Kesalahpahaman yang Berujung Cinta

Kesalahpahaman yang Berujung Cinta
Demam Tinggi


__ADS_3

Aldo mengenggam erat tangan Bianca. Sedari semalam wanita itu tidak sadarkan diri. Ternyata semalam dia pingsan, dan terkena demam tinggi.


FLASH BACK


"NONA! BANGUN!" Aldo berteriak histeris melihat wanita itu yang menutup mata secara perlahan, apalagi dia dibuat panik saat merasakan suhu tubuh wanita itu yang sangat panas.


Apakah wanita itu sudah meninggal? Itulah yang ada di pikiran Aldo, mengingat dia pernah menonton sinetron Indonesia saat ibunya juga sedang asik menonton televisi. Dia masih ingat jika ada seorang wanita yang meninggal, dan caranya menutup mata sama persis seperti Bianca saat ini.


Akibat teriakan Aldo yang sangat nyaring itu, Bayu dan Bryana kompak berlari dari ruang tamu menuju kamar. Mereka berdua bertanya-tanya apa yang terjadi sehingga laki-laki itu sampai berteriak?


"Ada apa, Al? Kenapa kau berteriak?" tanya Bayu dengan panik.


"Tuan ... No–Nona Bianca, Tuan!" Karena bingung ingin berkata apa, Aldo hanya menunjukkan Bianca yang mukanya terlihat pucat.


"Bianca? Memangnya kenapa dia?" Bryana yang awalnya hanya diam, kini ikut panik setelah mendengar nama putrinya disebutkan.


"Keningnya sangat panas!" Aldo semakin panik, bahkan tanpa dia sadari air mata menetes dari pelupuk matanya. Dia hanya takut jika wanita yang dia cintai itu benar-benar meninggal. Kan tidak lucu, padahal dia belum menyatakan cinta pada wanita itu.


Bayu dan Bryana tentu melihat itu dengan jelas. Mereka merasa tersentuh melihat air mata laki-laki muda itu. Sangat jarang ada laki-laki yang menangis hanya karena cinta, tetapi jika ada, maka dapat dipastikan jika cintanya tidak main-main!


Bayu yang mendengarnya segera mendekati putrinya tersebut. "Shhh, sangat panas!" Bayu meringis saat merasakan kening putrinya yang benar-benar panas.


"Aldo, siapkan mobil segera!" perintah Bayu dengan suara tegasnya.


"Tuan, ini kunci mobil saya, biar saya saja yang menggendong Nona Bianca." Melihat pria paruh baya itu hendak menggendong Bianca, sontak saja Aldo menawarkan diri, tidak tega jika pria itu yang menggendong Bianca, mengingat umurnya tidaklah muda lagi.


Bayu mengangguk saja, lalu segera menyambar kunci mobil tersebut. Tanpa basa-basi dia segera berlari keluar. Bryana sendiri bingung, dia lalu memilih untuk mengikuti suaminya saja.


Aldo segera menggendong Bianca dengan gaya bridal style.


"Bertahanlah, Nona! Jangan membuat saya sedih. Hiks ...." Aldo bergumam dengan air mata yang terus mengalir. Astaga, kali ini dia terlihat sangat cengeng sekali, apalagi hanya karena melihat wanita yang dia cintai sangat lemas.


Tanpa sadar Aldo menghujani wajah pucat Bianca dengan kecupan lembut.


"Nona, tolong jangan tinggalkan saya!" Aldo masih berpikir jika Bianca mungkin saja sekarat, padahal wanita itu hanya demam tinggi saja.


Aldo segera membuka pintu mobil yang sudah dibukakan oleh Bryana. Segera dia letakkan Bianca secara perlahan di kursi belakang.


"Cepat masuk, Aldo! Kita berangkat ke rumah sakit sekarang!" tegas Bayu yang sudah siap memegang setir.


"Tu–Tuan, biar saya saja! Saya bisa lebih cepat dari Anda." Aldo berusaha membujuk Bayu, agar dia saja yang mengemudi. Bukannya apa-apa, tetapi dia sedikit canggung saat orang lain yang mengemudi, mengingat selama ini dialah yang selalu mengemudi.


Bayu terdiam sebentar. "Baiklah!" Segera Bayu bergeser ke kursi sebelah tanpa keluar dari mobil.


Aldo segera masuk ke dalam mobil, lalu setelah melihat mereka semua sudah siap, segera dia tancap gas menuju rumah sakit yang paling dekat dari sana.


Bayu melotot, sontak saja dia berpegangan di mana saja yang bisa saat Aldo mengemudi dengan sangat laju. Demi apa, dia belum siap mati, apalagi dia belum merasakan jadi kakek.


"Aldo, hati-hati! Jangan cepat-cepat!" Bayu berteriak histeris saat Aldo yang terus menyelip para pengemudi yang ada di depan.

__ADS_1


Aldo menulikan pendengarannya, dia terus melajukan mobil dengan kecepatan maksimum agar segera sampai di rumah sakit. Tidak ada waktu lagi! Dia takutnya nyawa Bianca justru tidak selamat.


Tak berselang lama, mobil akhirnya sampai di sebuah rumah sakit besar yang ada di kota tersebut. Segera Aldo memarkirkan mobilnya dengan sembarangan, lalu keluar, dan membuka pintu mobil yang ada di belakang.


Bayu dan Bryana kompak membuka pintu mobil juga, lalu muntah. Sungguh, Aldo menyetir sudah seperti orang kesetanan saja.


Tanpa basa-basi Aldo segera menggendong tubuh lemah Bianca itu, lalu segera berlari memasuki rumah sakit tersebut.


"SUSTER! DOKTER!" Aldo berteriak memanggil saat tidak melihat satu pun perawat yang lewat.


Tampak beberapa perawat segera berlari sambil mendorong stretcher ke arah Aldo.


"Letakkan di sini, Pak!" pinta perawat tersebut.


Segera Aldo meletakkan Bianca secara perlahan di atas stretcher itu.


"Cepat selamatkan dia!" perintah Aldo dengan suara tegas.


"Baik, Pak!" Para perawat tersebut mengangguk patuh, lalu membawa Bianca ke sebuah ruangan VIP. Segera salah satu dari mereka memanggil dokter saat mengetahui siapa yang sakit tersebut. Ya, mereka sangat tahu jika perempuan yang sakit itu adalah adik dari pemilik rumah sakit ini, adik dari Tuan Barrack, laki-laki muda yang sudah membeli rumah sakit tersebut.


Tak berselang lama, terlihat seorang laki-laki muda menundukkan kepalanya ke arah keluarga Grissham, setelah itu dia segera masuk ke dalam.


Melihat dokter tersebut yang masih muda dan tampan, Aldo seketika merasa cemburu. Rasanya ingin sekali dia ikut masuk ke dalam, takut jika wanita yang dia cintai itu di apa-apakan oleh dokter muda tersebut.


Bryana dan Bayu duduk di atas kursi yang disediakan, sementara Aldo tidak bisa duduk, sedari tadi laki-laki itu terus mondar-mandir tidak jelas, sesekali dia juga menjambak rambunya. Sepertinya dia sangat khawatir dengan kondisi wanita itu.


Bayu teringat sesuatu, langsung saja dia mencari kontak putranya, lalu menghubingi laki-laki itu. Setelah panggilan masuk, dia segera memberitahukan perihal Bianca yang masuk ke rumah sakit karena badannya sangat panas.


Tak berselang lama dokter keluar dari dalam ruangan tersebut. Segera Bryana dan Bayu bangkit berdiri.


"Bagaimana keadaan dia?" Sebelum Bayu ataupun Bryana yang menanyakan, Aldo lebih dulu menanyakan pertanyaan itu.


"Pasien terkena demam tinggi. Kami sudah memberikan dia infus. Oh iya, kalau boleh tahu, apa yang terjadi dengan Pasien sampai-sampai matanya membengkak seperti itu?" Dokter yang memiliki nama Rangga di name tag-nya bertanya dengan sopan. Bukan maksudnya ingin ikut campur, hanya saja dia ingin memastikan sesuatu.


"Karena selama tiga hari ini dia terus menangis, karena ada masalah yang tidak bisa diberitahukan," jawab Bayu.


Terlihat jika Rangga mengangguk mengerti. "Begini, Tuan, Nyonya, dan Tuan Muda. Dari segi penglihatan saya, Pasien mengalami depresi ringan, dan dia terlihat seperti shock. Sedari tadi dia terus bergumam tidak jelas, lalu kembali menangis. Tetapi sekarang sudah saya berikan obat penenang." Rangga berkata dengan ramah.


Semua terdiam mendengar penjelasan dokter Rangga. Separah itukah sampai-sampai Bianca mengalami depresi ringan?


Aldo merasa sangat terpukul, dia merasa itu semua adalah salahnya. Dia terus merutuki dirinya sendiri.


"Kalian bisa menjengguk Pasien. Kalau begitu saja pamit." Rangga sedikit membungkukkan badannya, kemudian segera pergi, karena ada beberapa pasien yang perlu dia tangani.


Aldo, Bayu, dan Bryana segera masuk ke dalam untuk melihat kondisi Bianca.


Terlihat tubuh Bianca yang terbaling lemah dengan selang infus yang melekat di tangannya.


'Maafkan saya, Nona,' sesal Aldo dalam hati.

__ADS_1


FLASH BACK OFF


Sebening kristal jatuh membasahi telapak tangan Bianca.


"Nona, saya minta maaf. Saya tidak tahu jika apa yang sudah saya lakukan akan berakibat fatal seperti ini." Aldo menyeka air matanya yang terus menetes. Untungnya tidak ada orang di ruangan tersebut, karena Bayu dan Bryana pamit pulang tadi pagi.


"Nona, Anda tidak perlu malu, karena saya bahkan sudah jatuh hati sebelum Anda jatuh cinta pada saya!" Aldo semakin mengeratkan genggamannya. Melihat wanita yang dia cintai terbaring lemah tak berdaya tersebut membuat hatinya bagaikan tersayat belati. Sangat sakit! Andai penyakit bisa dipindahkan, dia rela jika penyakit itu dipindahkan ke tubuhnya saja, dari pada harus melihat wanita yang dia cinta terbaring tak berdaya seperti itu.


"Nona, jika Anda bangun sekarang, maka saya berjanji akan membawa Anda ke tempat yang romantis, yang dipenuhi dengan bunga, boneka, dan lilin seperti yang Anda inginkan!" Aldo berkata dengan sungguh-sungguh.


"Eughh." Tiba-tiba terdengar lenguhan Bianca, sepertinya wanita itu sudah sadar.


Aldo yang mendengarnya sontak melepaskan genggamannya pada Bainca, lalu menyeka air matanya dengan kasar.


Bianca mengerjab-ngerjabkan matanya, berusaha menormalkan matanya dengan cahaya yang masuk ke matanya.


"A–air!" Bianca berkata dengan suara lirih, rasanya suaranya hampir habis, sampai mengeluarkan suara pun terasa sangat susah.


Dengan cepat Aldo mengambilkan segelas air yang berada di atas nakas, lalu memberikannya pada Bianca. Tetapi sebelum itu, dia sudah membantu wanita itu bangun. Bianca yang belum sadar sepenuhnya menerima air yang diberikan Aldo, lalu meneguknya sampai habis. Tenggorakannya benar-benar terasa kering.


"Aku ... di mana?" Bianca bertanya tanpa melihat siapa sosok yang ada di sampingnya tersebut.


"Anda ada di rumah sakit, Nona. Kemaren Anda pingsan, dan ternyata Anda terkena demam tinggi!" jawab Aldo yang terus memperhatikan Bianca yang masih terlihat lemah.


Bianca terdiam. Nona? Sepertinya dia tidak asing dengan panggilan itu, apalagi dengan suara datar yang kini agak sedikit lembut.


Perlahan Bianca membuka matanya kembali, lalu menatap ke samping, memastikan sosok yang ada di pikirannya memang benar.


Aldo sedikit menyunggingkan senyumnya saat Bianca yang melihat ke arahnya. Bianca yang melihatnya bukannya luluh, justru kini dia menangis lagi.


"HUA ... KENAPA AKU HARUS MELIHAT WAJAHNYA LAGI?"




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2