
"Kenapa kau sangat menyebalkan?" ketus Bianca sambil memanyunkan bibirnya, merasa jengkel dengan sekretaris sekaligus orang yang dia cintai itu.
'Astaga, apa yang kau pikirkan Aldo! Tolong tahan diri lo!'
Melihat bibir milik wanita itu yang sanggat menggemaskan tentu membuat Aldo hanya mampu mati-matian menahan dirinya agar tidak sampai kelepasan, lalu mengecup benda kenyal itu. Bagaimana pun dia masih ingat diri, sedangkan semalam, dia benar-benar kehilangan akal sehatnya, sehingga lancang sekali mencium, bahkan ******* bibir merah muda tersebut.
"A—ah, maaf, Nona. Saya tidak bermaksud berbicara lancang seperti itu." Aldo memalingkan wajahnya agar tidak melihat bibir yang terus-terusan menggoda baginya. Bagaimana pun dia adalah laki-laki yang normal, yang bisa saja kelepasan jika terus melihat bibir tersebut.
"Yaudah, nggak apa-apa kok," jawab Bianca dengan senyum manisnya.
Aldo sedikit membeku mendengar gaya bahasa wanita itu yang mendadak saja tidak formal, apalagi menggunakan kata 'nggak', bukan 'tidak'
Aldo hanya diam, dia bingung ingin melakukan apa, apalagi dengan keadaan canggung seperti ini. Dia hanya menerima terus menerima suapan yang diberikan Bianca.
"Oke, ini yang terakhir. Buka mulutnya, biar aku masukkin!" ucap Bianca sedikit ambigu di telingga Aldo.
"Pesawat akan mendarat sempurna! Aaaaa!"
Apa yang dilakukan oleh bosnya tentu membuat banyak tanda tanya di benak Aldo. Kenapa wanita di depannya ini sangat menggemaskan? Tidak bisakah dia bersikap senormalnya saja, selayaknya sekretaris dan bosnya.
Jika terus seperti ini, dia tidak yakin bisa menahan diri lebih lama lagi.
Bohong jika dirinya tidak memiliki perasaan sedikit pun pada bosnya sendiri. Bekerja sudah hampir 5 tahun, tidak mungkin dia tidak memiliki perasaan apa pun, padahal pesona seorang Bianca tidak perlu diragukan lagi.
Orang yang baru bertemu dengan wanita itu saja bisa langsung jatuh ke pesonanya, apalagi ia yang sudah bertahun-tahun dekat dengan wanita itu.
"Nona, jangan seperti ini! Anda seperti kekanak-kanakkan saja!" Aldo menjadi merasa malu sendiri.
"Apa kau tidak suka? Lalu bagaimana jika aku melakukan hal ini pada pria lain?" Dara sengaja memancing sekretarisnya agar sedikit beraksi layaknya orang yang sedang cemburu.
"Itu bukan urusan saya, Nona. Itu terserah pada Anda," jawab Aldo se formal mungkin.
Hahaha
Tawa Dara pecah di ruangan tersebut. Tetapi sayangnya, tawa itu adalah tawa sumbangnya. Bagaimana mungkin dia sudah berekspektasi terlalu tinggi, tetapi hasilnya zonk?
"Apa aku terlihat seperti orang bodoh Al?" tanya Bianca dengan jari telunjuk yang menunjuk dirinya sendiri.
"Tidak, Nona. Anda adalah wanita yang hebat, di mana Anda bisa memimpin sebuah perusahaan yang besar. Menurut saya itu adalah pencapaian yang sangat luar biasa," puji Aldo dengan wajah yang tetap saja datar.
Meski Aldo memuji dirinya, tetapi itu sama sekali tidak membuat ia terharu atau pun senang sedikit pun. Kenapa laki-laki itu tidak bisa memahami maksud yang sesungguhnya?
"Iya! Aku memang pintar, Al! Dan kau tidak pintar!" maki Bianca dengan napas yang naik turun.
"Maaf, Nona. Apakah pekerjaan saya selama ini kurang memuaskan? Jika seperti itu, maka saya pastikan akan lebih giat lagi, Nona." Jujur saja, Aldo merasa sedikit tersinggung dengan ucapan wanita di depannya, padahal maksud Bianca tidaklah seperti itu.
'Arggg! Bagaimana mungkin ada laki-laki sepertimu di dunia ini, Al!' Dara berteriak frustasi di dalam hati.
"Apa kau tersinggung, Al?" Bianca merasa sedikit bersalah, karena membuat sekretarisnya menjadi salah paham.
"Tidak, Nona. Tidak seharusnya seorang sekretaris tersinggung jika bosnya menegur." Aldo menjawab dengan wajah yang masih saja datar.
"Baiklah, kita lupakan saja masalah pekerjaan, bahkan aku sama sekali tidak membahas masalah pekerjaan." Bianca menghembuskan napas kasar, bagaimana pun dia harus paham jika laki-laki itu sama sekali belum pernah berurusan dengan perempuan, jadi wajar saja.
"Hah? Maaf, Nona. Lalu kita tadi sedang membahas apa?" tanya Aldo dengan wajah polosnya.
'Maaf mulu perasaan. Dikira udah mau lebaran apa!' gerutu Bianca dalam hati.
"Tidak, lupakan saja!"
"Sekarang minum obatmu, biar lukamu cepat kering." Bianca lalu menyodorkan tiga jenis obat pada Aldo, sekaligus dengan air putih.
__ADS_1
"Terima kasih, Nona." Aldo menerima obat dan air tersebut, lalu meneguknya.
Seketika suasana menjadi canggung. Aldo bingung ingin melakukan apa, karena tidak mungkin dia tidur begitu saja. Sementara Bianca terus memikirkan kejadian semalam, ingin sekali rasanya dia membahas perihal semalam pada Aldo, tetapi entah kenapa dia merasa malu.
"Al."
"Nona."
Bianca dan Aldo memanggil secara bersamaan.
"Silahkan Anda terlebih dahulu, Nona." Aldo mempersilahkan bosnya terlebih dahulu untuk berbicara.
"Tidak! Kau saja!" Bianca menolak, dan menyuruh sekretarisnya saja yang lebih dulu berbicara.
"Apa saja yang terjadi semalam? Saya benar-benar tidak ingat apa yang terjadi setelah saya menghabisi para preman tersebut, mungkin karena darah saya yang banyak terkuras, sehingga saya tidak sadar, dan tidak tahu apa-apa setelah itu." Aldo berpura-pura menanya, padahal dia masih ingat sekali apa saja yang terjadi semalam. Apalagi dia masih mengingat jika wanita itu duduk di pangkuannya, dan mengalungkan lengannya di lehernya. Ah, semua itu masih terekam jelas di benaknya, dan mungkin tidak akan pernah terlupakan, mengingat itu adalah salah satu momen paling membahagiakan di hidupnya.
"Ma—maksudmu? Apakah kau tidak ingat apa-apa tentang apa yang terjadi semalam? Apa kau lupa jika kita ber—"
"Maaf, Nona. Memangnya apa yang saya lakukan? Saya benar-benar tidak tahu." Aldo lebih dulu memotong ucapan Bianca saat dia tahu arah pembicaraan wanita itu.
Bianca terdiam mendengar ucapan Aldo. "Baiklah, memang tidak ada yang terjadi semalam. Kau semalam pingsan," jawab Bianca setenang mungkin.
Jujur saja dia merasa sakit sekaligus kecewa mendengar Aldo yang ternyata tidak mengingat apa pun tentang kejadian di dalam mobil semalam, padahal itu adalah first kissnya.
'Kenapa first kiss gue harus diambil dengan cara seperti itu semalam? Kenapa tidak dalam keadaan sadar saja, sehingga gue dan Aldo tidak bisa melupakan moment itu? Bukankah itu juga first kiss mu, Al? Tapi, kenapa kamu tidak mengingatnya?'
Rasanya ingin sekali Bianca mengecup bibir Aldo sekarang, untuk memberitahukan jika itulah kejadian yang terjadi semalam. Tetapi sayangnya itu tidak mungkin terjadi, karena hal itu bisa saja membuat Aldo justru menganggapnya perempuan murahan.
'Berarti cukup aku yang mengenang moment bahagia itu' batin Bianca dengan pandangan sendu, tetapi sayangnya Aldo tidak melihat, karena dari tadi dia hanya menunduk.
"Baiklah, aku harus keluar sebentar, ya." Tanpa menunggu persetujuan Aldo, Bianca lebih dulu melangkah dengan perasaan yang tidak bisa dijelaskan.
Tidak! Dirinya sama sekali tidak menyesal telah melakukan hal itu semalam, hanya saja ... dia hanya ingin Aldo juga mengingat hal itu. Apakah dirinya salah?
Apakah dirinya salah berpura-pura melupakan kejadian semalam? Tidak 'kan? Lagian Bianca juga tidak memiliki perasaan apa pun padanya.
******
Setelah menutup pintu, Bianca menghembuskan napasnya dengan kasar. Tidak bisa dipungkiri jika dia sedikit merasa sesak, tapi ... mau bagaimana lagi?
Bianca lalu berjalan menuju kantin yang ada di rumah sakit itu saja, lebih baik dia menyusul keluarganya.
Senyum tipis Bianca terbit saat melihat keluarganya yang terlihat sangat akrab dengan keluarga Aldo.
"Assalamualaikum," ucap Bianca yang langsung saja mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur.
"Wa'alaikumsalam." Mereka semua kompak menjawab salam Bianca.
"Lho? Kok kamu malah ke sini sih sayang?" Bryna tentu sedikit terkejut dengan kehadiran putrinya itu.
"He-he, Caca laper, Mah." Bianca hanya cengengesan tidak jelas.
Tanpa basa-basi Bianca segera merebut makanan abangnya, sehingga membuat Barrack melotot tidak terima, padahal dia baru memakannya hanya sesuap saja.
"Kamu apa-apaan sih, Dek! Itu makanan punya Abang!" ketus Barrack.
"Ish ... Caca laper, Bang. Emangnya Abang nggak kasihan ngeliat Bianca yang makin kurus!" sahut Bianca yang ikut berbicara ketus juga.
"Ya, Allah. Untung sayang, kalau enggak udah gue buang ke luat lo!" gerutu Barrack dengan suara pelan, tetapi sayangnya telinga Bianca terlalu tejam, sehingga mendengar sumuanya.
Bianca tidak menanggapi, dia terus memakan makanan milik Abangnya tersebut.
__ADS_1
"Gimana Aldo, Ca?" tanya Sophia.
Mendengar nama Aldo, sendok yang sebentar lagi akan masuk ke dalam mulutnya sontak terhenti. Entah kenapa mendengar nama itu membuatnya moodnya seketika hancur.
"Baik kok, Tan," jawab Bianca singkat. Ternyata pertanyaan itu sangat berpengaruh pada dirinya. Seketika napsu makannya hilang, dan raut wajahnya menjadi murung kembali.
"Kamu kenapa?" Rupanya Barrack melihat perubahan raut wajah adik tersayangnya tersebut.
Bianca tersenyum tipis, ternyata Abangnya memang sangat peka. "Nggak apa-apa kok, Bang. Yaudah, Bianca pamit, ya." Bianca menyunggingkan senyumnya, lalu pamit pergi entah kemana. Sekarang tujuannya ingin pergi ke taman yang ada di sekitar rumah sakit. Ya, anggaplah untuk menghibur dirinya.
Barrack tentu semakin dibuat bingung dengan tingkah adiknya yang menurutnya sangat aneh. Tanpa basa-basi Barrack segera bangit, lalu menyusul adiknya itu setelah pamit pada orang tuanya.
Bianca mendaratkan bokongnya di atas kursi yang ada di taman rumah sakit tersebut, lalu menghembuskan napas kasar.
"Kenapa kejadian itu harus terjadi di saat lo nggak ingat sih, Al?" gumam Bianca.
'Kejadian?'
Bianca memegang bibirnya. "Lo yang bilang kalau bibir gue hanya akan menjadi milik lo seorang. Tapi ... lo bahkan nggak ingat apa-apa." Bianca memandang ke depan dengan pandangan kosong.
'Bi-bibir? Apa maksud Bianca?'
"Kenapa first kiss gue harus diambil dalam keadaan dia yang tidak sadar? Kenapa nggak sekarang aja?" pekik Bianca tertahan, tetapi pria yang berada di belakang pohon tersebut mendengar dengan jelas perkataan wanita itu.
'Fi—first kiss? Maksudnya ....'
Tanpa basa-basi pria itu segera pergi dari sana, dia berniat untuk bertemu laki-laki yang dimaksud Bianca tadi, untuk meminta penjelasan dari laki-laki itu.
Sesampainya di depan pintu ruangan di mana Aldo dirawat. Pria itu segera menetralkan deru napasnya. Akibat sedikit berlari tadi, dia sampai ngos-ngos'an sekarang. Setelah dirasa napasnya mulai teratur, pria itu segera masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Aldo, apakah kau mencium adik ku?"
Degg
Aldo yang sedang melamun sontak dibuat terkejut mendengar suara seorang pria, dan yang lebih membuatnya terkejut adalah pertanyaan yang dilontarkan.
Perlahan Aldo mendonggakkan kepalanya untuk menatap siapa gerangan yang berbicara tersebut, meski pun dari pertanyaannya dia bisa menyimpulkan siapa pria itu.
"Tu—Tuan Barrack?" Aldo berkata dengan sedikit terbata-bata.
"Apa kau mencuri first kiss adik ku?"
TBC
.
.
.
__ADS_1
.