
Pov Aldo.
Setelah mengantarkan Bianca, Aldo segera pulang ke rumahnya. Rasanya badannya remuk semua. Wajar saja, mengingat akhir-akhir ini dia sangat sibuk, pagi bekerja, sore mengajari bosnya latihan bela diri, dan malamnya dia kadang tidak bisa tidur, karena terbayang-bayang wajah cantik Bianca, bahkan saat membuka mata dan menatap langit-langit kamarnya, dia kembali melihat wajah bosnya yang sedang tersenyum manis.
Saat mengendari mobil, tanpa sadar Aldo tersenyum tipis saat mengingat dirinya yang berpelukan dengan bosnya sendiri.
"Sangat nyaman," gumam Aldo tanpa sadar.
"Astaga, apa yang sebenarnya terjadi denganku?" Setelah sadar sepenuhnya, Aldo menggeleng kepalanya.
"Baiklah, lebih baik aku tanyakan saja perihal ini pada mereka nanti." Mereka yang dimaksud adalah orang tuanya.
Tak berselang lama mobil tiba di rumah besar nan megah berwarna putih. Aldo segera turun, lalu berjalan santai masuk ke dalam rumah dengan ekspresi wajah yang datar.
"Assalamualaikum," ucap Aldo begitu masuk ke dalam rumah.
"Wa'alaikumsalam," jawab Andi dan Sophia bersamaan. Rupanya sepasang suami istri itu sedang bermesraan di ruang tamu, bahkan terlihat sangat jelas jika Andi sedang bermanja-manjaan dengan istrinya.
Aldo memutar matanya malas, rasanya ia mual melihat meraka yang tak tahu tempat, dan tak ingat umur. Tetapi meskipun demikian, tentu saja ia muak karena dia iri dengan mereka. Dia juga ingin bermanja-manjaan dengan wanita, tetapi mau bagaimana lagi? Memang seperti inilah nasib seorang jomblo.
"Eum ... tayang deh tama kamu." Andi menggesek-gesekkan kepalanya di ceruk leher istrinya, menghirup aroma mawar dari tubuh Sophia.
Andi tentu sengaja melakukannya, dia hanya berniat mengejek putra dinginnya tersebut. Sangat aneh! Padahal dia sendiri adalah laki-laki yang humoris, tetapi entah kenapa Aldo justru sebaliknya.
"Kenapa kalian bertingkah seperti anak ABG saja?" tanya Aldo dengan malas.
"Eum ... karena aku tidak dingin dan tidak datar," kekeh Andi, yang dibalas hembusan napas kasar dari Aldo.
"Udah deh, Mas! Jangan kayak anak-anak aja!" Sophia justru malu dengan tingkah suaminya tersebut.
"Ishh nggak apa-apa, yang penting 'kan tayang." Bukannya menuruti, Andi justru semakin mengeratkan pelukannya.
"Cih ... tunggu saja jika aku sudah memiliki kekasih nanti," gumam Aldo, yang ternyata dapat didengar oleh Andi.
"Apa? Aku tidak salah dengar, 'kan? Memangnya wanita mana yang mau dengan mu?" ejek Andi dengan wajah yang sangat menjengkelkan menurut Aldo.
"Ckk ... orang tua macam apa kalian!" Setelah mengatakan itu, Aldo segera menaiki tangga menuju kamarnya.
Tawa Andi sontak pecah mendengar ucapan putra semata wayangnya. Jujur saja, dia sangat suka menjahili putranya tersebut, yang entah menurun dari siapa sifat datarnya tersebut.
Aldo langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur, merasa sangat lelah seharian ini.
"Gerah sekali! Lebih baik aku mandi saja," gumam Aldo, lalu segera bangkit dan berjalan memasuki kamar mandi.
Baru saja Aldo membuka bajunya, dan berniat memasukan ke dalam tempat pakaian kotor, dia langsung teringat dengan kejadian yang baru saja terjadi tadi sore. Rasanya dia tidak rela mencuci pakaian bekas pelukan wanita itu, bahkan dia rasanya tidak ingin membersihkan dirinya.
__ADS_1
"Sayang sekali jika pakaian ini dicuci," gumam Aldo yang justru memeluk bajunya tersebut.
Tanpa sadar Aldo menghirup aroma bajunya, bau keringat dan bekas parfum Bianca masih melekat di bajunya.
"Astaga, bagaimana mungkin dia dengan mudahnya memeluk seorang pria? Apakah dia memang sudah biasa memeluk laki-laki?" Entah kenapa Aldo justru jengkel, dia takutnya bosnya itu memang sudah biasa memeluk laki-laki.
"Hm ... sebaiknya baju ini tidak usah dicuci saja," gumam Aldo yang semakin mengeratkan pelukan pada bajunya tersebut.
Aldo melipat bajunya tersebut, lalu meletakkan di atas kasur, dia sangat tidak rela baju tersebut dicuci, karena aroma parfum wanita itu pasti akan hilang.
Segera Aldo membersihkan dirinya.
*******
Aldo turun ke bawah untuk makan malam, pandangannya terus saja datar, sama sekali tidak memperlihatkan senyumnya meski pun pada orang tuanya.
"Aduh ... duh ... anak datar ku sudah datang," ejek Andi yang justru merasa lucu dengan raut wajah putranya.
Aldo hanya memutar matanya malas, memilih untuk tidak menjawabnya saja, sungguh ayahnya memang sangat menyebalkan.
"Sudah deh, Mas! Kamu suka banget ngejahilin anak kamu sendiri!" tegur Sophia yang sudah jengah dengan tingkah suaminya yang sangat suka sekali menjahili putranya sendiri.
"Emang anak aku, ya? Kok nggak mirip?" tanya Andi yang justru membuat Sohpia yang panas.
"E—eh, nggak gitu sayang." Andi justru kelabakan melihat wajah garang istrinya.
"Makan atau tidak?" tanya Aldo dengan suara datar.
"Ckk ... yaiyalah! Memangnya putra tersayangku pengen mati?" ketus Andi, tetapi tetap saja ada nada mengejeknya.
Aldo mengabaikan ucapan ayahnya, dia segera mengambil nasi serta lauk untuknya. Setelah berdoa, segera dia menyantap makanannya tanpa memperdulikan tatapan kedua orang tuanya.
"Untuk anak kandung, kalau bukan, udah aku bawa ke bulan," gumam Andi dengan suara pelan, tetapi masih bisa didengar oleh Aldo. Aldo mengangkat bahunya acuh, dia sama sekali tidak peduli, karena sekarang yang sangat penting adalah kondisi perutnya saja.
Selesai makan malam, Aldo tetap diam di tempat duduknya, tidak seperti biasanya yang akan langsung pamit ke kamar.
"Kenapa kau masih di sini? Pengen minta duit buat jajan?" tanya Andi dengan sedikit ketus, karena biasanya dia akan bermanja-manjaan dengan istrinya setelah putranya pergi.
"Seperti apa ciri orang yang sedang jatuh cinta?" tanya Aldo to the point.
Andi yang sedang minum seketika menyemburkan air yang ada di mulutnya saat mendengar pertanyaan putranya. Tidak jauh berbeda dengan Andi, Sohpia juga tak kalah terkejutnya, dia bahkan hampir dibuat jantungan dengan pertanyaan tersebut.
"Kenapa? Apa ada yang salah dengan pertanyaanku?" tanya Aldo yang merasa heran dengan respon yang diberikan orang tuanya.
"Kau waras, Al?" Pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Andi. Apakah ini mungkin? Apakah putranya sedang jatuh cinta?
__ADS_1
"Kenapa? Aku hanya bertanya bagaimana ciri orang yang sedang jatuh cinta."
Sohpia tersenyum sendiri, sepertinya putranya sedang kasmaran sekarang, kamudian dia dengan semangat mengangguk. "Seseorang yang jatuh cinta itu akan terus terbayang-bayang wajah orang tersebut, dia akan tanpa sadar tersenyum sendiri, dan bertingkah seperti bukan dirinya yang sebelumnya. Tetapi yang paling nyata adalah, ketika kamu berdebar saat berada di dekat orang tersebut, dan yang pastinya akan salah tingkah." Sophia menjelaskan dengan lembut, dan dibalas anggukan oleh Aldo.
"Apakah ini perasaan cinta?" gumam Aldo, yang masih dapat didengar oleh kedua orang tuanya.
"Apa? Kau serius sedang jatuh cinta, Al?" Andi tentu tidak bisa menutupi rasa terkejutnya.
"Seriusan? Dengan siapa? Apakah kau suka dengan Bianca?" Seketika Sophia ikut menjadi kepo juga. Kenapa dia malah menyebutkan nama Bianca? Tentu saja! Karena dia tidak pernah melihat putranya bersama wanita lain selain Bianca.
"Tentu tidak!" sangkal Aldo dengan cepat.
'Bagaimana mereka bisa tau?' Aldo tentu bertanya-tanya di dalam hati.
"Kalau begitu aku pamit ke kamar." Tanpa basa-basi Aldo segera pergi meninggalkan orang tuanya yang saling pandang.
Aldo merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk miliknya, kemudian menatap langit-langit kamarnya, lantas bergumam, "Apa iya aku jatuh cinta pada bosku sendiri? Argh Aldo! Bagaimana mungkin kau bisa jatuh cinta pada bosmu sendiri!" Aldo berteriak sambil menutup wajahnya menggunakan bantal.
Tiba-tiba Aldo terbayang saat dia menyatakan cinta pada bosnya sendiri, dan ternyata ditolak mentah-mentah karena derajat mereka yang berbeda. Aldo menggeleng kepalanya dengan kuat. Tidak! Dirinya tidak boleh jatuh cinta pada Bianca.
Tapi, akankah dia sanggup, sementara dia selalu bersama wanita itu?
Apakah dia bisa membuang perasaannya sementara tingkah menggemaskan bosnya membuat dia justru semakin tertarik pada wanita itu?
TBC
.
.
.
.
__ADS_1