
Bianca mengendarai mobilnya pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan dia menggerutu dengan sikap Aldo yang pergi begitu saja, setidaknya jika malu jangan tinggalkan dia sendiri seperti itu.
"Ckk ... Sumpah gue kesal banget sama Aldo! Gue pengen bejek-bejek tuh cowok! Kok nggak ada maco-maconya sih jadi cowok?" Bianca terus menggerutu sambil sesekali memukul setir mobil karena merasa sangat kesal.
Saat memasuki tempat sepi, Bianca sedikit takut. Pasalnya tidak ada kendaraan yang lewat. Ya wajar saja, jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, jadi wajar saja jika jalannya sepi.
"Sumpah gue takut," gumam Bianca sambil menggigit bibirnya dengan kuat.
Bianca terus merapalkan doa, berharap tidak terjadi apa-apa sepanjang perjalanan.
"WOY! BERHENTI!"
Bianca sontak saja menghentikan kendaraannya saat melihat ada tiga orang preman yang sedang berdiri di tengah jalan.
"TURUN!" teriak salah satu dari preman tersebut.
Bianca tentu tidak mau turun begitu saja. Dia menjalankan mobilnya dengan kecepatan yang sedang, berniat menabrak mereka jika tetap menghalangi jalannya.
Para preman tersebut segera menyingkir saat menyadari mobilnya itu melaju dengan kencang ke arah mereka.
Mereka tentu tidak bodoh, mereka sering mendapat mangsa yang seperti itu. Tanpa basa-basi preman tersebut melempar linggis yang ada di tangannya, lalu mengenai kaca mobil, sehingga membuat kaca mobil itu pecah.
"AKH!!" Bianca berteriak histeris saat mendengar bunyi khas dari kaca yang pecah.
Sontak saja tubuh wanita itu bergetar dengan hebat, pertanda jika dia benar-benar sangat takut.
Para preman yang melihat mobil itu berhenti tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan. Mereka segera berlari dan mengepung mobil Bianca, sehingga membuat wanita itu semakin takut.
Dor ... dor ....
Salah satu dari preman tersebut menggedor kaca pintu mobil Bianca.
"Turun lo! Atau gue bakal hancurin nih mobil?" teriaknya dengan tampang wajah yang menyeramkan.
Bianca bingung. Ia benar-benar bingung dan takut saat ini. Air mata terus merembas keluar. Wanita itu terus bergumam menyebut nama Aldo.
"Aldo tolong aku, hiks ..." gumam Bianca.
"TURUN!" teriak preman lagi.
__ADS_1
Bianca tetap tidak mau. Wanita itu segera mengambil handphonenya, berniat menghubungi keluarganya, tetapi sama sekali tidak diangkat. Bianca tidak menyerah begitu saja. Dia segera menghubungi Aldo, berharap laki-laki itu akan mengangkat panggilan tersebut.
Panggilan tersambung, tapi baru saja Bianca ingin berbicara, tiba-tiba ....
Prang ....
Para preman yang tidak mendapat respon dari pemilik mobil tersebut langsung kembali memecahkan kaca mobil yang ada di belakang.
Bianca kembali berteriak dengan histeris. Handphone yang ada di gengamannya sontak terlepas dan terjatuh ke bawah.
"Halo, Nona?"
"TURUN ATAU GUE BAKAR MOBIL LO?" teriak preman tersebut sambil menunjukkan pemantik api, dan menunjukkan wajah seriusnya seolah-olah dia tidak main-main dengan ucapannya.
"Halo, Nona? Ada apa? Apa yang terjadi?"
Bianca yang memang belum men-speaker panggilan tersebut tentu tidak mendengar ucapan Aldo.
Merasa sudah tidak ada harapan, Bianca terpaksa turun dari dalam mobil mengikuti perintah para preman tersebut.
'Aku harap kamu ada datang, Al'
"Apa mau kalian?" tanya Bianca dengan wajah berani, seolah-olah dia tidak takut dengan para preman tersebut. Tapi sayangnya, bahasa tubuhnya justru berkata lain. Tubuhnya bergetar pertanda dia sedang takut. Hal itu tentu membuat para preman tertawa terbahak-bahak.
"Apa mau kalian?" tanya Bianca lagi, tetapi kali ini dengan intonasi yang lebih tinggi.
"Wah ... santai Neng. Tadinya kita pengen duit, tapi ngeliat Neng-nya yang semok gini, gimana kalau Eneng temani kita aja malam ini? Tenang aja, kita bakal puasin Neng kok, secara kita itu handal dalam urusan bergoyang. Atau Neng-nya juga kalau pengen dibayar, kita bakal bayar kok." Preman tersebut mengedipkan sebelah matanya, berniat menggoda wanita itu.
Tangan Bianca mengepal. Dia benar-benar marah saat harga dirinya disamakan seperti jal*ng. "Jaga ucapan kalian!" teriak Bianca dengan sorot mata yang tajam ke arah para preman tersebut.
"Aduh ... jadi atut deh." Salah satu dari preman tersebut bergaya seolah dia takut dengan dengan bentakkan wanita itu.
"Udah, Neng. Jangan galak-galak. Mumpung ini malam juma'at. Jadi, mending kita main aja," ucap preman tersebut sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Jangan harap! Saya bukan wanita murahan!" bentak Bianca.
"Wah bagus dong!" Preman itu berdecak kagum. "Lumayan dapat yang masih utuh. Jadi nanti pasti lebih enak, secara kan jepitannya pasti enak banget, coy!" lanjut preman tersebut dengan wajah lapar, seolah-olah tidak sabar ingin memakan wanita cantik yang ada di depannya itu.
"Betul banget! Tapi, gue yang harus nyoba duluan," sahut salah satu preman yang memiliki tubuh yang lebih besar, sepertinya dia adalah bosnya.
__ADS_1
"Siyap, Bos!" Kedua preman lainnya mengacungkan jempol, pertanda setuju.
"Cih ... jangan harap kalian bisa! Kalian itu hanya sekumpulan preman jelek, bau, dekil, hitam, dan yang pastinya sangat menjijikkan!" Bianca memaki ketiga preman tersebut.
Cuih ... cuih ... cuih
Bianca meludahi mereka semua, tetapi yang terkena hanya preman yang memiliki tubuh yang paling besar tersebut.
"Sialan!" desis preman tersebut.
Preman itu lalu berjalan mendekati Bianca, berniat untuk menampar wanita itu yang dengan lancangnya meludahi wajahnya.
Bianca tidak bisa kabur, karena posisinya dikepung oleh ketiga preman tersebut. Dia hanya bisa terus berdoa, berharap ada yang membantunya.
"Kau benar-benar pantas untuk dihajar!" geram preman tersebut.
Preman itu lalu mengangkat tangannya, berniat untuk menampar pipi wanita itu. Bianca hanya mampu menutup matanya, pasrah jika dirinya harus ditampar. Tetapi untuk diperk*sa, dia tidak akan terima, dia pasti akan melakukan segala cara untuk menyelamatkam mahkota berharganya, sekali pun dia harus mati untuk mempertahankan itu, karena jika dia kehilangan mahkotanya tersebut, maka hidupnya sudah tentu hancur, dan sangat menjijikkan.
Bughh
"Akhh!"
TBC
.
.
.
__ADS_1
.