Kesalahpahaman yang Berujung Cinta

Kesalahpahaman yang Berujung Cinta
Semanis Ice Cream


__ADS_3

..."Kalau udah pacaran, tolong sedikit lebih peka ya, Aldo!" ~Bianca....


"Maaf karena membuatmu menunggu lama, Al." Bianca langsung duduk di samping laki-laki yang baru saja menyatakan cintanya tadi.


'Astaga, kenapa aku sangat gugup jadinya? Bagaimana jika nanti Aldo meminta cium?'


Entah kenapa Bianca jadi berpikir-pikir yang tidak, mengingat ciuman adalah hal yang wajar dalam sebuah hubungan. Jadi, wajar saja jika dia berpikiran seperti itu.


"Tidak masalah, Nona." Melihat ada dua botol air mineral di genggaman Bianca membuat Aldo antusias, berharap bosnya tersebut akan memberikan dia sebotol air mineral tersebut.


"Eum ...." Bianca jadi bingung sendiri. Berdekatan dengan 'pacar' membuatnya menjadi sangat gugup, padahal biasanya dia tidak segugup ini.


'Ckk ... apakah Nona Bianca tidak berniat memberikan aku air?'


"Eh iya, ini air untukmu!" Bianca menyodorkan sebotol air mineral tersebut, dan dengan sok jaimnya Aldo menerima.


"Terima kasih, Nona."


Aldo membuka segel botol tersebut, lalu meminumnya hingga tandas, karena sudah merasa sangat haus.


Sebenarnya Aldo ingin sekali pulang, tetapi dia tidak berani meninggalkan bosnya sendirian, sedikit tidak sopan sepertinya.


'Apakah Aldo tidak berniat mengajakku jalan-jalan? Padahal itu kan yang selalu dilakukan oleh sepasang kekasih!' Melihat ketidakpekaan 'pacarnya' membuat Bianca menjadi kesal sendiri. Apakah Aldo memang tidak berniat mengajaknya jalan-jalan? Atau ngedate?


'Masa iya gue terus yang membimbing dia? Peka dikit napa!' gerutu Bianca dalam hati.


"Al ..." panggil Bianca setelah beberapa menit hening.


"Ya, Nona?" Aldo menyahut dengan cepat.


"Eum ... apa kau tidak berniat pengen ...." Dara berusaha memberi kode, berharap Aldo akan paham, dan mengajaknya jalan-jalan nanti malam.


"Pengen ... apa, Nona?" Aldo justru dibuat bingung.


'PENGEN JALAN-JALAN AYANK!' Bianca berteriak di dalam hati, dia merasa sangat jengkel dengan ketidak pekaan pacarnya tersebut.


"Apa kau sibuk malam ini?" tanya Bianca dengan lembut, sepertinya memang dia yang harus bertindak.


"Malam ini?" Aldo seolah mengingat-ingat apakah dia ada pekerjaan atau tidak malam nanti. "Sepertinya tidak ada, Nona. Memangnya kenapa?" Aldo sedikit bingung, tumben sekali bosnya menanyakan tentang kegiatannya.


"Bagaimana jika kita menonton malam nanti?" ajak Bianca dengan antusias.


"Menonton?"

__ADS_1


"Iya! Kita nonton dibioskop, bagaimana?" Bianca semakin antusias, bahkan tanpa sadar tangannya sudah memegang lengan Aldo. Hal itu tentu membuat jantung Aldo berdetak dua kali lebih cepat. Ah, apa maksud wanita ini memegang tangannya?


"Apakah kita akan membahas pekerjaan di sana?" tanya Aldo dengan polos.


Bianca tertawa garing, apakah di pikiran laki-laki itu hanya ada pekerjaan-pekerjaan saja?


"Tentu tidak, Al. Kita hanya akan bersenang-senang di sana," sahut Bianca berusaha untuk bersabar.


'Kenapa harus mengajakku?' Aldo justru bertanya-tanya dalam hati. Jika tidak membahas tentang pekerjaan, lalu apa yang mereka lakukan? Hanya bersenang-senang? Sepertinya itu sedikit berlebihan untuk bos dan sekretaris.


"Baiklah, Nona. Saya akan menjemput Anda jam 7 nanti malam," ujar Aldo patuh, sepertinya tidak apa-apa sekali-laki menenangkan pikirannya dengan pergi menonton.


Bianca bersorak girang dalam hati. Sepertinya ini memang awal manis dari hubungan mereka. Rencananya dia akan menanyakan perihal hubungan ini nanti di bioskop saja.


"Oh iya, tadi aku membeli ice cream, tapi tadi ada anak kecil yang meminta satu cup-nya. Sementara kata penjualnya ice creamnya udah habis. Kita bagi dua aja, ya?" ucap Bianca lembut.


"Tidak perlu, Nona. Saya tidak suka makan ice cream." Aldo menolak dengan halus, dia memang tidak terlalu suka memakan ice cream.


"Apa kau tidak mau?" Bianca sengaja memasang wajah imut, sehingga tanpa sadar membuat Aldo meneguk salivanya dengan kasar. Bagaimana pun dia adalah laki-laki yang normal, jadi melihat wajah menggemaskan tersebut membuatnya ingin mencium pipi wanita itu.


"Nona ...."


"Please ...." Bianca memohon, bahkan tangannya dengan lancang menggoyang-goyangkan lengan Aldo, berharap laki-laki itu mau menuruti keinginannya. Ah, sikap Aldo yang terlalu pemalu membuatnya harus menjadi agresif sekarang. Tidak bisakan laki-laki itu sedikit saja peka? Bukankah berbagi satu cup ice cream bersama terlihat romantis? Sama seperti yang dilakukan oleh pasangan lainnya.


Bianca tersenyum lebar, lalu perlahan dia memakan sesendok ice cream tersebut, lalu kemudian memberikan sesendok ice cream pada Aldo.


Aneh! Padahal Aldo sendiri benci pada perempuan yang bersikap centil, tetapi sepertinya itu tidak berlaku pada wanita bernama Bianca, karena semakin wanita itu bersikap centil, semakin dia dibuat berdebar, dan yang pastinya semakin suka.


Bianca terus mengembangkan senyumnya. Itu semua tentu tidak luput dari pandangan Aldo. Dirinya benar-benar dibuat terpukau dengan senyum manis Bianca.


'Senyumnya semanis ice cream!' batin Aldo yang ikut tersenyum.


"Al, kau tau, aku sangat suka sekali boneka yang berukuran sangat besar, karena sangat nyaman dijadikan guling." Bianca mulai menceritakan kesuakaannya, meski faktanya Aldo sama sekali tidak menanyakannya, tetapi meski pun demikian, Aldo tetap menjadi pendengar yang setia.


"Tapi aku juga suka boneka yang berukuran sangat kecil, apalagi jika dia gendut. Akhh, aku sangat suka sekali pokoknya." Bianca semakin menjadi-jadi menceritakan kesuakaannya.


'Kenapa dia sangat excited berceritanya? Ah, dia terlihat sangat menggemaskan!'


"Kalau kau suka apa, Al?" Tidak mendapat respon dari Aldo, Bianca lalu mulai menanyakan pertanyaan random agar laki-laki itu mengeluarkan suara.


"Hanya kedamaian," jawab Aldo singkat. Dia memang hanya suka kedamaian saja, karena lingkungan yang terlalu ramai membuatnya pusing.


"Ckk ... kau tidak bisa seperti ini, Al! Kau harus bisa berkomunikasi dengan orang-orang! Belajarlah! Jangan jadi orang yang kaku mulu!" Karena Aldo kini sudah menjadi pacarnya, maka Bianca mulai menceramahi Aldo.

__ADS_1


Aldo sedikit terbengong mendengar bosnya yang menceramahinya. Ini adalah kali pertama Bianca menceramahinya. Astaga, sebenarnya apa yang terjadi? Pikir Aldo.


"Baik, Nona. Akan saya usahakan." Aldo lebih memilih mengiyakannya saja, dari pada semakin runyam, kan?


'Ckk ... kenapa Aldo masih saja memanggilku dengan sebutan Nona dan Anda?'


Bianca sedikit tidak suka mendengar Aldo yang masih berbicara formal padanya, padahal kan mereka sudah resmi pacaran sekarang! Apakah laki-laki itu masih malu? Ya ampun!


"Nona, matahari sudah mulai terbit. Apakah Anda tidak berniat pulang?" Aldo sengaja menanyakan hal itu, karena jujur saja dia sudah merasa sangat gerah, rasanya tidak sabar ingin berendam di bathtub saja.


"Ah, iya juga. Baiklah, aku hendak pulang. Jangan lupa jam 7 nanti malam, ya!" Bianca kembali mengingatkan, dan dibalas anggukan oleh Aldo.


Bianca segera pergi. Sepanjang perjalan senyum manis terus terbit di wajahnya. Ah, sepertinya memang seperti inilah efek orang yang lagi kasmaran.


"Rasanya aku ingin terbang saja saking senangnya!" pekik Bianca tertahan.


Sementara Aldo yang melihat wanita itu sudah pergi sontak kembali tersenyum.


"Astaga, kenapa dia sangat menggemaskan?" gumam Aldo.


"Apakah aku memang sudah sangat jatuh cinta pada wanita itu?"




TBC



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2