
Bianca terus menatap tajam Aldo, yang dengan lancangnya berani meninggalkan dia begitu saja. Sementara Aldo hanya diam, dia menunduk, merasa bersalah dan merasa tidak becus sebagai sekretaris wanita itu.
"Maafkan saya, Nona. Saya tidak bermaksud meninggalkan Anda tadi. Tap —"
"Sudahlah! Aku tau alasannmu. Aku tau kamu sedang kesal, makanya kamu bersikap seperti itu," sahut Bianca yang membuat Aldo kembali bingung. "Tapi, Al! Tolonglah bersikap sedikit laki-laki, jangan tinggikan gengsimu! Penolakkan bukan berarti dia bukan milikmu, kau masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan dia, selagi dia bukan milik orang lain," jelas Bianca memberi pengertian pada laki-laki itu, agar bisa bersikap lebih dewasa lagi.
Aldo hanya mampu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sama sekali tidak paham dengan maksud atasannya itu.
'Kenapa ucapannya harus berputar-putar? Tidak bisakah dia langsung mengatakan intinya saja? Aku bukanlah seorang peramal atau pun cenayang yang tau pemikiran orang lain'
"Sebenarnya apa maksud Anda, Nona?" Akhirnya Aldo memberanikan diri untuk bertanya pertanyaan yang sejak tadi ingin ia tanyakan.
Lagi dan lagi Bianca salah mengartikan pertanyaan laki-laki itu. Dia pikir maksud Aldo adalah, apa maksudnya bersikap baik seperti ini, sementara cintanya sudah ditolak.
"Aku sama sekali tidak bermaksud untuk PHP, Al. Tapi percayalah, cinta itu tidak bisa dipaksakan. Tapi kamu harus lebih berjuang lagi, untuk bisa mendapatkan hati perempuan yang kamu sukai. Jangan pikirkan rasa malu, Al! Berjuanglah!" Bianca mengangkat dua tangannya sambil tersenyum manis, berniat untuk memberi semangat pada laki-laki itu.
'Arggg! Kenapa topiknya selalu tentang cinta? Kenapa jawabannya selalu tidak nyambung? Memangnya siapa perempuan yang aku sukai?' Aldo berteriak di dalam hati, merasa frustasi dengan jawaban yang diberikan bosnya tersebut.
'Ah, sudahlah! Aku tidak akan mau bertanya lagi, karena jawabannya pasti tidak nyambung'
"Baik, Nona. Apakah kita akan langsung kembali ke kantor?" tanya Aldo dengan datar, bahkan sangat datar. Ya wajar saja, mengingat dia sedang kesal dengan bosnya sendiri.
"Memangnya kamu ingin mampir dulu ke suatu tempat?" tanya Bianca balik. 'Hm ... siapa tau dia ingin pergi ke toko bunga, terus membelikan bunga untuk ku' lanjut Bianca, tapi apalah daya, dia hanya mampu melanjutkannya di dalam hati, karena tidak mungkin dia mengatakannya secara langsung, sementara ia adalah wanita mahal, bukan wanita murahan!
"Tidak, Nona. Saya tidak ingin ke mana-mana. Saya hanya ingin segera sampai di kantor, karena pekerjaan saya masih cukup banyak yang belum selesai," jawab Aldo apa adanya.
'Cih ... tidak peka sekali' gerutu Bianca dalam hati.
"Baiklah, aku ingin mampir di toko bunga yang ada di seberang sana. Jadi, tolong berhenti sebenar di sana nanti," ucap Bianca dengan lembut. Tetapi permintaan wanita itu sontak saja membuat Aldo mengerutkan keningnya, sejak kapan wanita itu mau membeli bunga?
'Sejak kapan dia mau membeli bunga? Apakah untuk menghias ruangannya? Tapi itu tidak mungkin! Bukankah dia sendiri yang bilang tidak suka mengurus bunga hidup, karena merepotkan, dan dia malah suka dengan bunga palsu saja. Tapi sekarang ... ah, sudahlah, itu juga bukan urusanku' batin Aldo. Entah kenapa dia justru banyak membatin hari ini, sangat jauh berbeda dengan dirinya yang biasa.
"Baik, Nona." Aldo segera menjalankan mobilnya menuju toko bunga yang ada di seberang sana tanpa mau banyak bertanya lagi.
Tak berselang lama mobil sampai di sebuah toko bunga yang tidak terlalu besar, tetapi cukup banyak menyediakan jenis-jenis bunga.
__ADS_1
"Nona, kita sudah sampai. Tetapi apakah Anda yakin ingin mencari bunga di sini? Toko ini tidak terlalu besar." Aldo sedikit ragu bunga yang diinginkan bosnya ada di toko bunga tersebut.
Bianca melihat ke luar jendela, dan dia dengan jelas melihat bunga yang dia inginkan. "Tentu saja! Bunga yang aku inginkan ada di sini!" jawab Bianca dengan semangat.
"Apakah saya ikut turun atau menunggu di dalam mobil, Nona?"
"Kau tunggu di mobil saja, aku hanya sebentar kok," jawab Bianca dengan lembut.
"Baik, Nona."
Bianca lalu keluar dari dalam mobil, dan masuk ke dalam toko bunga tersebut.
Sementara Aldo hanya diam di dalam mobil, dia mengetuk-ngetukkan jarinya di setir mobil untuk menghilangkan rasa bosan. Tak berselang lama dia melihat bosnya keluar dengan membawa sebuket bunga mawar merah.
Aldo terpaku saat melihat bosnya menghirup aroma bunga itu, dan setelahnya senyum manis mengembang di wajahnya.
"Astaga, kenapa dia sangat cantik saat tersenyum seperti itu?" gumam Aldo yang tidak bisa pungkiri jika Bianca memang wanita yang sangat cantik.
"Astaga, sadar, Al! Kau sangat tidak cocok bersanding dengan Nona Bianca, dan Nona Bianca tidak mungkin tertarik pada sekretarisnya sendiri." Aldo menampar pipinya sendiri untuk menyadarkan dirinya.
"Tidak apa-apa, Nona. Ini memang sudah menjadi tugas saya. Apakah kita langsung ke kantor?" tanya Aldo dengan wajah yang kembali datar dan kaku.
"Iya."
Aldo segera menjalankan mobilnya kembali menuju kantor. Sesekali dirinya melihat wanita yang ada di sampingnya memainkan bunga mawar tersebut, terlihat dengan jelas jika dia menyukainya.
"Apakah kau tau makna bunga mawar ini, Al?" tanya Bianca tiba-tiba.
"Tidak, Nona. Saya hanya tau bagaimana cara membuat laporan saja," jawab Aldo apa adanya.
"Bunga mawar ini digunakan ketika seseorang menyatakan cintanya pada orang yang dia cintai. Biasanya itu akan menambah keromantisan antara kedua belah pihak, dan pemandangannya akan sangat romantis untuk dilihat." Bianca menjawab sendiri pertanyaannya, berniat sedikit menyindir Aldo yang tadi menyatakan cinta dengan cara yang tidak ada romantisnya sama sekali.
Aldo hanya mengangguk tidak peduli, dan hal itu tentu membuat Bianca berdecak kesal. Apakah laki-laki itu tidak bisa peka?
"Kau tau, aku sangat menyukai bunga mawar," celetuk Bianca.
__ADS_1
"Maaf, Nona. Bukankah Anda pernah bilang jika Anda sangat benci dengan bunga hidup? Bahkan Anda mengatakan jika Anda lebih suka dengan bunga palsu saja, karena menurut Anda bunga palsu tidak merepotkan," sahut Aldo.
Skakmat!
Bianca terdiam. Benar! Dia pernah mengatakan itu pada Aldo, bahwa dia tidak menyukai bunga hidup, karena merepotkan untuk merawatnya. Seketika Bianca menjadi sedikit malu, dia baru ingat jika Aldo memiliki ingatan yang sangat baik. "Tidak semuanya kau harus tau tentangku, Al. Sekarang aku sangat menyukai bunga, terlebih lagi bunga mawar."
"Baik, Nona. Sekarang saya sudah tau," ujar Aldo mengangguk mengerti.
Tidak ada lagi percakapan di antara mereka berdua. Bianca yang merasa perjalanannya masih cukup jauh memilih memainkan handphonennya saja, untuk menghilangkan rasa bosan.
"Apakah kamu mau menjadi pacarku?" tanya Bianca tiba-tiba, tetapi pandangannya tidak lepas dari benda pipih tersebut.
Citttttt
TBC
.
.
.
.
__ADS_1