
Aldo tersenyum senang sekaligus geli saat mengetahui jika bosnya selama ini salah paham. Pantas saja wanita itu bersikap aneh selama ini. Rupanya karena inilah.
"Astaga, berarti dia menyukaiku, 'kan?" Aldo berbicara sendiri. Sedari tadi laki-laki itu terus tersenyum. Untuk pertama kalinya Aldo tersenyum sangat manis.
Saat ini Aldo sedang menyetir mobil menuju perusahaan tempatnya bekerja. Rasanya tidak sabar segera sampai di perusahaan tersebut. Sejak kejadian semalam, dia tidak bisa tidur semalaman, karena saking bahagianya. Entah kenapa dia sangat merindukan wanita yang menjadi bosnya tersebut.
"Astaga, aku benar-benar tidak sabar bertemu dengan Nona Bianca." Aldo menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai di sebuah perusahaan.
Tak berselang lama mobil yang dia kendarai akhirnya sampai di perusahaan Grissham Company, tempatnya bekerja selama ini.
Segera dia turun dari mobil, lalu berjalan masuk ke dalam perusahaan dengan perasaan bahagia. Tanpa sadar senyum terbit di wajah datar Aldo. Tidak sedikit karyawan yang terkejut dan terpukau melihat laki-laki itu tersenyum. Tentu saja! Karena ini adalah kali pertama mereka melihat laki-laki itu mengangkat sudut bibirnya.
Aldo melewati ruangannya begitu saja. Dia justru mengetuk pintu CEO, tetapi tudak ada respon dari dalam. Aoakah bosnya tersebut belum datang?
Dengan penuh keterpaksaan Aldo menuju ruangannya. Padahal, dia ingin sekali bertemu dengan wanita yang menjadi bosnya tersebut, rasanya dia sangat merindukan wanita itu. Dia ingin meminta kejelasan hubungan mereka yang sesungguhnya. Ya, kini Aldo jauh lebih pede sekarang.
*********
Akibat menangis semalaman, kini Bianca merasakan kepalanya yang benar-benar sakit. Kemaren setelah sampai di rumah, dia segera masuk ke dalam kamarnya, lalu menangis dengan histeris, dan barang-barang yang ada di dekatnya menjadi pelampiasan! Dia terus membanting bantal, guling, bahkan handphonenya, tetapi untungnya tidak hancur.
Astaga, demi apa dia sangat malu! Andai semalam di dekatnya ada seutas tali, maka mungkin saja dia nekad menghabisi nyawanya sendiri.
"Lo kenapa bisa kayak gini, Ca! Hiks ...." Bianca kembali menangis, padahal wanita itu baru saja bangun.
"Lo kenapa malu-malu'in, Ca!" Bianca kembali berteriak frustasi.
Tok ... tok
Tiba-tiba terdengar ketukan dari luar. Hais, siapa yang mengetuk pintu di saat keadaannya sedang kacau seperti ini? Mana mukanya menyedihkan seperti ini lagi.
__ADS_1
"Ca, ini Mamah! Bukain napa pintunya!" ucap Bryana dengan suara yang sedikit nyaring.
Dengan penuh keterpaksaan Bianca bangkit meski pun kepalanya terasa sangat sakit sekali, hampir membuatnya oleng. Segera dia membuka pintu untuk mama-nya.
"Astagfhirullah! Kamu apain nih kamar, Ca? Kenapa berantakan gini?" Bryana menatap tajam putrinya, tetapi sedetik kemudian dia panik melihat sebening kristal jatuh membasahi pipi putrinya.
"Astagfhirullah, Ca! Masa Mamah cuman negur gitu doang kamu malah nangis!" Bryana menatap putrinya dengan geli, bagaimana mungkin putrinya tersebut menangis hanya karena ditegur.
Air mata Bianca semakin deras mendengar ucapan mama-nya yang mengira jika dia menangis karena diceramahi.
"HUA ... MAMAH, BIANCA PENGEN MENGHILANG AJA DARI DUNIA INI!" Bianca berteriak frustasi, lalu memeluk mama-nya, sehingga membuat Bryana sedikit terkejut.
"Kamu kenapa, hm?" Bryana mengelus rambut panjang putrinya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan putrinya tersebut?
"Mamah, Caca pengen bunuh diri aja!" Bianca merengek sambil terus memeluk ibunya.
"Hush, kamu jangan ngomong sembarangan, Ca! Nggak baik! Kenapa, hmm? Cerita dong sama Mamah." Bryana membujuk putrinya, berharap Bianca mau berbagi informasi kenapa sampai menangis seperti itu, apalagi mata wanita itu seperti mata panda saja. Kenapa putrinya sampai tidak tidur? Itulah pertanyaan yang ada di pikiran Bryana.
"Mah, Caca ijin operasi plastik, ya?" tanya Bianca penuh harap.
"Hush, kamu jangan sembarangan, Ca! Lagian kamu itu udah cantik! Emangnya kamu mau operasi di mana?" tanya Bryana yang mulai gemes dengan tingkah putrinya tersebut.
"Semuanya! Kalau perlu ratain aja muka Caca! Caca malu, Mah. Caca pengen menghilang dari dunia ini!" Bianca kembali menangis histeris, apalagi saat bayangan-bayangan dirinya yang bergaya mengajarkan Aldo bagaimana cara mendapatkan hati seorang wanita. Sungguh, sangat memalukan!
Bryana mengerutkan keningnya, sebenarnya apa yang terjadi dengan putrinya tersebut?
"Kamu nggak kerja?" Bryana berusaha mengubah topik pembicaraan. Tetapi bukannya terdiam, tangis Bianca justru semakin kencang. Astaga, sebenarnya apa yang terjadi? Pikir Bryana.
"NGGA MAU! AMBIL AJA TUH PERUSAHAAN! CACA UDAH NGGAK MAU KERJA!" pekik Bianca.
__ADS_1
"Lho ... kenapa? Bukannya dulu kamu pengen banget mengelola sebuah perusahaan? Bahkan Kakak kamu aja rela ngalah, lho!" ucap Bryana.
"Caca nggak mau, Mah. Caca pengen berhenti! Caca nggak mau lagi berurusan sama perusahaan hiks ... hiks ...." Rasanya Bianca seperti trauma membahas tentang yang namanya perusahaan! Apalagi dia kembali teringat dengan momen saat dia kege'eran pada Aldo, padahal laki-laki itu sama sekali tidak pernah menyatakan cintanya.
"Bianca! Kamu harus kerja dong! Kamu nggak kasihan sama Aldo yang bekerja sendirian di perusahaan? Kasihan dia lho sampai harus mengerjakan banyak berkas dan laporan!" Bryana berusaha memberikan pengertian pada putrinya tersebut, berharap dengan menjual nama Aldo, putrinya tersebut mau pergi bekerja. Bukannya apa-apa, Bryana hanya tidak mau putrinya berlarut-larut sedih, apalagi menangis.
Mendengar nama Aldo seketika membuat Bianca semakin seperti orang gila. Dia kembali menelungkupkan kepalanya di lipatan bantal miliknya. Ckk ... kenapa mama-nya harus menyebutkan nama laki-laki itu? Padahal dia sama sekali tidak mau mendengarnya!
"PECAT AJA SI ALDO!" Tanpa sadar Bianca justru membentak mama-nya, sehingga membuat Bryana terkejut bukan main. Apakah putrinya sebenarnya bermasalah dengan Aldo, sekretarisnya sendiri?
"AKHH, POKOKNYA CACA UDAH NGGAK MAU KERJA!" tegas Bianca, lalu kembali naik ke atas kasurnya, diangkatnya selimut, sehingga menutupi seluruh tubuhnya.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.