
"Saya lapar!" celetuk Aldo tiba-tiba, sehingga pandangan mata langsung tertuju pada laki-laki itu.
"Ya kalau lapar mah makan, Al!" sahut Andi yang sedikit heran.
"Maaf, Pah, Mah, Tuan, Nyonya, dan Tuan Barrack. Tapi, bisakah kalian tinggalkan ruangan ini? Saya tidak bisa makan jika terlalu banyak yang memperhatikan." Aldo berusaha mengusir seluruh keluarganya dan keluarga Bianca dengan halus, agar mereka keluar dari dalam ruangan tersebut.
"Jadi, ngusir nih ceritanya?" tanya Barrack, yang sontak mendapat gelengan cepat dari Aldo.
"Tidak seperti itu Tuan. Hanya saja ...."
"Udah, mending kita ke kantin aja, biarkan mereka berdua di sini. Bianca, jaga Aldo! Kau yang sudah membuat laki-laki itu terluka, jadi kau yang harus bertanggung jawab!" perintah Bayu dengan tegas pada putrinya.
"Tidak, Tuan! Itu bukan salah Nona Bianca! Ini semua salah saya yang tidak hati-hati," sahut Aldo cepat, padahal baru saja Bianca ingin membuka suara.
Bianca menunduk untuk menyembunyikan senyumnya. Dia merasa senang Aldo membelanya, dan itu membuatnya menjadi semakin bersalah, karena sudah menolak cinta laki-laki itu.
'Tenang saja, Al. Aku sudah pikirkan ini mateng-mateng, dan aku akan menerima cinta kamu hari ini!' Bianca berteriak di dalam hati. Jujur saja dia merasa sedikit gugup. Semalaman dia menebak-nebak bagaimana reaksi Aldo saat dia mengatakan 'Iya, aku terima kamu!'
"Barra curiga. Jangan-jangan karena terlalu lama menjadi sekretaris, Aldo jatuh cinta sama bosnya sendiri," celetuk Barrack yang sejak tadi merasa ada yang tidak beres.
"Tentu tidak, Tuan! Saya sadar diri kok. Saya tidak mungkin selancang itu untuk jatuh cinta pada bos saya sendiri. Tolong jangan salah paham, Tuan." Aldo menjawab dengan setenang mungkin, meski pun sejujurnya jantungnya sedang berdegub dengan kencang.
'Ckk ... lalu yang waktu itu maksudnya apa? Apakah kau hanya bercanda menyatakan cinta padaku?' Bianca menjadi geram sendiri mendengar jawaban Aldo.
'Ah, mungkin saja dia sedang malu' Bianca berusaha untuk berpikir positif saja.
__ADS_1
"Kenapa tidak? Kami selaku orang tua Bianca merestui jika kamu menjadi menantu kami." Bayu angkat bicara, dan langsung mendapat anggukan antusias dari istrinya.
Aldo sedikit terkejut mendengarnya, semudah itukah mereka merestui dirinya dengan putri mereka?
"Yaudah, ayok kita ke kantin aja." Sophia yang melihat putranya sedikit salah tingkah, langsung menarik tangan suaminya, dan mendorong Bayu, Bryana dan Barrack, dan meninggalkan Aldo dan Bianca di dalam ruangan tersebut.
Kini di dalam ruangan tersebut hanya ada Bianca dan Aldo saja. Kedua manusia itu menjadi sedikit canggung, sama-sama merasa bingung ingin memulai obrolan dari mana.
"Eum ... kau lapar kan, Al? Baiklah, tunggu sebentar! Akan ku ambilkan makanan untukmu." Tanpa basa-basi Bianca segera keluar dari dalam ruangan tersebut, sehingga kini hanya ada Aldo seorang di dalam ruangan tersebut.
"Aduh sumpah, aku ingin menghilang dari rumah sakit ini." Aldo bergumam sendiri di dalam ruangan tersebut. Dia benar-benar ingin kabur saja dari ruangan tersebut, saat membayangkan kejadian semalam, yang benar-benar sangat memalukan.
"Tapi, jika boleh jujur, bibir Nona Bianca sangat manis, bahkan rasanya aku ingin mengecupnya lagi." Aldo tersenyum sendiri saat mengingat rasa bibir bosnya sendiri, yang benar-benar terasa sangat manis.
"Astaga! Apa yang kau pikirkan, Al? Sadar! Tidak mungkin Nona Bianca jatuh cinta pada sekretarisnya sendiri!" Aldo kembali memukul kepalanya, untuk menyadarkan dirinya bahwa bersanding dengan bosnya sendiri adalah sesuatu yang sangat mustahil.
Bianca dibuat sedikit bingung dengan tingkah sekretarisnya yang terus memukul kepalanya sendiri. "Al, kamu kenapa?" tanya Bianca sambil berjalan mendekati laki-laki itu dengan membawa nampan berisi bubur.
Aldo sedikit terkejut mendapati kebaradaan bosnya, dengan cepat dia menurunkan tangannya dari atas kepala.
"Ah, tidak ada, Nona. Tadi ada segerombolan nyamuk besar segenggaman tangan yang menyerang saya," jawab Aldo yang sama sekali tidak masuk akal.
"Benarkah? Ckk ... bagaimana mungkin nyamuk bisa ada di ruangan VIP? Apakah aku perlu memarahi para dokter di sini?" Dengan polosnya Bianca percaya begitu saja dengan jawaban Aldo, dan berniat ingin keluar, menyemprot para dokter dan perawat di rumah sakit tersebut.
"Tidak perlu, Nona!" Aldo menjawab dengan sangat cepat. Jika wanita itu benar-benar mengadu pada dokter ataupun perawat, maka dialah yang mungkin dalam bahaya, dan yang pastinya akan dibuat malu, mengingat di ruangan tersebut terdapat benda kecil, yang dia yakinkan adalah CCTV. "Saya lapar, jadi saya ingin segera makan!"
__ADS_1
"Ah, maaf, Al. Yaudah, ayok makan!" Bianca menarik kursi, dan duduk di samping tempat tidur Aldo.
"Aaaa!"
Baru saja Aldo hendak mengambil mangkok bubur tersebut dari tangan Bianca, dia justru dibuat terkejut saat wanita itu menyodorkan sesendok bubur tepat di depan mulutnya.
Aldo mengerjab-ngerjab matanya berkali-kali, lalu menatap wanita di depannya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
TBC
.
.
.
__ADS_1
.