Kesalahpahaman yang Berujung Cinta

Kesalahpahaman yang Berujung Cinta
Salah Tingkah


__ADS_3

Hahaha


Tawa Barrack sontak pecah, bahkan laki-laki itu sampai terduduk dengan tangan yang memegang perutnya.


"Maaf, Om, Tante, Barra nggak bermaksud ngomong kayak gitu tadi. Habinya Barra bingung ngeliat Aldo yang ngintip pas Bara meluk Bianca." Barrack meminta maaf pada kedua orang tua Aldo dengan sesekali menyeka air matanya yang terus mengalir, karena kebanyakkan tertawa.


"Kamu udah sadar dari tadi, Al?" tanya Sophia menatap putra semata wayangnya itu.


'Sial! Kenapa saya tidak sadar jika sedang dikerjai?' Aldo hanya mampu merutuki dirinya sendiri di dalam hati.


"A—Aldo baru aja sadar kok, Mah." Aldo menjawab dengan sedikit terbata-bata.


"Kenapa kau gugup?" tanya Barrack dengan curiga.


"Tidak ada, Tuan. Saya hanya merasa sedikit pusing," jawab Aldo berdalih.


Bianca yang mendengar sontak panik, dan berjalan mendekati Aldo, berniat untuk menanyakan apa yang bisa dia lakukan.


"Kamu tidak apa-apa, Al. Ada yang sakit? Perlu aku panggilin Dokter nggak? Mana yang sakit?" Bianca terus melontarkan pertanyaan, sambil menatap Aldo dengan panik.


"Cie ... ada apa nih anak Mamah tiba-tiba perhatian banget, udah kayak kekasih Aldo aja." Bryana menggoda putrinya tersebut, sehingga membuat Bianca sedikit salah tingkah.


"Menjauhlah, Nona!" perintah Aldo dengan tegas, sehingga membuat Bianca sedikit terkejut, tetapi dia memilih untuk menurutinya saja. "A—ah, maaf, Nona. Saya tidak bermaksud berkata kasar. Saya minta maaf atas kelancangan saya tadi." Aldo menunduk dengan sopan.


"Kalian ini mencurigakan, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Andi memicingkan matanya menatap Aldo dan Bianca secara bergantian.


"Al—"


"Tidak ada, Pah!" potong Aldo lebih dulu, dan hal itu membuat semua yang ada di ruangan menjadi bingung, karena Aldo menjawab dengan sangat cepat.


Bayu mendekati Aldo yang sedang terbaring tersebut.

__ADS_1


"Aku minta maaf, Al. Karena menyelamatkan putriku, kau jadi terluka seperti ini. Kau memang orang yang bisa diandalkan. Sekali lagi aku minta maaf, Al. Aku juga minta maaf Tuan Andi, dan Nyonya Sophia." Bayu sedikit membungkukkan tubuhnya, dia meminta maaf dengan tulus pada Aldo dan kedua orang tuanya.


"Tidak masalah, Tuan. Itu memang sudah menjadi tugas saya untuk menjaga Nona Bianca," jawab Aldo dengan sopan, tetapi tetap saja datar.


'Ah, Aldo. Kau memang laki-laki yang sangat baik. Meski pun cinta mu ditolak olehku, tetapi kau tetap saja mau menjagaku. Baiklah, aku akan menerima cintamu hari ini' Bianca menunduk untuk menyembunyikan senyumnya, tetapi itu semua terlihat dengan jelas oleh Barrack. Dia sedikit dibuat bingung melihat tingkah aneh adiknya itu.


"Kenapa kamu terus tersenyum, Dek? Kamu masih oke, 'kan?" tanya Barrack yang merasa sedikit aneh dengan tingkah adiknya itu, karena dia tidak seperti biasanya.


Bianca menjadi salah tingkah, apalagi saat semua yang ada di ruangan memandinginya. "Bi—Bianca oke kok." Bianca menjawab dengan sedikit kaku.


"Tidak apa-apa, Yu. Putri mu memang pantas untuk dijaga. Ya, anggap saja Aldo sedang melakukan itu untuk calon masa depannya." Andi menjawab dengan sedikit terkekeh, sehingga membuat Bayu ikut terkekeh mendengarnya.


"Pah!" tegur Aldo yang sedikit terkejut mendengar penuturan pria paruh baya yang sudah mendidiknya selama ini.


"Astaga, Papah hanya bercanda saja, Al. Kamu juga jangan dingin-dingin mulu, jangan datar-datar mulu. Kamu itu udah tua, pantas aja nggak ada satu pun wanita yang pengen sama kamu! Coba aja kamu tebar pesona di depan para wanita. Papah yakin kalau bakalan banyak wanita yang mendekatimu, bahkan mungkin puluhan," cerocos Andi menasehati putra semata wayangnya.


Bianca awalnya mengangguk mengiyakan ucapan Andi, tetapi mendengar kelimat terakhir pria paruh baya itu, Bianca sontak saja melotot. Tidak! Jika seperti itu ceritanya, maka lebih baik Aldo tidak usah menunjukkan senyumnya, karena jika seperti itu, maka dia mungkin saja memiliki banyak saingan nantinya. Dia bukannya takut kalah saing, tetapi dia hanya takut Aldo menyelingkuhinya. Tidak akan pernah dia biarkan itu terjadi.


"Apanya yang nggak boleh sayang?" tanya Sophia menatap putri sahabatnya itu.


"Hah? Emang Bianca ada ngomong ya, Tan?" tanya Bianca dengan tampang polosnya.


"Iya, kamu tadi ngomong nggak boleh!" Bryana menirukan suara Bianca tadi.


"A—ah, iya, maksudnya itu ... anu ... apa itu namanya ...." Bianca menjadi bingung sendiri, bagaimana menjelaskan maksud ucapannya tadi.


"Nggak boleh Aldo senyum ke semua cewek?" tebak Barrack, yang mengerti maksud teriakkan adiknya itu tadi.


"Nah, iya itu!" Tanpa sadar Bianca justru mengiyakan ucapan kakaknya, tetapi saat sudah sadar, dia langsung membekap mulutnya, merasa malu dengan mulutnya yang terlalu bar-bar tersebut. "Maksud Bianca gini. Alangkah lebih baiknya Aldo nggak perlu senyum aja, karena Bianca pengen Aldo lebih fokus aja ke pekerjaan, dan fokus membantu Bianca di kantor. Kan kalau Aldo tersenyum, mungkin banyak perempuan yang suka sama dia, dan itu pasti akan merepotkan Aldo, sekaligus Bianca," jelas Bianca yang mendapat anggukan dari Aldo. Laki-laki itu berpikir apa yang dikatakan atasannya itu memang benar, dan dia tidak ada niat apa pun.


"Kau egois jika berpikir seperti itu, Dek! Bagaimana mungkin kau mengurung Aldo dengan pekerjaan yang mengunung. Bagaimana pun Aldo perlu mencari perempuan untuk dijadikan sebagai kekasihnya! Bukan begitu, Om, Tante?" Barrack kembali memanasi situasi, dan dapat dilihat olehnya jika Bianca yang seketika langsung salah tingkah.

__ADS_1


"Eum ... entahlah." Kedua orang tua Aldo bingung ingin menjawab apa. Apa yang diucapkan Barrack tentu sangat benar. Tetapi sesungguhnya mereka berdua sangat berharap yang akan menjadi menantu mereka adalah Bianca, begitu pun keluarga Grissham, mereka juga menginginkan Aldo yang menjadi menantu mereka.


Oleh sebab itu mereka mendekatkan kedua menusia itu, yaitu dengan menjadikan Aldo sebagai sekretaris Bianca. Tetapi sayangnya, sudah hampir tiga tahun Aldo mengabdi di perusahaan itu, tetapi tetap saja tidak ada perubahan sama sekali di antara mereka berdua.


Sekarang meraka semua hanya bisa pasrah. Jika kedua manusia itu memang tidak ditakdirkan untuk bersama, itu tidak menjadi masalah. Yang pastinya, tidak akan ada yang namanya perjodohan, karena menurut mereka, kebanyakan mereka yang dijodohkan akan berakhir dengan sad ending, dan mereka tidak mau itu terjadi.


"Nggak gitu, Kak Rack! Maksud Caca ...." Seketika Bianca menjadi bingung ingin menjawab apa.


Aldo yang melihat atasannya yang seperti susah mendapat jawaban yang pas seketika merasa kasihan dengan wanita itu.


"Saya lapar!"




TBC



.



.



.


__ADS_1


.


__ADS_2