
"Kenapa? Masih marah, ya?" Aldo bertanya saat melihat wajah wanita di sampingnya yang sepertinya kelihatan sedang kesal.
Bianca tidak menjawab, dia hanya menatap Aldo sebentar, kemudian kembali menatap jalanan.
Aldo yang melihatnya seketika jengkel. Dia segera menepikan mobilnya sebentar. Aldo menangkup wajah wanita yang sangat dia cintai itu, sementara Bianca hanya bisa cemberut saja, ingin melawan pun percuma, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga laki-laki itu.
"Kenapa hmm? Masih marah karena masalah tadi? Aku minta maaf, aku hanya bercanda saja tadi. Jangan gini, ya? Aku nggak bisa tenang kalau kamu ngambek gini." Aldo mengelus kedua pipi Bianca dengan lembut, sehingga membuat Bianca memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut tersebut.
"Cium!" rengek Bianca, lalu memajukan bibirnya, meminta Aldo untuk mengecup bibirnya.
Cupp
Aldo mengecup singkat bibir Bianca yang terasa manis tersebut. Andai tidak ingat diri, mungkin dia akan melakukan hal yang lebih pada wanita itu. Ah, sepertinya dia harus segera mempersunting wanita itu, agar segera halal.
"Udah nggak marah, kan?" tanya Aldo memastikan.
Bianca mengangguk antusias. "Kapan sih aku bisa marah sama kamu," ucap Bianca dengan wajah menggemaskan, sehingga membuat Aldo terkekeh, merasa lucu dengan tingkah Bianca.
Setelah itu Aldo segera menjalankan mobilnya kembali menuju kediaman keluarga Grissham.
Perjalanan mereka diiringi canda tawa. Aldo sendiri tak henti-hentinya tertawa mendengar cerita Bianca yang sejak tadi tidak ada habis-habisnya.
Tak berselang lama, mobil akhirnya sampai di kediaman Grissham. Segera Aldo memparkirkan mobilnya di dalam parkiran, lalu keluar dan sedikit berlari ke samping, berniat membukakan pintu untuk Bianca.
"Selamat datang kembali di rumahmu, Princes!" ucap Aldp bergaya seolah dia adalah pangeran.
"Terima kasih, Prince," sahut Bianca menerima uluran tangan laki-laki itu.
Segera mereka berdua berjalan beriringin masuk ke dalam rumah Bianca dengan Aldo yang menenteng tas yang berukuran sedang, yaitu tas yang berisi pakaian milik Bianca.
Ceklek ....
"Selamat datang kembali di rumahmu, Princes!"
Begitu pintu terbuka, baik Aldo maupun Bianca sama-sama terkejut melihat keberadaan Barrack.
Dengan senyum yang mengembang Barrack membungkukkan badannya.
Aldo seketika malu, sepertinya Barrack sedang mengejeknya saat ini.
"Terima kasih, Babu!" sahut Bianca dengan senyum yang cerah juga.
Barrack kesal setengah mati pada adiknya tersebut. Alih-alih memanggil prince, adiknya tersebut malah memanggilnya Babu! Apakah mukanya sangat mirip dengan babu?
"Sialan nih Adik kandung!" gerutu Barrack.
"Biarin! Wlek!" Dengan jahilnya Bianca menjulurkan lidahnya ke arah kakaknya, sehingga membuat Barrack benar-benar kesal. Untung adik kandung, jika bukan sudah pasti dia nikahi! Eh ...?
__ADS_1
"Yaudah, Kakak mau pergi dulu! Ada keperluan mendadak nih!" ucap Barrack setelah melihat jamnya yang melingkar di pergelangan tanggannya.
"Oke, Kak!" Bianca mengangguk dengan semangat. Barrack tersenyum, dia merasa ikut bahagia melihat perubahan sikap adiknya. Tidak bisa dipungkiri, Aldo memang membawa dampak positif untuk adiknya. Buktinya Bianca kini terlihat lebih berseri-seri dari sebelumnya, bahkan Barrack tidak pernah mendapatkan adiknya semangat seperti ini sebelumnya.
"Jangan macem-macem lo berdua, ya! Awas aja kalau ketahuan! Jangan harap kau bisa selama, Al!" tegas Barrack.
"Tenang saja, Tuan! Saya tidak mungkin sebrengsek itu!" sahut Aldo dengan suara bersungguh-sungguh.
Barrack tersenyum, lalu segera keluar dari rumah. Sebenarnya dia sedang dibuat sangat pusing, perusahaan yang ada di Amerika kembali bermasalah, dan yang ada di Indonesia juga bermasalah. Meski masalahnya tidak terlalu serius, tetapi tetap saja harus segera diatasi! Namun, Barrack tetap menghadapinya dengan kepala dingin, dia tidak mau marah-marah dan melampiaskan amarahnya pada orang. Kan siapa tahu saja itulah penyebab dia masih jomblo hingga saat ini?
Setelah Barrack pergi, Bianca dan Aldo segera masuk ke dalam kamar Bianca. Aldo sendiri ikut karena berniat mengantarkan pakaian wanita itu, dia tidak tega jika wanita itu yang memegangnya, mengingat kondisi tubuh Bianca masih lemah.
"Letakkan di situ saja, Al! Aku ingin mandi, badanku terasa sangat gerah!" ucap Bianca pada Aldo.
Aldo mengangguk, lantas meletakkan tas yang berisi pakaian Bianca di pojok. "Boleh aku melihat sekeliling kamarmu?" tanya Aldo meminta ijin. Entah kenapa dia merasa tertarik saat melihat gambar-gambar yang tergantung di tali, dia yakin jika itu adalah kumpulan foto Bianca dari kecil hingga dewasa sekarang ini.
"Boleh! Lihat aja!" jawab Bianca dengan suara lembut.
Bianca segera berjalan menuju lemari pakaian miliknya, lalu mengambil sepasang pakaian, lengkap dengan dalemannya. Kan tidak mungkin dia keluar dengan hanya menggunakan handuk nanti? Yang ada dia justru membangunkan harimau yang sedang tertidur!
Setelah mengambil pakaian miliknya, Bianca segera masuk ke dalam kamar mandi, meninggalkan Aldo yang terlihat sangat penasaran dengan isi kamarnya.
Aldo sendiri terlihat sangat antusias menatap sekeliling ruangan kamar Bianca, yang dipenuhi dengan beragam lukisan dan gantungan. Ya, ciri perempuan lah!
Pandangan Aldo jatuh pada figura yang terdapat foto anak kecil perempuan dan laki-laki. Tubuh Aldo membeku melihat foto itu. Apakah ini seriusan? Dia tidak salah lihat, kan? Bagaimana tidak terkejut, Aldo sangat mengenali bocah laki-laki yang ada di dalam foto tersebut.
"Jangan bilang ... kalau Lala itu adalah Bianca sendiri?" Aldo berusaha memahi, dia mulai membandingkan wajah gadis kecil yang ada di dalam foto tersebut dengan gambar Bianca yang lainnya.
Memang terlihat mirip!
Apakah Bianca memang benar-benar Lala? Teman pertamanya semasa kecil dulu? Bukannya apa-apa, tapi dia juga menyimpan foto yang sama. Dia masih ingat foto itu diambil saat dirinya selesai bermain dengan Lala. Ibunya yang kebetulan sedang memegang kamera langsung meminta mereka berdua untuk mendekat dan menghadap kamera. Setelah itu ibunya mencuci foto tersebut, lalu memberikan satunya untuk Lala, dan satunya untuk dirinya.
"Tapi ... bagaimana mungkin aku tidak pernah sadar selama ini?" Aldo benar-benar tidak pernah sadar jika Bianca itu sendiri adalah Lala, temannya sewaktu kecil.
Lala cukup berharga di dalam hidupnya. Dia masih ingat, Lala lah teman pertamanya saat dia bermain sendirian di bawah pohon rambutan. Pada saat itu dia tidak suka dengan sikap Lala, karena gadis itu sedikit kecentilan, tetapi gadis itu tidak pernah menyerah untuk terus menganggunya karena saking inginnya berteman dengan dirinya. Hingga akhirnya dirinya membiarkan gadis menyabalkan itu terus mengikutinya.
Sering bertemu dengan gadis kecil menyebalkan itu membuat dirinya perlahan luluh, dia akhirnya memutuskan untuk menerima Lala menjadi temannya, lagian Lala lah yang memang selalu ada untuknya.
Namun tak berselang lama, Lala memberitahukan padanya bahwa dia dan keluarganya akan pindah ke kota. Dirinya yang mendengar ucapan gadis itu tentu saja sedih, dia merasa sedih karena akan kehilangan teman.
Tetapi sebelum Lala benar-benar pergi, dia memberikan ikat rambut yang sering dia gunakan.
"Ini untuk, Kak Adit! Simpan baik-baik, ya! Ini adalah benda kesayangan Lala. Siapa tahu dengan Kak Adit menyimpan ini, kita bisa ketemu kembali saat sudah dewasa nanti dan bisa terus bersama-sama!" ucap Lala menyerahkan ikat rambut yang sering dia gunakan sehari-hari.
Adit menerimanya, dia lalu menatap Lala dengan pandangan sendu, rasanya dia benar-benar tidak rela gadis kecil itu pergi.
"Jangan lupain Kakak, ya!" Adit memeluk tubuh mungil Lala. Air mata menetes membasahi pipinya.
__ADS_1
"Pasti, Kak! Jangan lupain Lala juga, ya!"
Aldo tersenyum mengingat masa-masa bahagia dirinya bersama Lala dulu. Sebenarnya dia pernah berpikir akan mencari gadis yang bernama Lala tersebut, dan menepati janjinya pada gadis itu, yaitu akan bertemu kembali. Apalagi sekarang dia tinggal di kota di mana Lala pernah mengatakan jika dia pindah ke sana.
Tetapi sayangnya dia tidak tahu nama lengkap gadis itu, dia hanya tahu jika namanya adalah Lala. Sementara kota ini besar? Tidaklah mudah untuk mencari gadis bernama Lala, apalagi nama itu cukup pasaran.
Itulah yang sebenarnya yang menjadi alasan dirinya tidak mau mencintai wanita mana pun, karena jujur saja, dia sudah jatuh cinta pada Lala, hanya saja dia memang belum mengerti saat itu. Tetapi dia akhirnya memilih menyerah saat Bianca mulai bertahta di dalam hatinya, dan dia memilih untuk melupakan itu semua, toh cuman kenangan anak-anak!
"Bianca Lalitha Grissham! Ternyata nama panjang kamu itu! Aku tidak menyangka jika kita dipertemukan kembali! Apalagi sekarang kita sudah sangat dekat! Berarti aku menepati janjiku, kan?" Aldo mengelus foto yang terlihat sedikit usang tersebut.
"Lala, aku berjanji akan menikahimu, dan akan menjadikan kamu ratu di kehidupanku!" ucap Aldo mantap.
Ceklek ....
Tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka, menampilkan sosok Bianca yang terlihat lebih segar sekarang.
"Lagi ngapain, Al?" tanya Bianca sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil.
"Siapa laki-laki kecil ini?" tanya Aldo penasaran, dia ingin tahu apakah wanita itu masih mengingat nama laki-laki kecil itu.
Bianca sedikit terdiam melihat foto dua anak berbeda jenis kelamin itu yang tersenyum dengan manis.
"Dia ... Adit!"
TBC
.
.
.
.
__ADS_1
.