Kesalahpahaman yang Berujung Cinta

Kesalahpahaman yang Berujung Cinta
Bab 32 B# Dibuat Ngakak Mendengar Faktanya!


__ADS_3

"Tiga hari yang lalu?" ulang Barrack.


'Dan dari tiga hari yang lalu dia bersikap aneh'


"Apa kau tau apa yang membuat adikku uring-uringan di rumah?" Barrack bingung bagaimana menanyakannya, jadi dia langsung to the point saja.


"Uring-uringan?" Aldo justru dibuat bingung, dia sama sekali tidak tahu dengan keadaan wanita itu.


"Iya, selama tiga hari ini dia terus menangis tidak jelas, dan selalu mengatakan ingin menghilang dari bumi, malu, dan pengen berhenti bekerja saja! Sebenarnya apa yang terjadi? Kau pasti tau kan, secara kau adalah sekretarisnya dan pasti selalu bersama dengan dia." Seketika rasa kantuk Barrack hilang, dia sangat khawatir dengan kondisi adik kesayangannya tersebut.


'Apa iya karena itu?' Aldo bertanya-tanya dalam hati.


"Sebenarnya ...." Aldo ingin menjelaskan apa yang terjadi dengan dirinya dan Bianca, tetapi dia takut jika alasan wanita itu uring-uringan bukan karena malu bertemu dengannya. Siapa tau ada masalah lain, kan?


"Sebenarnya ... apa, Al? Kau jangan membuatku bingung! Aku sudah mempercayaimu sepenuhnya, bahkan aku tidak menghabisimu saat kau dengan lancangnya mencium adikku! Jadi jangan buat aku marah dengan menyembunyikan rahasia di belakangku, apalagi jika rahasia itu berkaitan dengan adikku!" ucap Barrack dengan suara tegas.


"Sebenarnya saya tidak yakin jika inilah alasan Nona Bianca uring-uringan. Tetapi tiga hari yang lalu saya dan Nona Bianca rencananya akan pergi ke Bioskop untuk menonton. Tiba-tiba teman saya datang. Sebelumnya teman saya ini pernah menelpon dan meminta saran pada saya bagaimana caranya menyatakan cinta pada wanita, dan yeah, saya katakan apa adanya, dan ternyata Nona Bianca mendengar itu semua, dan dia salah paham sepertinya. Dia pikir saya menyatakan cinta padanya, padahal tidak! Tiga hari yang lalu itu juga saya pergi lari pagi, dan tak sengaja bertemu dengan Nona Bianca di taman. Saat dia pergi membeli minuman, tiba-tiba teman saya ini kembali menelpon saya dan mengatakan jika cintanya digantung, dia kembali meminta saran pada saya, dan saya katakan saja apa adanya. Ternyata lagi dan lagi Nona Bianca salah paham, dia pikir saya kembali menyatakan cinta padanya, karena pada saat itu saya memang menggunakan earphone. Nona Bianca berpikir jika kami sudah resmi menjadi sepasang kekasih, padahal saya sendiri tidak tahu tentang itu! Jadi, semuanya terbongkar saat kami tidak sengaja bertemu dengan teman saya di Bioskop," jelas Aldo panjang lebar.


Sementara Barrack yang ada di seberang sana terdiam, berusaha untuk mencerna baik-baik penjelasan sekretaris adiknya tersebut.


"Tunggu dulu! Jadi ... maksudmu, Adikku salah paham, dan mengira kau mencintainya? Jadi, selama ini tingkah aneh dan menggemaskan Adikku itu karena kau, Al?" Barrack menanya untuk memastikan bahwa apa yang dia pahami benar.


"Eum ... mungkin, saya juga tidak tahu, Tuan. Tetapi sejak kesalahpahaman itu, Nona Bianca memang bersikap aneh. Dia selalu menyinggung saya perihal cinta, bahkan dia pernah mengatakan ingin menghibur saya," sahut Aldo dengan jujur.


Barrack kembali terdiam. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, hampir dibuat tidak percaya dengan apa yang terjadi dengan adiknya tersebut. Bagaimana mungkin Bianca bisa sampai salah paham seperti itu? Tetapi sedetik kemudian ....


Hahahaha


Tawa Barrack pecah di seberang sana. Dia bahkan guling-guling sambil memegang perutnya di atas kasur. Astaga, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Sangat lucu!


Ah, pantas saja adiknya mengatakan ingin menghilang dari dunia, jadi inilah penyebab utamanya. Jika dia yang ada di posisi adiknya, mungkin dia juga akan melakukan hal yang sama, yaitu uring-uringan dan ingin menghilang saja dari dunia ini.


"WOY! SHUT UP!" Terdengar teriakan seorang perempuan dari seberang apartment Barrack. ("Woy! Diam!")


"Tuan, apa yang terjadi?" Aldo justru dibuat bingung mendengar suara tawa Barrack yang sangat nyaring. Tetapi dia dibuat terkajut mendengar suara perempuan yang sangat melengking.


"Ah, tidak ada apa-apa! Aku memang memiliki tetangga baru yang menyebalkan!" jawab Barrack yang sudah mulai bisa menormalkan perasaannya. Rasanya tawanya ingin pecah kembali.


'Benar-benar gadis menyebalkan!' gerutu Barrack dalam hati.

__ADS_1


Saat Barrack kembali ke Amerika ini, dia sedikit terkejut mengetahui jika ada pemilik baru yang membeli apartment yang ada di sebelahnya. Awalnya dia pikir mungkin bisa dijadikan teman, tetapi sayangnya dia salah! Gadis itu sangat menyebalkan, dan yang pastinya sangat bar-bar! Asal ceplos saja apa yang ingin dia katakan, tanpa menyaring terlebih dahulu.


"Aldo, apakah kau ada bertemu dengan Bianca baru-baru ini?" tanya Barrack yang masih saja terkekeh. Ah, andai tidak mengingat jika ini masih subuh, Barrack pastikan akan tertawa sangat sangat nyaring.


"Tidak, Tuan! Sejak malam itu saya tidak bertemu dengan Nona Bianca lagi, dan saya hanya mendapatkan kabar dari Tuan Bayu yang mengatakan jika Nona Bianca tidak bisa hadir karena berhalangan," jawab Aldo.


Barrack menggeleng-gelengkan kepalanya. Bagaimana mungkin orang tuanya sangat tidak peka? Setidaknya menanyakan apa yang terjadi terhadap Bianca pada Aldo. Seharusnya mereka berpikir jika bisa saja Aldo yang tahu, mengingat laki-laki itulah yang menjadi asisten Bianca. Tetapi sepertinya mereka tidak berpikir sampai ke sana, karena hubungan Aldo dan Bianca terlihat biasa saja, tidak ada yang special!


"Al, aku minta kamu untuk datang ke rumahku—"


"Hah? Untuk apa saya datang ke Amerika?" Aldo tentu terkejut mendengar permintaan kakak dari bosnya tersebut. Pergi ke Amerika? Yang benar saja! Memangnya untuk apa?


"Ckk ... maksudku, kau datang ke rumah, dan temui Bianca. Dia sekarang sedang sakit, dan sering menangis, mungkin karena sangat malu. Kau bisa ceritakan perihal ini pada orang tuaku nanti. Dia juga susah untuk makan, dan sedari pagi tadi belum makan sama sekali. Jadi, aku mohon kau bujuk dia untuk makan, kasihan perutnya belum terisi sejak tadi pagi." Jujur saja mendapat pesan dari ibunya yang mengatakan jika adiknya tersebut belum makan seharian ini membuat Barrack sangat khawatir, dia takut jika adiknya tersebut sakitnya semakin parah jika dia tidak mau makan.


Aldo terlihat sedikit ragu untuk mengiyakan dan melakukan sesuai permintaan Barrack. Meski pun dia merindukan wanita itu, tetapi entah kenapa dia malah merasa deg-deg'an jika bertemu dengan Bianca.


"Baik, Tuan!" Meski pun rasanya ingin menolak, tetapi apalah daya, dia tidak bisa menolak begitu saja.


"Oh, iya! Apakah kau mencintai Adikku?" Barrack terlihat penasaran. Bukannya apa-apa, dari cerita yang disampaikan Aldo, dia dapat menyimpulkan jika adiknya tersebut menaruh hati pada sekretarisnya sendiri, dan Barrack tidak rela jika cinta adiknya bertepuk sebelah tangan.


Mendengar pertanyaan Barrack, Aldo jadi kelabakan. Masa iya dia mengatakan 'Ya, saya menyukai Nona Bianca!' Sepertinya tidak mungkin!


"Jawab saja yang jujur, Al!" tegas Barrack yang seakan tahu apa yang ada di pikiran Aldo.


"Al, ako mohon cintailah Adikku! Jangan sakiti dia, apalagi sampai membuatnya menangis! Aku percaya padamu!" ujar Barrack yang suaranya kini mulai lembut.


"Ba–baik, Tuan!" Aldo menjawab dengan sedikit terbata-bata.


"Yasudah! Kau bisa datang ke rumah! Kalau begitu aku matikan panggilannya!"


Barrack segera mematikan panggilan tersebut setelah Aldo mengatakan iya.


Barrack kembali menggeleng-gelengkan kepalanya. Astaga, ini benar-benar sangat lucu!


"Sumpah gue pengen banget pulang. Rasanya gue pengen banget ngejek Bianca habis-habisan. Tapi mau bagaimana lagi? Memang seperti inilah resiko memiliki perusahaan!" Barrack hanya mampu menghembuskan napas lelah.


Karena rasa kantuknya yang sudah hilang, Barrack memilih untuk menelpon orang tuanya saja.


"Halo, Bar. Ada apa?" jawab Bayu begitu panggilan tersambung.

__ADS_1


"Barra udah selesaiin masalah Caca. Nanti Aldo akan datang ke sana dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada Adik kesayangan ku itu! Nanti Aldo juga yang akan membujuk Caca biar mau makan!" Dengan susah payah Barrack berkata, karena dia berkata sambil terus tertawa tidak jelas.


"Kamu kenapa kertawa terus, Bar? Sebanarnya apa yang terjadi pada Caca? Dan kenapa harus Aldo yang menjelaskannya? Kenapa nggak kamu aja?" Bayu tentu dibuat bingung. Kenapa putranya harus melibatkan orang lain? Dan kenapa laki-laki itu terus tertawa tidak jelas sedari tadi?


"Udah, Pah. Cuman Aldo yang bisa ngejelasinnya. Barrack bisa gila kalau Barrack yang diminta buat ngejelasinnya. Yang pasti, nanti kalau kalian udah tau ceritanya, tolong banget kalian main drama di hadapan Caca, ya! Sekali-kali ngejahilin anak nggak apa-apa kali!" kekeh Barrack.


"Yaudah kalau gitu Barra tutup, ya? Barra laper dan udah nggak ngantuk lagi." Sebelum orang tuanya melontarkan lebih banyak pertanyaan, Barrack lebih dulu memilih untuk mengakhiri panggilan tersebut.


Setelah panggilan berakhir, Bayu terlihat bingung, dan itu semua tentu terlihat oleh Bryana.


"Kenapa, Pah?" tanya Bryana saat melihat suaminya yang mengerutkan kening, seolah-olah sedang bingung.


"Barrack sudah mengetahuinya, tapi katanya tunggu Aldo saja yang menjelaskannya," jawab Bayu.


"Kenapa harus Aldo? Kenapa nggak Barrack aja yang langsung ngejelasin?" Bryana tentu dibuat bingung.


"Entahlah! Barrack bilang dia bisa gila kalau dia yang ngejelasinnya!"


"Assalamualaikum!" Sebelum Bryana menyahuti ucapan suaminya, tiba-tiba terdengar suara orang yang mengucap salam lebih dahulu.


"Wa'alaikumsalam. Eh, Aldo, ayok masuk!" Bayu segera menyuruh Aldo untuk segera masuk. Rasanya dia sudah tidak sabar mendengar cerita apa yang sudah terjadi pada putrinya tersebut.




TBC



.



.



.

__ADS_1



.


__ADS_2