
Ceklek ....
Bianca yang sedang leseh-lesehan di meja kerjanya sontak terkejut mendengar pintu yang dibuka tanpa diketuk terlebih dahulu. Bianca yakin jika yang datang adalah Aldo, karena hanya laki-laki itulah yang berani masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Ya, semenjak dia dan Aldo dekat, Aldo sering masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, lalu dengan jahilnya akan memeluk dia, atau mencium pipinya.
Mata Bianca berbinar saat melihat ternyata benar itu adalah Aldo. Senyum terbit di bibirnya. Perasaan kesal tadi seolah-olah sirna begitu saja dengan kahadirian laki-laki itu.
Tetapi bukannya membalas senyuman Bianca, Aldo justru menunjukkan wajah wajah datarnya, sehingga membuat Bianca sedikit bingung.
"Al, kamu kemana aja? Kok dari tadi aku tungguin tapi nggak datang-datang? Mana pesan yang aku kirim nggak dibalas lagi!" Lansung saja Bianca menodong berbagai pertanyaan pada laki-laki itu.
"Maaf, Nona. Tetapi saya sedang sibuk tadi," jawab Aldo dengan formal.
Bianca terdiam mendengarnya. Bukan alasan yang disampaikan yang membuat dia terdiam, tetapi panggilan laki-laki itu padanya. Nona? Kenapa laki-laki itu tiba-tiba memanggilnya dengan panggilan Nona? Biasanya Aldo tidak pernah memanggilnya dengan panggilan tersebut sejak di rumah sakit saat itu, karena laki-laki itu sudah terbiasa memanggil dirinya dengan panggilan Caca.
"Nona? Kenapa kamu malah panggil aku Nona? Kan kita nggak lagi ada meeting?" tanya Bianca dengan kerutan di dahinya.
"Tidak, saya hanya ingin bersikap sopan pada Anda. Saya minta maaf karena telat datang hari ini, kebetulan saya sedang sibuk sekali, sehingga tidak bisa datang ke kantor." Aldo menundukkan kepalanya dengan hormat, seperti saat dia dan Bianca hanya berstatus sebagai sekretaris dan bos saja.
"Ti–tidak masalah! Tapi kenapa harus memanggilku dengan panggilan Nona? Biasanya juga manggil Caca." Bianca memanyunkan bibirnya, dan Aldo yang melihat itu hanya mampu menahan dirinya agar tidak memeluk atau bahkan mengecup wanita itu. Kan tidak lucu, padahal dia sedang berdrama, agar membuat wanita itu menjadi kesal dan sedih hari ini. Sepertinya sesuai dugaannya, Bianca pasti lupa bahwa hari ini adalah hari ulang tahunnya, apalagi seluruh keluarganya sudah kompak untuk bersikap biasa saja seperti hari-hari biasanya. Tidak menunjukkan sikap berlebihan yang mungkin saja akan membuar Bianca curiga nantinya.
'Sabar, Al! Drama ini hanya sampai malam nanti saja! Setelah itu kau boleh memeluk dan mengecupnya nanti! Tahan dirimu!' Aldo berusaha mati-matian menahan dirinya agar tidak memeluk Bianca.
"Maaf, Nona. Tapi tujuan saya datang kemari ingin memberikan surat untuk Anda," ucap Aldo yang masih saja bersikap formal.
Bianca menjadi gemes sendiri. Apakah dia memang ada salah pada laki-laki itu, sampai dia bersikap seolah tidak ingat jika mereka sudah lebih dari sekedar sekretaris dan bos.
"Kamu kenapa sih, Al? Kok sikap kamu kayak gini? Aku punya salah, ya? Kalau iya, bilang dong! Aku tuh bukan cenayang yang bisa baca pikiran orang!" ketus Bianca yang sudah sangat jengkel pada Aldo. Tetapi reaksi Aldo tetap biasa saja, terlihat sama sekali tidak peduli dengan cerocosan wanita itu.
"Maaf, Nona. Ini suratnya." Aldo mengabaikan deretan pertanyaan yang dilontarkan Bianca, dia lalu menyerahkan surat pengunduran dirinya.
"Ckk ... memangnya ini surat apa?" Sebenarnya Bianca sempat berpikir jika Aldo sedang bercanda saja bersikap seperti itu, lalu di dalam surat tersebut ada kata-kata manis yang ditulis laki-laki itu untuk dirinya. Tetapi dia berpura-pura bersikap sedang kesal pada laki-laki itu.
"Itu surat pengunduran diri saya, Nona." Aldo menjawab singkat, dan jawaban singkat itu mampu membuat Bianca terdiam membisu. Apakah Aldo sedang bercanda? Tetapi kenapa wajahnya terlihat sangat serius? Pikir Bianca.
Dengan cepat Bianca membuka amplop tersebut, lalu membaca lembaran yang ada di dalam amplop tersebut. Matanya seketika membelalak membaca surat tersebut. Ternyata Aldo tidak sedang bercanda. Laki-laki itu memang serius ingin mengundurkan diri.
"Ke-kenapa?" lirih Bianca dengan pandangan sendu. "Kenapa cepat sekali? Bukannya kamu bilang beberapa bulan lagi? Tapi ini belum sampai sebulan, tapi kamu malah mengundurkan diri." Bianca menatap mata laki-laki itu, meminta penjelasan dari surat tersebut. Baru saja beberapa minggu yang lalu Aldo mengatakan jika dia akan bertahan beberapa bulan di perusahaan, tapi kenapa kini malah ingin mengundurkan diri?
"Maaf, Nona. Tapi saya rasa Anda tidak perlu tahu urusan pribadi saya," sahut Aldo dengan tenang.
"Tidak perlu tahu? Aku ini pacarmu, Al!" Bianca menekankan ucapannya, tetapi jawaban itu justru dibalas dengan kerutan di dahi Aldo. Bianca yang melihatnya seketika malu, sekarang dia justru mempermalukan dirinya lagi.
"Baik! Aku memang bukan pacarmu! Tapi, kenapa kamu ingin resign ? Berikan aku alasan yang tepat, Al!" tegas Bianca, meski pun sebenarnya dia sedang berusaha mati-matian menahan air mata yang terjun membasahi pipinya.
"Maaf, Nona. Tapi saya benar-benar tidak bisa mengatakan alasannya, kalau begitu saya pamit undur diri." Aldo membungkukkan badannya, lalu segera pergi dari sana, meninggalkan Bianca yang hanya bisa menggeleng dengan kuat. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa sifat laki-laki itu benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat? Apakah dia memang punya salah? Tapi sepertinya tidak ada! Atau mungkin kenangan manis itu hanya mimpinya saja? Pikir Bianca.
"Aldo," lirih Bianca dengan suara bergetar, sehingga membuat Aldo yang hendak keluar sontak terhenti, padahal dia sudah memegang handel pintu, berniat untuk pergi.
"Kamu sebenarnya kenapa? Kenapa berubah seperti ini? Hiks ...." Bianca mulai menangis, dia benar-benar sedih dengan sifat laki-laki itu yang sangat cuek dengan dirinya.
Aldo yang mendengar isak tangis wanita itu sontak mengeratkan pegangannya pada handel pintu tersebut. Rasanya tidak tega melihat wanita itu yang menangis. Apakah dia keterlaluan sampai bersikap dingin seperti ini? Tetapi dia hanya melakukan seperti yang dikatakan Barrack padanya.
"Hiks ... hiks ...." Aldo membalikkan pandangannya ketika mendengar suara isak tangis tersebut yang semakin nyaring. Sepertinya Bianca memang menangis, sama sekali tidak dibuat-buat!
Aldo terpaku melihat air mata Bianca yang terus menangis. Dia benar-benar tidak tega sekarang. Rasanya ingin sekali dia berlari ke arah wanita itu, lalu mendekapnya dan meminta maaf karena sudah membuatnya menangis seperti itu. Tetapi dia tetap berusaha untuk menahan diri, agar pesta yang sudah dia siapkan tidak sia-sia begitu saja.
'Tahan, Al! Lagian ini sudah sore kok! Tunggu sebentar lagi saja, lalu kau bisa meminta maaf nanti, lalu mendekapnya'
Aldo segera pergi dari dalam ruangan tersebut. Tidak mau berlama-lama lagi berada di sana, karena dia takutnya tidak bisa menahan diri, lalu berlari ke arah wanita itu.
"Argg, Aku merasa seperti laki-laki yang br***sek saja yang sudah membuat wanita menangis! Padahal aku sudah berencana akan selalu membuat dia bahagia. Tapi apa? Kini aku malah membuatnya menangis. Caca, aku berjanji ini adalah air mata yang terakhir!" gumam Aldo bersungguh-sungguh.
Sementara di dalam ruangan tersebut, tangis Bianca semakin kencang saja, apalagi saat melihat Aldo yang benar-benar pergi, sama sekali tidak kasihan dan tersentuh dengan air matanya ini.
"Hiks ... sebenarnya apa yang terjadi dengan Aldo? Kenapa dia bersikap seperti dulu lagi? Padahal aku tidak membuat kesalahan apa pun. Apakah dia sebenarnya tidak benar-benar mencintaiku? Hiks ... hiks ... Aldo, kamu benar-benar jahat!" ucap Bianca yang langsung meremas dengan kuat surat pengunduran Aldo.
__ADS_1
Padahal dirinya hanya ingin mendengar alasan kenapa Aldo mengundurkan diri, tetapi jawaban laki-laki itu justru sangat menusuk hatinya.
Bianca duduk di kursi kebanggaannya dengan pandangan yang kosong ke arah depan. Dia benar-benar tidak menyangka jika Aldo kembali bersikap seperti ini, padahal dia sendiri tidak tahu di mana letak kesalahannya yang sebenarnya, hingga membuat laki-laki itu bersikap seperti ini.
"Aldo, tolong jangan mempermainkan aku," lirih Bianca, dan sedetik kemudian air mata kembali jatuh membasahi pipinya.
*********
Aldo segera keluar dari perusahaan Dara. Banyak karyawan yang menyapanya, dan selalu dibalas anggukan oleh Aldo, bahkan laki-laki itu sedikit menyunggingkan senyumnya pada para karyawan tersebut.
Tringg ....
Tiba-tiba handphonenya berdering saat dia sedang berjalan meninggalkan perusahaan.
[Bagaimana? Apa Bianca menangis melihat perubahan sikapmu?]
Ternyata pesan dari Barrack.
[Iya, dia menangis, dan membuatku hampir tidak sanggup meneruskan drama ini. Untungnya aku segera pergi, takut kelepasan dan malah memeluknya.]
[Hahaha]
Barrack membalas pesan dari Aldo dengan emot tertawa, sepertinya melihat adiknya menangis adalah kesenangan tersendiri untuknya.
Aldo segera masuk ke dalam mobilnya, lalu meleset pergi, dia rencananya akan melihat kembali bagaimana dekorasi yang sudah dibuat. Dia takutnya ada yang terlewatkan. Pokoknya itu sama sekali tidak boleh terjadi!
Tak berselang lama, mobil yang dikendarai Aldo sampai di sebuah pantai. Aldo segera turun, dan berjalan menuju tempat yang sudah dia sewa, dan tempat itulah yang akan menjadi tempatnya melamar Bianca nanti. Ah, seketika dirinya menjadi tidak sabar menunggu malam hari.
"Bagaimana? Apakah ini sesuai seperti yang kamu inginkan?" tanya Andi menatap putranya.
Aldo mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, memastikan jika semuanya memang sempurna, tidak ada yang terlewatkan.
Seketika Aldo tersenyum saat melihat jika semuanya sesuai keinginannya.
Andi sendiri sedikit tertegun melihat putranya yang tersenyum, padahal dia sudah tidak pernah melihat laki-laki itu tersenyum semenjak dia sudah tumbuh dewasa.
"Sama-sama. Semoga lancar ya nanti." Andi menepuk bahu putranya dengan pelan.
"Amin." Aldo mengamini ucapan ayahnya. Dia juga berharap yang sama, yaitu semoga semuanya berjalan sesuai rencana.
********
Jam menunjukkan pukul 18:00 tepat. Semua orang sudah siap dengan tugas mereka masing-masing.
Aldo mengenakan pakaian biasanya, karena tidak mungkin menggenakan jas, yang ada akan membuat Bianca curiga nantinya. Aldo segera pergi menuju kantor Bianca, karena wanita itu masih berada di kantor, mungkin karena ada beberapa berkas yang harus dia selesaikan, sehingga tidak bisa pulang cepat seperti biasanya.
Tidak perlu memerlukan waktu yang lama, kini Aldo sudah sampai di depan gedung tinggi di mana Bianca bekerja, lebih tepatnya sebagai CEO.
Segera dia turun dari mobil, dan bertepatan dengan itu pula Bianca sudah selesai mengerjakan seluruh berkas yang menggunung tersebut.
Ketika Bianca keluar dari dalam perusahaannya, dia sedikit terkejut mendapati kehadiran Aldo. Kini Bianca bersikap bodo amat, seolah-olah tidak melihat kehadiran laki-laki itu, meski pun sangat jelas jika tadi dia sempat melirik mata Aldo.
Bianca melewati Aldo begitu saja, tetapi dengan cepat Aldo menahan lengan wanita itu.
"Pulang barenga aku, ya?" pinta Aldo dengan suara lembut, jauh berbeda dengan dirinya siang tadi.
Bianca tentu dibuat bingung. Kenapa sifat Aldo mendadak berubah lagi? Padahal tadi siang suaranya terdengar datar dan dingin, tetapi kenapa sekarang dia malah bersikap lemah lembut seperti ini?
"Aku bisa pulang sendiri!" ucap Bianca dengan angkuh.
"Pulang dengan aku saja, lagian kamu kan nggak bawa mobil!" ucap Aldo yang langsung membuat Bianca terdiam. Sial! Dirinya lupa jika tadi dia antar oleh Barrack, karena kakak-nya itu yang memaksa, sehingga membuatnya mengiayakannya saja.
Dengan penuh keterpaksaan Bianca mengangguk saja, karena cukup sulit untuk mencari taksi, lagian dia sedikit trauma sejak kejadian di mana dia cegat oleh para preman.
Bianca segera masuk ke dalam mobil, lalu diikuti oleh Aldo. Aldo segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju lokasi di mana dia yang akan melamar Bianca nanti.
__ADS_1
"Kenapa kamu bersikap aneh hari ini?" tanya Bianca menatap mata Aldo.
"Tidak ada apa-apa," jawab Aldo yang suaranya kini terdengar datar kembali, membuat Bianca menjadi bingung kembali.
Bianca memilih diam saja, mungkin Aldo sedang banyak masalah. Pikir Bianca berusaha perpikir positif saja.
Bianca yang kebetulan memilih untuk menatap jalanan saja seketika terkejut saat menyadari jika ini bukan arah jalan menuju rumahnya.
"Al, sepertinya kamu salah deh. Ini bukan arah jalan ke rumah ku," cicit Bianca dengan suara pelan.
"Tidak! Aku tidak salah jalan!" sahut Aldo dengan suara datar miliknya.
"Tapi ini bukan jalan arah ke rumahku!" Bianca seketika panik, dia menjadi takut dengan Aldo saat ini.
"Tenang saja, Nona! Saya tidak salah kok," ucap Aldo menenangkan, dia takutnya wanita itu justru akan melompat dari mobil karena berpikir yang tidak-tidak.
Meski pun Bianca sedikit panik, tetapi dia tetap bersikap tenang, dia percaya jika Aldo tidak mungkin bersikap kurang ajar padanya. Dia yakin jika Aldo adalah laku-laki yang baik.
Tiba-tiba mobil yang dikendarai Aldo berhenti di sebuah tempat yang Bianca sendiri tidak tahu tempat apa itu, karena sangat gelap sekali. Sial! Mana handphonennya habis lowbet lagi.
"Turun, Nona!" pinta Aldo, lalu dia segera turun terlebih dahulu. Bianca yang melihat Aldo sudah turun, langsung ikut laki-laki itu turun juga.
"Kita di mana, Al?" tanya Bianca yang merasa sedikit merinding, pasalnya tempat tersebut sangat gelap. Tetapi Bianca dapat merasakan jika yang dia injak adalah pasir, bukan tanah.
"Mari, Nona!" Aldo mengabaikan pertanyaan wanita itu, lalu segera berjalan mendahului Bianca. Bianca yang melihat Aldo berjalan langsung mengekori laki-laki itu, dia takut jika sendirian di tengah kegelapan tersebut.
Karena tidak fokus melihat Aldo, dan justru lebih fokus melihat sekeliling, Bianca jadi kehilangan jejak laki-laki itu.
"Al?" teriak Bianca yang mulai panik.
"Aldo? Kamu di mana?" Kini Bianca mulai ketakutan.
"Aldo, jangan bercanda! Ini sama sekali tidak lucu!" bentak Bianca, tetapi tetap saja tidak ada sahutan dari laki-laki itu.
"ALDO!" Kali ini Bianca mengeluarkan seluruh suaranya, berharap Aldo mendengarnya.
"Hiks ... hiks ... Aldo!" Bianca mulai menangis saat tidak ada sahutan. Seketika dia merasa sangat takut, apalagi dia tidak tahu di mana dia berada sekarang.
Klik
"Aaaaaa!" Bianca sontak berteriak histeris saat lampu-lampu dinyalakan.
"Happy birthday to you. Happy birthday to you. Happy birthday, happy birthday, happy birthday Caca!"
TBC
.
.
.
.
__ADS_1