
Jlebb
"A—Aldo?" Bianca tidak mampu berkata-kata saat pisau itu menusuk bahu Aldo dengan sangat kuat, sehingga membuat laki-laki itu terjatuh ke tanah.
"Akhh!" Aldo meringis merasakan bahunya yang terasa sangat sakit, apalagi darah mulai mengalir, sehingga membuat baju kaos berwarna putihnya berubah menjadi warna merah, akibat darah tersebut.
Hahahaha
Terdengar gelak tawa dari para preman tersebut, merasa senang sudah berhasil melumpuhkan orang yang berani mengusik kesenangan mereka.
"Makanya jangan berani-berani dengan kami! Ha‐ha." Salah satu dari preman itu tertawa dengan sangat nyaring.
"Bawa perempuan itu! Kita pesta malam ini," perintah preman bertubuh besar tersebut.
Kedua preman tersebut berjalan mendekati Bianca, berniat untuk membawanya dan mengajaknya bersenang-senang.
"Br***sek! Kalian semua iblis!" maki Bianca.
"Diamlah! Ayok ikut!" bentak preman tersebut.
"Nggak! Gue nggak mau ikut sama preman jelek modelan kalian!" tolak Bianca dengan menghina para preman tersebut, sehingga membuat mereka semakin marah.
"Aldo ... hu-hu-hu." Bianca menangis sambil memanggil Aldo saat para preman tersebut mendekati ia.
"Udah, ikut kita aja, Neng."
Tangan Aldo mengepal dengan sangat kuat saat mendengar suara tangisan wanita yang harus ia jaga tersebut. Napas laki-laki itu mulai memburu, pertanda dia sangat marah. Dia sangat benci melihat seorang wanita menangis, karena itu sama saja menyakiti wanita yang sudah melahirkannya.
Aldo memejamkan matanya. "Jangan pernah kalian berani menyentuhnya!" ucap Aldo dengan suara rendah.
"Ha-ha! Memangnya kau bisa apa?" ejek salah satu preman tersebut.
Aldo membuka matanya kembali, lalu tanpa basa-basi mencabut pisau yang menancap di bahunya tersebut. "Shhh!" ringis Aldo.
Aldo menggenggam pisau tersebut dengan kuat, kamudian berbalik menatap para preman tersebut dengan nyalang. Laki-laki itu kemudian bangkit berdiri, senyum iblis terbit di wajah tampannya. "Kalian pikir sebilah pisau kecil ini bisa membunuh aku? Ha-ha .... Mata dibalas mata, darah dibalas dengan darah, tusukkan? Tentu dibalas dengan tusukkan!"
Para preman tersebut sedikit merinding melihat tatapan yang diberikan laki-laki itu, begitu pun Bianca, dia sedikit terkejut melihat perubahan Aldo. Dia pikir Aldo tumbang dan mungkin pingsan. Tetapi laki-laki itu mampu berdiri dengan tegak dengan senyum yang mengerikan.
"A—Aldo, kau tidak apa-apa?" Pertanyaan konyol itu keluar begitu saja dari mulut Bianca, padahal dengan jelas dia melihat laki-laki itu tidak sedang baik-baik saja.
__ADS_1
Aldo tentu meresa gemes dengan pertanyaan bosnya itu. "Saya tidak apa-apa, Nona! Masuklah ke dalam mobil! Biar saya yang mengatasi para ba***gan kecil ini," jawab Aldo meyakinkan wanita itu.
"Nona, masuklah!" perintah Aldo saat wanita itu hendak kembali membuka suara.
"Ba—baiklah." Bianca lalu masuk ke dalam mobil, membiarkan laki-laki itu mengatasi secara sendirian.
Setelah memastikan bosnya masuk, Aldo lalu menatap nyalang para preman tersebut, memberikan tatapan membunuh pada mereka bertiga.
"So, mari mulai!"
Bughh
Bughh
Bughh
Krekk
Aldo memukul mereka dengan membabi buta, sehingga membuat tulang tangan mereka patah, akibat plintiran Aldo yang sangat kuat.
Aldo tersenyum puas saat melihat mereka tergeletak tidak berdaya di atas tanah. Tidak memerlukan waktu yang lama, mereka semua sudah tak berdaya.
Jlebbb
Dengan santainya Aldo menusuk bahu salah satu preman tersebut, seperti yang dia lakukan padanya tadi.
"Arggg!!" Preman tersebut berteriak dengan sangat nyaring, saat Aldo kembali menarik pisau tersebut, sehingga darah mulai mengalir dengan deras, dan mengotori bajunya.
"Aku pun merasakan hal yang sama, tetapi aku tidak berteriak seperti mu! Ckk ... lemah!" sinis Aldo.
Aldo kembali berjalan menuju preman selanjutnya, lalu ....
Jlebbb
"Arggg! Sa-sakit!"
"Sakit? Lalu apa kabar denganku? Aku pun sama merasakannya. Bukannya impas, 'kan?" tanya Aldo tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Laki-laki itu kembali berjalan menuju preman terakhir yang sedikit bergetar saat melihat kedua temannya yang ditusuk, apalagi saat melihat Aldo yang berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"To—tolong, jangan lukai saya, Bang!" Preman tersebut menyatukan kedua tangannya di depan dada, memohon pada Aldo agar tidak melakukannya.
Aldo merasakan tubuhnya semakin melemah, mungkin karena mulai kehabisan darah. "Huh ... baiklah! Sekarang saya hitung sampai tiga, jika kalian tidak segera pergi, maka saya mungkin akan membunuh kalian!" ucap Aldo dengan lantang.
"Satu ..., dua ..., tig ...." Belum sempat Aldo menghitung sampai tiga, para preman tersebut sudah lebih dulu lari terbirit-birit sambil memegang bahu mereka yang terus mengeluarkan darah.
Melihat para preman tersebut sudah pergi, Bianca segera keluar dari dalam mobil, dan berjalan mendekati Aldo yang wajahnya sedikit memucat.
"Aldo, kau tidak apa-apa?" tanya Bianca dengan panik.
"Nona," panggil Aldo dengan suara lemah.
"Ya, ada apa?"
"Apakah orang yang habis ditusuk akan semakin sehat? Apakah orang yang habis ditusuk, staminanya akan semakin bertambah?" tanya Aldo yang sudah merasa sangat gemes dengan pertanyaan bosnya.
"Tentu tidak, Al! Jika tertusuk, maka orang tersebut akan melemah, karena tubuhnya kehabisan darah." Bianca menjawab dengan polos.
"Itu Anda tau, Nona!"
TBC
.
.
.
__ADS_1
.