
Kini status Aldo dan Bianca sudah resmi menjadi tunangan. Pernikahan mereka akan dilaksanakan sebulan lagi. Mereka memang sengaja untuk tidak terburu-buru, karena pernikahan bukanlah sebuah permainan menurut Aldo. Jadi, dia perlu memantapkan dirinya terlebih dahulu, apalagi jika dia sudah menikah nanti, otomatis akan menjadi sosok ayah.
"Al, kita mau ke mana?" Bianca tentu bingung ke mana arah Aldo menyetir mobil, pasalnya sedari tadi laki-laki itu terus bungkam.
"Kemana, ya?" Aldo pura-pura tidak tahu sehingga membuat Bianca berdecak kesal. Laki-laki itu sangat suka sekali sepertinya melihat dia kesal.
"Jangan ngambek gitu! Kita ke hotel," ucap Aldo yang sontak membuat Bianca melotot sempurna. Jika mata bisa keluar, maka dapat dipastikan matanya akan keluar. Hotel? Yang benar saja! Memangnya apa yang akan mereka lakukan di hotel? Ah, kini otak Bianca sudah dipenuhi dengan hal-hal negatif.
Aldo yang melihat kekasihnya melotot tentu tidak mampu menahan tawa. Tawanya sontak pecah di dalam mobil. Astaga, entahlah, sejak dia tau jika wanita yang dia cintai memiliki perasaan padanya, dia lebih suka jahil sehingga membuat wanita itu entah kesal, marah, bahkan melotot. Itu semua menjadi kesenangan tersendiri untuknya.
"Hayo ... mikiran apa?" Aldo menggoda kekasihnya. Dia tau jika yang ada di pikiran kekasihnya itu bukanlah hal yang positif. Apakah kekasihnya itu berpikir jika dia akan menidurinya? Ha-ha, yang benar saja! Dia bahkan sudah berjanji dengan kakak wanita itu untuk tidak menyentuhnya lebih dari ciuman saja.
"Enggak! Aku nggak mikirin apa-apa!" Bianca dengan cepat mengelak. Sepertinya memang otaknya yang memang agak sedikit mereng sekarang. Mungkin saja Aldo memang ada tujuan ke hotel. Itulah kata-kata positif yang Bianca berusaha tanam di benaknya.
'Baik, sepertinya bermain-main dikit boleh. Aku kerjain aja Caca, biar aku tau apa yang sebenarnya ada di dalam otaknya' Tanpa Bianca sadar, Aldo tersenyum miring.
Sebelah tangan Aldo mengenggam tangan telapak tangan Bianca, sementara sebelah tangannya lagi untuk menyetir.
"Bianca, tetapi aku sudah lama menunggu moment ini." Aldo semakin mengenggam erat telapak tangan wanita yang sudah menjadi kekasihnya tersebut, lalu dia memelas sebentar menatap Bianca.
Bianca menjadi salah tingkah sendiri. Sudah lama menunggu apa?
"Aldo! Maksudmu apa?" Bianca berusaha bersikap tenang, meski detak jantungnya tidak bisa berbohong jika sekarang detak jantungnya berdetak lebih kencang.
"Kamu mau, ya?" Bukannya menjawab, Aldo justru semakin memelas, memohon agar Bianca mau menuruti keingannya.
"Ta–tapi kita belum menikah," sahut Bianca yang sontak membuat Aldo hampir tertawa. Tetapi karena tidak mau menggagalkan rencannya, dia terpaksa menahan tawanya mati-matian.
"Memangnya apa hubungannya dengan menikah? Maksudku, aku sudah lama menunggu moment di mana aku akan bertemu dengan client, tetapi bukan sebagai sekretaris, melainkan sebagai Bos. Dan maksud ku tadi, kamu mau ya menemani aku." Aldo menjelaskan dengan kening yang mengerut. Sebenarnya dia tahu maksud Bianca ke mana, dan tidak bisa dipungkiri jika perkataannya tadi pun mengarah ke sana.
Duar!
Bianca terdiam. Dia mengerjab-ngerjabkan matanya lucu. Sekarang wajahnya terasa panas. Jadi seperti itu maksudnya. Kenapa pikirannya mengarah ke hal-hal yang negatif tadi. Sebenarnya wajar saja, ucapan Aldo tadi memang sedikit ambigu.
'Tolong! Aku pengen ngilang aja dari dunia ini!' Bianca memekik dalam hati. Hancur sudah reputasinya sebagai seorang perempuan. Ah, apa yang sekarang ada di pikiran laki-laki itu terhadapnya? Mungkinkah dia akan dianggap wanita yang tidak benar?
Ha-ha-ha
__ADS_1
Tawa Aldo pecah di dalam mobil karena sudah berhasil mengerjai kekasihnya hingga wajah wanita itu memerah. Ah, ingin sekali rasanya dia mengabadikan wajah menggemaskan itu.
"HUA ... ALDO!" Bianca berteriak nyaring. Dia merasa kesal pada Aldo yang mengarjainya.
"Muka kamu benar-benar lucu, Yank!" Aldo masih tidak mampu berhenti tertawa.
"ALDO SIALAN!" Bianca kembali memekik dengan nyaring. Sungguh, mukanya sebagai perempuan sudah hancur rasanya!
Aldo menepikan mobilnya, lantas menatap tajam Bianca.
"Ngomong apa tadi?" tanya Aldo dengan wajah kesalnya.
"Aldo sialan," ulang Bianca dengan polos.
"Udah berani ngomong kasar, ya?"
Cuppp
Aldo yang merasa gemes langsung melahap bibir manis kekasihnya itu.
"Eumm!" Bianca tentu terkejut mendapat ciuman tiba-tiba itu. Dia berusaha untuk melepaskannya, tetapi tidak semudah itu, karena kini Aldo menahan tengkuknya, sehingga tidak ada yang bisa dia lakukan selain menikmatinya.
Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Aldo langsung memasukkan lidahnya ke dalam mulut Bianca. Dia mulai bermain dengan lidah wanita itu, saling bertukar saliva satu sama lain. Dia bahkan mulai mengabsen gigi putih milik wanita itu.
Ciuman Aldo semakin menuntut, sehingga membuat Bianca hampir kehabisan napas. Dengan sekuat tenaga di memukul da-da bidang laki-laki itu agar menghentikan kegiatan ciuman tersebut.
Aldo yang paham langsung melepaskan ciuman mereka. Bianca langsung menghirup oksigen dengan rakus.
Aldo tersenyum melihat tingkah menggemaskan kekasihnya tersebut. Dia lalu menangkupkan kedua pipi wanita itu. "Ternyata masih manis," lirih Aldo sambil mengelap sudut bibir wanita itu yang belepotan dengan saliva miliknya.
Bianca ngeblush mendengar perkataan manis Aldo.
Aldo mendekatkan wajahnya ke kening Bianca.
Cuppp
Satu kecupan lembut mendarat di kening wanita itu. "Aku tidak mungkin meminta lebih padamu, sementara aku tahu kita belum menjadi suami istri. Aku mencintai semua yang ada di kamu. Tidak hanya tubuhmu, tetapi juga hatimu. Aku ingin menjagamu selama satu bulan ini, bukan malah merusaki kamu. Lagian aku sudah berjanji pada Kakakmu bahwa aku tidak akan melakukan hal lebih dari sekedar ciuman. Kakakmu tidak menerima yang namanya hamil di luar nikah." Aldo berkata dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
Bianca nampak sedikit terkejut mendengar ucapan akhir Aldo. "Tidak terima hamil di luar nikah? Apa Kak Barrack memang mengatakannya?" tanya Bianca memastikan.
Aldo mengangguk dengan mantap, mengiyakan ucapan wanita itu.
"Memangnya kenapa?" Pertanyaan konyol itu keluar begitu saja dari mulut Bianca.
"Tentu saja karena kamu berharga!" Aldo yang gemes dengan pertanyaan wanita itu langsung mencolek hidungnya. Pertanyaan macam apa itu coba?
Nampak Bianca masih bingung. "Kalau kita belum menikah. Apakah kamu mau memberikan tubuhmu untuk ku?" Aldo yang tau jika wanita itu masih bingung langsung bertanya.
Bianca menggeleng dengan cepat. Tidak akan pernah! Dia tidak akan mau memberikan tubuhnya untuk laki-laki yang belum menjadi suaminya! Kecuali kalau dia khilaf hehe.
"Nah itu jawabannya! Kamu itu berharga, Ca. Wanita itu berhak dijaga, bukan malah dirusaki. Kakak kamu sangat menyayangi kamu, sampai-sampai dia sangat menjaga kamu. Kalau kamu hamil di luar nikah, aku pasti bakal tanggung jawab. Tapi coba kamu pikir, apakah semurah itu tubuh kamu sampai-sampai hanya dibayar dengan omongan manis belaka? Nggak, kan? Kamu itu berlian. Sedikit saja rusak, maka harganya pasti akan jatuh. Begitu pun wanita. Sedikit saja rusak, maka pandangan orang-orang akan berubah." Aldo mengelus rambut Bianca dengan penuh kasih sayang.
"Apa aku nggak napsu dekat dengan kamu? Nggak! Aku napsu kok! Cuman nahan diri aja. Bagaimana pun aku juga laki-laki normal. Yang aku inginkan cinta, bukan hanya tubuhmu. Aku sangat-sangat menyayangimu. Dan rasa cinta itu ingin aku tunjukkan dengan menjaga kamu. Kakak kamu sudah mempercayai aku, bahkan dia tidak mempermasalahkan jika kita berciuman, maka sudah tanggung jawabku untuk menjaga kepercayaannya."
Ucapan Aldo tentu membuat Bianca tersentuh. Se sayang itukah laki-laki itu? Kini dia merasa sangat bersyukur pada Tuhan karena sudah dikelilingi oleh orang-orang yang menyayanginya. Ayah, kakak, serta kekasih yang sangat mencintai dan menyanyanginya.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.