
"Wah, sepertinya putra saya akan memiliki kesempatan untuk mendapatkan Anda, Nona." Andreas berkata dengan antusias.
"Maaf, Tuan Andreas, tapi tolong hargai perkataan saya tadi. Saya sudah mencintai seseorang, dan saya akan memperjuangkan itu!" sahut Bianca bersungguh-sungguh.
"Untuk apa kau memperjuangkannya, Nak? Pada dasarnya perempuan yang harus diperjuangkan, bukan memperjuangkan." Andreas tentu bingung mendengar penuturan gadis muda di depannya. Bagaimana mungkin seorang yang hebat dan yang pastinya sukses seperti wanita itu tiba-tiba ingin memperjuangkan seorang pria? Bukankah seharusnya para pria yang memperjuangkannya?
"Karena dia sudah menyatakan cintanya pada saya, tetapi saya mengatakan itu terlalu cepat. Tetapi di saat saya menolak, dia sepertinya sudah membuang perasaan itu jauh-jauh, dan tidak berniat memperjuangkan saya. Tetapi karena saya yang sudah jatuh cinta padanya, maka saya yang akan memperjuangkannya kembali," jawab Bianca tanpa ragu sedikit pun, bahkan meski pun orang yang dia maksud berada di sana.
"Wah, tidak tahu diri sekali laki-laki itu. Bagaimana mungkin menyerah begitu saja hanya karena ditolak sekali saja." Andreas menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa marah pada sikap laki-laki itu yang seperti tidak ada keberanian sama sekali. "Kalau begitu, lebih baik Anda jangan memperjuangkannya, Nak. Laki-laki seperti itu tidak layak untuk Anda, Nak!" cegah Andreas. Dia merasa tidak rela jika perempuan se perfect Bianca mau memperjuangkan laki-laki seperti itu.
'Betul sekali. Benar-benar tidak tahu diri jadi laki-laki! Bagaimana mungkin menyerah begitu saja! Dan apa-apaan Nona Bianca ingin memperjuangkan laki-laki seperti itu! Jika aku jadi dia, aku tidak akan pernah mau memperjuangkan laki-laki macam itu! Sangat tidak pantas berlian melakukan hal serendah itu! Bahkan aku sangat setuju dengan ucapan Tuan Andreas, laki-laki seperti itu tidak layak untuk diperjuangkan! Dasar laki-laki tidak tahu diri! Nona Bianca memang sangat aneh, padahal masih banyak pria di dunia ini!' Aldo terus menggerutu dan memaki di dalam hati. Entah kenapa dia merasa kesal pada laki-laki tidak tahu diri tersebut. Dan dia merasa sangat marah saat mendengar bosnya ingin memperjuangkan laki-laki itu, memangnya setampan apa laki-laki itu, sampai-sampai Bianca ingin memperjuangkannya?
"Tidak! Dia memang layak untuk diperjuangkan," ujar Bianca dengan tenang, bahkan tanpa sadar senyum terbit di wajah cantiknya.
'Astaga! Memangnya seperti apa wujud laki-laki itu sampai Anda ingin memperjuangkannya, Nona! Sadar, Nona!' Aldo berteriak di dalam hati, rasanya ia tidak suka mendengar ucapan atasannya itu. Entah kenapa dia merasa marah mendengar bosnya sendiri yang memperjuangan laki-laki yang sangat tidak pantas tersebut. Sangat tidak layak!
"Baiklah jika seperti itu kata Anda, Nona. Kalau begitu saya pamit undur diri jika sudah tidak ada yang perlu dibicarakan."
"Apakah tidak makan siang sebentar Tuan?" tanya Bianca dengan lembut.
"Saya minta maaf, Nona. Tapi, hari ini saya ada janji makan siang dengan istri tercinta saya," tolak Andreas dengan halus.
"Baiklah jika seperti itu Tuan. Selamat siang, dan titip salam saya pada istri Anda."
"Selamat siang."
Setelah kepergian Andreas, senyum terbit di wajah Bianca, dia merasa bahagia karena bisa kembali mendapatkan kerja sama yang saling menguntungkan.
Tidak perlu diragukan lagi kemampuan wanita itu. Dia memang sangat pandai mengambil hati kliennya, bahkan dengan cara yang menakjubkan.
Aldo sedikit terpaku melihat senyum manis bosnya. Setiap bosnya mendapatkan kerja sama, maka dia akan tersenyum cerah, seolah-olah tidak ada terjadi apa-apa dengan dirinya. Dan entah kenapa, dia sangat suka sekali melihat senyum manis wanita itu.
__ADS_1
"Sangat manis," gumam Aldo dengan suara rendah, tapi samar-samar Bianca masih bisa mendengarnya.
"Apanya yang manis, Al?" tanya Bianca mengerutkan keningnya.
"Ah, ini ... jusnya sangat manis," jawab Aldo berdalih. Dia tidak menyangka jika Bianca memiliki pendengaran yang tajam.
"Tapi, sejak kapan kau meminumnya? Aku bahkan tidak melihat kau menyentuh jus itu."
Skakmat!
Aldo terdiam. Benar! Dia bahkan sama sekali tidak melirik jus tersebut. Lagian mana pernah dia berani meminum terlebih dahulu sebelum wanita itu menyuruhnya.
"I—itu ...."
"Ah, jujur saja yang kau katakan manis itu aku, 'kan?" Dengan penuh kepercayaan diri Bianca mengatakan dirinya, dengan tangan yang dia letakkan di dagu sambil tersenyum manis.
'Astaga, kenapa dia tersenyum manis seperti itu? Bahkan aku sendiri merasa gemes dengan wajahnya yang menggemaskan.' Aldo justru dibuat semakin gugup saat melihat wajah menggemaskan wanita di depannya. Rasanya ingin sekali dia menguyel-uyel pipi menggemaskan Bianca. Tapi sayangnya, itu hanya ada di hayalannya saja.
'Cih ... ngeles mulu kayak bajaj nih sekretaris! Gue tau kalau gue itu manis, bahkan lebih manis dari pada gula' batin Bianca penuh percaya diri.
Bianca lalu mencoba meminum jus miliknya, tapi di lidahnya rasanya sangat pas. "Oh, benarkah? Apa aku perlu memaki pelayan yang ada di sini?" tanya Bianca bercanda.
"JANGAN!" Tanpa sadar Aldo justru memekik, sehingga membuat Bianca sedikit terlonjak kaget.
"Ma—maaf, Nona. Saya benar-benar tidak bermaksud untuk berteriak seperti tadi." Aldo berkata sambil menunduk hormat.
"Tidak apa-apa, aku tau kamu sedang kesal, karena ucapan Pak Andreas tadi. Tapi percayalah, aku orang yang setia kok," ujar Bianca tiba-tiba.
"Baik, Nona." Aldo yang tidak ingin memperpanjang masalah sontak mengiyakannya saja, meski pun dia tidak paham sama sekali maksud Bianca.
Melihat ada bekas minuman di sudut bibir Aldo, Bianca menarik selembar tissue, berniat untuk mengelap bekas minuman tersebut.
__ADS_1
Bianca mengelap sudut bibir Aldo dengan lembut. "Kalau minum itu pakai sedotan Pak Sekretaris! Kalau kayak kan jadi belepotan!" omel Bianca.
Apa yang dilakukan oleh Bianca tentu membuat Aldo terkejut setengah mati. Tubuhnya sontak saja membeku, otaknya mendadak loading, sementara jantungnya berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya.
'Ya Allah, apakah hamba memiliki penyakit jantung?'
TBC
Jangan lupa like.
.
.
.
.
__ADS_1