
Aldo menunggu di luar dengan perasaan gelisah. Apakah Bianca benar-benar tidak mau bertemu dengannya? Tetapi kan semua perlu diluruskan. Bahkan, jika tidak ada kesalahpahaman ini, mungkin saja dia tidak akan pernah berani menyatakan cinta pada Bianca, mengingat dia tipe orang yang takut, apalagi wanita itu adalah bosnya sendiri.
Tiba-tiba terdengar pintu dibuka. Segera Aldo bangkit, penasaran dengan apa respon dari Bianca setelah membaca surat yang ditulisnya.
"Bagaimana?" tanya Aldo yang sudah sangat penasaran.
"Tuan, Pasien meminta Anda untuk masuk," ucap Perawat itu dengan sopan. Senyum terbit di bibir perawat itu. Seketika dia teringat saat-saat dia dan suaminya yang bertengkar hanya karena masalah sepele. Tetapi meski pun demikian, dia dan suaminya tidak pernah marah sampai berhari-hari.
Mata Aldo berbinar mendengar ucapan perawat tersebut. "Apa dia sudah membaca suratku?" tanya Aldo yang kini sudah tidak mampu menutupi senyumnya. Ya, semenjak tau jika bosnya memiliki perasaan, Aldo lebih sering tersenyum sekarang, apalagi jika mengingat wanita itu. Perlahan wajah dinginnya sudah mulai terkikis. Bianca memang membawa pengaruh besar pada dirinya.
"Sudah, Tuan! Awalnya pasien tidak mau membacanya, tetapi saat saya mengatakan jika 'Aldo mencintaimu' dia langsung membaca surat yang Anda tulis. Setelah membaca, dia segera meminta saya untuk memanggil Anda untuk masuk ke dalam," jelas Perawat tersebut tanpa mengurangi sedikit pun dari apa yang terjadi tadi.
Aldo terdiam. Jadi, perawat tersebut sudah mengatakan jika dia mencintai Bianca. Aldo menjadi nervous sekarang. Dia yang awalnya sangat excited, kini malah dilanda gugup yang luar biasa. Tentu saja! Sekarang wanita itu sudah tahu perasaannya.
"Ba–baik! Terima kasih untuk bantuannya, Bu." Aldo tersenyum ramah pada perawat tersebut.
"Sama-sama, Tuan. Kalau begitu saya pamit. Jangan lupa buburnya harus dimakan pasien, ya! Setelah itu baru minum obat yang sudah saya sediakan di atas nampan." Perawat tersebut sedikit membungkukkan badannya, lalu segera pergi setelah mendapat anggukan dari Aldo.
Melihat perawat tersebut sudah pergi, Aldo memegang jantungnya yang kini berdetak dua kali lebih cepat. Astaga, kini dia benar-benar takut bertemu dengan wanita itu.
"Tenang, Aldo! Tidak ada yang perlu ditakutkan! Kau harus jadi laki-laki yang pemberani! Ini adalah saatnya kau nyatakan cintamu yang selama ini kau pendam pada wanita itu!" Aldo memberi semangat pada dirinya sendiri. Pokoknya dia harus berani sekarang!
Ceklek ....
Aldo membuka pintu dengan perlahan.
Bianca yang mendengarnya sontak mendongakkan kepalanya. Tubuhnya sedikit membeku saat melihat yang masuk adalah Aldo. Sebenarnya dia masih malu, tetapi kini dia berusaha untuk melawannya, karena dia butuh penjelasan. Bagaimana pun dia harus tau apakah cintanya bertepuk sebelah tangan atau tidak!
Tak berbeda jauh dengan Bianca, Aldo justru lebih gugup. Rasanya seperti Anda yang baru saja ketahuan mencuri buah mangga milik tetangga! Begitulah yang Aldo rasakan sekarang.
'Astaga, kenapa aku sangat gugup? Rasanya aku ingin pergi saja dari sini untuk menormalkan detak jantungku!' Tidak bisa dipungkiri, ini adalah perasaan gugup yang luar biasa yang belum pernah dia alami. Bahkan, dia tidak sampai segugup ini saat menggantikan Bianca mempresentase mengenai kontrak kerja sama pada client.
'Sabar, Ca! Jangan sampai lo teriak nggak jelas lagi!' Keringat jatuh membasahi kening Bianca. Sebenarnya dia berusaha untuk menahan diri agar tidak berteriak tidak jelas, mengingat dia masih sangat malu untuk bertemu dengan Aldo, laki-laki yang sudah membuatnya uring-uringan seperti ini.
"Ekhem ... Nona, makanlah bubur ini segera sebelum dingin!" Aldo berusaha bersikap biasa saja, meski suaranya tidak mendukung, karena sekarang suaranya terdengar sangat gemetar.
"Sebelum aku memakan bubur itu, apakah ada sesuatu yang ingin kau sampaikan? Tentang surat ini mungkin." Bianca mengangkat surat yang ditulis oleh Aldo tadi.
Aldo terdiam, sekarang dia sangat bingung dari mana dulu menjelaskan tentang perasaannya yang sesungguhnya.
Perlahan Aldo mendekati wanita itu, lalu menarik kursi dan duduk di sana.
Dengan penuh keberanian Aldo menggenggam tangan Bianca. Kini tangannya benar-benar terasa dingin, apalagi ditambah dengan suhu AC yang justru membuatnya semakin merasa kedinginan. Bianca sendiri tidak menolak genggaman Aldo, dia membiarkannya saja.
Aldo menghembuskan napas secara perlahan, lantas memberanikan diri mendongak, menatap wajah cantik wanita yang dia cintai, meski pun terlihat sedikit pucat.
"Bianca, maaf jika aku tidak sopan memanggilmu kali ini. Tetapi saat ini aku ingin menganggapmu sebagai wanita, bukan sebagai bos. Kali ini aku ingin jujur tentang perasaanku padamu selama ini. Aku mencintaimu! Aku mencintaimu sejak pandangan pertama! Sejak aku pertama kali menginjakkan kaki di perusahaanmu, dan melihatmu yang sedang fokus dengan berkas-berkas yang ada di depanmu. Aku sudah jatuh hati, aku sudah terpesona denganmu pada saat itu, aku sudah berdebar sejak saat itu. Tetapi saat itu aku menolak, berusaha meyakinkan diriku bahwa itu bukanlah perasaan cinta, tetapi hanya kagum saja. Melihat sikapmu yang cuek membuatku tidak pernah berani menyatakan perasaanku selama ini. Hingga sejak kesalahpahaman yang terjadi di antara kita membuatku justru semakin berdebar berada di dekatmu, apalagi melihat tinggah menggemaskanmu. Jujur saja, aku paling benci melihat sifat wanita yang kecentilan, tetapi aku justru menyukai sifatmu yang sedikit manja. Karena tingkahmu yang menggemaskan itulah yang membuatku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengecup bibirmu saat di mobil hari itu, dan jujur saja, aku menjadi candu sekarang. Tetapi saat itu aku menjadi takut saat mengetahui jika itu adalah ciuman pertamamu. Aku merasa seperti laki-laki yang br***sek karena sudah lancang menciummu, padahal aku bukanlah siapa-siapamu saat itu. Oleh sebab itu aku memilih untuk pura-pura lupa saja, agar tidak canggung bertemu dengan kamu. Bianca, percayalah, perasaan cintaku lebih dulu tumbuh sebelum adanya kesalahpahaman ini. Kamu tidak perlu malu, karena jika kesalahpahaman ini tidak terjadi, maka aku tidak akan pernah mungkin seberani ini untuk menyatakan cintaku padamu. Aku bersyukur karena kesalahpahaman ini terjadi, setidaknya aku tahu jika kamu juga memiliki perasaan yang sama padaku. Aku mencintaimu, dan kamu adalah wanita yang pertama membuat aku jatuh cinta. Wanita kedua yang bertahta di hatiku setelah ibuku." Aldo berkata dengan lembut sambil mengelus telapak tangan Bianca. Tidak ada lagi yang namanya gugup, semuanya seakan sirna, bahkan perasaannya jauh lebih baik sekarang, karena apa yang sudah dia simpan selama ini akhirnya bisa dia ucapkan pada orangnya langsung.
Aldo semakin menatap dalam mata Bianca, menyelami tatapan teduh itu.
"Bianca, ini mungkin terdengar sedikit konyol, karena sedikit aneh rasanya jika seorang sekretaris mencintai bosnya sendiri. Tetapi perasaan siapa yang tau bukan? Jadi, MAUKAH KAMU MENJADI KEKASIHKU?" Di akhir kalimat, Aldo berkata dengan suara yang lantang, lalu menatap wanita itu, menanti jawaban yang akan diberikan.
"Apa kamu benar-benar mencintaiku? Kamu tidak berpura-pura kan hanya untuk membuatku sembuh?" Bianca menatap dalam mata Aldo, berusaha mencari kebohongan di mata laki-laki itu. Tetapi dia sama sekali tidak menemukannya, yang dia lihat hanyalah ketulusan laki-laki itu.
"Aku bersumpah, aku benar-benar mencintaimu. Tolong jangan pernah berpikir jika aku kasihan, karena aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu!" Aldo berusaha meyakini wanita itu agar percaya dengan ucapannya. Tidak ada sama sekali dia berniat berpura-pura, apalagi mempermainkan wanita itu.
"Tapi aku tidak bisa, Aldo!" ucap Bianca yang sontak saja membuat genggaman Aldo terlepas.
"Y–ya?" Otak Aldo seketika blank mendapat penolakan wanita itu, padahal dia awalnya sangat yakin bisa memiliki Bianca. Tetapi wanita itu kini justru menolaknya secara terang-terangan.
Bianca terkekeh melihat keterkejutan Aldo, apalagi wajah laki-laki itu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Hanya tiga kata yang mewakilinya, lucu dan menggemaskan!
Cuppp
__ADS_1
Satu kecupan mendarat di bibir Aldo. Sontak saja tubuh laki-laki itu membeku mendapat kecupan yang secara mendadak. Apa maksud wanita itu? Bukankah tadi dia sudah menolak cintanya? Tetapi kenapa kini malah mengecup bibirnya?
"Terimanya dicancel dulu, ya! Masa iya nembaknya di rumah sakit, kan nggak ada romantisnya sama sekali, Al! Kesannya malah horor!" Bianca memanyunkan bibirnya, berpura-pura sedang kesal.
Aldo yang mendengarnya sontak mengembangkan senyumnya. Ah, padahal tadi dia sudah berniat untuk pindah ke luar negeri karena saking malunya habis ditolak. Tetapi ternyata wanita itu tidak menolak, hanya dicancel saja.
'Bibirnya terasa sangat manis. Aku ingin lagi!'
"Jadi, aku nggak ditolak, kan? Hanya dicancel?" Dengan berani Aldo menangkup kedua pipi Bianca. Kini Aldo bahkan mengubah gaya bahasanya dari 'Saya-Anda' menjadi 'Aku-Kamu'
Dengan malu Bianca mengangguk pelan.
Aldo langsung saja membawa wanita itu ke dalam pelukannya.
"Terima kasih, terima kasih. Aku sangat mencintaimu," bisik Aldo yang membuat Bianca ikut mengeratkan pelukan mereka.
Aldo melepaskan pelukan mereka, lalu kembali menatap wajah cantik Bianca yang sedang tersenyum manis.
Cupp
Cupp
Cupp
Aldo terus menghujani wajah Bianca dengan kecupan. Mulai dari kening, mata, dan terakhir di pipi wanita itu. Tetapi Aldo tidak mengecup bibir Bianca. Belum saatnya!
Hahaha
Bianca tertawa mendapatkan kecupan yang bertubi-tubi itu. "Stop, Al!" Bianca berusaha untuk menghentikan Aldo.
"Aku berjanji akan selalu membahagiakanmu!" bisik Aldo lagi.
"Dan aku akan selalu percaya itu!" sahut Bianca dengan antusias.
"Kejadian yang mana?" tanya Aldo pura-pura tidak tahu, padahal dia tahu yang dimaksud wanita itu.
"Ishh! Kejadian waktu itu, yang di mobil!" Bianca sedikit malu mengingatkannya.
Dengan gemes Aldo mencolek hidung Bianca. "Tentu saja! Aku tidak mungkin bisa melupakan kejadian itu. Bahkan aku dibuat kecanduan dengan rasa bibirmu. Tiap hari aku mengingat-ingat kembali rasa bibirmu yang sangat manis itu, dan rasanya aku selalu ingin menikmatinya!" Aldo berkata dengan jujur, sama sekali tidak ada canggung di antara mereka berdua. Ya, dinding es yang kokoh itu sudah benar-benar mencair!
"Dasar m*esum!" gerutu Bianca yang masih dapat didengar oleh Aldo.
Aldo terkekeh mendengarnya. "Tidak! Aku sama sekali tidak m*esum! Aku hanya berkata jujur. Bukankah di sebuah hubungan tidak boleh ada yang ditutupi? Atau kamu yang pengan punya suami yang pembohong?" goda Aldo yang ternyata mengungkit masalah saat itu. Ya, masalah bubur hambar dulu!
"Ckk ... jangan diingati lagi, Al! Sumpah aku malu!" Bianca memekik dengan gemes.
Tawa Aldo sontak pecah. Ini pertama kalinya dia benar-benar tertawa lepas seperti ini. Ternyata memiliki orang yang kita sangat sayangi benar-benar membuat kita bahagia.
"Yaudah makan, ya! Biar cepat sembuh, dan biar aku bisa nyatain cinta sama kamu di tempat yang romantis. Biar nggak dicancel lagi!" Aldo lalu mengambil semangkuk bubur yang ada di atas nakas.
"Ay ... ay Kapten!" Bianca mengangguk sambil hormat, yang justru menambah kesan lucu di mata Aldo.
"Tapi disuapin, ya!" pinta Bianca sambil mengerjab-ngerjabkan matanya lucu.
Aldo mati-matian menahan dirinya agar tidak kelepasan, lalu menerkam wanita itu saking gemesnya.
"Tentu saja!"
Dengan telaten Aldo menyuapi Bianca, sesekali dia juga mengelap bibir wanita itu saat dia memakan bubur dengan tidak bisa diam! Sehingga belepotan kesana kemari.
"Hambar, Al! Apa tidak bisa ditambah garem saja?" Bianca merengek saat merasakan bubur tersebut yang tidak ada rasanya sama sekali. Hais, dasar bubur rumah sakit!
Aldo terdiam sebentar. "Kamu mau tau caranya agar bubur ini terasa nikmat?" tanya Aldo dengan wajah yang serius.
__ADS_1
"Enggak, Al! Udah jangan diingatin masalah itu." Bukannya mengangguk, Bianca justru menggeleng dengan kuat. Dia pikir Aldo akan mengejeknya kembali.
"Sayangnya aku tidak menerima penolakkan!" lirih Aldo.
Tanpa sepengetahuan Bianca, Aldo memasukkan sesondok bubur ke dalam mulutnya, lalu tanpa basa-basi menekan tengkuk Bianca, dan menariknya.
Bianca terkejut bukan main saat benda kenyal itu berada di bibirnya.
Aldo segera mengecup bibir Bianca kembali. Tetapi kali ini tidak hanya kecupan saja. Dia menggigit pelan bibir bawah Bianca, sehingga membuat wanita itu meringis kesakitan. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, Aldo lantas memasukkan lidahnya ke dalam mulut Bianca, mengabsen setiap gigi putih milik wanita itu. Perlahan Aldo mendorong bubur yang ada di mulutnya ke dalam mulut Bianca.
Bianca terkejut saat merasakan ada sesuatu yang masuk ke dalam mulutnya, sehingga refleks dia langsung menelannya.
Aldo melepaskan ciuman mereka, lalu mengelap bibir wanita itu yang sedikit basah terkena saliva miliknya. "Bagaimana? Apakah rasanya sudah enak?" goda Aldo menaik-turunkan alisnya.
"A–Aldo?" Bianca tidak mampu berkata apa-apa.
"Ah, tapi aku menginginkannya lagi!"
Cuppp
Aldo kembali mengecup bibir wanita itu. Rasanya benar-benar sangat manis! Dia bahkan sudah sangat candu, rasanya dia ingin setiap hari saja mencium bibir itu jika bisa.
Aldo melepaskan ciumannya saat tidak mendapatkan balasan dari wanita itu. "Kenapa tidak dibalas? Apakah kamu tidak suka?" tanya Aldo sedikit kecewa.
"H–hah? Ta–tapi aku tidak tau caranya," cicit Bianca dengan suara pelan, nyaris berbisik.
Aldo terkekeh mendengarnya. "Aku tidak pernah berciuman dengan wanita selain dirimu. Jadi, aku pun sebenarnya tidak tahu. Tapi, kita belajar bersama-sama, ya?" Aldo berkata lembut, dan tanpa sadar Bianca mengangguk patuh.
Cuppp
Aldo kembali mencium bibir Bianca dengan lembut. Tetapi semakin lama ciuman itu semakin menuntut, bahkan kini lidah Aldo bergerak dengan liar di dalam mulut Bianca.
Bianca sendiri secara perlahan membalas ciuman Aldo, sehingga membuat Aldo sangat senang, apalagi gerakan wanita itu sangat kaku.
Meski pun ini adalah ciuman kedua kalinya, tetapi Aldo sudah mahir. Dia hanya mengikuti nalurinya saja, berbekal dari cerita yang pernah disampaikan teman kuliahnya dulu.
"Eughh!" Bianca melenguh. Ciuman kali ini benar-benar terasa memabukkan.
Suara decapan bibir kian menggelora di dalam ruangan bernaunsa putih tersebut.
Ceklek ....
"ASTAGFHIRULLAH! GUE CAPEK-CAPEK PULANG DARI AMERIKA KARENA KHAWATIR SAMA BIANCA. EH LO PADA MALAH KEENAKKAN CIUMAN!"
TBC
.
.
.
__ADS_1
.