
..."Percayalah, bukan hanya kalian saja yang jomblo, tetapi Author-nya pun jomblo." ~Author...
"Maaf, Nona. Tapi saya tidak apa-apa. Tangan saya juga tidak sakit." Aldo menggerak-gerakkan tangannya, berusaha meyakinkan bosnya bahwa dia baik-baik saja, dan tidak perlu disuapi.
"Udah, biar aku aja yang suapi kamu. Kamu nggak ingat kata Papah Bayu, aku harus menjaga mu, Al." Bianca berkata dengan sedikit terkekeh.
"Tapi, Nona .... Rasanya sedikit tidak sopan jika bos yang melayani sekretarisnya. Bukankah sekretaris yang seharusnya melayani bosnya?" Aldo berusaha untuk menolak dengan halus.
'Ckk ... kenapa otakku jadi travelling mendengar kata melayani? Astaga Bianca, bagaimana mungkin otak polos mu mendadak menjadi tidak karuan?' Bianca menjadi sedikit salah tingkah.
"Ekhem ...." Bianca berdeham, berusaha untuk menormalkan pikirannya yang sudah travelling ke mana-mana.
"Makanlah!" perintah Bianca dengan tegas.
"Makan, Al!"
"Ba—baik, Nona." Melihat wajah bosnya yang terlihat jengkel, Aldo terpaksa mengiyakan. Laki-laki itu lalu membuka mulutnya, dan menerima suapan dari Bianca, dengan perasaan yang sedikit berdebar.
"Anak manis." Tanpa sadar Bianca mengelus rambut Aldo dengan lembut, yang sontak saja membuat si empunya membeku.
"Maaf, Nona. Tapi saya bukan kucing yang suka dielus-elus." Aldo berusaha bersikap setenang mungkin.
"Really? Apakah kau tidak suka dengan elusanku?" Bianca lalu kembali mengelus rambut Aldo.
"Nona berhenti! Saya tidak suka Anda mengelus milik saya!" Tanpa sadar Aldo sedikit menyentakkan tangan Bianca. "Ma–maksud saya rambut. Ra–rambut kepala saya." Aldo menunduk saat melihat wajah bosnya yang menatapnya dengan pandangan yang susah untuk diartikan.
"Huh ... maaf." Bianca berkata dengan tulus, karena tidak mau membuat laki-laki itu semakin kesal.
"Yaudah, makan. Aaaa!" Bianca kembali menyodorkan sesendok bubur.
"Sangat hambar," gumam Aldo yang merasakan bubur yang diberikan oleh Bianca tidak ada rasanya sama sekali.
__ADS_1
"Kau mau tau cara agar bubur ini tidak hambar lagi?" tanya Bianca dengan antusias.
Aldo mengangguk polos, berpikir jika bosnya itu akan membelikan penyedap rasa atau sejenisnya, sehingga bubur itu tidak hambar lagi.
"Oke ... kau harus mengunyahnya sambil melihat wajahku, mengerti?"
Aldo sedikit bingung mendengar permintaan bosnya itu, tetapi tetap saja diangguki olehnya.
"Aaaaa!" Aldo menerima suapan dari Bianca, lalu mengunyah makanan tersebut sambil melihat wajah cantik wanita di depannya yang sedang tersenyum dengan sangat manis.
"Bagaimana rasanya, Al? Apakah rasanya sudah berubah menjadi enak?" tanya Bianca sambil mengulum senyumnya.
Aldo semakin dibuat heran, padahal wanita itu sama sekali tidak memasuki sesuatu di dalam bubur itu. Lantas bagaimana mungkin buburnya ada rasa? "Tidak! Masih hambar, Nona," jawab Aldo dengan polos.
Bianca yang mendengarnya sontak mengubah raut wajahnya menjadi sangat datar. Ah, ternyata dia terlalu banyak berharap pada laki-laki itu. Tidak bisakah laki-laki itu mengatakan 'Rasanya sangat enak setelah saya melihat wajah cantik Anda, Nona."
Sungguh, Aldo adalah laki-laki menyebalkan!
"Karena saya sedang tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita mana pun, Nona," jawab Aldo apa adanya, karena memang itu faktanya.
'Cih ... tidak ingin menjalin hubungan dengan wanita mana pun? Lalu kenapa kau sangat berharap ingin menjadi kekasihku?' batin Bianca.
"Oh, tentu tidak! Itu alasan yang sangat klasik! Jangan mengelak! Kau tau kenapa kau masih jomblo, dari segi pandangan wanita sepertiku?" Bianca tidak terima dengan jawaban yang diberikan oleh sekretarisnya itu. Menurutnya alasan tersebut sangat kuno, alasan yang sering diucapkan para lelaki saat mereka tidak memiliki kekasih.
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan saya?"
"Ya jelaslah! Kau itu terlalu jujur jadi laki-laki! Tidak bisakah kau sedikit berbohong. Jika seperti ini kau akan terus menjadi jomblo, Aldo!" ketus Bianca yang sudah sangat kesal.
"Maaf, Nona. Tetapi bukankah seorang perempuan suka dengan laki-laki yang jujur? Apakah Anda suka dengan laki-laki yang pembohong? Jika seperti itu, maka yang bermasalah mungkin Anda, Nona. Apakah Anda akan memuji suami Anda yang pembohong? Misalnya suami Anda berselingkuh, dan dia mengatakan jika itu adalah temannya, tetapi Anda melihat dengan jelas jika dia mencium wanita itu. Apakah Anda akan memberikan dia pujian? Karena setahu saya, para perempuan akan saling menjambak jika mendapati kekasihnya berselingkuh." Aldo berkata panjang kali lebar, berusaha memberikan pengertian pada wanita di depannya, yang sepertinya sedikit berbeda dengan wanita lainnya. Rupanya dia masih belum mengerti sepenuhnya maksud wanita itu.
"Enggak gitu konsepnya, Aldo!" geram Bianca.
__ADS_1
"Jika kamu terus seperti ini, maka kamu akan terus menjadi jomblo seumur hidup!" ketus Bianca. Tiba-tiba saja dia menjadi tidak mood untuk menerima cinta laki-laki itu, setelah melihat sikap polos plus menyebalkan laki-laki itu.
Bianca tidak bisa membayangkan jika memiliki kekasih yang sama sekali tidak peka seperti Aldo. Mungkin saja dia akan gantung diri, karena saking gemesnya dengan kelakuan laki-laki itu.
'Oke, gue nggak akan nerima cinta Aldo untuk saat ini. Tapi, gue akan mengajari dia bagaimana cara memperlakukan perempuan dengan baik, bukannya menyebalkan seperti ini!'
Bianca yang awalnya ingin menerima cinta laki-laki itu hari ini, seketika ia urungkan. Dia bertekad ingin mengajari Aldo terlebih dahulu, agar laki-laki itu tidak kaku saat mereka pacaran nanti.
"Lalu bagaimana dengan Anda, Nona? Bukankah Anda juga jomblo? Lalu bagaimana mungkin Anda mengomentari saya, sementara Anda sendiri jomblo?" celetuk Aldo sambil menatap Bianca yang terdiam, karena merasa tertohok dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan laki-laki itu.
TBC
.
.
.
.
__ADS_1