della.
"Untuk itu pak" della meletakan jari nya di sudut bibirnya.
Rizal mengerti sekarang,.."tapi saya tidak bisa memakainya" ucap rizal.
"Kenapa pak.?, ini salepnya ga perih kok pak mala dingin" ucap della
"Bukan itu, saya tidak bisa mengolesnya sendiri" ucap rizal
"Mau saya bantu pak" ucap della tanpa pikir panjang
"Boleh" ucap rizal memberikan obat salep kepada della.
Della mendekat ke arah bangku rizal,sedikit membungkuk untuk melihat wajah rizal. wajah rizal sangat dekat dengan wajah della bahkan bau maskulin milik rizal memenuhi indra penciuman della.
Della mulai mengoles obat salep di sudut bibir rizal dengan pelan, sentuhan della membuat jantung rizal berdebar, della bahkan dengan santai nya meniup luka yang sudah di oles obat salep itu.
"Udah pak" ucap della
Sedetik itu pula tatapan mereka bertemu, pandangan mereka seakan terkunci, tangan rizal menyentuh wajah della dengan lembut, membuat della beku seketika.
"Kamu cantik" ucap rizal pelan terus mengelus wajah della.
Della tidak bergerak sama sekali, dada nya sesak seakan pasokan oksigen abis, ruangan rizal terasa begitu panas bagi della.
"Saya tidak akan berbuat yang tidak-tidak sama kamu" ucap rizal menurunkan tangan nya dari wajah della.
Della tersadar dan langsung berdiri, della salah tingkah tak tau harus berbuat apa, wajah della sudah semerah tomat.
Rizal tersenyum melihat wajah della yang merona akibat ulah nya
__ADS_1
"Muka kamu merah" ucap rizal tersenyum
Della menutup wajah dengan kedua tangan nya, malu sudah pasti.
"Kalau begitu saya pamit pak" ucap della berlari keluar ruangan rizal.
Rizal tersenyum penuh kemenangan, ternyata della bisa tersipu malu juga karna ulah nya.
******
Reyhan mecari kartu nama riri di dompetnya, dia memberanikan diri untuk menelfon riri.
"Oke gue pasti bisa" ucap reyhan mulai mengetik nomor riri.
Jari-jari reyhan mulai mengetik nomor yang ada di kartu itu, reyhan terlihat bingung saat mendapati nomor tujuan yang akan di telfon nya sudah perna di hubungi sebelumnya.
"Kapan gue nelfon ya" pikir reyhan
Reyhan melihat riwayat panggilan, kening nya berkerut melihat tanggal di layar ponselnya.
"Ini waktu gue pinjamin hp sama della kemaren, apa gue coba telfon aja kali ya" batin reyhan.
Reyhan mencoba menelfon nomor riri, sambungan terhubung.
Ponsel riri berdering, nomor baru tertera di layar ponsel,.."siapa ni" pikir riri menggeser ikon hijau.
"Halo" sapa riri
Riri terlihat bingung,.."siapa ni, kagak kenal gue sama suaranya" batin riri
"Siapa ya.?" tanya riri
"Apa benar ini dengan mbak riri" tanya lelaki itu
"Iya dengan saya sendiri,ada apa ya mas" ucap riri
tidak terdengar suara lagi, riri bingung.."halo mas" ucap riri lagi.
Tetapi sambungan mala terputus.
"Lah mala mati, salah sambung kali ya" ucap riri kembali melanjutkan kerjanya.
Reyhan menatap layar ponsel nya bergantian dengan kartu nama milik riri, nomor itu memang benar sama,.."jadi teman della itu riri" ucap reyhan.
"Berangkat sekarang kan.?" tanya riyan menyadarkan reyhan dari lamunannya.
"Iya, pamitan dulu sama bunda" ucap reyhan, riyan mengangguk setuju.
"Bunda" panggil reyhan berjalan ke arah sherly di ikuti riyan
__ADS_1
"Kita pamit pulang ya bunda" ucap reyhan memeluk sherly
"Iya, kalian hati-hati ya" ucap sherly melonggarkan pelukan nya
'Iya bunda" ucap reyhan
"Abang balik ya bunda,bunda jaga kesehatan jangan sampai capek" ucap riyan lagi
"Iya sayang" ucap sherly memeluk putranya itu.
"Jangan ngebut bawa mobilnya rey, bunda sayang kalian" ucap sherly melambaikan tangan saat keduanya memasuki mobil.
Reyhan membunyikan klakson dan berlalu meninggalkan Pekarangan rumah megah itu.
Sepanjang jalan riyan hanya diam saja, menatap jalanan seakan itu adalah pemandangan paling indah.
"Lo jangan diam-diam aja dong" ucap reyhan memulai obrolan.
"Gue harus ngomong apa.?" tanya riyan
"Ya apa gitu serah lo, yang penting lo ngomong" ucap reyhan.
"Gue ga mau ngomong apa-apa sama lo" ucap riyan
"Lo yakin.!!" ucap reyhan lagi.
Riyan menghela napas pelan,.."yakin" ucapnya
"Gue kenal lo ga sehari atau dua hari, lo kenapa.?" tanya reyhan lagi.
"Kak sella bakalan balik ke bandung rey" ucap riyan pelan
"Apa.!!!!" reyhan kaget memberhentikan mobil di tengah jalan beruntung saat ini jalan sepi jadi tidak Mengakibatkan kecelakaan.
"Kenapa berhenti begok, untung kagak ada mobil lain" ucap riyan memukul kepala reyhan pelan.
Reyhan menepikan mobilnya, riyan bingung kenapa reyhan mala menepi bukannya melanjutkan perjalanan.
"Kok lo mala berhenti.?" tanya riyan
"Bentar, gue atur napas dulu" ucap reyhan
"Apaan sih lo, lebay banget" ucap riyan
"Lebay lo bilang!!! Heh, otak lo hilang atau Gimana!! Gara-gara tuh cewek lo hampir mati tau ga" ucap reyhan tak habis pikir
"Itu udah masa lalu rey, gue juga udah lupain semua nya" ucap riyan
"Kagak bisa!! pokok nya lo ga boleh ketemu sama anak Dajjal itu, gue ga akan perna biarin tuh ular betina dekat-dekat sama lo lagi. ucap reyhan melajukan mobilnya.
__ADS_1
Riyan hanya diam saja, pikiran nya kini ntah kemana-mana.
****