
Sepanjang jalan riri hanya diam saja, begitu juga dengan bunda hana dan rizal.
Rizal sempat berpikir bahwa darlla sudah di adopsi oleh keluarga lain,sebab mereka bertiga pergi meninggalkan panti tetapi beberapa saat setelah mereka sampai.
Rizal tampak bingung dengan pemandangan yang dia lihat.
"Makam" batin rizal, sedikit bingung.
"Mari nak" ucap bunda hana menyuruh rizal mengikuti langkah nya.
Setelah hampir lima menit mereka berjalan, akhirnya mereka bertiga sampai di kediaman terakhir darlla.
"Ini dia nak" ucap bunda hana berjongkok menatap batu nisan bertuliskan nama DARLLA APRILIA.
rizal terkejut menatap batu nisan itu,dia seakan tidak percaya dengan semua nya.
Karena info yang dia dapat Mengatakan bahwa darlla masih hidup dan menetap di panti.
"Apa ini tante.?" tanya rizal dengan raut wajah bingung.
"Ini adalah tempat terakhir darlla, nak rizal" ucap bunda hana
Riri menangis menatap batu nisan itu, dia terus merasa bersalah akan kejadian waktu itu.
Rizal menatap riri dan hana bergantian,.."tante mau bohong sama saya!" ucap rizal lagi
"Kenapa saya harus bohong sama nak rizal, memang benar ini ada nya, ini adalah darlla" ucap bunda hana.
"Tapi info yang saya dapat mengatakan darlla masih hidup dan menetap di panti" ucap rizal tidak mau menyembunyikan apa-apa lagi.
"Tapi darlla sudah lama meninggal nak rizal, saat kecelakaan itu terjadi darlla mengalami kritis dan adik nya mengalami koma" ucap bunda hana mengelus nisan darlla.
"Adik.?" tanya rizal.
"Iya, darlla mempunyai adik perempuan juga" ucap bunda hana
"Maksud tante.?" tanya rizal tidak mengerti akan ucapan hana.
"Darlla mempunyai saudara kembar, dan dia juga perempuan" ucap bunda hana terus mengelus nisa darlla.
Rizal terkejut hampir saja dia terjatuh akibat terlalu kaget mendengat ucapan hana,rizal menatap batu nisan itu dan beralih menatap riri.
"Apa mungkin lo!" ucap rizal menatap riri
__ADS_1
"Bukan! Bukan riri" ucap bunda hana.
Perlahan cairan bening keluar membasahi pipi bunda hana, sedangkan riri semakin terisak tidak kuat menahan rasa sakit ,mengingat bagaimana darlla terhempas kuat di jalan.
"Jadi!" ucap rizal semakin bingung.
"Kembaran darlla adalah della, della aprilia" ucap bunda hana.
Bagai tertimpa batu yang besar, dada rizal merasakan sakit yang begitu luar biasa saat mendengar ucapan hana,.."apa della yang tante bilang adalah della ap-.." ucap rizal tergantung saat riri akhirnya bersuara.
"Kakak benar, kembaran darlla adalah della aprilia yang sudah menikah dengan angga" ucap riri semakin sejadi-jadi nya menangis.
Rizal langsung terduduk di hadapan makam darlla, dia terus menatap batu nisan itu, dia berharap ini semua mimpi.
Bagaimana bisa selama ini dia tidak menyadari nya, bahkan mulai dari nama saja seharusnya rizal sudah tau.
Kepala rizal mendongak menatap langit, dan memejamkan matanya.
"Kalau ini mimpi tolong bangunin gue" batin rizal
Ponsel riyan terus berbunyi,sedangkan riyan sama sekali tidak berniat untuk mengangkat telefon dari siapa pun.
Reyhan menghampiri riyan dan duduk di sebelah riyan,.."kenapa ga di angkat.?" tanya reyhan
Reyhan meraih ponsel riyan dan melihat nomor baru menelfon riyan,.."nomor baru nih, gue angkat ya"
Riyan hanya diam saja memilih merebahkan tubuhnya di sofa dengan paha reyhan sebagai bantalan.
Reyhan mengangkat panggilan dari nomor baru,belum sempat reyhan mengucapkan satu kata, suara penelfon sudah lebih dulu terdengar.
"Halo sayang, kenapa kamu blokir nomor aku.? Aku kangen tau sama kamu,aku tau kamu masih di apartemen lama kan, aku ke sana ya bentar lagi aku sampai, dah sayang" ucap wanita itu.
Reyhan langsung mematikan panggilan dan menatap riyan yang tengah berbaring.
Reyhan harus membawa riyan pergi dari sini sebelum chintya sampai. Ya penelfon itu adalah chintya.
"Yan, lo mau ga temani gue balik ke rumah.?" tanya reyhan
"Tumben!" ucap riyan menatap reyhan
"Iya gue males kalau sendiri, temani gue ya" ucap reyhan
"Hm! Boleh deh" ucap riyan
__ADS_1
"Oke kalau gitu biar gue yang nyetir" ucap reyhan meraih jaket dan memberikan kepada riyan.
"Sekarang.?" tanya riyan
"Iya! Sekarang aja biar kita bisa balik cepat" ucap reyhan.
Riyan mengangguk setuju,mereka berdua keluar dan menunggu pintu lift terbuka.
Tetapi saat mereka sedang menunggu pintu terbuka tiba-tiba terdengar suara sesuatu yang jatuh,riyan menatap kearah samping, reyhan juga menatap kearah yang sama.
Mereka berdua sama-sama kaget melihat keadaan della,kepala della yang penuh dengan darah.
"Della" ucap mereka berdua bersamaan menghampiri della.
"Della! Bangun del" ucap riyan memukul pelan wajah della.
"Dia pingsan! Cepat sini naikin" ucap reyhan. Berjongkok di hadapan riyan.
Reyhan tidak akan membiarkan riyan membawa della, mengingat riyan yang mengalami sakit, riyan mengangguk dan mulai menaikan della ke punggung reyhan.
Beruntung pintu lift terbuka mereka langsung masuk dan saat pintu Terbuka mereka buru-buru membawa della ke rumah sakit
Gadis dengan baju ketat itu berjalan menuju apartemen milik riyan, dia sangat ingin bertemu dengan riyan.
Sudah lama mereka tidak bertemu akibat insiden yang chintya alami.
Gadis itu terus tersenyum saat menaiki lift,.."aku ga sabar ketemu sama kamu sayang" ucap chintya pelan.
Brian keluar kamar,ruangan ini terlihat sangat sepi sepeti tidak ada orang lain selain dirinya.
Brian Menatap ke arah balkon mencari keberadaan della,Ternyata della tidak di balkon.
Brian berjalan ke arah dapur mengambil air dari kulkas, saat sedang meneguk air,mata nya tidak sengaja menatap cairan merah di lantai.
Dia mendekat dan menyentuh cairan itu ternyata itu darah,brian terkejut.
Dia tersedak air minum, brian terus mengikuti jejak darah itu, pandangan nya terakhir mengarah ke pintu, sedetik itu dia teringat akan della yang terjatuh tadi.
Brian berlari keluar berharap della masih di depan pintu tetapi saat pintu terbuka, pandangan tertuju pada chintya yang baru saja keluar dari lift.
Chintya terdiam mematung, mendapati brian tengah berdiri menatapnya.
"Chintya" ucap brian pelan.
__ADS_1