
Aldo terbangun lebih awal pagi ini. Karena hari ini hari minggu, maka dia berencana untuk lari pagi saja, mengingat sudah cukup lama dia tidak lari pagi.
Segera Aldo bangkit, dia berjalan menuju kamar mandi. Laki-laki itu lantas mencuci wajahnya. Setelah itu dia menggunakan pakaian yang sering dia gunakan untuk lari pagi.
Setelah selesai, dia segera menuruni tangga, dan dilihatnya mama-nya sedang menyiapkan sarapan.
"Eh, Al, kamu mau kemana?" Sophia tersenyum lembut melihat putranya.
"Al pengen lari pagi. Kalau begitu Al pamit. Assalamualaikum." Aldo menjawab dengan wajah yang datar, tanpa senyum sedikit pun.
"Wa'alaikumsalam. Kamu nggak sarapan dulu?" tawar Sophia pada putranya tersebut.
"Nggak, Mah. Aldo pergi." Setelah mengatakan itu, Aldo segera pergi. Rencananya dia ingin lari pagi di taman depan komplek perumahan Bianca, karena dari yang dia dengar, di sana cukup sepi.
*******
"Eh, anak Mamah mau kemana?" Bryana yang kebetulan sedang membuatkan kopi untuk suaminya tersenyum melihat putrinya yang turun dari tangga.
"Ckk ... ya mau lari pagi lah, Mah. Nggak liat apa Caca udah berpenampilan begini? Ya kali mau ke kantor!" Bianca menjawab dengan malas. Beginilah sifat Bianca, kadang kalem, tetapi kadang juga akan menjadi wanita bar-bar.
"Ish ... Mamah kan cuman basa-basi, Ca! Yaudah sana pergi!" usir Bryana dengan ketus.
"Ngambek nih, ye?" Bianca mengedipkan sebelah matanya, berniat menggoda wanita paruh baya yang masih terlihat cantik tersebut.
"Yaudah, Caca pergi, ya. Samlekom."
"Bianca!" Baru saja Bianca melangkah, suara berat Damar lebih dulu menghentikan langkahnya. Bianca cengengesan saat melihat tatapan tidak suka papa-nya.
"He-he ... Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh." Bianca berkata dengan lembut sambil cengengesan menatap papa-nya.
"Caca berangkat ya, Pah, Mah." Bianca bergaya sok alim dengan mencium kedua tangan orang tuanya. Sementara Damar terus memicingkan matanya. Dia memang tidak suka melihat dan mendengar putrinya yang mengucap salam dengan sembarangan.
Setelah salim, segera dia pergi dari hadapan orang tuanya. Lalu berjalan santai menuju taman yang ada di depan komplek mereka.
Sepanjang perjalan banyak yang menyapa dia, entah orang tua, pemuda, bahkan remaja. Tentu saja! Melihat Bianca yang sangat cantik membuat mereka terpana, apalagi wanita itu memakai laging, sehingga mencetak tubuhnya yang cukup berisi tersebut.
Bianca membalas sapaan mereka, bahkan senyum manis terus terukir di wajahnya, sehingga kecantikannya bertambah berkali-kali lipat.
__ADS_1
Setelah sampai di taman yang ada di depan komplek tersebut, Bianca berlari kecil memutari taman tersebut.
Akibat tidak memperhatikan ke depan, Bianca tanpa sadar justru menabrak seseorang. Hampir saja dia jatuh jika orang tersebut tidak menangkapnya lebih dulu.
"Aldo?" Bianca sedikit terkejut saat melihat orang yang menangkapnya.
'Astaga, bagaimana mungkin aku bisa bertemu dengan laki-laki ini! Apakah ini yang dinamakan dengan jodoh?' Bianca berteriak di dalam hati. Rasa senang membuncah di hatinya. Astaga bagaimana mungkin dirinya bisa bertemu dengan Aldo secara tiba-tiba seperti ini? Padahal jarak rumah Aldo dengan taman ini cukup jauh. Apakah laki-laki itu sengaja lari pagi di sini hanya karena ingin bertemu dengan dirinya? Ah, jika itu memang benar, maka dirinya perlu mengadakan acara syukuran selama 7 hari berturut-turut.
********
Saat berlari di taman, Aldo sedikit terkejut saat ada yang menabraknya. Sedari tadi dia memang tidak terlalu memperhatikan jalan. Itu semua karena sedari tadi dia terus menggerutu saat menyadari jika taman tersebut sama sekali tidak sepi, tetapi terdapat banyak gadis yang juga sedang berlari.
Rasanya dia ingin marah saat ada yang menabraknya, dia pikir wanita itu sengaja menabraknya hanya untuk mendapatkan perhatian. Cih ... dia paling benci dengan wanita yang kecentilan seperti itu!
Tapi di saat dia melihat wajah si pelaku, dirinya sedikit terkejut. Ternyata dia adalah bosnya sendiri, sekaligus wanita yang membuatnya hampir gila akhir-akhir ini, karena wajah cantik itu terus terngiang-ngiang di kepalanya.
"Aldo?"
"N—Nona? Apa yang sedang Anda lakukan di sini?" Aldo bertanya setelah wanita itu berdiri dengan tegak.
"Ckk ... seharusnya yang bertanya itu aku? Kenapa kau bisa nyasar di sini? Bukankah taman ini cukup jauh dari rumahmu?"
'Cih ... alasan macam apa itu? Bilang saja kau ingin bertemu dengan wanita yang kau cintai, kan?' Bianca tersenyum tidak jelas.
"Ya sudah, ayok lari bareng!" ajak Bianca dengan antusias, kapan lagi bisa lari berdua seperti ini, kan?
'Astaga, jantungku lama-lama bisa copot jika terus bersama dia!' Aldo sedikit meringis, bertemu secara tidak sengaja seperti ini pun membuatnya berdebar, apalagi jika terus bersama wanita itu.
"Baik, Nona! Mari." Karena tidak enak menolak, dengan terpaksa Aldo mengiyakannya saja.
Mereka segera berlari kecil mengelilingi taman tersebut. Melihat rambut Bianca yang diikat tersebut membuat Aldo suka. Menurutnya aura wanita itu lebih terbuka jika rambutnya diikat seperti itu. Perlahan senyum terbit di wajah Aldo tanpa sepengetahuan Bianca.
'Sungguh, dia terlihat sangat manis saat rambutnya diikat'
Setelah merasa cukup lelah, mereka berdua memutuskan untuk istirahat sejenak. Mereka lalu duduk di kursi yang ada di taman tersebut.
Sebenarnya Aldo merasa haus, tetapi sayangnya dia lupa membawa uang sepeser pun. Akhirnya dia hanya mampu menahan dahaga.
__ADS_1
Bianca sendiri sedikit kesal dengan ketidakpekaan sekretarisnya tersebut.
'Ckk ... apakah dia tidak ada niat membelikan minuman? Cih ... bagaimana mungkin ada laki-laki yang tidak peka seperti dia!' Ingin rasanya Bianca berteriak di depan wajah Aldo yang sok polos tersebut!
"Ya udah, Al. Aku pergi sebentar, ya! Aku mau beli minuman dulu." Bianca mengalah, sepertinya memang dia yang harus turun tangan. Jika menunggu laki-laki itu yang membelikan air, maka dapat dipastikan dia tidak akan minum sama sekali.
"Baik, Nona." Aldo hanya menjawab singkat. Ingin sekali rasanya dia meminta wanita itu untuk membelikan satu air mineral untuknya, dan nanti dia akan menggantikan uang bosnya tersebut. Tetapi apa boleh buat? Ia terlalu gengsi untuk meminta pada wanita itu.
Bianca segera pergi dari sana, sepanjang perjalanan dia terus menggerutu tidak jelas, rasanya sangat kesal dengan sifat Aldo yang tidak bisa peka sama sekali!
Setelah sampai di sebuah warung, Bianca segera membeli dua air mineral untuknya dan untuk Aldo. Meski kesal, tetapi dia tau pasti Aldo juga kelelahan setelah berputar di taman tersebut.
Setelah membeli dua botol air mineral, dia segera kembali ke tempat di mana Aldo sedang duduk.
"Aku mencintaimu, apakah kamu bersedia menjadi kekasihku? Maaf, tapi aku perlu kepastian. Aku berjanji akan selalu membuatmu bahagia. Tolong, tolong berikan aku kesempatan sekali saja. Setidaknya ijinkan aku untuk menunjukkan padamu kalau aku benar-benar sayang denganmu."
Bianca terpaku mendengar suara lembut Aldo.
"Iya!"
TBC
.
.
.
__ADS_1
.