Kesalahpahaman yang Berujung Cinta

Kesalahpahaman yang Berujung Cinta
Itu Cara Kuno


__ADS_3

Cittttt


Aldo menginjak pedal gas secara mendadak saat mendengar pertanyaan wanita itu. Untungnya jalan sedang sepi, sehingga tidak terjadi kecelakaan saat laki-laki itu dengan cerobohnya men'rem mobil dengan mendadak.


Aldo benar-benar dibuat terkejut. Apakah tadi bosnya menyatakan cinta padanya?


"Ya, Nona?" Aldo bertanya, memastikan apa yang dia dengar tidak salah.


"Ckk ... kau bisa menyetir dengan benar nggak sih, Al!" gerutu Bianca yang merasa kepalanya sedikit nyut-nyut akibat terbentur.


"Ma—maaf, Nona. Saya terlalu terkejut mendengar pertanyaan Anda tadi." Aldo sedikit membungkukkan badannya, merasa bersalah karena membuat bosnya marah.


"Pertanyaan?" beo Bianca tidak paham maksud laki-laki itu.


"Iya, pertanyaan Anda tadi." Aldo mengangguk mengiyakan.


"Pertanyaan apa?"


Aldo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung bagaimana cara menyampaikannya. "Apakah kamu mau menjadi pacarku?" Aldo mengulang pertanyaan Bianca tadi.


"H—hah? Kau menyatakan cinta padaku lagi?" Bianca justru terkejut dengan pengakuan Aldo. Rupanya wanita itu masih belum paham sepenuhnya maksud laki-laki itu.


"Tidak, Nona!" Aldo menjawab dengan cepat, takut terjadi kesalahpahaman antara mereka berdua. "Maksud saya, apakah Anda bertanya pertanyaan itu tadi kepada saya?" Aldo semakin dibuat gelisah, dia sadar diri, tidak mungkin dia berani menyatakan cinta pada wanita yang statusnya berada di atasnya.


Tawa Bianca sontak pecah di dalam mobil tersebut saat dia paham apa yang dimaksud laki-laki itu. Rupanya laki-laki itu salah paham dengan maksudnya. Padahal dia sama sekali tidak ada niat menyatakan perasaannya pada Aldo. Tadi dia tidak sengaja membaca salah satu status orang di media sosial, dan lucunya dia justru membaca itu dengan cukup nyaring, sehingga membuat Aldo salah paham.


"Tidak, Al. Kau jangan salah paham! Aku tadi sedang membaca salah satu status orang di media sosial," jawab Bianca yang masih saja terus tertawa.


"Ah, maaf, Nona. Saya pikir tadi apa." Aldo tersenyum canggung, merasa sangat malu, karena berpikir atasannya tadi menyatakan perasaan pada ia.


"Memangnya apa yang kau pikirkan?" tanya Bianca balik.


'Apa sebegitu berharapnya kau menjadi kekasihku?' Bianca tertawa di dalam hati.


"Tidak ada, Nona." Aldo menjawab dengan cepat, kemudian kembali menjalankan mobil menuju perusahaan.


Sepanjang perjalanan Bianca menatap ke luar jendela hanya untuk menyembunyikan senyumnya dari Aldo. Sungguh dia merasa bahagia sekaligus lucu melihat Aldo yang salah paham seperti tadi.


Tak berselang lama, mobil sampai di parkiran perusahaan milik keluarga Grissham. Buru-buru Aldo keluar untuk membuka pintu mobil untuk bosnya, bahkan laki-laki itu sudah melupakan kejadian memalukan tadi.


Bianca tersenyum melihat perlakuan yang diberikan oleh Aldo. "Terima kasih, Al," ucap Bianca dengan tulus.


"Sama-sama, Nona." Aldo menjawab dengan wajah datarnya.

__ADS_1


Mereka berdua lalu masuk ke dalam perusahaan dengan Aldo yang tetap menjaga jarak dengan Bianca.


Bianca sendiri hanya bisa pasrah, karena bagaimana pun dia mengatakan pada sekretarisnya itu, dia pasti tetap keukeh menjaga jarak dengannya.


"Oh iya, Aldo. Kemungkinan hari ini aku lembur, jadi kau bisa pulang duluan, karena aku harus segera menyelesaikan berkas-berkas itu hari ini," ucap Bianca setelah sampai di depan pintu ruangan miliknya, yaitu ruangan CEO.


"Baik, Nona. Ini kunci mobil Anda," sahut Aldo yang paham dengan maksud Bianca, lalu menyerahkan kunci mobil pada wanita itu.


'Ckk ... tidak peka sekali dia. Tungguin kek, atau setidaknya tanya. Lah ini? Baik Nona, Ini kunci mobil Anda.' Bianca menggerutu di dalam hati, dengan mulut komat-kamit mengikuti gaya bahasa Aldo tadi.


Apa yang dilakukan wanita itu tentu tidak luput dari pandangan Aldo. Dia sedikit heran melihat mulut bosnya yang bergerak seperti orang yang sedang membaca mantra.


"Maaf, Nona. Apa ada yang salah?" tanya Aldo yang melihat raut kekesalan di wajah wanita itu.


"Tidak! Kau memang menyebalkan!" ketus Bianca, lalu masuk ke dalam ruangannya dengan membanting pintu sedikit kuat.


Aldo tentu dibuat bingung. Apakah dia baru saja melakukan kesalahan? Perasaan sama sekali tidak. Lantas, kenapa bosnya terlihat kesal?


"Ah, sudahlah, mungkin Nona sedang stres memikirkan pekerjaannya terlalu banyak. Kasihan sekali dia, di usianya yang seharusnya mencari pasangan hidup, malah harus bekerja keras seperti ini." Aldo memandang sendu pintu ruangan bosnya. Dia merasa kasihan pada wanita itu yang masih jomblo sampai saat ini, tetapi dia sendiri tidak sadar diri jika dia juga jomblo dan usianya malahan jauh lebih dewasa dari Bianca.


"Astaga, pekerjaan ku juga sama banyaknya. Sepertinya aku akan lembur hari ini." Aldo merenggangkan otot-otot lengannya saat melihat tumpukkan kertas yang begitu banyak di atas meja miliknya.


"Menjadi sekretaris seperti ini saja sudah menguras tenaga, apalagi jika menjadi Nona Bianca, mungkin jika aku yang berada di posisi itu akan pecah kepala, karena pusing terlalu banyak yang harus dikerjakan."


"Andai di dunia ini ada pekerjaan yang hanya duduk manis saja, tetapi uang mengalir dengan deras ke rekening," gumam Aldo.


******


"Ckk ... apa-apaan dia bersikap seperti itu? Tidak peka sama sekali jadi cowok! Sebenarnya dia benar-benar cinta nggak sih sama gue?" Bianca terus menggerutu begitu masuk ke dalam ruangannya.


Melihat tumpukkan kertas yang begitu banyak, Bianca kembali menggerutu. "Hais ... orang pikir mah CEO pasti kerjaannya enak, duit ngalir mulu. Tapi apa faktanya? Pekerjaannya bahkan menggunung seperti ini! Gue bahkan pengen pensiun aja!" Bianca seketika kesal sendiri saat mengingat orang-orang yang mengatakan pasti enak jadi dirinya.


"Tapi, aku harus tetap bersyukur, karena masih memiliki pekerjaan."


Bianca lalu mulai mengerjakan berkas-berkas yang menumpuk di atas mejanya tersebut.


Tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tetapi wanita itu masih saja berkutat dengan kertas-kertas yang membuatnya pusing tersebut. Tapi, mau bagaimana lagi, kertas yang membuat pusing itu bisa menghasilkan uang.


"Argg, sumpah gue capek. Kayaknya gue buat kopi aja buat nemanin malam ini," gumam Bianca sambil merentangkan tangannya di udara.


Bianca lalu keluar dari ruangannya, kemudian berjalan menuju dapur perusahaan. Terlihat sekali jika perusahaan itu sangat sunyi. Tidak heran, karena para karyawan selalu pulang jam 6 sore.


Bianca menghentikan langkahnya saat melihat ruangan sekretarisnya yang masih terang, pertanda dia masih ada di ruangan tersebut. Apakah laki-laki itu sedang menunggunya? Tapikan dia sudah bilang tidak perlu.

__ADS_1


Bianca lalu masuk ke dalam ruangan Aldo tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Terlihat dengan jelas jika laki-laki itu sedang menguap dengan selembar kertas yang berada di tangannya.


"Masih belum selesai, ya?" tanya Bianca tiba-tiba, yang sontak saja membuat Aldo terkejut. Laki-laki itu langsung menghadap ke samping, dan dia dengan jelas dapat melihat wajah cantik Bianca dari dekat, bahkan posisi mereka sangat dekat.


Mata Aldo dan Bianca bertemu, tetapi secepat mungkin Aldo memutuskannya.


"I—iya, Nona. Berkas ini harus segera diselesaikan sekarang juga," jawab Aldo berusaha menormalkan detak jantungnya yang sedang berdetak dengan kencang.


'Demi menghabiskan lebih banyak waktu denganku, dia benar-benar bekerja keras' Bianca tersenyum melihat tingkah Aldo yang secara terang-terangan ingin terus dekat dengannya.


"Aku bilang ke kamu ya, Aldo. Cara mengejar wanita seperti ini sudah terlalu kuno. Tapi, kamu berhasil menarik perhatianku," ucap Bianca yang membuat Aldo mengerutkan keningnya.


Handphone Aldo berdering, dia segera mengangkatnya. "Ya?"


"...."


"Baiklah!"


"Nona, saya harus pergi. Maaf saya duluan." Tanpa basa-basi Aldo segera menyambar jas kerjanya, kemudia segera pergi meninggalkan Bianca yang melongo.


"Apakah dia meninggalkan ku?" tanya Bianca pada dirinya sendiri.


"Wah ... kamu benar-benar Aldo! Kenapa harus pakai acara malu segala sih!" Bianca menjadi geram sendiri di dalam ruangan tersebut.


Karena sudah merasa kesal, dia segera kembali ke ruangannya. Menyambar tas kecil miliknya, kemudian tanpa basa-basi segera pergi tanpa memperdulikan pekerjaannya yang masih menumpuk tersebut.




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2