Kesalahpahaman yang Berujung Cinta

Kesalahpahaman yang Berujung Cinta
Akhirnya Semua Terbongkar (MALU!)


__ADS_3

DUAR!


Bagai tersambar petir, tubuh Bianca sontak membeku. Apa dia tidak salah dengar tadi?


Jadi ....


Perlahan Bianca menatap Aldo dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Ma—maksunya apa, Al?" Bianca bertanya dengan susah payah, karena suaranya seakan tercekat di tenggorokan.


Aldo ikut menatap Bianca. "Jadi, dia teman saya Nona, namanya Angga. Dia pernah meminta saran pada saya bagaimana cara menyatakan cinta pada perempuan, dan saya jawab apa adanya. Tadi pagi dia kembali meminta saran pada saya karena cintanya ternyata digantung," ucap Aldo apa adanya, tetapi Bianca justru menggeleng kepalanya.


"La—lalu kenapa aku tidak mendengar suara Angga di telepon saat ini?" Bianca berusaha bertanya senormal mungkin.


"Hah? Apa Anda mendengarnya?" Aldo justru dibuat tidak suka mendengar penuturan wanita itu. Kenapa dia sangat lancang menguping pembicaraannya?


"Kebetulan waktu itu saya menggunakan earphone, dan tadi pagi saya juga menggunakan earphone. Memangnya ada apa, Nona?" Aldo justru dibuat bingung melihat wajah bosnya yang memucat.


'Earphone?'


Jadi waktu itu Aldo memberikan saran pada temannya sambil menggunakan earphone, dan dia justru ge'er dan menganggap bahwa Aldo menyatakan cinta padanya.


"Aku menyukaimu. Apakah kamu mau menjadi pacarku?"


"Tidak apa-apa, kamu bisa memikirkannya dulu."


"Aku mencintaimu, apakah kamu bersedia menjadi kekasihku? Maaf, tapi aku perlu kepastian. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia. Tolong, tolong berikan aku kesempatan sekali saja. Setidaknya ijinkan aku untuk menunjukkan padamu kalau aku benar-benar sayang denganmu."


Seketika ingatan-ingatan itu kembali. Pantas saja laki-laki itu menghadap belakang saat itu. Rupanya dia sedang bertelponan menggunakan earphone, dan dia justru salah paham dengan mengira jika laki-laki itu sebenarnya sedang malu!


"Ja—jadi, kau tidak menyatakan cinta padaku saat itu?" tanya Bianca tanpa sadar.


"Hah? Apa maksud Anda, Nona? Saya tidak mungkin selancang itu untuk menyatakan cinta pada bos saya sendiri!" sangkal Aldo dengan suara yang sedikit meninggi.


"Tunggu, apa kau berpikir Aldo menyatakan cintanya padamu? Lalu ... apa kalian pacaran sekarang?" Angga justru kepo dengan hubungan temannya dengan wanita yang terlihat cantik tersebut. Apalagi saat melihat mereka yang bergandengan seperti itu.


"Ah?" Bianca segera menarik tangannya. Sungguh dia sangat malu! Rasanya dia ingin menyelamkan dirinya ke laut saja saking malunya!


"Maaf, sepertinya ada kesalahpahaman. Aku ijin pergi." Bianca berniat pergi saja, rasanya sudah tidak ada niat untuk hidup lagi, apalagi jika kembali melihat wajah Aldo, rasanya ia ingin menceburkan diri ke sungai, lalu menghilang saja.


Sebelum Bianca pergi, Aldo lebih dulu menahan lengan wanita itu. "Anda mau kemana, Nona? Bukankah kita hendak menonton film?" Aldo bertanya, dia masih merasa bingung dengan situasi yang terjadi.


Tawa Angga sontak pecah melihat kepolosan temannya tersebut. Baru melihatnya saja dia sudah bisa menebak apa yang sebenarnya terjadi dengan kedua manusia tersebut. Rupanya wanita cantik tersebut salah paham. Dia pasti berpikir saat ini sedang menjalin hubungan dengan Aldo.

__ADS_1


"Kenapa kau tertawa, Ga?" tanya Aldo sedikit ketus, dia semakin dibuat bingung dengan situasi saat ini.


"Aldo kau benar-benar polos! Jadi wanita cantik ini berpikir kau telah menyatakam cinta padanya, dan dia berpikir kalian sudah resmi menjadi sepasang kekasih, makanya dia menggandengmu!" Tawa Angga semakin kencang. Dia tidak tahu saja Bianca adalah pemilik perusahaan, yang sewaktu-waktu bisa saja memecatnya, meskipun laki-laki itu tidak bekerja di perusahaan miliknya.


Mendengar penuturan temannya tersebut seketika membuat Aldo paham. Laki-laki itu lantas menatap Bianca dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Apakah itu benar, Nona? Jadi, selama ini Anda berpikir saya menyatakan cinta pada Anda?" tanya Aldo yang sama sekali tidak dibalas Bianca.


"Jadi, apakah ini yang membuat sikap Anda berubah menjadi tidak jelas?" sambung Aldo tanpa sadar.


"Maaf, ternyata ada kesalahpahaman, Al. Kalau begitu aku ijin pergi!" Tanpa basa-basi Bianca segera pergi dengan sedikit berlari, lalu menyetop taksi yang kebetulan lewat jalan itu.


Sementara Aldo terus memanggil wanita itu, tetapi tidak dihiraukan Bianca.


Aldo menjadi panik sendiri, bagaimana mungkin ini bisa terjadi?


Angga sendiri tidak mampu menahan tawanya. Sedari tadi dia terus tertawa tidak jelas. Astaga, demi apa, situasi ini benar-benar sangat menggelikan.


"Kenapa kau tertawa terus sejak tadi?" tanya Aldo dengan suara tidak suka. Tentu saja! Gara-gara temannya tersebut dia dan Bianca tidak jadi menonton film.


"Al, aku ingin bertanya. Apa kau menyukai wanita tadi?" tanya Angga to the point. Dari segi pandangnya, sepertinya wanita cantik tadi memang memiliki perasaan pada Aldo.


"Hah? Kenapa kau malah mempertanyakan hal seperti itu?" Aldo tentu tidak mampu menutupi rasa terkejutnya. Apakah sikapnya terlihat jelas jika dia menyukai Bianca.


"Aldo, seperti ini." Angga menarik napas panjang terlebih dahulu. Temannya ini memang lemot urusan cinta, mungkin karena di pikirannya hanya ada berkas-berkas saja, sehingga dia benar-benar bodoh jika berurusan tentang cinta!


"Dia sering bersikap aneh. Dia selalu membahas tentang cinta, yang jelas-jelas aku sendiri tidak paham," jawab Aldo dengan jujur.


"Dengar baik-baik! Wanita cantik yang kau bawa tadi memiliki perasaan padamu! Dia cinta sama lo! Dia berpikir bahwa lo menyatakan cinta saat itu. Dan sekarang dia berpikir jika kalian sudah menjadi sepasang kekasih karena lo kembali menyatakan cinta tadi pagi." Angga memberikan pengertian pada temannya yang terlihat masih bingung tersebut.


"Tapi aku tidak pernah menyatakan cinta padanya!" sangkal Aldo yang membuat Angga semakin gemes dengan kelemotan temannya itu.


"Ya iya, gue tahu! Dia salah paham! Dia pikir lo menyatakan cinta padanya! Dia pikir lo suka sama dia!" ketus Angga.


Perlahan Aldo kembali memahami. Ah, kenapa situasi ini lebih rumit dari pada membuat laporan?


"Lalu apa yang harus ku lakukan?" Aldo meminta pendapat pada sahabatnya tersebut.


"Itu semua tergantung dengan perasaanmu, sobat!" Angga menekan dada Aldo menggunakan jari telunjuk. "Kalau lo pengen dia jadi milik lo, maka perjuangin! Tapi kalau ragu dengan perasaan lo, lo bisa jauhin dia," jawab Angga dengan bijak.


********


Bianca segera masuk ke dalam taksi, dia bahkan menghiraukan suara Aldo yang terus memanggilnya.

__ADS_1


"Jalan, Pak!" perintah Bianca.


Sepanjang perjalan Bianca terus menangis. Bukan karena sedih, tetapi lebih tepatnya karena malu, bahkan saking malunya membuatnya ingin menangis saja. Pantas saja Aldo selalu bingung saat dia berusaha mendekati laki-laki itu, jadi ini alasannya.


Supir yang melihat penumpangnya menangis hanya mampu diam saja, bingung ingin melakukan apa. Menghibur? Yang benar saja, dia takutnya malah membuat wanita itu justru semakin menangis.


"Hiks ... hiks ... gue pengen bunuh diri aja!" Bianca bergumam sambil terus menyeka air matanya yang tidak mau berhenti mengeluarkan air mata.


"Astagfhirullah, Neng. Istighfhar, Neng! Jangan menangis hanya karena laki-laki br***sek, masih banyak kok laki-laki yang lebih baik dari pacar, Eneng!" saran Sopir taksi tersebut dengan bijak, padahal tahu cerita yang sebenarnya saja tidak! Mendengar wanita cantik itu ingin bunuh diri, tentu dia langsung berpikir jika wanita cantik itu mungkin saja diselingkuhi oleh pacarnya.


"Bapak jangan sok tau deh!" ketus Bianca yang jengkel dengan supir yang sok tahu tersebut.


Supir taksi tersebut menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Apakah dia salah memberi saran tadi?


"Pak, saya boleh minta tolong nggak?" tanya Bianca yang kini mulai mendingan.


"Boleh atuh, Neng. Bilang aja, kalau saya bisa bantu, pasti saya bantu kok," sahut Supir taksi tersebut dengan ramah.


"Tolong ceburin saya ke laut aja, ya? Saya udah nggak sanggup hidup di dunia ini," pinta Bianca dengan wajah memelas. Lebih tepatnya tidak sanggup bertemu dengan laki-laki bernama yang Aldo.


"Astagfhirullah. Jangan ngomong gitu atuh Neng, nggak baik! Tuhan yang sudah memberi kita kehidupan, masa kita dengan mudahnya mengakhiri begitu aja?" Supir tersebut mulai menceramahi Bianca, sehingga membuat Bianca seketika mengamuk di dalam mobil.


"HUA ... SAYA PENGEN MENGHILANG DARI DUNIA INI SAKING MALUNYA, PAK!" Dara berteriak dengan frustasi, setelah itu kembali menangis tidak jelas. Supir yang melihatnya hanya bisa diam, bingung ingin melakukan apa lagi.


'Tuhan, hilangin aja Caca dari dunia ini!'




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2