
"Sakit, Al!" Bianca berteriak nyaring saat dirinya justru jatuh terjerembab, karena Aldo yang menghindari pukulannya.
"Ma—maafkan saya, Nona. Tetapi kenapa Anda mengarahkan pukulannya ke wajah saya? Tentu saja saya otomatis menghindar." Aldo terkejut melihat bosnya yang terjatuh dengan gaya yang sama sekali tidak ada aestheticnya. Tetapi melihat dress wanita itu yang sedikit terangkat, sehingga menampakkan paha mulus wanita itu, dirinya segera memalingkan wajah, takut khilaf nantinya.
'Aldo sialan! Sumpah dada gue sakit banget!'
Aldo lalu berniat membantu Bianca untuk berdiri, tetapi wanita itu dengan kasar menolak, lalu bangkit berdiri sendiri. Bianca menatap tajam sekretarisnya itu, sudah tidak terhitung dirinya dibuat malu dengan ulahnya sendiri. Apakah dia terlalu bodoh sampai berusaha untuk mengajarkan laki-laki itu untuk bisa peka sedikit saja?
"Maaf, Nona. Maaf karena saya bukannya menjaga Anda, malah justru menyakiti Anda, padahal menjaga Anda adalah tugas saya," sesal Aldo dengan kepala yang menunduk.
'Ini gue masih waras, 'kan? Masa iya ngeliat cowok ini minta maaf dan menyesal membuat gue luluh lagi.' Jujur saja, dirinya sedikit tersentuh dengan ucapan Aldo.
Tidak! Dia bukannya terlalu berharap ingin menjadi kekasih Aldo, tentu itu sangat tidak mungkin. Dia hanya ingin membantu membuka mata laki-laki yang memiliki sifat datar plus dingin itu saja. Tidak lebih! Ya, Bianca selalu menyangkal pada dirinya bahwa dia berharap pada laki-laki itu, tetapi sebaliknya, dia selalu mengatakan jika dia hanya ingin membantu.
Bianca sedikit meringis melihat sikunya yang sedikit lacet terkena ujung ring. Aldo tentu melihat itu, seketika rasa bersalah menelusup ke dalam hatinya. Dia sangat menyesal karena menghindar tadi. Andai dia tidak menghindar, mungkin wanita itu tidak seperti itu.
"Maaf, Nona. Saya benar-benar sangat menyesali apa yang baru saja saya perbuat. Mari saya bantu, Nona." Aldo berniat membantu Bianca, tetapi wanita itu menahan.
"Tidak, Al! Ini hanya luka kecil, kita tetap akan latihan, dan kali ini aku akan latihan serius!" kata Bianca dengan mantap. Seketika Bianca teringat dengan alasan Aldo ingin mengajarkannya beberapa seni bela diri. Benar juga! Dia harus menjadi wanita yang kuat, karena bisa saja sewaktu-waktu kejadian yang sama terulang kembali, dan bagaimana jika handphonenya tiba-tiba habis batrey?
"Tapi, Nona ...." Melihat siku Bianca yang sedikit bergores, Aldo tentu sedikit tidak tega.
"Lanjutkan, Al!"
"Baik, Nona!" Mendengar suara tegas bosnya, Aldo tidak dapat menolak. Dia lalu mengambil punch mitt, dan menggunakannya.
Bianca kembali bersiap, lalu mulai meninju punch mitt tersebut dengan cukup kuat, sehingga membuat Aldo sedikit takjub dengan tenaga bosnya tersebut.
Beberapa pukulan terus diberikan Bianca, keringat mulai bercucuran di tubuhnya, hingga akhirnya dia berkata untuk istirahat karena kelelahan.
Bianca membungkuk, berniat meregangkan otot-otot kakinya yang cukup terasa pegal. Tetapi baru saja dia membungkuk, tiba-tiba ....
Krekk ....
Bunyi itu seketika membuat tubuh Bianca membeku, apa ....
Rupanya Aldo juga mendengar suara itu, dia lalu menatap Bianca. "Apa Anda mendengar suara itu tadi, Nona?"
"Sepertinya dressku robek, Al," lirih Bianca. Sungguh sebenarnya dosa apa yang sudah dia lakukan, sampai-sampai selalu malu seperti ini?
Aldo terdiam, berusaha mencerna ucapan bosnya.
"Hai, gimana latihan kalian?" Tiba-tiba saja masuk seorang pria paruh baya ke dalam ruangan tersebut. Aldo segera berjalan mendekati Bianca, lalu berdiri tepat di belakangnya untuk menutup robekkan tersebut.
"Baik, Pak. Tidak ada masalah," jawab Aldo dengan datar.
"Mari aku bantu kalian," ujarnya ramah, tetapi dengan tegas Aldo menggeleng.
"Tidak perlu, Pak! Kami sudah selesai, dan rencananya akan segera pulang." Aldo menyadari jika bosnya tersebut terkejut saat orang tersebut ingin membantu. Tentu saja! Mengingat dia sedang tidak baik-baik saja.
__ADS_1
Aldo segera berlari keluar dari dalam ring tersebut, lalu mengambil jaketnya, dan kembali ke dalam ring tersebut.
Aldo melingkarkan jaket tersebut di pinggang Bianca. Hal itu tentu membuat tubuh Bianca membeku, jantungnya berdebar dengan sangat kencang saat Aldo mengikat jaket tersebut dari belakang, sehingga posisi mereka seperti sepasang kekasih yang sedang berpelukkan.
Aldo sendiri terdiam saat ingin mengikat jaket tersebut. Dia meneguk salivanya dengan kasar saat mencium aroma tubuh wanita itu yang dipadukan dengan aroma parfum. Akan 'kah aroma ini akan menjadi candu tersendiri untuknya nanti?
'Bisakah waktu berhenti sebentar saja? Aku ingin menikmati momen ini,' batin Bianca.
'Bolehkah aku mengecup lehernya yang terlihat sangat menarik ini?' batin Aldo.
Aldo menggeleng kepalanya dengan cepat. Buru-buru dia mengikat jaket tersebut sebelum dia kembali nekad seperti waktu itu.
"Mari kita pulang, Nona."
"Ah, i—iya." Jujur saja, Bianca sedikit malu, kenapa dress-nya harus robek di depan Aldo, sekretarisnya sendiri?
Bianca lalu berjalan menuruni tangga, tetapi saat menuruni tangga terakhir, tiba-tiba saja kakinya keseleo, sehingga membuat dia meringis kesakitan.
'Dosa apa yang udah gue buat sebenarnya?' Bianca berteriak di dalam hatinya.
Aldo yang melihatnya segera membantu. "Nona, apa Anda baik-baik saja?" tanya Aldo dengan cemas.
"Shhh ... sakit, Al. Kakiku sepertinya keseleo," ringis Bianca, dia berusaha untuk berdiri, tetapi tetap saja tidak bisa. Dia hanya mampu bertumpu pada pundak Aldo.
Melihat bosnya yang tidak bisa berjalan, tanpa basa-basi Aldo segera menggendong wanita itu dengan gaya bridal style.
Aldo segera membawa Bianca keluar dari dalam gedung tersebut. Bianca sendiri terus memperhatikan wajah Aldo yang terlihat sangat tampan jika dari dekat.
Entah dari mana datang keberanian tersebut, setelah mereka keluar dari dalam gedung itu, Bianca mengecup pipi Aldo, yang sontak saja membuat langkah laki-laki itu terhenti. Tubuh Aldo membeku, dia seperti merasa tersengat oleh kecupan Bianca. Apakah ia sedang bermimpi saat ini?
Perlahan Aldo menundukkan kepalanya untuk menuntut penjelasan pada wanita yang dengan beraninya mengecup pipinya.
"No—Nona ...."
"Ma—maaf, Al. Aku benar-benar tidak sengaja. A—aku hanya repleks!" Bianca sendiri terkejut dengan keberaniannya. Sumpah, dia tidak bermaksud untuk mencium laki-laki itu, tetapi melihat wajah tampan Aldo, dia tidak bisa menahan diri, hingga akhirnya mengecup pipi tersebut. Tetapi sekarang dia justru merutuki dirinya karena sudah bersikap kurang ajar sebagai seorang perempuan.
Brukk
"ASTAGFHIRULLAH!" Bianca memekik dengan sangat nyaring saat bokongnya menyentuh tanah, sungguh apakah dia memang tidak ditakdirkan untuk bahagia?
Karena saking terkejutnya dengan apa yang dilakukan bosnya tadi, tanpa sadar Aldo justru melepaskan gendongannya, sehingga sontak saja membuat tubuh Bianca terjatuh ke tanah, untungnya di atas tanah itu ada rerumputan, sehingga dia tidak terlalu merasakan sakit.
Mendengar suara Bianca yang sangat nyaring, Aldo seketika sadar, lalu menatap ke bawah.
"Astagfhirullah, Nona. Apa yang Anda lakukan di bawah?" Dengan hebohnya Aldo berteriak, sama sekali tidak menyadari jika itu semua salahnya.
Bianca tercengang mendengar pertanyaan Aldo. Sungguh, sepertinya Aldo memang pantas untuk digantung saja.
"Ckk ... apa kau tidak merasa bersalah? Justru aku jatuh karena kau!" ketus Bianca.
__ADS_1
"Ah, maaf, Nona." Dengan polosnya Aldo kembali menggendong Bianca. Sementara Bianca hanya bisa pasrah, ingin menolak pun tidak mungkin, mengingat kakinya sedang sakit saat ini.
Aldo lalu mendudukkan Bianca di atas kursi di dalam mobil. Melihat posisi mereka seperti ini, Aldo kembali teringat dengan kejadian malam itu, kejadian yang tidak akan pernah dia lupakan.
Aldo segera menutup pintu mobil, lalu sedikit berlari dan masuk ke dalam mobil lewat pintu yang ada di sebelah kanan.
"Maafkan saya, Nona," sesal Aldo saat melihat Bianca yang sedang memegang kakinya yang terasa sakit itu.
"Tidak masalah, ini bukan salahmu," jawab Bianca dengan sedikit senyuman. Melihat senyum indah itu lagi, seketika Aldo kembali berdebar. Ah, apakah dia akan terus berdebar seperti ini jika berada di dekat bosnya?
Aldo mengambil kotak P3K yang memang selalu ada di dalam mobilnya. Setelah meminta ijin, dia segera membersihkan luka Bianca dengan lembut, lalu mengoleskan obat merah, dan terakhir menempel plaster di sikunya.
Bianca yang melihat apa yang dilakukan Aldo tentu saja merasa sedikit baper.
"Kenapa kau sangat manis, Al?" celetuk Bianca.
"Apakah Anda pernah merasakan tubuh saya, Nona?" sahut Aldo yang mengira jika bosnya tersebut sedang bercanda saja.
Bianca melotot mendengarnya. "Tentu saja tidak pernah! Apa kau gila? Aku ini perempuan baik-baik, Al!" Mendengar pertanyaan laki-laki itu, dia tentu merasa jengkel.
Aldo yang sedang mengemasi benda-benda yang baru saja dia pakai sontak berhenti.
"Nona, tidak seperti maksud saya! Maksud saya, apakah Anda pernah menjil4t— ah tidak! Maksudnya, apakah Anda pernah mencicipi tubuh saya? Ah tidak, tidak! Maksud saya, apakah ... tubuh saya coklat yang memiliki rasa manis?" Aldo berusaha memperbaiki ucapannya. Dia tidak bermaksud mengatakan yang mengarah ke hal yang negatif. Dia hanya bermaksud, apakah bosnya tersebut pernah mencicipi kulitnya, sehingga bisa mengatakan manis?
"Ah, lupakan saja, Nona! Sekarang sudah memasuki makan siang. Saya akan antar Anda ke rumah sekarang." Aldo segera menginjak pedal gas, lalu menjalankan mobilnya menuju kediaman keluarga Grissham.
'Ckk ... kenapa Aldo sekarang semakin bersikap tidak jelas? Padahal dulu dia terus bersikap dingin karena aku menolak cintanya. Apakah sekarang dia sudah sembuh, dan berniat mengejar aku kembali? Kalau begitu baiklah! Aku akan memberikan petunjuk padanya bagaimana cara mendapat hati seorang perempuan!' batin Bainca dengan senyum kecil yang menghiasi wajah cantiknya.
TBC
.
.
.
.
__ADS_1