Kesalahpahaman yang Berujung Cinta

Kesalahpahaman yang Berujung Cinta
Percayalah, Aku Juga Mencintaimu!


__ADS_3

Bianca berteriak histeris melihat keberadaan Aldo di sampingnya. Seketika ingatan itu kembali lagi, membuat dia hampir gila karena saking malunya. Andai operasi plastik mudah saja dilakukan, maka dia pasti akan melakukannya, dari pada terus-terusan malu seperti ini.


"Nona, kenapa Anda berteriak?" Aldo tentu dibuat kelabakan melihat wanita itu yang berteriak. Sebenarnya apa yang terjadi? Wanita itu berteriak histeris seperti habis melihat hantu saja.


"Aldo, kau jangan muncul di hadapanku! Aku malu, Aldo! Kenapa kau harus berada di sini juga? Aku ingin menghilang dari dunia ini!" Bianca kembali menangis histeris, bahkan dia tidak mau melihat wajah Aldo saking malunya.


Dia masih teringat dengan sifatnya yang kecentilan saat itu hanya karena ingin membuat laki-laki itu sadar bagaimana cara menyatakan cinta pada wanita. Padahal, laki-laki itu bahkan tidak pernah sama sekali menyatakan cintanya pada dia.


Melihat bosnya yang terus menangis, Aldo memilih untuk keluar memanggil dokter sekaligus menghubungi kaluarga Bianca untuk memberitahukan bahwa wanita itu sudah sadar sekarang.


Mendengar jika pasien pentingnya sudah sadar, Rangga segera berlari dan masuk ke dalam ruangan di mana Bianca dirawat.


"Nona, tenangkan dirimu!" ucap Rangga dengan lembut saat melihat Bianca yang terus menangis histeris.


"Aku ingin menghilang saja dari dunia ini! Aku tidak mau melihat wajah Aldo! Aku malu, Dok!" Bianca memekik, dia benar-benar tidak bisa mengontrol dirinya sekarang. Rasanya dia ingin gantung diri saja.


"Baik, Nona. Saya akan sampaikan itu pada Aldo, agar dia tidak muncul di hadapan Anda. Tapi tolong kendalikan diri Anda!" tegas Rangga.


Bianca menarik napas panjang, lalu menghembuskannya secara perlahan. Pikirannya mulai tenang sekarang.


"Dok, saya laper!" Bianca berkata sambil cengengesan tidak jelas.


Rangga yang mendengarnya sontak melonggo, baru saja pasiennya tersebut menangis histeris, kini dia malah meminta makanan.


"Baik, Nona!" Rangga menjawab patuh. Sepertinya air infus itu tidak berpengaruh pada wanita itu, karena nyatanya dia masih saja lapar. Awalnya Rangga berpikir pasiennya tersebut tidak akan lapar, mengingat dia sepertinya banyak pikiran. Tetapi ternyata dia salah.


"Oh iya, tolong suruh perawat aja yang nganter kalau orang tua saya nggak ada. Pokoknya saya nggak mau ketemu sama laki-laki tadi!" Bianca berkata dengan tegas, tetapi karena wajahnya yang menggemaskan, suara itu justru terdengar lucu, tidak tegas sama sekali!


"Baik, Nona." Rangga tersenyum lebar melihat wajah menggemaskan pasiennya. Selama dia menjadi dokter, ini pertama kalinya dia melihat ada wanita yang sangat cantik seperti pasiennya tersebut.


"Kalau begitu saya pamit, Nona!" Rangga sedikit membungkukkan badannya, lalu segera keluar dari dalam ruangan tersebut.


******


Melihat dokter yang sudah masuk ke dalam ruangan, Aldo lalu mengeluarkan handphonenya dari dalam kantong celana, berniat menghubungi Bayu dan memberitahukan jika putrinya sudah sadar.


"Halo, Al? Ada apa?" tanya Bayu yang kebetulan baru saja keluar dari ruangan rapat. Dia memang memutuskan untuk menggantikan Bianca untuk sementara, dan memberikan ijin pada Aldo untuk menjaga putrinya saja di rumah sakit.


"Tuan, Nona Bianca sudah sadar sekarang," ucap Aldo singkat.


"Benarkah? Bagaimana kabarnya? Apa dia baik-baik saja sekarang?" Bayu yang mendengarnya ikut bahagia.


Aldo menghembuskan napas berat. "Nona Bianca berteriak dan menangis saat melihat saya." Aldo berkata dengan suara yang pelan.


Bayu terdiam sebentar mendengar penuturan Aldo. "Dia hanya masih malu, Al. Jika kau sudah memberitahukan tentang perasaanmu, aku yakin dia pasti tidak akan bersikap seperti itu. Beri dia waktu! Aku akan ke sana segera." Wajar saja jika putrinya tersebut tidak mau bertemu dengan Aldo, sementara laki-laki itulah yang berusaha dia hindari, tetapi malah dipertemukan kembali. Siapa coba yang tidak malu?


"Baik, Tuan!" Aldo menjawab patuh, lalu segera mematikan panggilan tersebut.


Aldo menunggu di luar dengan perasaan gelisah, tangannya bahkan berkeringat.


Ceklek ....


Mendengar pintu yang terbuka, sontak saja dia bangkit berdiri.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan pacar saya?" Aldo menekankan kata pacar saya, karena bagaimana pun pesona Bianca tidak bisa diragukan. Dia takutnya dokter tersebut malah jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap Bianca. Dia tidak akan pernah rela jika Bianca tidak bersamanya! Tidak akan pernah!


"Nona Bianca baik-baik saja. Dia hanya shock tadi. Tetapi untuk menjaga kesehatannya, sebaiknya Tuan tidak bertemu dengannya terlebih dahulu, karena Pasien berpesan tidak mau bertemu dengan Anda Tuan!" Rangga menjelaskannya dengan suara lembut, karena menjadi dokter memang harus menjaga tutur kata dan cara mengucapkannya.


"Baik, terima kasih!" Aldo menyahut dengan suara datar miliknya.


Melihat dokter tersebut yang sudah pergi, Aldo kembali menghembuskan napas kasar. Kenapa jadi seperti ini? Padahal niat hatinya ingin menyatakannya cinta pada Bianca.


Aldo lantas hanya duduk lesehan di luar. Ingin masuk, tetapi tidak berani, takutnya memperburuk kondisi wanita itu nantinya.


Tiba-tiba terlihat seorang perawat yang datang membawa nampan berisi makanan dan minuman. Sepertinya akan membawa ke ruangan yang ditempati oleh Bianca.


"Tunggu!" Aldo menahan perawat tersebut saat dia baru saja ingin memegang handle pintu.


"Apa apa, Pak?" Perawat tersebut bertanya dengan ramah.


"Apa itu untuk pasien yang ada di dalam?" Aldo bertanya sambil menunjuk nampan tersebut.


"Iya, Pak. Ini untuk Nona Bianca. Dokter Rangga mengatakan kalau dia tadi lapar," ucap perawat tersebut, dan hanya dibalas anggukan oleh Aldo.


Aldo terdiam, otaknya bekerja keras mencari ide bagaimana caranya agar Bianca ingin bertemu dengannya.


Aldo tersenyum senang saat mendapatkan ide yang sepertinya akan berjalan lancar. "Maaf, apa kau memiliki pulpen dan kertas?" Aldo bertanya dengan sopan.


"Pulpen dan kertas? Oh, sepertinya ada di dalam kantong saya. Sebentar ... bisa pegang ini sebentar?" Perawat tersebut meminta tolong pada Aldo agar memegang sebentar nampan yang ada digenggamannya.


Aldo menerima kertas dan pulpen yang diberikan oleh perawat tersebut, lalu mengembalikan nampan tersebut.


"Baik, Pak!" Perawat itu mengangguk patuh, lalu berdiri menunggu laki-laki itu yang sedang sibuk menulis di kertas putih tersebut.


Aldo segera menuliskan kata-kata yang ingin dia tuliskan, berharap dengan cara ini Bianca mau melihat wajahnya.


Beberapa menit kemudian, Aldo akhirnya selesai juga menulis hampir setengah lembaran. Segera dia lipat kertas itu menjadi dua bagian.


"Sebelum kau berikan bubur itu, bisakah kau berikan surat ini terlebih dahulu padanya? Katakan jika surat itu dari Aldo, dan dia memohon agar surat itu dibaca. Jika dia tidak mau membacanya, katakan jika Aldo mencintainya!" Aldo menyarahkan lembaran kertas tersebut pada perawat itu.


Perawat itu tersenyum, lalu meminta Aldo untuk meletakkan kertas itu di samping mangkuk bubur, karena tangannya yang kebetulan sedang memagang nampan.


Ceklek ....


Perawat tersebut lalu masuk ke dalam ruangan. Bianca yang terkejut sontak mengalihkan pandangannya, takut jika yang masuk tersebut adalah Aldo. Tetapi melihat siapa yang masuk, Bianca langsung menghembuskan napas lega.


Sementara Aldo berada di luar, dia terus merapalkan doa, berharap semuanya berjalan lancar.


"Halo, Nona. Bagaimana keadaannya?" tanya Perawat tersebut berbasa-basi.


"Sudah mulai membaik kok, Kak," jawab Bianca dengan senyum tipis.


"Itu makanan saya, kan? Bisa bawakan ke sini? Kebetulan saya laper!" Bianca meminta tolong sambil cengengesan tidak jelas.


"Baik, Nona! Tapi sebelum itu, tadi ada laki-laki bernama Aldo yang memberikan surat untuk Anda! Dia memohon agar Anda mau membacanya sebentar saja." Perawat tersebut menyerahkan selembar kertas tersebut pada Bianca. Tetapi Bianca tidak bergeming, dia sama sekali tidak merasa tertarik dengan isi surat tersebut.


"Aku sedang malas membaca. Bisakah Kakak ambilkan aku bubur itu saja. Aku sudah sangat lapar sekarang." Bianca mengabaikan surat itu, rasanya dia tidak mau lagi berurusan dengan laki-laki bernama Aldo. Sudah cukup dia mempermalukan dirinya sendiri! Jangan sampai lagi!

__ADS_1


"Dia mengatakan jika dia sangat mencintai Anda." Perawat tersebut lalu mengatakan kalimat yang dipesan oleh Aldo tadi. Ternyata benar, wanita itu tidak mau membaca surat tersebut, hingga dia akhirnya mengatakan kalimat itu, sesuai dengan pesan Aldo.


Tubuh Bianca membeku mendengar penuturan perawat tersebut. Dia mengerjab-ngerjabkan matanya berulang kali. Apakah dia tidak salah dengar barusan?


"Tadi Kakak bilang apa?" Bianca bertanya, memastikan jika pendengarannya barusan tidak salah. Dia menjadi sedikit trauma mendengar kata-kata cinta. TAKUT SALAH DENGAR DAN SALAH SANGKA!


"Aldo mengatakan jika dia sangat mencinta Anda, dan ini surat yang baru saja dia tulis." Perawat tersebut kembali menjelaskan ucapannya tadi, lalu kembali menyodorkan lembaran kertas tersebut.


Bianca terdiam. Dia justru dibuat shock mendengar penuturan perawat tersebut. Ternyata pendengarannya tidak salah. Tetapi bisa sajakan jika Aldo hanya berniat mengejeknya? Atau merasa kasihan padanya? Tidak! Dia tidak boleh berharap lebih!


"Nona? Apa Anda benar-benar tidak mau menerima surat ini? Padahal saya dapat melihat dengan jelas kalau laki-laki yang bernama Aldo itu sangat mencintai Ando, sangat terlihat dari sorot matanya." Seketika ucapan perawat itu menyadarkan Bianca yang sedang melamun.


"Ba–baiklah, sini suratnya!" Bianca segera menerima surat tersebut, lantas membukanya.


Nona, saya tau jika Anda pasti malu bertemu dengan saya. Tetapi seharusnya Anda tidak perlu malu seperti ini. Mendengar jika Anda mengalami depresi ringan, saya menjadi sangat khawatir. Saya merasa jika ini semua adalah salah saya. Maaf, maaf karena ulah saya Anda sampai sakit seperti ini. Nona, sebenarnya saya sudah mencintai Anda sejak pandangan pertama. Awalnya saya pikir ini hanya perasaan kagum saja, tetapi setelah saya dalami, ini perasaan cinta, bukan hanya sekedar perasaan menganggumi. Sewaktu di taman semalam, saya memang sedang memberikan saran pada teman saya, tetapi percayalah, saat itu saya sedang menghayal menyatakan cinta pada Anda. Mungkin ini terdengar konyol, dan mungkin Anda berpikir jika saya hanya berpura-pura mencintai Anda karena merasa kasihan pada Anda. Tetapi percayalah, aku juga mencintaimu! Bahkan mungkin sebelum kamu jatuh cinta terlebih dahulu padaku.


I love you from the bottom of my heart.


Tubuh Bianca membeku membaca kalimat terakhir yang ditulis Aldo. Apa dia tidak salah baca? Jadi ... selama ini laki-laki itu memang menyimpan perasaan padanya?


Tanpa sadar senyum terbit di wajah Bianca. Rasanya seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutnya. Jadi, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, 'kan?


Perawat yang melihat pasiennya tersenyum ikut tersenyum juga. Memang benar kata orang, 'Obat yang paling manjur adalah kebahagiaan.' Dia ikut bahagia melihat pasiennya bahagia.


"Kak, bisa minta tolong panggilkan laki-laki itu untuk masuk ke dalam?" tanya Bianca dengan wajah yang kini mulai berseri.


"Tentu saja, Nona!" Perawat tersebut mengangguk dengan semangat.




I love you from the bottom of my heart. (Aku mencintaimu dari hatiku yang terdalam)



TBC



.



.



.



.

__ADS_1


__ADS_2