
Seminggu sudah berlalu, hubungan Aldo dan Bianca semakin membaik. Mereka selalu menghabiskan waktu bersama, bahkan kini Aldo sudah membucin dengan Bianca. Tidak ada lagi rasa malu, mau pun canggung di antara mereka berdua.
Sebenarnya Aldo ingin sekali mempersunting Bianca menjadi istrinya, karena rumah yang sudah dia bangun telah jadi. Ya, selama ini gaji yang diberikan Bianca cukup banyak, dan dia selalu menabung uang tersebut.
Sejak umur 25 tahun dia sudah membangun rumah sendiri, karena dia berpikir bagaimana pun dia pasti akan menikah nantinya, meski pun dia tidak yakin bisa menjalin hubungan dengan wanita. Tetapi siapa sangka jika dia akhirnya mendapatkan wanita yang sekarang sangat dia cintai, apalagi wanita itu adalah teman kecilnya sendiri. Sungguh, kehidupan ini benar-benar tidak bisa ditebak.
Dia yang awalnya berpikir tidak akan pernah bisa memiliki Bianca, tetapi kini wanita itu sudah menjadi miliknya, lebih tepatnya akan menjadi miliknya dalam waktu dekat ini.
Bianca tidak bisa fokus mengerjakan berkas-berkas yang ada di hadapannya. Pikirannya saat ini sedang memikirkan Aldo, tumben sekali laki-laki itu belum datang jam segini?
"Ckk ... Aldo kemana sih?" Bianca menggerutu, dia sangat kesal, apalagi pesannya hanya dibaca oleh laki-laki itu, sama sekali tidak dibalas.
"Pokoknya gue bakal ngambek kalau dia udah dateng nanti! Apaan coba cuekin gue kayak gini?" Bianca semakin jengkel saat melihat Aldo yang ternyata sedang online, tetapi pesannya malah tak kunjung dibalas.
[Al, kenapa nggak dibalas? Kamu nggak ke kantor?]
Bianca kembali mengirim pesan, berharap Aldo akan membalas pesannya tersebut. Entah kenapa dia menjadi uring-uringan seperti ini.
Bianca melongo saat melihat pesannya yang hanya dibaca saja, setelah itu laki-laki itu offline. Ada apa dengan laki-laki itu? Kenapa malah mengabaikan dia? Memangnya dia ada salah? Tetapi seharusnya jika ada salah, bisa dibicarakan baik-baik, tidak malah mendiami dia seperti ini?
"Emang gue punya salah apa sih?" Bianca frustasi di dalam ruangannya. Dia berusaha mengingat-ingat kembali kesalahan apa yang sudah dia buat sehingga Aldo marah padanya? Tetapi dia tahu betul jika Aldo bukanlah tipe orang yang mudah marah atau pun tersinggung.
"Perasaan seminggu ini gue nggak ada buat salah deh! Iya, gue yakin banget! Tapi kenapa Aldo mengabaikan gue? Lagian kalau gue ada salahkan bisa dibicarakan baik-baik!" Meski pun Bianca sudah berusaha mengingat-ingat kembali, tetapi dia sama sekali tidak menemukan letak kesalahannya.
"Aldo, kenapa kamu seperti ini?" lirih Bianca yang sudah hampir menangis.
**********
"Bagaimana? Apa seperti ini maumu?" tanya Bryana menatap Aldo.
Saat ini Aldo beserta seluruh keluarga Bianca berada di pantai, mereka sedang mendekorasi pantai tersebut menjadi sangat indah. Tidak hanya keluarga Bianca, tetapi di sana juga terdapat keluarga Aldo sendiri.
"Aku ingin di bagian sana ditambahkan balon, Tan!" ucap Aldo menunjuk bagian yang dekat dengan air.
Bryana mengangguk, dia lalu meninggalkan Aldo, berniat memberitahukan pada Barrack agar meniup balon lebih banyak lagi.
"Bar, kata Aldo balonnya ditambah lagi," ucap Bryana pada putrinya.
"Ckk ... ini kenapa tugas Barra malah niup balon sih, Mah? Nggak ada kerjaan yang lebih bagus dikit apa? Niup balon ini capek, lho!" ketus Barrack. Dia sudah sangat lelah meniup puluhan balon dengan berbagai bentuk. Sebenarnya dia heran, kenapa tidak membali alat untuk meniup balon saja? Kenapa malah menyiksanya seperti ini? Apakah dia memang tidak layak untuk bahagia? Mana jomblo lagi!
"Udah, jangan banyak omong! Masa cuman niup gitu aja nggak mau! Kamu jangan jadi orang pemalas!" sahut Bryana dengan ketus.
Aldo merasa ter-dzolimi, sebenarnya dia anak mereka atau bukan sih? Kenapa mereka tidak memiliki rasa belah kasihan sedikit pun padanya?
Dengan penuh keterpaksaan Barrack meniup lagi balon-balon yang ada di hadapannya. Biarkan saja, biar sekalian dia mati kehabisan oksigen, agar orang tuanya puas!
Bayu dan Andi yang melihat Barrack hanya bisa pasrah tentu terkekeh, apalagi melihat wajah Barrack yang seperti di anak tirikan oleh Bryana.
"Tidak disangka, ya. Ternyata usaha kita selama ini membuahkan hasil," ucap Bayu pada sahabat semasa SMA-nya dulu.
__ADS_1
"Iya, jujur gue kaget pas tahu Aldo dan Bianca ternyata saling suka, dan gue lebih kaget pas dia bilang sama gue dan Nana kalau dia akan melamar Bianca!" Andi mengiyakan ucapan Bayu. Mereka benar-benar tidak menyangka jika usaha mereka selama ini membuahkan hasil, padahal meraka sudah pasrah saja jika Aldo dan Bianca memang tidak bersatu, mungkin bukan jodoh.
FLASH BACK
Saat ini Andi dan Sophia sedang duduk di ruang tamu, karena itu adalah rutinitas mereka sesudah makan malam. Ya, karena memang tidak baik jika sehabis makan langsung tidur.
Tiba-tiba Aldo datang menghampiri mereka, dan langsung menatap kedua orang tuanya dengan serius.
"Pah, Mah, Aldo ingin membicarakan sesuatu! Aldo pengen minta ijin," ucap Aldo tanpa basi-basi.
Kening Andi dan Sophia mengerut, tidak biasanya putra mereka itu meminta ijin, seperti bukan Aldo banget.
"Minta ijin apa? Kamu mau minta ijin beli martabak? Yaudah beli aja!" sahut Andi dengan santai.
"Aldo pengen ngelamar Bianca!" ucap Aldo dengan mantap.
Uhuk uhukk
Andi tersedak salivanya sendiri saat mendengar penuturan putranya. Apakah telingganya tidak bermasalah? Tadi Aldo mengatakan ingin melamar Bianca, kan?
"Kamu jangan becanda, Al!" tegur Andi. Andi sudah tahu jika hubungan putranya berjalan baik dengan Bianca. Itu semua dia dengar dari Bayu, sahabat SMA-nya dulu, yang kini menjadi ayah dari Bianca. Tapi, dia tidak menyangka jika putranya secepat itu ingin melamar Bianca. Memangnya sudah sejauh apa hubungan mereka? Pacaran saja belum.
"Tidak! Aldo tidak bercanda! Aldo ingin melamar Bianca tepat di hari ulang tahunnya nanti!" balas Aldo tanpa keraguan sedikit pun.
"Tapi ....?" Seketika Sophia ikut bingung. Bukannya dia tidak senang, tetapi menurutnya pernikahan itu bukanlah ajang tempat bermain. Jadi, jangan sembarangan ingin menikah, jika faktanya belum siap.
"Karena aku sudah sangat mencintainya! Aku sudah jatuh cinta pada Bianca tidak sebulan atau pun dua bulan, tetapi sejak kecil," jawab Aldo yang sontak membuat Andi dan Sophia bingung. Sejak kecil? Yang benar saja! Aldo bertemu dengan Bianca baru beberapa tahun saja.
"Sejak kecil? Bagaimana mungkin? Kau bertemu dengan Bianca saja baru dari tiga tahun yang lalu!" ketus Andi yang mengira jika putranya tersebut sedang bercanda.
"Tidak! Aku mengenal Bianca sejak kecil! Bianca adalah teman pertamaku sewaktu kecil. Dia adalah Lala!" ucap Aldo.
"Lala? Sepertinya Mamah kenal deh. Oh ... Lala teman kamu yang pendek itu? Yang sempat Mamah foto?" Sophia terlihat terkejut mendengar fakta baru itu. Dia memang mengenal teman Aldo sewaktu kecil itu. Lala, gadis kecil yang sangat cantik menurutnya.
"Iya! Lala adalah Bianca Lalitha Grissham! Gadis kecil yang sangat berarti di hidupku sewaktu kecil!" Aldo mengiyakan pertanyaan Sophia.
Andi yang sejak tadi hanya menjadi pendengar sontak tersenyum. Ternyata mereka memang sudah berjodoh sejak kecil. Benar kata orang, jodoh memang tidak akan kemana-mana.
"Apa kau yakin jika yang kau rasakan itu cinta? Bisa saja kan itu hanya perasaan kagum?" Andi kembali menanyakan tentang perasaan Aldo. Dia ingin menyakinkan jika perasaan putranya itu benar-benar perasaan cinta, bukan kagum semata.
"Tidak! Aku yakin 100 persen jika ini adalah perasaan cinta."
"Baiklah, memangnya kapan ulang tahun Bianca?" Andi mengalah, dia percaya pada putranya tersebut. Dia juga dapat melihat ketulusan dan kesungguhan Aldo.
"Besok," jawab Aldo singkat.
"Hah? Kau gila? Bagaimana mungkin kau baru memberitahukannya sekarang? Satu hari tidak akan cukup untuk mempersiapkannya, Aldo! Belum lagi mempersiapkan bahan-bahan untuk dekorasi!" Andi memekik. Astaga, bagaimana mungkin putranya baru memberitahukannya sekarang? Belum lagi membeli hiasan untuk mendekorasi dan lain sebagainya.
"Aku sudah menyiapkan semuanya. Aku sudah membeli apa saja yang diperlukan, dan aku juga sudah mempersiapkan tempatnya. Bahkan aku sudah memberitahukan ini pada keluarga Bianca," sahut Aldo yang sontak saja membuat Andi melongo. Jadi, meraka yang terakhir?
__ADS_1
"Ckk ... untung anak kandung. Yaudah, lakukan sesukamu! Tapi kau ingat, jika kau sampai melukai Bianca, maka ku pastikan akan menedangmu ke laut!"
FLASH BACK OFF
"Mungkin mereka berdua memang sudah berjodoh," celetuk Bayu sambil terkekeh.
Aldo terus memperhatikan sekeliling pantai tersebut. Memastikan jika semuanya sempurna, tanpa ada yang terlewatkan. Dia ingin membuat acara lamaran ini begitu mewah dan romantis, karena melamar wanita yang dia cintai harus lah romantis, karena ini tidak dilakukan setiap hari, tetapi hanya sekali seumur hidup.
"Aku ingin kalian susun kursinya agar lebih rapi!" perintah Aldo pada beberapa laki-laki yang bertugas membantu mendekorasi.
Aldo memang akan melamar Bianca, tetapi lamaran kali ini dilakukan di depan banyak orang, dan ditonton oleh seluruh karyawan yang bekerja di perusahaan Bianca. Aldo memang sudah mengumumkan pada seluruh karyawan tentang rencananya, dan dia juga sudah mengatakan untuk tidak memberitahukan perihal itu pada Bianca.
"Baik, Pak!"
Aldo kembali memeriksa ke suluruh bagian. Dia tidak ingin ada yang salah di dekorasi tersebut.
Tringgg ....
Tiba-tiba handphonenya berdering, pertanda ada pesan masuk. Aldo membuka handphonenya, dan ternyata Bianca lah yang mengirim pesan padanya.
[Al, kenapa nggak dibalas? Kamu nggak ke kantor?]
Aldo tersenyum tipis membaca pesan yang dikirim Bianca. Dia yakin jika wanita itu pasti sedang uring-uringan di dalam kantor.
"Maafkan aku karena tidak membalas pesanmu." Aldo bergumam, sebenarnya dia merasa sedikit bersalah karena tidak membalas pesan wanita itu, tetapi dia sengaja ingin membuat wanita itu kesal dan mungkin menangis.
Aldo memilih untuk offline, lalu menyimpan handphonenya kembali ke dalam saku celana. Mungkin dia akan ke kantor setelah selesai mendekorasi, sekaligus memberikan surat pengunduran diri kepada Bianca. Ya, dia memilih untuk mengundurkan diri, dan akan mengambil alih perusahaan ayahnya. Semakin cepat, semakin baik!
TBC
.
.
.
.
__ADS_1