Kesalahpahaman yang Berujung Cinta

Kesalahpahaman yang Berujung Cinta
Kehadiran Desy


__ADS_3

"Bianca?" Seorang wanita yang diperkirakan seumuran dengan Bianca sedikit terkejut saat melihat wajah yang baru saja dia tabrak.


Bianca yang mendengar namanya disebut sontak mendongakkan kepalanya.


"Desy?" Tak berbeda jauh dengan wanita itu, Bianca juga tak kalah terkejut melihat sosok wanita yang baru saja dia tabrak.


Ha-ha-ha


Wanita yang ternyata memiliki nama Desy itu tertawa melihat wanita yang ditabraknya ternyata adalah Bianca, musuh bebuyutannya sewaktu SMA dulu.


Sewaktu SMA, Bianca dan Desy adalah musuh bebuyutan di dalam kelas. Mereka berdua selalu ingin menjadi yang terbaik, dan terpintar di sekolah. Mereka selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan peringkat yang pertama di dalam kelas, bahkan dalam urusan kecantikan pun mereka berlomba-lomba mendapatkan love yang paling terbanyak ketika memposting foto di instagram di jam yang sama. Terkadang Bianca yang mendapat peringkat pertama, tetapi setelah itu disusul oleh Desy, dan Bianca turun ke peringkat kedua. Begitulah seterusnya, bahkan kadang peringat mereka sama. Itulah yang membuat mereka bermusuhan sampai kelulusan.


"Lo nggapain di sini? Mau jaulan?" tanya Desy yang masih terus tertawa.


Bianca memandang sinis Desy. "Emangnya kenapa kalau gue di sini? Emangnya hotel ini punya bokap lo? Helow Desy Evania Caitlin, lantas apa kabar dengan Anda? Ngapain di sini? Kurang duit Neng? Udah berapa Om-Om betewe?" tanya Bianca yang ikut tertawa meremehkan Desy.


Desy menggeram marah mendengar ucapan bar-bar dari mulut wanita di depannya. Bianca memang tidak berubah dari dulu, perempuan itu memang memiliki sifat bar-bar sekali.


"Cih ... sorry, ya! Tapi gue nggak kekurangan duit sampai mau ngejual diri! Harta Nyokab Bokap gue masih melimpah!" Desy berlaga sombong di hadapan Bianca, sehingga membuat Bianca menjadi kesal sendiri.


"Harta orang tua aja bangga! Gue yang udah punya harta sendiri aja biasa aja tuh," sindir Bianca yang sontak membuat Desy hampir tersedak ludahnya sendiri. Sumpah, mulut Bianca memang tidak pernah berubah, sangat berbisa.


"Cih ... perusahaan dikasih aja bangga! Bangun sendiri dong!" Kali ini gantian Desy yang menyindir, membuat Bianca kalah telak. Desy benar-benar musuh terkuat untuknya.


"Kok lo ngeselin banget sih?" gerutu Bianca yang seketika kesal.


"Dih ... nggak nyadar diri banget! Yang ngeselin itu elo!" balas Desy yang tak terima disalahkan.


"Lo!"


"Lo!"


"Ckk ... nggak akan ada habisnya kalau ngomong sama lo!" ketus Bianca. Bianca berniat hendak pergi, tetapi langsung dihadang oleh Desy, membuat Bianca berdecak kesal. Sebenarnya apa mau wanita itu?


"Apa lagi sih? Gue tuh udah kebelet!" bentak Bianca yang dihiraukan Desy.


"Lo belum jawab pertanyaan gue tadi. Lo ngapain ke sini? Lo serius jualan?" Kini ekspresi Desy tidak bisa digambarkan. Dia benar-benar tidak percaya jika Bianca mau menjual dirinya, padahal Bianca sewaktu SMA dulu bisa dibilang cukup alim.


"Gila lo! Gue ke sini nemanin suami gue!" jawab Bianca yang tidak mau dianggap wanita tidak benar, apalagi oleh musuhnya sendiri.


"What the f*ck? Lo punya suami? Lo bunting duluan, ya?" Desy memekik karena saking terkejutnya. Apakah Bianca yang terlalu cepat menikah? Atau justru dirinya yang ternyata masih belum laku? Kini tatapan Desy jatuh pada perut Bianca yang terlihat sama sekali tidak ada tonjolannya.


Bianca membelalak. Yang benar saja! Dia bukan wanita tidak benar sampai mau melakukan hubungan badan tanpa status suami istri terlebih dahulu. "Gila lo! Wajar aja gue nikah, orang umur gue juga udah mateng. Emangnya lo yang kagak laku! Nunggu apa? Nunggu lumutan dulu baru nikah?" cerocos Bianca pedas.


"Buset! Mulut lo kenapa nyelekit banget sih? Gue itu lagi menikmati masa jomblo. Malas aja cepat-cepat nikah." Desy bergaya sok cantik.

__ADS_1


"Dih ... bilang aja kagak laku," gumam Bianca yang rupanya masih bisa didengar oleh Desy.


"Ckk ... oke, fine! Lo liat aja, gue bakal bawa calon suami gue dua minggu lagi!" ucap Desy asal, karena saking gemesnya dengan ucapan Bianca. Setelah itu dia pergi begitu saja meninggalkan Bianca yang tertawa tidak jelas, mungkin karena berhasil mengalahkannya kali ini.


"Dasar kagak laku!" gumam Bianca, lalu segera pergi karena merasa sudah sangat kebelet.


******


Sementara Desy pergi dengan sedikit menghentak-hentakkan kakinya, karena kesal sudah kalah telak dari Bianca. Jika saja bukan karena ayahnya yang meminta dia untuk turun langsung mencoba melakukan negosiasi agar perusahaan lain mau bekerja sama, dia tidak akan pernah mau! Lagian apa-apaan ayahnya malah menyuruhnya bertemu di hotel? Apakah dia tidak khawatir pada putrinya? Bagaimana jika dia justru diperk*sa nanti? Dia tidak akan pernah sudi! Tubuhnya hanya boleh disentuh oleh laki-laki yang akan menjadi suaminya kelak.


"Sumpah, tuh cewek ngeselin banget!" gerutu Desy dengan napas memburu.


Desy segera masuk ke dalam ruangan VIP yang memang sudah dia pesan tadi untuk bertemu dengan salah satu pemilik perusahaan. Sebelumnya Desy ada mendengar kabar jika perusahaan itu sudah diwariskan pada anak tuan Pratama, dan dia dengar jika anak tuan Pratama sangat tampan.


"Cih ... setampan apa sih sampai-sampai banyak yang gosipin?" gerutu Desy setelah berada tepat di depan pintu.


Segera Desy membuka pintu ruangan tersebut, lalu terlihatlah seorang laki-laki yang posisinya kebetulan sedang membelakanginya. Cukup rapi. Batin Desy.


"Ekhem ... saya minta maaf Tuan, tadi saya kebetulan pergi ke toilet." Desy berkata dengan formal.


Degg ....


Jantung Desy berdetak dua kali lebih cepat saat melewati laki-laki yang akan menjadi partnernya. Sungguh terlihat sangat tampan.


"Nona."


"Nona!" Aldo kembali memanggil wanita yang akan rekan kerjanya tersebut saat melihatnya yang bengong menatapnya.


"Ah, iya? Ada apa?" Desy bagaikan orang linglung. Dia mengerjab-ngerjabkan matanya dengan lucu.


"Seharusnya yang menanyakan itu saya. Kenapa Anda memandang saya seperti itu?" Jujur saja Aldo sedikit risih saat ditatap seperti tadi.


"Ah, tidak ada apa-apa. Sebelum mulai, bolehkah kita berkenalan?" Desy menyodorkan telapak tangannya di hadapan Aldo.


"Desy Evania Caitlin," ucap Desy dengan senyum manisnya. Aldo tak bisa pungkiri jika senyum Desy memang manis, tetapi tidak semanis senyum Bianca.


"Aldo Raditya Pratama," balas Aldo menjabat tangan Desy.


'Ah, ternyata namanya Aldo' gumam Desy dalam hati.


"Baiklah, mari kita bahas masalah kerja sama kali ini. Saya pastikan keuntungan yang kita dapatkan sama rata," ucap Desy dengan serius.


Aldo dan Desy lalu mulai membahas tentang kerja sama yang akan mereka lakukan. Mulai dari keuntungan, hingga berapa uang yang perlu mereka keluarkan. Jiwa kepemimpinan Aldo benar-benar terlihat. Dia dengan serius membaca kontrak kerja sama tersebut, lalu mengomentari beberapa point yang tertera, dan menurut Desy komentar Aldo benar-benar sangat berguna.


"Baik, kita akan mulai proyek ini minggu depan," ucap Desy setelah Aldo menanda tangani kontrak tersebut.

__ADS_1


"Baik, Nona," jawab Aldo dengan suara datarnya.


"Eum ... betewe boleh minta nomornya?" Dengan tidak tahu malunya Desy memulai aksinya. Sedari tadi dia sudah menahan diri agar tidak asal bicara saja, takutnya dia gagal mendapat kerja sama tersebut, dan dapat dipastikan dia akan diusir oleh ayahnya jika gagal.


"Hah?" Aldo tentu sedikit terkejut mendengar permintaan rekan kerjanya. "Untuk apa, Nona?"


"Ya untuk chattan," jawab Desy sambil terkekeh tidak jelas. "Siapa tau nyantol." Desy berkata tanpa beban sedikit pun.


"Maaf, Nona. Tetapi saya sudah memiliki kekasih." Aldo berusaha berkata dengan lembut, tetapi tetap tegas.


"Kekasih? Nggak apa-apa, selagi janur kuning belum melengkung, that's fine!" Aldo dibuat melongo mendengarnya.


"Tapi saya sudah hendak menikah, Nona."


"Enggak apa-apa. Entar kalau janur kuningnya melengkung, tinggal setrika aja biar lurus lagi," sahut Desy asal.


"Maaf, Nona. Tetapi saya tidak bisa berlama-lama. Kalau begitu saya pamit." Karena tidak mau berlama-lama dengan wanita aneh itu, Aldo memilih untuk pergi saja.


"POKOKNYA AKU BAKAL KEJAR KAMU SAMPAI DAPAT!" teriak Desy tanpa tahu malu sedikit pun.




TBC



.



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2