
Jam menunjukkan pukul enam, dan Bianca sudah siap dengan pakaian lengkapnya. Kali ini tidak mungkin dia salah lagi, karena jelas-jelas kini dia dan Aldo sudah resmi pacaran, dan malam ini juga dia akan minta kejelasan dari Aldo tentang hubungan mereka ini.
"Lo emang cantik banget, Ca!" puji Bianca pada dirinya sendiri saat berdiri di depan cermin.
Kali ini Bianca tidak menggunakan dress, tetapi menggunakan rok selatut yang dipadukan dengan baju lengan panjang, sehingga menambah keimutannya.
"Argg ... gue nggak sabar nunggu jam tujuh." Bianca berteriak, dia benar-benar tidak sabar menunggu, hingga terus memperhatikan jarum jam yang bergerak sangat lambat menurutnya. Bagaimana tidak? Rasanya dia sudah lama berdiri, tetapi jarum jam tersebut hanya bergerak ke angka selanjutnya. Ya, bisa dibilang hanya bergerak satu menit saja, padahal dia sudah tidak sabar bertemu dengan pujaan hatinya.
[Jangan lupa jam 7 ya, By!]
Ini adalah kali pertamanya Bianca mengirim pesan lebih dahulu pada kekasihnya. Bahkan dia dengan berani mengetik By, seperti yang sering digunakan oleh anak-anak muda jaman sekarang. Ah, bagaimana mungkin dia yang sudah berumur 27 tahun, malah baru merasakan yang namanya kasmaran?
**********
Jam menunjukkan pukul 18:15
Aldo terbangun, dia mengucek-ngucek matanya, kemudian mengambil handphone yang berada di sampingnya.
"Ternyata sudah jam enam," gumam Aldo.
Aldo menyalakan data selulernya, dan begitu data hidup, terdapat pesan dari Bianca.
[Jangan lupa jam 7 ya, By!]
"Astaga! Bagaimana mungkin aku lupa jika sudah berjanji dengan Nona Bianca?" Aldo menjadi panik sendiri, dia bahkan tidak memperhatikan nama panggilan yang diberikan bosnya tersebut. Segera dia masuk ke dalam kamar mandi, dan lekas-lekas membersihkan dirinya. Mungkin ini adalah mandi tercepatnya selama hidup.
"Aduh, aku pasti disemprot oleh Nona Bianca nanti." Aldo semakin panik saat melihat jam sudah menunjukkan pukul 18:30.
Aldo bahkan tidak memperhatikan penampilannya sekarang. Yang ada di pikirannya saat ini hanya harus datang tepat waktu, sehingga tidak dicap sebagai sekretaris yang lalai dan tidak menghargai waktu.
Kali ini Aldo hanya berpakaian biasa saja. Baju santai yang dipadukan dengan celana jeans, sehingga membuatnya seperti anak muda saja, padahal umurnya sudah hampir 30 tahun.
Segera Aldo menyambar kunci mobil setelah menyemprotkan parfum miliknya.
"Kau hendak kemana?" tanya Andi saat melihat putranya yang terburu-buru.
"Aldo buru-buru, Pah! Ada janji sama teman," jawab Aldo tanpa menghentikan langkahnya. Andi sendiri hanya mangut-mangut saja mendengarnya. Jujur dia sedikit khawatir pada putra semata wayangnya tersebut. Seharusnya di umur Aldo yang sudah hampir menginjak kepala tiga, dia sudah memiliki seorang istri, tetapi lihatlah ... dia bahkan tidak memiliki kekasih. Pernah terbersit di pikiran Andi untuk menjodohkan putranya dengan Bianca, tetapi dia tidak berani, dia tahu betul jika Bayu tidak akan pernah mau menjodoh-jodohkan anaknya, pria itu ingin anak-anaknya mendapatkan jodohnya sendiri tanpa melewati perjodohan. Andi juga pernah berpikir akan menjodohkan Aldo dengan putri temannya, tetapi dia tidak tega, mengingat sifat Aldo benar-benar datar, dingin, dan kaku. Dia takutnya perempuan itu justru tersiksa hidup dengan putranya tersebut.
Aldo segera menyalakan mobilnya, lalu tanpa basa-basi segera melajukannya menuju kediaman Grissham. Astaga, bahkan jam sudah menunjukkan pukul 18:50, sudah dapat dipastikan dia akan telat. Entah alasan apa yang akan dia berikan pada wanita itu nanti.
Akhirnya mobil Aldo sampai di kediaman keluarga Grissham jam 19:07. Dia terlambat tujuh menit! Ini adalah kali pertamanya dia terlambat, karena biasanya dia selalu tepat waktu jika sudah berjanji.
Begitu dia menutup pintu mobil, dia sudah melihat Bianca yang berdiri di depan pintu dengan style-nya yang seperti anak remaja. Aldo sedikit terkejut saat melihat baju mereka yang sama berwarna putih, padahal mereka sama sekali tidak ada merencanakannya.
'Astaga, kenapa bisa couple kayak gini?' Aldo sedikit meringis, ada sedikit rasa malu di benaknya karena baju yang mereka gunakan sama warnanya.
***********
__ADS_1
"Kenapa Aldo sangat lama?" gerutu Bianca saat melihat jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan sudah lewat jam 18:00!
Seketika Bianca berpikir negatif. Apakah Aldo lupa? Apakah laki-laki itu hanya mempermainkan dia selama ini? Atau mungkin laki-laki kembali malu lagi, dan takut bertemu dengannya?
"Astaga, Aldo! Kau jangan mempermainkan aku seperti ini! Percuma dong ilmu yang sudah aku berikan padamu selama ini!" Bianca menghembuskan napas lelah. Bayangkan saja pengorbanannya, dia sudah mengajarkan laki-laki itu bagaimana cara menjadi laki-laki yang sejati, dan bagaimana caranya memperlakukan wanita. Padahal, dia sendiri tidak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki manapun!
Tidak berselang lama terdengar suara deru mobil masuk ke pekarangan rumahnya. Senyum Bianca terbit karena mengetahui siapa pemilik mobil tersebut. Ah, ternyata Aldo tidak melupakannya. Mungkin memang ada kendala di jalan. Pikir Bianca.
Begitu Aldo turun dari mobil, Bianca sedikit terpaku saat menyadari jika mereka menggunakan baju dengan warna yang sama. Ah, apakah ini yang dinamakan dengan jodoh? Padahal mereka sama sekali tidak merencanakan ingin menggunakan baju couple, semuanya terjadi begitu saja.
Bianca tersenyum, sepertinya mereka memang sudah ditakdirkan untuk berjodoh!
"Ah, Nona, maaf karena saya terlambat." Aldo menunduk hormat pada Bianca.
'Dia selalu saja memanggilku dengan panggilan Nona! Apakah dia tidak bisa memanggil namaku saja? Atau sayang, gitu?' Bianca tentu jengkel dengan panggilan Aldo yang terus memanggilnya dengan panggilan Nona. Benar-benar tidak ada romantisnya! Bagaimana orang biaa tau jika mereka sepasang kekasih jika Aldo saja memanggilnya menggunakan panggilan formal!
"Tidak apa-apa. Ayok kita berangkat, film-nya akan dimulai jam 19:30 nanti," ucap Bianca dengan lembut.
Perlahan tapi pasti Bianca mendekati Aldo, lalu dengan lancangnya dia mengapit tangan Aldo, sehingga membuat laki-laki itu terkejut setengah mati. Jantung Aldo kini berdetak 10 kali lebih cepat dari biasanya.
'Asataga, jantungku ....'
Aneh! Hanya Bianca lah satu-satunya perempuan yang mampu membuatnya berdebar seperti ini. Alih-alih geli dengan sikap wanita itu, Aldo justru malah menyukainya. Sikap dan sifat manja Bianca justru membuatnya semakin berdebar dekat dengan wanita itu.
"Ayok!" Bianca dengan semangat menggandeng Aldo. Dia bahkan berusaha untuk membuang rasa malunya. Ya, ini semua demi Aldo! Dia berharap setelah ini Aldo bisa lebih peka lagi.
"I–iya ...." Aldo tentu tidak dapat menutupi rasa terkejutnya. Apakah wanita itu dapat merasakan tangannya yang mulai dingin?
Mereka segera masuk ke dalam mobil. Aldo segera menjalankan mobilnya menuju salah satu bioskop seperti permintaan Bianca.
Sepanjang perjalanan tidak ada obrolan di antara mereka berdua. Kedua 'sepasang kekasih' tersebut kompak terdiam karena tidak tahu ingin membicarakan apa, mungkin masih canggung. Perjalanan mereka ditemani lagu ~Katakan Cinta~ yang dinyanyikan oleh Prilly Latuconsina.
Tak berselang lama mobil sampai di sebuah bioskop yang cukup besar. Bianca dan Aldo keluar dari mobil sama-sama.
"Nona, kita hanya menonton saja, 'kan?" tanya Aldo memastikan. Bukannya apa-apa, tetapi dia sama sekali tidak membawa apa pun selain uang. Jadi, jika ternyata bosnya tersebut meminta sekaligus bekerja, dia tentu tidak bisa karena laptopnya berada di rumah.
"Tentu saja! Memangnya kau berharapnya apa?" Bianca justru salah menanggapi maksud laki-laki itu. Dia pikir Aldo berharap bisa menciumnya.
"Tidak ada, Nona."
Baru saja Bianca melangkah satu langkah, dia berhenti sehingga sontak saja membuat Aldo ikut berhenti.
"Ada apa, Nona?" Aldo mengerutkan keningnya saat melihat tatapan wanita itu yang menatap dirinya dengan pandangan yang susah diartikan.
Aldo menghembuskan napasnya. Sepertinya sekarang adalah waktu yang tepat, sehingga jika ini semua sudah ada kejelasan, mereka bisa menonton sambil berpelukan. Begitulah pemikiran Bianca.
"Aldo, aku ingin meminta penjelasan," ucap Bianca.
__ADS_1
"H–hah? Pembahasan apa, Nona?" Aldo justru salah tanggap. Dia pikir maksudnya penjelasan tentang kondisi perusahaan saat ini.
"Aku ingin meminta penjelasan tentang hubungan kita." Bianca memperjelas maksudnya.
"Hubungan kita?" beo Aldo.
"Iya! Apa kau tidak bisa bersikap sedikit lebih santai! Kita sudah resmi pacaran Aldo, tetapi kenapa kau masih saja memanggilku dengan panggilan Nona? Apa kau tidak bisa memanggilku dengan panggilan lain? Aku juga perempuan, aku ingin diperlakukan dengan romantis, tidak seperti ini! Apa selama ini ilmu yang kuberikan masih kurang? Aku minta maaf karena telah menolakmu saat itu, tetapi aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu! Tetapi bukannya sekarang kamu sudah mendapatkan ku? Jadi, perlakukanlah aku dengan romantis!" Akhirnya uneg-uneg yang selama ini Bianca pendam bisa dia ungkapkan.
Berbeda dengan Bianca, Aldo justru dibuat bingung. Sebenarnya apa maksud bosnya tersebut? Sumpah, otaknya benar-benar tidak memahami. Tetapi yang membuatnya terkejut adalah saat wanita itu mengatakan kita sudah resmi pacaran. Apa maksudnya? Siapa? Dia dengan bosnya? Yang benar saja! Dia bahkan tidak pernah menyatakan cinta pada wanita itu. Dia masih sadar diri.
"Mak—"
"ALDO!" Baru saja Aldo membuka mulut, tiba-tiba terdengar orang memanggilnya. Aldo menghadap ke samping, dan mendapatkan Angga yang sedang berlari ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Aldo saat laki-laki itu sudah berdiri di dekatnya.
"Kau tahu, ajaranmu untuk menembak perempuan tidak mempan! Dia bahkan langsung menolakku! Aku sudah mengatakan seperti ajaranmu yang pertama, dan aku bahkan sudah mengatakan, Aku mencintaimu, apakah kamu bersedia menjadi kekasihku? Maaf, tapi aku perlu kepastian. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia. Tolong, tolong berikan aku kesempatan sekali saja. Setidaknya ijinkan aku untuk menunjukkan padamu kalau aku benar-benar sayang denganmu. Tetapi apa? Dia langsung mengatakan tidak!" Angga terlihat frustasi, tetapi matanya tidak sengaja melihat tangan Aldo yang diapit oleh seorang wanita cantik.
Bianca sendiri membeku mendengar penuturan laki-laki di dekatnya.
Tunggu dulu!
Bukankan kata-kata itu juga yang diucapkan Aldo padanya saat itu?
"Ma—maksud kamu?" Bianca bertanya sedikit terbata-bata. Tidak mungkin, 'kan?
"Maksudku?" tanya Angga menunjuk dirinya, dan dibalas anggukan oleh Bianca. "Dia mengajarkan aku cara bagaimana menyatakan cinta pada perempuan. Aku menyukaimu. Apakah kamu mau menjadi pacarku? Aku bilang seperti itu, tetapi cintaku malah digantung, dan tadi pagi aku meminta dia bagaimana caranya agar cintaku tidak digantung, dan dia malah mengatakan ssperti ini, Aku mencintaimu, apakah kamu bersedia menjadi kekasihku? Maaf, tapi aku perlu kepastian. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia. Tolong, tolong berikan aku kesempatan sekali saja. Setidaknya ijinkan aku untuk menunjukkan padamu kalau aku benar-benar sayang denganmu. Tetapi wanita itu malah tetap saja menolakku!" Angga langsung menceritakan semuanya.
DUAR!
TBC
.
.
.
__ADS_1
.