Kesalahpahaman yang Berujung Cinta

Kesalahpahaman yang Berujung Cinta
Cemburu


__ADS_3

Sudah dua hari Bianca menginap di rumah sakit. Meski sebenarnya dia diperbolehkan untuk pulang, tetapi dokter lebih menyarankannya untuk menginap di rumah sakit sampai air infusnya habis.


Bianca sendiri tidak bisa berkata apa-apa saat keluarganya dengan tegas tidak memperbolehkan dia untuk pulang, bahkan, Aldo sendiri tidak memperbolehkan dia pulang.


Selama dua hari ini juga Aldo lah yang selalu menjaga Bianca. Tetapi meski pun demikian keluarga Bianca tetap sesekali datang menjengukknya.


Bayu tidak bisa sering-sering menjengguk putrinya, karena untuk sementara waktu dia yang mengurus perusahaan selama putrinya itu sakit. Bayu tak tega jika menyuruh Aldo, biarkan saja dia yang menemani putrinya di rumah sakit. Bryana sendiri tidak bisa terlalu sering karena dia juga harus mengurus butiknya yang sedang bermasalah. Sementara Barrack, sebenarnya dia free saja, tetapi dia menyibukkan diri di perusahaannya yang ada di Indonesia, karena ingin memberi waktu kepada Aldo dan Bianca.


"Bosan, Al!" Bianca merengek, apalagi melihat Aldo yang sejak tadi sedang fokus melihat handphone miliknya. Sebenarnya apa yang ada di dalam hendphone laki-laki itu? Jangan-jangan selingkuh.


Aldo menatap Bianca sebentar, lalu kembali fokus menatap layar handphonenya. Saat ini Aldo sedang mempelajari data-data perusahaan yang dikirimkan oleh ayahnya. Dia sudah memutuskan akan mengambil alih perusahaan itu tidak lama lagi. Ya, dia tidak bisa bersanding dengan wanita yang dia cintai jika posisinya hanya sebagai sekretaris, menurutnya sedikit tidak enak didengar.


"Tunggu sebentar lagi, Ca! Lagian air infusnya udah mau habis kok," sahut Aldo yang kini sudah mengubah panggilannya pada Bianca menjadi Caca. Itu semua tentu atas permintaan Bianca sendiri, karena menurutnya Aldo sudah menjadi orang yang special di hidupnya, jadi laki-laki itu boleh memanggilnya dengan panggilan Caca, karena nama itu memang khusus, tidak sembarang orang Bianca perbolehkan memanggilnya dengan panggilan itu.


"Ish, kenapa kamu selalu melihat handphone mulu? Jangan-jangan selingkuh, ya?" tebak Bianca yang kini mulai memicingkan matanya, menatap curiga Aldo.


"Selingkuh? Bagaimana mungkin aku selingkuh sedangkan aku sendiri tidak memiliki kekasih?" Aldo bertanya, dan langsung saja Bianca kesal setengah mati. Saking kesalnya, Bianca langsung tidur membelakangi laki-laki itu, tidak mau melihatnya.


Aldo yang melihat jika wanitanya sedang merajuk sontak terkekeh. Bianca memang memiliki sikap lucu di matanya.


Karena tidak mau membuat wanita itu semakin kesal, Aldo lebih memilih untuk mengalah saja. Dia lalu meletakkan handphonenya di atas meja, lalu bangkit berdiri. Perlahan dia berjalan mendekati Bianca yang sedang membelakanginya tersebut.


"Kenapa? Marah, ya?" tanya Aldo, lalu dengan isengnya dia mencolek punggung wanita itu.


Aldo terkejut saat mendengar isakan kecil dari wanita itu. Apakah Bianca menangis hanya karena masalah tadi? Dengan segera Aldo membalikkan tubuh Bianca agar menghadap dia. Meski pun Bianca berusaha untuk menolak, tetapi dia kalah dengan tenaga laki-laki itu.


"Astaga, kamu kenapa menangis?" Aldo terlihat sangat panik. Ah, apakah dia baru saja melukai hati wanita itu.


Bukannya berhenti, tangis Bianca justru semakin kencang.


"Kamu jahat, Al! Kamu bahkan lebih mementingkan handphonemu dibandingkan aku! Hiks ... hiks ...." Bianca semakin terisak, padahal tadi dia hanya meneteskan air mata. Memang aneh! Ketika ditanyakan pasti tangisnya semakin kencang.


Aldo sempat tertegun mendengarnya, masa hanya karena itu Bianca menangis? Tetapi sedetik kemudian Aldo segera membawa wanita itu ke dalam pelukannya saat mendengar wanita itu yang sesenggukan.


"Maafkan, aku! Aku tak bermaksud mengabaikan kamu! Sebenarnya aku sedang mempelajari data-data perusahaan yang dikirim Papah!" Aldo menjelaskan sambil tangannya terus mengelus-elus punggung Bianca dengan pelan, berusaha menenangkan wanita itu, bahkan Nathan memberikan kecupan di pucuk kepala wanita itu.


"Untuk apa kamu mempelajari data-data perusahaan Papahmu? Hiks ..." tanya Bianca yang masih sesenggukan.


Aldo melepaskan pelukkannya, lalu menangkup kedua pipi Bianca. Aldo bersusah payah untuk tidak tertawa saat melihat mata dan hidung Bianca yang memerah karena menangis.


"Aku akan bilang, tapi kamu harus berhenti menangis, oke?" Kenapa Aldo justru merasa jika yang ada di hadapannya adalah bayi, bukan wanita dewasa?


Bianca mengangguk patuh, dia berusaha untuk menghentikan tangisnya, tapi tetap saja, dia masih sesenggukan sesekali.

__ADS_1


Aldo yang sejak tadi berusaha menahan tawanya kini sudah tidak mampu. Dia langsung tertawa kecil melihat wajah menggemaskan Bianca.


"Kamu jangan ketawa, Al! Hua ... hiks ... hiks ...." Melihat Aldo yang tertawa, tangis Bianca bukannya reda justru semakin nyaring.


"Eh, eh, jangan menangis! Baiklah, aku tidak akan tertawa lagi! Oke aku akan cerita, jadi berhenti menangis, ya!" Bianca kembali mengangguk patuh.


"Aku rencananya akan mengambil alih perusahaan Papah, karena kan cuman aku doang anak mereka. Makanya aku belajar terlebih dahulu, karena rencananya aku akan menikahi kamu jika aku sudah benar-benar mapan. Aku tidak mau menikah kamu dengan status sebagai sekretaris! Tetapi aku ingin menikahimu dengan status sebagai bos juga!" ucap Aldo dengan mantap.


"Ta–tapikan, aku tidak pernah meminta macam-macam padamu! Aku bahkan tidak pernah meminta jika kamu harus mapan dulu baru menikahiku! Aku bukan cewe matre, Al!" Bianca seketika kesal. Dia sama sekali tidak mempermasalahkan tentang harta, karena uang yang dimiliki lebih dari cukup.


"Benar! Kamu memang bukan cewek matre! Tapi kamu nggak akan pernah merasakannya! Rasanya tidak enak jika kita tidak mampu menafkahi istri kita, dan malah mereka sendiri yang menafkahi diri mereka sendiri, atau bahkan suami mereka. Aku tidak ingin seperti itu! Aku ingin menjadi suami yang tetap memberikan kamu nafkah meski pun kamu sendiri memiliki uang lebih dari cukup. Lagian ini memang tugasku untuk mengambil alih perusahaan Papah, karena kalau nggak, ke siapa lagi?" Aldo berkata lembut sambil jari-jarinya yang terus menyeka air mata wanita itu.


Bianca benar-benar tersentuh mendengar pengakuan Aldo. Astaga, ternyata masih ada laki-laki yang memiliki pemikiran seperti itu.


"Lalu, apakah kamu akan resign dari perusahaan?" tanya Bianca, seketika dia menjadi sedih karena kemungkinan akan jarang bertemu dengan Aldo.


"Untuk sementara tidak, karena aku hanya sekedar mempelajarinya, untuk pengalihan perusahaan, mungkin beberapa bulan lagi. Jadi, kamu tenang saja, kita masih punya banyak waktu kok." Aldo yang seakan tau dengan apa yang ada dipikirkan wanita itu langsung memberikan pengertian.


"Yaudah, deh! Ini air infusnya udah habis. Aku mau pulang!" Rupanya sedari tadi mata Bianca melihat infus yang terus meneteskan cairan dengan sangat lambat, sehingga membuatnya kesal. Hingga akhirnya tidak ada lagi tetesan, berarti air infusnya sudah habis.


"Ckk ... jadi sedari tadi kamu memperhatikan itu!" Aldo menyentil kening Bianca dengan pelan. Ternyata wanita itu sedari tadi fokusnya melihat tetesan infus, bukan fokus melihatnya!


Bianca sendiri hanya cengengesan tidak jelas.


"Yaudah, bentar aku panggilkan Dokter!" Aldo segera keluar dari dalam ruangan, berniat memanggil dokter untuk melepaskan selang infus yang melekat di tangan Bianca, sekaligus menanyakan apakah wanita itu benar-benar diperbolehkan untuk pulang.


"Apakah Nona sudah merasakan jauh lebih baik sekarang?" Rangga bertanya sebelum melepaskan jarum infus tersebut.


"Iya! Saya sudah merasa membaik sekarang, bahkan sudah sangat baik. Saya ingin segera pulang, saya bosan terlalu lama berada di rumah sakit ini!" Bianca menggerutu, sehingga membuat Rangga terkekeh, dia merasa lucu saja dengan tingkah dan suara pasiennya tersebut. Benar-benar cocok dengan wajah menggemaskannya. Jadi, ketika wanita itu bergaya imut tidak membuat orang-orang jijik, justru dibuat gemes.


Aldo sedikit jengkel pada Bianca yang banyak berbicara pada orang lain. Dia hanya ingin Bianca banyak berbicara dengan dirinya, bukan dengan orang lain! Dia merasa tidak terima saja.


'Ckk ... kenapa dia harus bersikap menggemaskan seperti itu di depan laki-laki yang dia sendiri tidak tahu!'


Bianca yang tidak sengaja menatap mata Aldo sontak dibuat bingung melihat mulut laki-laki itu yang komat-kamit seperti sedang membaca mantra.


'Apakah dia cemburu?' batin Bianca. Bukannya merasa bersalah, dia justru merasa senang melihat Aldo yang seperti itu, setidaknya laki-laki itu memang memiliki perasaan padanya.


"Buruan Dok! Suami saya udah ngambek tuh! Tadi lupa dibeliin ice cream." Dengan isengnya Bianca menjahili Aldo.


Aldo terkejut bukan main mendengar Bianca yang menyebutnya dengan kata suami. Seriusan? Apa dia tidak salah dengar? Pacaran saja belum, apalagi sampai menikah! Ah, wanita itu ada-ada saja.


Rangga tersenyum ramah pada Aldo, dan hanya dibalas senyuman kaku oleh Aldo. Dengan pelan Rangga melepaskan jarum infus tersebut, lalu membersihkan tangan wanita itu yang sedikit mengeluarkan darah karena jarum infus tersebut yang sudah dicabut.

__ADS_1


"Makasih banyak, Dok!" ucap Bianca sambil tersenyum sopan.


"Sama-sama, Nona. Ini memang sudah menjadi tugas saya," sahut Rangga, kemudian membalas senyum Bianca tersebut.


"Kalau begitu saya pamit. Jika perlu sesuatu, bisa panggil saya saja." Rangga segera pergi setelah mendapat anggukan dari Aldo dan Bianca.


Setelah memastikan dokter tersebut sudah pergi, Aldo langsung menatap Bianca dengan jengkel. "Kenapa kamu banyak bicara sama dia?" ketus Aldo sambil memanyunkan bibirnya.


"Ya kan kita harus ramah sama orang," balas Bianca santai, berniat kembali menjahili laki-laki itu.


"Ckk ... tapi aku tidak suka melihatnya!" ketus Aldo yang semakin memandang Bianca dengan pandangan tidak suka.


"Kenapa? Apa kamu cemburu?" goda Bianca menaik-turunkan alisnya.


"Iya! Aku cemburu! Kenapa?" tantang Aldo.


Bianca terdiam. Dia mengerjab-ngerjabkan matanya lucu. Sedetik kemudian dia tersenyum lebar, hingga akhirnya tertawa kecil.


"Cie ... jadi cemburu nih ceritanya? Cini-cini, biar aku peluk!" Bianca merentangkan tangannya, meminta Aldo untuk memeluknya.


"Tidak! Aku tidak mau memelukmu! Kamu bahkan belum mandi," ejek Aldo yang sontak mendapat pelototan dari Bianca. Ckk ... sekretaris sialan emang!


"ALDO!" Bianca berteriak nyaring. Dia memang belum mandi. Tentu saja karena dia malas, dia tidak suka menyentuh air yang dingin tersebut, padahal dia sama sekali tidak ada salah pada air itu, tetapi anehnya, air tersebut seperti memiliki dendam tersembunyi padanya.


Tawa Aldo sontak pecah di ruangan tersebut, dia benar-benar menikmati kebersamaan ini. Ah, dia bahkan lupa dengan sikap aslinya. Bianca memang sangat pandai merobohkan dinding es tersebut dengan sekejab mata!




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2