
"Aku mencintaimu, apakah kamu bersedia menjadi kekasihku? Maaf, tapi aku perlu kepastian. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia. Tolong, tolong berikan aku kesempatan sekali saja. Setidaknya ijinkan aku untuk menunjukkan padamu kalau aku benar-benar sayang denganmu."
"Iya!"
Meski cara Aldo menyatakan cinta tidak ada romantis sama sekali, tetapi mendengar suara lembut laki-laki itu, tanpa sadar Bianca mengatakan 'iya'.
Tidak bisa dipungkiri, jika dia merasa baper dengan pernyataan cinta laki-laki itu. Tetapi, kenapa Aldo sama sekali tidak berniat menyatakan cinta dengan cara yang romantis sedikit, di taman atau restoran mungkin?
Tetapi meski pun demikian, dia tetap merasa baper saja. Ah, bolehkah jika dia memeluk laki-laki itu sekarang. Rasanya ingin sekali dia bermanja-manja dengan Aldo, karena usahanya akhirnya membuahkan hasil juga. Aldo akhirnya memahami apa yang sebenarnya diingini oleh wanita.
"Eum ... aku ijin sebentar, ya. A–aku lupa membeli sesuatu tadi." Karena merasa gugup, Bianca segera pergi meninggalkan Aldo sendirian di sana. Entah kenapa dia merasa sangat gugup sekaligus malu untuk bertemu dengan laki-laki itu sekarang.
Tidak mendapat jawaban dari Aldo, Bianca segera pergi. Mungkin Aldo sedang gugup juga! Pikir Bianca.
*********
Melihat Bianca yang sudah pergi membeli air, Aldo duduk diam saja di kursi taman tersebut. Pandangannya selalu saja datar!
"Pagi, Kak." Seorang perempuan dengan centilnya menyapa Aldo sambil mengedipkan sebelah matanya. Ya, mungkin saja dia berharap bisa mendapatkan laki-laki itu.
Bukannya menjawab, Aldo justru hanya diam, pandangannya semakin datar, sehingga membuat perempuan tadi salah tingkah. Tanpa basa-basi dia segera pergi dari sana, padahal dia berharap laki-laki itu balik menyapanya, lalu dia akan minta nomor teleponnya. Tapi ternyata gagal!
Melihat gadis tadi sudah pergi, Aldo langsung berdecak kesal.
"Ckk ... di mana harga diri seorang perempuan! Gadis itu sangat kecentilan!" Aldo memandang kepergian gadis tadi dengan jengkel. Sungguh, dia paling benci dengan perempuan yang kecentilan, apalagi dia melihat sangat jelas jika gadis tadi berniat menggodanya. Cih ...
Karena merasa jengkel, Aldo lantas mengeluarkan earphone tanpa tali miliknya, lalu menghidupkan bluetooth, berniat mendengarkan musik saja selagi menunggu Binaca, karena tidak mungkin dia pergi begitu saja meninggalkan wanita itu, pasti dia akan dicap sebagai sekretaris yang tidak memiliki sopan sontun!
Baru saja memutar lagu, tiba-tiba handphonenya bergetar, dan terpampang nama Angga, teman yang dulu pernah meminta saran bagaimana cara menyatakan cinta pada perempuan, padahal Angga sendiri tau jika dia tidak pernah berhubungan dengan wanita mana pun.
Dengan malas Aldo lalu mengangkat panggilan tersebut.
"Halo?"
"He'em?" Aldo hanya berdehem saja, sama sekali tidak berniat menyapa balik temannya tersebut. Saat ini Aldo memang sedang bertelponan dengan sahabatnya dengan earphone yang masih melekat di telingganya.
"Ckk ... kau tau, aku sudah menuruti caramu semalam. Aku sudah mengatakan aku menyukaimu. Apakah kamu mau menjadi pacarku? Tetapi apa? Cinta aing malah digantung, woy! Dia nggak ada ngasih kepastian! Gue udah nunggu lama, sampai-sampai gue udah frustasi! Gue harus gimana Aldo sayang? Hu-hu-hu ...." Angga terus nyerocos di seberang sana, kemudian menangis lebai, dan menurut Aldo itu sedikit berlebihan! Mengingat dia seorang laki-laki.
Hais, mendengar temannya yang ditolak seketika membuat Aldo membayangkan bagaimana jadinya jika dia menyatakan cinta pada Bianca, bosnya sendiri. Apakah cintanya juga akan digantung seperti Angga? Atau justru wanita itu akan menolaknya secara mentah-mentah? Mengingat dia hanyalah sekretaris Bianca saja. Seketika Aldo menjadi merinding membayanginya.
"Eh! Abang dengar nggak sih curhatan dari Adek yang ganteng ini?"
__ADS_1
"He'em ... lalu lo mau apa?" Aldo bertanya dengan malas. Dia tidak terlalu suka dengan sifat Angga yang kekanak-kanakkan, padahal umur laki-laki itu sudah 29 tahun!
"Hiks ... hiks .... Babang Aldo tolong kasih Adek saran lagi gimana cara supaya cinta Adek nggak digantungin mulu. Adek lelah, Bang! Adek nggak sanggup terlalu lama menjomblo seperti Abang!" Angga kembali bergaya lebai.
Mendengar temannya yang meminta saran, entah kenapa malah membuat Aldo membayangkan dia yang berada di posisi laki-laki itu, dan perempuannya adalah Bianca.
"Aku mencintaimu, apakah kamu bersedia menjadi kekasihku? Maaf, tapi aku perlu kepastian. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia. Tolong, tolong berikan aku kesempatan sekali saja. Setidaknya ijinkan aku untuk menunjukkan padamu kalau aku benar-benar sayang denganmu." Kata-kata manis itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Aldo, bahkan suaranya terdengar sangat merdu, tidak seperti biasanya! Ya, itu semua karena yang dia bayangkan adalah Bianca.
Angga yang mendengarnya di sana terdiam, begitu pun Aldo, dia sempat terdiam sebentar, membayangkan tempat yang romantis bersama Bianca, wanita yang sudah memperondak-porandakan pikirannya akhir-akhir ini.
"Lo nembak gue?" Setelah beberapa menit diam, Angga bertanya pertanyaan yang konyol.
"Lo gila!" Tanpa sadar Aldo justru berteriak. "Maksud gue, coba lo ngomong begitu ke cewek yang lo suka." Gila saja jika dirinya menyukai Angga, memangnya dia guy apa?
"Oh, begitu kah. Oke, gue bakal coba ngomong kayak gitu ke dia. Kalau misalnya gue diterima, gue bakal traktir lo sepuas-puasnya, tapi kalau gue ditolak, gue bakal ngamuk ke lo!" celoteh Angga.
"He'em ...." Tanpa basa-basi Aldo segera mematikan panggilan tersebut, karena merasa sudah tidak ada yang penting lagi. Dapat dipastikan jika Angga sedang mengumpat dia habis-habisan, mungkin tidak terhitung jumlah hewan yang sedang dia sebutkan untuk dirinya. Tetapi, bodo amat!
Aldo melihat jam yang ada di pergelangan tangannya. Sudah sekitar tiga puluh menit Bianca pergi, tetapi tidak ada tanda-tanda akan kembali.
"Kenapa dia lama sekali?" Aldo bergumam.
"Astaga!" Aldo semakin dibuat frustasi saat tidak mendapatkan keberadaan Bianca. Ah, apakah dia pulang saja sekarang, lalu menghubungi wanita itu bahwa dia sudah pulang? Sepertinya itu bukan cara yang baik.
*******
Sementara Bianca yang tidak tahu hendak pergi ke mana sontak saja berjalan mendekati kedai ice cream saat tidak sengaja matanya melihat gerobak ice cream tersebut.
Baru saja Bianca menerima dua cup ice cream, tiba-tiba ada seorang anak kecil yang terlihat sangat imut sedang menarik-narik bajunya.
"Eh ... halo gadis manis. Ada apa?" Bianca bertanya dengan lembut setelah menerima dua cup ice cream ukuran sedang tersebut.
"Au Ice cleam dong Tante!" Gadis kecil itu terlihat sangat antusias menunjuk ice cream yang ada di genggaman Bianca.
Entah kenapa Bianca sedikit jengkel mendengar bocah tersebut memanggilnya dengan panggilan tante. "Kamu mau ini?" tanya Bianca yang dibalas anggukan antusias oleh gadis kecil tersebut. "Karena kamu cantik, jadi Kakak bakal ngasih ice cream-nya untuk kamu!" Bianca lalu menyerahkan satu cup ice cream tersebut pada gadis kecil yang ada di depannya.
"Acih Tante." Tanpa basa-basi bocah tersebut melahap ice cream yang diberikan Bianca. Bianca yang melihatnya tersenyum. Ah, andai dia juga memiliki seorang anak kecil secantik itu.
Tiba-tiba terlihat seorang wanita yang masih terlihat muda berlari menghampiri gadis kecil tersebut. "Aduh Mora, kamu kenapa asal pergi aja!" tegur wanita yang diperkirakan Bianca ibu dari gadis kecil tersebut.
"Aku au ice cleam Mamah!" celoteh gadis itu dengan wajah yang belepotan.
__ADS_1
Seketika wanita itu menatap Bianca. Bianca tersenyum lembut yang dibalas sanyuman lembut pula oleh wanita itu.
"Makasih ya Mba untuk ice creamnya," ucapnya dengan ramah.
"Sama-sama, Mba." Bianca berkata dengan senyum tipis.
"Yaudah, ayok kita pergi sayang." Wanita itu lalu mengendong gadis kecil yang kalau tidak salah bernama Mora tersebut.
"Assalamualaikum, Mba."
"Wa'alaikumsalam," balas Bianca.
"Dadah Tante cantik!" Mora melambaikan tangannya.
"Dadah gadis manis!"
Setelah melihat mereka sudah pergi, Bianca tiba-tiba tersenyum tidak jelas. "Ah, andai aku dan Aldo punya anak, aku yakin pasti anak kami akan sangat cantik!" gumam Bianca.
'Ya, setidaknya jalanin aja dulu masa pacaran ini'
TBC
.
.
.
.
__ADS_1