
Sudah tiga hari Bianca tidak masuk kerja, dan selama tiga hari itu juga dia selalu uring-uringan di dalam kamar. Ya, wanita itu terus menangis tidak jelas, sehingga membuatnya sakit akibat terlalu sering menangis.
Baik Bayu mau pun Bryana dibuat pusing dengan tingkah putrinya tersebut. Sebenarnya apa yang terjadi pada putri mereka ini?
Seandainya ada Barrack, mungkin laki-laki itu bisa membujuk adiknya, tetapi sayangnya Damar terpaksa harus kembali ke luar negeri untuk mengurus anak perusahaan miliknya yang sedang bermasalah.
"Bianca, sebenarnya kamu kenapa?" Bayu bertanya pertanyaan yang sama yang kesekian kalinya. Dia dibuat geram dengan tingkah putrinya itu.
"Iya, Ca. Kamu kenapa sih sebenarnya?" Bryana ikut melontarkan pertanyaan yang sama.
"Caca pengen menghilang dari bumi, Pah, Mah! Hacih ...." Bianca menjawab apa adanya. Ya, jawaban itulah yang selalu di dengar oleh mereka, yaitu pengen menghilang dari bumi. Memangnya kenapa? Apa ada yang salah dengan bumi ini?
"Cerita sama Papah, Bianca!" tegas Bayu yang merasa sudah sangat jengkel dengan tingkah putrinya.
Bianca sama sekali tidak takut dengan suara mengerikan ayahnya, padahal biasanya dia selalu dibuat merinding mendengar suara ayahnya tersebut.
"Caca malu, Pah! Hiks ... hiks ...." Bianca kembali menangis histeris.
"Apa kamu yakin tidak akan mau bekerja lagi? Kamu jangan menangis jika Papah benar-benar mengambil alih perusahaan itu, Ca! Papah tidak bercanda!" tekan Bayu. Dia tahu sekali jika putrinya tersebut sangat suka bekerja, bahkan perusahaan yang seharusnya diberikan pada Barrack terpaksa diberikan pada Bianca karena wanita itu terus merengek tidak jelas saat itu. Barrack sendiri yang melihat jika adiknya benar-benar menginginkan perusahaan tersebut, lantas merelakannya, dan memilih untuk merintis usahanya sendiri, hingga kini dia mampu membangun perusahaan, tetapi anehnya, Barrack justru tertarik membangun perusahaan di luar negeri. Menurutnya peluangnya lebih besar dibandingkan di dalam negeri. Hingga sekarang, perusahaannya memiliki banyak cabang, beberapa di antaranya berada di Indonesia.
"Bodo amat! Caca nggak peduli!" teriak Caca dari dalam selimut.
Bayu menghembuskan napas berat, setelah itu diikuti oleh Bryana, wanita paruh baya tersebut ikut menghembuskan napas berat, sudah sangat kelelahan menghadapi putrinya.
"Gimana ini, Pah?" tanya Bryana menatap suaminya.
"Nggak ada jalan lain!" jawab Bayu dengan suara pelan.
Mereka berdua segera keluar dari kamar Bianca, berniat menghubungi seseorang.
Bianca yang menyadari jika kedua orang tuanya sudah pergi, langsung menyibakkan selimut yang membungkus tubuhnya.
__ADS_1
"Huh ... pengap juga pakai selimut!"
Bianca terdiam, perlahan air matanya kembali mengalir dengan deras. "HUA ... GUE UDAH NGGAK SANGGUP HIDUP DI DUNIA!" Bianca memekik, kemudian memukul guling dengan brutal, menyalurkan rasa kesal, malu, dan lain sebagainya.
Sementara di luar kamar, Bayu mulai menekan beberapa angka, lalu menelpon nomor tersebut.
"Halo, Pah?" sahut Barrack dengan suara seraknya, mungkin karena baru bangun. Wajar saja, mengingat waktu di Indonesia berbeda dengan waktu di Amerika. Jika di Jakarta jam menunjukkan pukul 12 siang, maka di Amerika menunjukkan pukul 12 malam. Sementara sekarang menunjukkan pukul dua siang.
"Bar, Papah pusing ngadepin adik kamu!" keluh Bayu langsung.
"Hah? Bianca? Emangnya dia kenapa?" Barrack sama sekali tidak tahu menahu tentang kondisi adiknya itu. Dia memang ada mengirim pesan tiga hari yang lalu, tapi sama sekali tidak dibalas, dan dia pikir adiknya itu memang lagi sibuk.
"Adik kamu udah kayak orang stres aja! Dari semalam dia nangis nggak jelas, dia nggak mau pergi ke kantor, bahkan dia bilang pengen berhenti aja! Dia selalu bilang pengen menghilang dari dunia, dia bilang dia malu, tapi dia nggak mau cerita apa yang sebenarnya terjadi. Papah pusing ngebujuk adik kamu! Kamu bantuin Papah gih." Bayu mulai menceritakan perihal Bianca pada Barrack, dia yakin jika putranya tersebut pasti bisa mengatasinya.
Tidak ada sahutan dari Barrack di seberang sana.
"Bar, kamu masih di sana, kan?" tanya Bayu, memastikan bahwa putraya mendengarkan keluhannya tadi.
"Oke, tolong banget, Bar! Papah kasihan ngeliat adek kamu! Mana matanya bengkak, karena tiga hari berturut-turut nangis mulu!"
"Oke, Pah! Kalau kayak gitu Barra tutup, ya? Barra masih ngantuk banget!" sahut Barrrack dengan suara yang dibuat selemah mungkin.
"He'em ...."
Segera Bayu mematikan panggilan, dia hanya berharap semoga putranya tersebut benar-benar bisa mengatasi masalah Bianca.
"Gimana, Pah?" tanya Bryana penasaran.
"Papah sudah bilang sama Barra. Semoga dia bisa mengatasi masalah Bianca. Papah udah pusing banget ngadepin tuh bocah!" gerutu Bayu yang merasa sudah sangat jengkel dengan tingkah putrinya.
Bryana yang mendengar penuturan suaminya sontak terkekeh. Bahkan suaminya saja sudah kesal sekali, lalu apa kabar dengan dirinya?
__ADS_1
Sementara Barrack yang ada di Amerika termenung mendengar penuturan ayahnya.
"Kenapa tuh anak sampai uring-uringan? Apalagi sampai bilang pengen menghilang dari bumi." Barrack bergumam sendiri, seketika rasa kantuk yang melanda tadi hilang begitu saja.
"Sepertinya Aldo tau kenapa Bianca bersikap seperti itu?" Entah kenapa tiba-tiba orang pertama yang dicurigai Barrack adalah Aldo. Ya tentu saja! Mengingat laki-laki itulah yang selama ini selalu ada untuk Bianca. Setidaknya jika bukan laki-laki itu, dia pasti tahu apa yang terjadi pada adiknya tersebut.
"Sebaiknya aku segera telpon laki-laki itu!" Barrack mulai mencari kontak Aldo, lalu mulai menghubungi laki-laki itu.
********
Aldo uring-uringan di kantor. Dia menatap malas lembaran-lembaran yang ada di depannya. Entah kenapa sekarang dia menjadi malas bekerja, mungkin karena tidak ada orang yang selama ini selalu ada di pikirannya.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Nona Bianca? Kenapa dia sampai tidak masuk selama tiga hari ini?" Aldo menghembuskan napas berat.
Bayu sudah menghubunginya dan meminta tolong padanya untuk mengurus perusahaan untuk sementara waktu, karena Bianca yang kemungkinan tidak dapat hadir selama beberapa hari. Sebanarnya ingin sekali dia menanyakan tantang kondisi wanita itu, menanyakan apa yang terjadi dengan wanita itu. Tetapi sayangnya, gengsinya terlalu besar untuk menanyakan hal itu, sehingga dia hanya berani mengatakan 'siap'
"Kenapa tiga hari terasa berabad-abad?" gumam Aldo, dia bahkan mengabaikan berkas yang ada di genggamannya.
"Astaga, aku benar-benar sangat merindukan wanita cantik itu!" Aldo menjadi frustasi sendiri. Andai dia memiliki foto Bianca, mingkin rasa rindunya bisa sedikit terobati, tetapi sayangnya dia sama sekali tidak memiliki foto wanita itu.
Drttt ... drttt
Tiba-tiba handphonenya bergetar, segera dia angkat setelah melihat nama orang yang menghubunginya tersebut, ternyata Barrack.
"Iya, ada apa, Tuan?" tanya Aldo dengan formal.
"Aldo, apa yang sebenarnya terjadi dengan adikku?" Barrack langsung saja to the point.
Aldo terdiam, merasa bingung dengan pertanyaan kakak bosnya. "Memangnya apa yang terjadi dengan Nona Bianca?" Alih-alih menjawab, Aldo justru melamparkan pertanyaan yang sama, sehingga membuat Barrack berdecak kesal di sana. Berbicara dengan laki-laki seperti Aldo memang memerlukan ekstra kesabaran.
"Kapan terakhir kali kau bertemu dengan Bianca?" tanya Barrack yang mencoba untuk bersabar, padahal tidurnya sudah terganggu seperti ini.
__ADS_1
"Hah? Eum ... tiga hari yang lalu, Tuan!" jawab Aldo jujur.