
"Yaudah, ayok turun," ajak Aldo sambil membuka seat belt.
"Nggak ada niat mau bukain pintu gitu?" tawar Bianca tanpa tahu malu.
Aldo terdiam mendengar ucapan kekasihnya tersebut. Dia lalu menatap wanita itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Becanda, sayang." Bianca terkekeh melihat wajah Aldo yang terlihat bingung.
Di luar dugaan, Aldo justru mencondongkan badannya mendekati Bianca. Hal itu tentu membuat Bianca menahan napas, terkajut dengan ulah laki-laki itu. Astaga, jantungnya bahkan berdetak dua kali lebih cepat. Entahlah, setiap kali berdekatan dengan Aldo, jantungnya pasti berdetak dengan cepat. Apa yang hendak dilakukan laki-laki itu? Menciumnya, kah? Itulah yang ada di otak Bianca.
Mati-matian Aldo menahan tawa melihat wajah menggemaskan kekasihnya. Astaga, wajah Bianca memang selalu menggemaskan di matanya.
Aldo semakin mendekati wajahnya ke wajah Bianca. Bianca yang berpikir jika laki-laki itu hendak menciumnya sontak menuntup mata.
Klik
Aldo membuka seat belt Bianca, setelah itu memandang wajah Bianca yang terlihat sangat cantik.
"Nungguin apa?" kekeh Aldo. Bianca sontak membuka matanya, dan kini dihadapkan dengan wajah tampan Aldo tepat di depan wajahnya.
Bianca menggeleng dengan cepat. Sungguh, berdekatan dengan Aldo dengan jarak yang dekat seperti ini membuatnya benar-benar berdebar.
Cupp
"Pasti ngerepin diginiinkan." Aldo semakin terkekeh setelah mendaratkan kecupan lembut di bibir Bianca, sehingga membuat tubuh Bianca membeku.
"Ada-ada aja tunangan aku ini." Dengan gemesnya Aldo mencolek hidung Bianca.
"Padahal aku nggak niat lho nyium kamu. Tapi, ngeliat kamu kayaknya ngarepin banget, jadi ya udah aku turutian aja." Aldo berkata dengan santai, tetapi mampu membuat Bianca kesal setengah mati. Memang sih! Tidak bisa dipungkiri jika dia tadi berpikir Aldo akan menciumnya, tetapi kenapa endingnya malah seperti ini? Sangat tidak sesuai dengan ekspektasinya.
"Siapa juga yang ngarepin dicium sama kamu!" sewot Bianca sambil memalingkan wajahnya dengan wajah yang cemberut.
"Masa?" Aldo kini kembali mendekatkan wajahnya ke wajah Bianca.
Bianca sendiri semakin memundurkan wajahnya. Hal itu tentu membuat Aldo terkekeh. Astaga, entah kenapa berada di dekat wanita yang dia cintai membuatnya selalu terkekeh tidak jelas, berbanding terbalik dengan dirinya yang dulu yang selalu bersikap datar dan dingin. Dia sendiri tidak pernah menyangka jika cinta bisa mengubah semuanya, padahal dia berpikir mungkin sifatnya ini akan selama-lamanya melekat dalam dirinya. Tetapi rupanya dia salah besar, hanya karena pesona Bianca, kini dia berubah 180 derajat.
"Al ..." lirih Bianca menutup mata saat merasakan sapuan hangat dari napas Aldo saat laki-laki itu semakin mendekatkan wajahnya. Tentu saja dia menutup mata, wajah Aldo sekarang benar-benar dekat.
Ha-ha-ha
__ADS_1
Tawa Aldo sontak pecah melihat kekasihnya yang kembali menutup mata. Apalagi melihat wajah pasrah Bianca membuanya ingin sekali melahap wanita itu. Tetapi untungnya dia masih ingat jika mereka belum halal.
"ALDO!" Bianca memekik dengan nyaring saat tau jika dia dijahili kembali oleh Aldo.
"Udah, ayok turun!" Aldo segera membuka pintu mobilnya, dan sedikit berlari ke arah pintu mobil Bianca. Segera dia buka pintu mobil untuk wanita itu.
Bianca tersipu malu diperlakukan istimewa. Tetapi sedetik kemudian dia teringat dengan masa lalu di mana Aldo yang membuka pintu untuknya, tetapi dia malah geer. Ah, dia bahkan tidak tahu hendak bersyukur atau bagaimana lagi. Ini memang memalukan, tetapi jika tidak ada kesalahpahaman ini, maka tidak ada yang namanya kekasih.
Setelah turun, Bianca mengggandeng Aldo, dan Aldo juga melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu, hingga kini posisi mereka benar-benar sangat romantis.
"Boleh aku menciummu?" tanya Aldo sedikit berbisik, dan malah mendapat cubitan dari Bianca.
"Auw, sakit, Yank! Kok kamu udah KDRT aja?" Aldo memanyunkan bibirnya, menatap kekasihnya dengan cemberut.
"Habisnya kamu ada-ada aja sih! Inikan tempatnya rame!" Bukannya merasa bersalah, Bianca justru mengomel.
Aldo menatap sekelilingnya, dan dilihatnya jika semua orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Merasa tidak ada yang memperhatikan mereka, dengan cepat Aldo mencuri kesempatan mencium Bianca.
Cupp
"Al!" Bianca memekik tertahan. Astaga, bagaimana mungkin Aldo sangat jahil padanya seperti ini?
"Al, boleh aku ijin. Aku ingin ke toilet sebentar," ucap Bianca melepaskan tautan tangannya.
"Jika aku tidak mengijinkan bagaimana?" canda Aldo yang sontak mendapat pelototan dari Bianca. Bagaimana mungkin dia sampai tidak boleh pergi ke toilet, sementara dia sudah kebelet.
"Aku serius, Al!" Bianca menjadi kesal sendiri.
"Yaudah, mau aku temani ke sananya?" tawar Aldo dengan lembut.
"Nggak perlu!" Bianca menolak dengan cepat. Rasanya malu jika laki-laki sampai menemaninya ke toilet saja. "Lagian kamu kan harus segera bertemu dengan client." Bianca kembali mengingatkan Aldo tentang meeting yang akan dilaksanakan laki-laki itu.
"Apa kamu tidak mau melihatku sebentar? Melihat bagaimana gagahnya kekasihmu ini mendapatkan kerja sama tersebut." Dengan penuh percaya diri Aldo berkata. Dia merasa sangat yakin bisa memenangkan hati client-nya kali ini.
"Aku sebentar aja kok. Entar aku nyusul deh. Aku yakin kok kalau kamu pasti bisa dapet kerja sama ini. Lagian kamu kan dulu sekretarisku yang paling the best." Bianca mengacungkan kedua jempolnya di hadapan Aldo.
"Yaudah, jangan lama-lama! Aku ada di ruangan sana, ya." Aldo menunjuk salah satu ruangan yang masih dapat di lihat oleh Bianca.
"Oke!" Bianca mengiyakannya.
__ADS_1
Bianca segera pergi dari hadapan Aldo. Dia benar-benar sudah sangat kebelet sekarang. Mengingat dia memang cukup banyak meminum air hari ini.
Aldo terus memantau kekasihnya, hingga wanita itu tak terlihat lagi di pandangannya. Dia tersenyum tipis, lantas segera berjalan masuk ke dalam ruangan di mana dia akan bertemu dengan salah satu client perusahaan.
Bianca sendiri semakin mempercepat langkahnya, karena benar-benar sudah tidak tahan. Akibat terburu-buru, dia bahkan tidak melihat jalan, hingga ....
Brukkk
"Aduh!" Bianca memekik saat dirinya terjatuh. Tak berbeda jauh dengan orang yang ditabrak, dia juga terjatuh, karena dia memang tidak memperhatikan jalan, sehingga tidak sadar jika ada orang yang juga sama terburu-buru.
"EH! LO PUNYA MATA NGGAK SIH!" Orang tersebut berteriak dengan nyaring. Merasa kesal pada wanita yang menabraknya.
"CKK ... KALAU LO NGGAK MENGHINDAR, KITA NGGAK MUNGKIN TABRAKAN!" Bianca tentu tidak terima disalahkan begitu saja.
Orang tersebut mendonggakkan kepalanya saat mendengar balasan dari orang yang menabraknya. Tidak bisa dipungkiri jika dia memang salah, tetapi dia paling tidak suka disalahkan!
"Bianca?"
TBC
.
.
.
.
__ADS_1